Wednesday, July 22, 2026

1241djo. KEMATIAN TIDAK AKAN TERTUKAR, MAKA HIDUPLAH DALAM KETAATAN

 4️⃣.Semakin bertambah usia semakin gugur gigi-gigi kita... karena ALLAH sedang mengingatkan bahwa suatu hari kita akan gugur kedalam tanah selamanya.*

📖( Qs. Ali Imran : 145 ).

...........

TAZKIYATUN NUFŪS: KEMATIAN TIDAK AKAN TERTUKAR, MAKA HIDUPLAH DALAM KETAATAN

Renungan Tasawuf dan Penyucian Jiwa Berdasarkan QS. Āli ‘Imrān: 145

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا ۗ وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا ۚ وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

“Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya sebagian dari pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan kepadanya pahala akhirat itu. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
(QS. Āli ‘Imrān: 145)


1. MAKSUD

Ayat ini mengajarkan kepada manusia bahwa kematian tidak terjadi secara kebetulan, tetapi berada dalam ilmu, izin, dan ketetapan Allah ﷻ.

Tidak ada manusia yang dapat mempercepat kematiannya sebelum waktunya tiba, dan tidak ada pula yang dapat menundanya ketika ajal telah datang.

Namun, ayat ini juga mengingatkan bahwa manusia memiliki pilihan dalam menentukan orientasi hidupnya:

  • Ada yang mengejar dunia.
  • Ada yang menjadikan dunia sebagai jalan menuju akhirat.
  • Ada yang hidup untuk popularitas.
  • Ada yang hidup untuk ridha Allah.
  • Ada yang mencari pujian manusia.
  • Ada yang mencari penerimaan Allah.

Dalam perspektif Tazkiyatun Nufūs, ayat ini mengajak kita membersihkan hati dari penyakit:

Takut kehilangan dunia, tetapi tidak takut kehilangan akhirat.


2. TUJUAN DAN PESAN UTAMA

Pertama: Menanamkan keyakinan kepada takdir Allah

Ajal seseorang telah ditetapkan oleh Allah ﷻ. Karena itu, seorang mukmin tidak boleh hidup dalam ketakutan yang berlebihan terhadap kematian.

Tetapi jangan pula memahami takdir secara keliru.

Takdir bukan alasan untuk bermalas-malasan.

Kita tetap wajib:

  • berobat ketika sakit,
  • menjaga kesehatan,
  • menghindari bahaya,
  • mencari nafkah,
  • menjaga keselamatan,
  • melaksanakan ikhtiar.

Karena kita tidak mengetahui kapan ajal akan datang.


Kedua: Menata orientasi kehidupan

Allah berfirman:

“Barang siapa menghendaki pahala dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari dunia. Dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan kepadanya pahala akhirat.”

Ayat ini bukan berarti Islam melarang manusia mencari dunia.

Yang harus dibersihkan adalah:

Dunia berada di tangan, bukan bertahta di dalam hati.

Seorang sufi bukan orang yang tidak memiliki dunia.

Tetapi seorang sufi adalah orang yang tidak diperbudak oleh dunia.


3. AYAT-AYAT AL-QUR’AN YANG BERKAITAN

QS. Al-Anbiyā’: 35

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”

Kematian adalah kepastian. Yang belum pasti adalah:

Dalam keadaan apa kita akan mati?


QS. Al-Jumu‘ah: 8

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ

“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, pasti akan menemui kamu.”

Maka jangan hanya mempersiapkan rumah, kendaraan, tabungan, dan masa depan dunia.

Persiapkan juga:

  • amal,
  • taubat,
  • sedekah,
  • shalat,
  • hati yang bersih.

QS. Al-‘Ankabūt: 64

“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya.”

Dunia ini bukan tempat tinggal selamanya.

Dunia adalah ruang ujian.


4. HADIS SHAHIH YANG BERKAITAN

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.”
(HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah; dinilai hasan/shahih oleh sejumlah ulama)

Mengapa Rasulullah ﷺ memerintahkan kita mengingat kematian?

Bukan agar kita menjadi putus asa.

Tetapi agar:

  • sombong menjadi rendah hati,
  • rakus menjadi qana‘ah,
  • pendendam mau memaafkan,
  • lalai segera bertaubat,
  • cinta dunia menjadi seimbang.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
(HR. Al-Bukhari)

Seorang musafir tidak membangun rumah permanen di tengah perjalanan.

Ia menggunakan perjalanan dunia untuk mencapai tujuan akhir.


5. HADIS QUDSI YANG BERKAITAN

Allah ﷻ berfirman dalam Hadis Qudsi:

“Wahai anak Adam! Sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Jika satu hari telah berlalu, maka telah berlalu sebagian dari dirimu.”

