BAB 22 Tentang Mengekang Emosi (Marah).
Barangsiapa tidak memiliki tiga perkara, maka tidak mungkin menikmati lezatnya iman, yaitu:
1. Kesabaran dalam menghadapi kedunguan si jahil,
2. Wira’i yang menjaganya dari hal-hal yang haram,
3. Akhlak (etika) dalam pergaulan dengan masyarakat. (Al-Hadis).
.......
Tiga Pilar Menikmati Lezatnya Iman
Sabar, Wara', dan Akhlak Mulia sebagai Jalan Tazkiyatun Nufus
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Rasa manisnya iman bukanlah sesuatu yang lahir dari banyaknya ilmu semata, bukan pula dari banyaknya ibadah lahiriah, tetapi merupakan cahaya yang Allah tanamkan ke dalam hati yang bersih. Hati yang bersih hanya dapat diraih melalui perjuangan menyucikan jiwa (Tazkiyatun Nufus).
Dalam kitab-kitab akhlak disebutkan sebuah hikmah:
"Barang siapa tidak memiliki tiga perkara, maka tidak mungkin menikmati lezatnya iman, yaitu: kesabaran menghadapi kedunguan orang jahil, wara' yang menjaganya dari perkara haram, dan akhlak yang baik dalam pergaulan dengan masyarakat."
Ketiga sifat tersebut ibarat tiga tiang penyangga bangunan iman. Apabila salah satunya rapuh, maka bangunan ruhani seseorang juga akan mudah runtuh.
1. Sabar Menghadapi Kedunguan Orang Jahil
Seorang salik menuju Allah tidak akan disibukkan membalas keburukan manusia. Ia sadar bahwa setiap gangguan adalah latihan membersihkan ego (nafs).
Allah Ta'ala berfirman:
"Jadilah engkau pemaaf, suruhlah kepada yang makruf dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raf: 199)
Firman-Nya pula:
"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka dengan kata-kata kasar, mereka mengucapkan: 'Salam'." (QS. Al-Furqan: 63)
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam tasawuf, setiap hinaan adalah cermin untuk melihat apakah hati masih dipenuhi kesombongan. Semakin tenang menghadapi gangguan manusia, semakin dekat seseorang kepada kelembutan Allah.
2. Wara' Menjaga Diri dari yang Haram dan Syubhat
Wara' adalah benteng hati. Orang yang wara' bukan hanya meninggalkan yang haram, tetapi juga berhati-hati terhadap perkara syubhat agar cahaya hatinya tidak redup.
Allah berfirman:
"Wahai manusia, makanlah dari apa yang halal lagi baik di bumi." (QS. Al-Baqarah: 168)
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, di antara keduanya ada perkara-perkara syubhat..." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis qudsi Allah berfirman:
"Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada melaksanakan apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya." (HR. Bukhari)
Hati yang dipenuhi makanan, harta, dan perbuatan yang halal akan lebih mudah merasakan nikmat bermunajat kepada Allah.
3. Akhlak Mulia dalam Bergaul
Akhlak adalah buah dari ibadah. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin lembut lisannya, semakin rendah hatinya, dan semakin penyayang kepada sesama.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung." (QS. Al-Qalam: 4)
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." (HR. Ahmad)
Beliau juga bersabda:
"Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Dalam pandangan tasawuf, akhlak yang baik merupakan tanda hati yang telah dibersihkan dari penyakit riya', ujub, hasad, dendam, dan kesombongan.
Relevansi di Zaman Modern
Di era media sosial, teknologi digital, dan komunikasi yang begitu cepat:
- Kesabaran diuji oleh komentar kasar, fitnah, dan provokasi.
- Wara' diuji oleh mudahnya memperoleh harta melalui jalan yang tidak halal dan tersebarnya konten yang merusak hati.
- Akhlak diuji oleh kebiasaan mencaci, menyebarkan hoaks, serta hilangnya adab dalam berdiskusi.
Seorang mukmin hendaknya menjadikan kemajuan teknologi sebagai sarana dakwah, silaturahmi, menebar ilmu, dan memperbanyak amal saleh, bukan sebagai jalan memperbanyak dosa.
Muhasabah Diri
Renungkanlah setiap malam:
- Apakah hari ini aku membalas keburukan orang lain dengan keburukan?
- Apakah ada rezekiku yang masih bercampur dengan perkara syubhat?
- Apakah lisanku menyakiti orang lain?
- Apakah kehadiranku membawa ketenangan atau justru keresahan?
- Apakah ibadahku telah membentuk akhlakku?
Cara Melatih Tazkiyatun Nufus
- Memperbanyak istighfar minimal 100 kali setiap hari.
- Menahan marah dan membiasakan diam ketika emosi.
- Memilih makanan, pekerjaan, dan penghasilan yang benar-benar halal.
- Membaca Al-Qur'an setiap hari disertai tadabbur.
- Memperbanyak shalawat kepada Nabi ﷺ.
- Membiasakan memaafkan sebelum tidur.
- Berkumpul dengan orang-orang saleh dan majelis ilmu.
- Berdoa agar Allah membersihkan hati dari sifat-sifat tercela.
Doa
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Allāhumma yā Muqallibal qulūb, tsabbit qalbī 'alā dīnik.
Allāhumma ṭahhir qulūbanā minan nifāq, wa a'mālanā minar riyā', wa alsinatanā minal kadzib, wa a'yunanā minal khiyānah.
Allāhumma arzuqnā ṣabran jamīlā, wa wara'an ṣādiqan, wa khuluqan karīman, wa qalban salīman, wa īmānan kāmilan, wa yaqīnan ṣādiqan.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kesabaran dalam menghadapi setiap ujian, sifat wara' dalam menjaga diri dari yang haram dan syubhat, serta akhlak yang mulia dalam pergaulan. Bersihkan hati kami dari kesombongan, iri hati, dendam, dan riya'. Jadikan kami hamba-hamba yang merasakan manisnya iman hingga akhir hayat, wafat dalam husnul khatimah, dan kumpulkan kami bersama Nabi Muhammad ﷺ di surga-Mu. Āmīn Yā Rabbal 'Ālamīn.
Penutup
Marilah kita terus memperbaiki diri. Jangan sibuk mencari kesalahan orang lain, tetapi sibukkanlah diri membersihkan hati sendiri. Sebab, orang yang hatinya bersih akan mudah bersabar, ringan meninggalkan yang haram, dan indah akhlaknya kepada sesama. Itulah jalan menuju lezatnya iman dan keridaan Allah Subḥānahu wa Ta'ālā.
Jazakumullāhu khairan katsīrā.
Terima kasih atas kesediaan membaca dan mengamalkan nasihat ini. Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa menyucikan jiwa, memperindah akhlak, dan istiqamah hingga akhir kehidupan. Āmīn.
.........
No comments:
Post a Comment