Diceritakan dalam hadits: “Ketika seorang hamba sedang dalam keadaan naza’ (detik-detik keluarnya ruh), maka ada pemanggil yang memanggil dari hadapan Allah: “Tinggalkan hamba itu, sehingga ia beristirahat sejenak.” Ketika ruh sampai di dadanya, maka Allah bersabda: “Tinggalkan hamba itu sehingga ia beristirahat sejenak.” Dan demikian juga, ketika ruh telah sampai di tenggorokan maka datanglah pemanggil: “Tinggalkan hamba itu sehingga anggauta badan memohon diri (pamit) kepada sebagian angauta yang lain.” Maka mata yang satu mohon dari mata yang lain, mata itu berkata: “Di dalam mohon dirinya:
“Semoga keselamatan tetap tercurahkan kepadamu sampai hari kiamat.”
Demikian juga kedua telinga memohon diri, kedua tangan mohon diri, kedua kaki mohon diri, dan ruh (juga) memohon diri dari jasadnya, iman memohon diri dengan lisan.
Oleh karena itu kami memohon perlindungan dari Allah, agar dihindarkan mohon dirinya ma’rifat dan iman kepada hati.
Akhirnya tinggallah kedua tangan tanpa bisa bergerak, kedua kaki (juga) tanpa bisa bergerak, kedua mata tanpa bisa melihat, kedua telinga tanpa bisa mendengar, badan tanpa ada ruh. Dan jika lisan tetap tanpa ada iman, serta hati tetap tanpa ada ma’rifat, maka bagaimana keadaan hamba itu di liang landak ? la tidak bisa melihat seseorang, tidak bisa melihat bapaknya, ibunya, anak-anaknya, saudara-saudaranya dan teman-temannya. Dan di liang landak juga tidak ada tikar dan tabir. Dan kalau ia tidak bisa melihat Tuhan Yang Mulia, maka Ia benar-benar rugi denga, kerugian yang besar.
Imam Abu Hanifah berkata: “Banyak sesuatu yang his, merobekkan iman dari seseorang hamba yaitu dikala waktu naza Semoga Allah memelihara kepada kami dan kepada kamu dari sobeknya iman.
......
No comments:
Post a Comment