Maknanya sangat dalam.

Setiap hari yang berlalu sebenarnya bukan hanya waktu yang berkurang.

Tetapi:

Umur kita yang berkurang.

Hari ini tidak akan pernah kembali.

Uang yang hilang mungkin bisa dicari.

Barang yang rusak mungkin bisa dibeli kembali.

Tetapi:

Satu detik umur yang telah pergi tidak akan pernah kembali.


6. PERSPEKTIF TASAWUF: MATI SEBELUM MATI

Dalam perjalanan Tazkiyatun Nufūs, para ulama tasawuf mengajarkan pentingnya mematikan penyakit hati sebelum jasad mengalami kematian.

Matikan:

  • kesombongan sebelum dikubur,
  • iri sebelum bertemu Allah,
  • dendam sebelum ajal,
  • cinta dunia sebelum dunia meninggalkan kita,
  • riya sebelum amal kita diperlihatkan.

Karena seseorang bisa saja:

Jasadnya hidup, tetapi hatinya telah mati.

Allah berfirman:

“Bukankah orang yang sudah mati hatinya kemudian Kami hidupkan dan Kami beri cahaya untuk berjalan di tengah-tengah manusia...”
(QS. Al-An‘ām: 122)

Maka kematian terbesar bukan hanya kematian jasad.

Tetapi:

Kematian hati dari dzikir, taubat, rasa takut kepada Allah, dan kerinduan kepada akhirat.


7. ANALISA DAN ARGUMENTASI RELEVAN DI DUNIA YANG VIRAL SAAT INI

Hari ini banyak manusia hidup dalam dunia yang sangat cepat.

Seseorang dapat:

  • viral dalam beberapa menit,
  • terkenal dalam satu malam,
  • menjadi kaya melalui media sosial,
  • mendapatkan jutaan penonton,
  • menerima ribuan komentar.

Namun, viral tidak berarti abadi.

Orang yang hari ini dipuji, besok bisa dihujat.

Orang yang hari ini menjadi trending topic, besok bisa dilupakan.

Orang yang hari ini memiliki jutaan pengikut, ketika meninggal dunia, pengikutnya hanya bisa berkata:

“Semoga husnul khatimah.”

Maka pertanyaannya:

Kita ingin viral di hadapan manusia atau dikenal oleh Allah?

Karena bisa jadi:

  • manusia tidak mengenal kita, tetapi Allah mengenal kita;
  • manusia tidak memuji kita, tetapi Allah menerima amal kita;
  • manusia tidak melihat sedekah kita, tetapi Allah mencatatnya;
  • manusia melupakan kebaikan kita, tetapi Allah tidak pernah melupakannya.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. At-Taubah: 120, makna yang sejalan dengan banyak ayat tentang balasan amal)

Maka jangan menjadikan jumlah views sebagai ukuran kemuliaan.

Bisa jadi satu amal kecil yang tidak viral:

  • memberi makan orang lapar,
  • menghibur orang yang sedih,
  • memaafkan orang lain,
  • membantu orang yang kesusahan,

lebih besar nilainya di sisi Allah daripada sesuatu yang mendapatkan jutaan pujian manusia.


8. HUKUM (AHKAM)

1. Meyakini bahwa ajal berada dalam ketetapan Allah adalah wajib

Seorang muslim wajib meyakini bahwa kehidupan dan kematian berada dalam kekuasaan Allah ﷻ.


2. Berikhtiar menjaga kehidupan adalah wajib atau dianjurkan sesuai keadaan

Tidak boleh seseorang sengaja membahayakan dirinya tanpa alasan yang dibenarkan syariat.


3. Berobat dan menjaga kesehatan termasuk ikhtiar

Memahami takdir tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan usaha.


4. Mencari dunia hukumnya boleh, bahkan bisa menjadi ibadah

Mencari rezeki halal untuk:

  • menafkahi keluarga,
  • membantu orang lain,
  • bersedekah,
  • menjaga kehormatan diri,

dapat menjadi ibadah.

Yang tercela adalah:

Dunia yang membuat seseorang meninggalkan Allah.


5. Mengingat kematian adalah amalan yang dianjurkan

Namun mengingat kematian tidak boleh menyebabkan:

  • putus asa,
  • meninggalkan usaha,
  • membenci kehidupan,
  • merasa tidak memiliki harapan.

Seorang mukmin hidup di antara:

Khauf — takut kepada Allah.
Rajā’ — berharap rahmat Allah.


9. MUHASABAH DIRI

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

1. Jika malam ini ajal datang, apa yang paling saya sesali?

Apakah:

  • belum membeli sesuatu?
  • belum kaya?
  • belum terkenal?

Ataukah:

  • belum bertaubat?
  • belum meminta maaf?
  • belum shalat dengan benar?
  • belum membayar hutang?
  • belum bersedekah?
  • belum berbakti kepada orang tua?

2. Apa yang paling saya kejar setiap hari?

Apakah:

Ridha Allah atau pujian manusia?


3. Jika semua dunia saya hilang, apakah saya masih memiliki Allah?

Inilah inti zuhud.

Bukan tidak memiliki apa-apa.

Tetapi:

Tidak kehilangan Allah ketika kehilangan apa-apa.


10. IMPLEMENTASI DALAM KEHIDUPAN

Mulai hari ini:

1. Perbarui niat setiap pagi

Ucapkan:

“Ya Allah, jadikan hari ini lebih dekat kepada-Mu daripada hari kemarin.”


2. Sisihkan waktu untuk akhirat

Walaupun hanya:

  • membaca Al-Qur’an,
  • berdzikir,
  • shalat sunnah,
  • bersedekah,
  • membantu orang lain.

3. Jangan menunda taubat

Jangan berkata:

“Nanti kalau sudah tua.”

Karena banyak orang yang tidak sempat menjadi tua.


4. Jadikan dunia sebagai ladang amal

Gunakan:

  • harta untuk sedekah,
  • ilmu untuk mengajar,
  • tenaga untuk membantu,
  • media sosial untuk menyebarkan kebaikan.

5. Jadikan setiap hari sebagai kesempatan terakhir

Bukan berarti hidup dalam ketakutan.

Tetapi hidup dengan kesadaran:

“Mungkin hari ini adalah hari terakhirku, maka aku tidak ingin menutupnya dengan maksiat.”


11. SENTUHAN HATI

Saudaraku...

Ajal tidak menunggu kita siap.

Kematian tidak menunggu kita kaya.

Malaikat maut tidak menunggu kita selesai membangun rumah.

Tidak menunggu anak-anak kita dewasa.

Tidak menunggu hutang kita lunas.

Tidak menunggu kita selesai menjadi terkenal.

Ketika waktunya tiba:

Tidak ada yang bisa memajukan. Tidak ada yang bisa memundurkan.

Maka selama masih diberi napas:

  • bertaubatlah,
  • bersyukurlah,
  • berbuat baiklah,
  • maafkanlah,
  • bersedekahlah,
  • jangan menyakiti hati orang lain.

Karena kita tidak tahu:

Amal terakhir apa yang akan menjadi penutup perjalanan hidup kita.

Semoga amal terakhir kita adalah:

La ilāha illallāh.

Dan semoga pertemuan terakhir kita dengan dunia menjadi awal pertemuan kita dengan rahmat Allah ﷻ.


12. DOA

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ

“Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik amal kami adalah amal penutupnya, dan jadikanlah sebaik-baik hari kami adalah hari ketika kami bertemu dengan-Mu.”

اللَّهُمَّ أَحْيِنَا عَلَى الْإِيمَانِ، وَأَمِتْنَا عَلَى الْإِسْلَامِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

“Ya Allah, hidupkan kami dalam iman, wafatkan kami dalam Islam, dan tutuplah hidup kami dengan husnul khatimah.”

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالْكِبْرِ وَالْحَسَدِ وَالْحِقْدِ وَحُبِّ الدُّنْيَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَكَ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ.

“Ya Allah, sucikan hati kami dari riya, kesombongan, iri, dendam, dan kecintaan berlebihan kepada dunia. Jadikan kami hamba-hamba-Mu yang menghendaki wajah-Mu dan negeri akhirat.”

Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.


PENUTUP DAN UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para ustadz, guru, kyai, dan para pembimbing umat yang senantiasa menyampaikan ilmu, nasihat, dan pengingat tentang kehidupan, kematian, serta perjalanan hati menuju Allah ﷻ.

Semoga setiap ilmu yang disampaikan menjadi:

Ilmu yang bermanfaat, amal yang diterima, dan cahaya bagi umat.

Dan terima kasih kepada para pembaca yang telah meluangkan waktu untuk membaca renungan ini.

Semoga tulisan sederhana ini menjadi pengingat bagi kita semua:

Kita tidak tahu kapan ajal datang. Tetapi kita selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum ajal datang.

Semoga Allah menyucikan jiwa kita, memperbaiki hati kita, mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan rezeki kita, menjaga keluarga kita, dan menganugerahkan kepada kita semua husnul khatimah.

Āmīn Yā Mujības-Sā’ilīn.

............

No comments: