1189irs.
Bab : Pembunuhan.
Stabit bin Adhdhahhak r.a, berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda:
مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينِ مِلَّةٍ غَيْرِ الإِسْلَامِ كَاذِبًا مُتَعَمِّدًا فَهُوَ كَمَا قَالَ . وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ . وَلَيْسَ عَلَى رَجُلٍ نَدْرٌ فِيمَا لَا يَمْلِكُ . وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَفَتْلِهِ . وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنَّا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ
وَمَنْ ذَبَحَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عَذِبَ بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ
Siapa yang sumpah dengan suatu agama selain islam padahal ia sengaja berdusta maka ia akan terkena apa yang la katakan. Dan siapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, akan disiksa dihari qiyamat dengan alat itu. Dan tidak dianggap nazar orang terhadap sesuatu yang belum dimiliki. Dan mela'nat orang mu'min itu sama dengan membunuh nya. Dan siapa yang menuduh orang dengan kufur (keka firan) maka sama dengan membunuhnya. Dan siapa yang menyembelih dirinya dengan suatu alat maka akan disiksa dengan alat itu dihari qiyamat. (H.R. Bukhari, Muslim).
........
⚖️ JANGAN MEMBUNUH JIWA, JANGAN MEMBUNUH KEHORMATAN
Tazkiyatun Nufūs: Menjaga Lisan, Menjaga Nyawa, dan Menjaga Kesucian Hati
A. MAKSUD DAN TUJUAN
Hadis Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim ini mengajarkan kepada kita bahwa Islam sangat menjaga:
- Kesucian iman dan keseriusan dalam bersumpah.
- Keselamatan jiwa manusia.
- Kehormatan seorang mukmin.
- Kesucian lisan dari laknat, celaan, dan tuduhan.
- Bahaya mudah menuduh seorang Muslim sebagai kafir.
- Kesadaran bahwa setiap ucapan dan perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ﷻ.
Dalam perspektif Tazkiyatun Nufūs, hadis ini bukan hanya berbicara tentang hukum lahiriah, tetapi juga tentang penyakit batin:
Lisan yang mudah melaknat biasanya berasal dari hati yang keras.
Lisan yang mudah mengkafirkan biasanya berasal dari jiwa yang merasa paling suci.
Tangan yang menyakiti manusia sering kali didahului oleh hati yang kehilangan rahmat.
Maka, membersihkan jiwa berarti belajar menjaga lisan, tangan, hati, dan penilaian kita terhadap orang lain.
B. PESAN UTAMA HADIS
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينِ مِلَّةٍ غَيْرِ الإِسْلَامِ كَاذِبًا مُتَعَمِّدًا فَهُوَ كَمَا قَالَ، وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَيْسَ عَلَى رَجُلٍ نَذْرٌ فِيمَا لَا يَمْلِكُ، وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ، وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ.
Maknanya secara umum:
“Barang siapa bersumpah dengan sumpah yang berkaitan dengan agama selain Islam dengan sengaja berdusta, maka ia sebagaimana yang ia katakan. Barang siapa membunuh dirinya dengan sesuatu, maka ia akan disiksa dengannya pada hari Kiamat. Tidak ada nazar bagi seseorang pada sesuatu yang tidak ia miliki. Melaknat seorang mukmin seperti membunuhnya. Dan barang siapa menuduh seorang mukmin dengan kekafiran, maka tuduhan itu seperti membunuhnya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Catatan: bagian tentang menyakiti atau membunuh diri memiliki beberapa redaksi yang berdekatan dalam riwayat-riwayat hadis. Inti pesannya adalah kerasnya larangan membinasakan diri sendiri dan ancaman bagi orang yang melakukan dosa tersebut tanpa bertaubat.
C. AYAT-AYAT AL-QUR'AN YANG BERKAITAN
1. Larangan membunuh jiwa
Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan alasan yang benar.”
(QS. Al-An‘am: 151)
Allah juga berfirman:
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.”
(QS. An-Nisa’: 29)
Ayat ini memberikan pelajaran penting:
Karena Allah Maha Penyayang kepada kita, maka kita tidak boleh menjadi musuh bagi diri kita sendiri.
2. Larangan merendahkan dan menghina
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik daripada mereka.”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Dalam dunia yang penuh komentar dan media sosial, ayat ini sangat relevan.
Seseorang yang kita hina mungkin lebih dekat kepada Allah daripada kita.
3. Larangan memanggil dengan gelar buruk
Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ
“Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Hari ini seseorang dapat menghancurkan kehormatan orang lain hanya dengan satu komentar, satu unggahan, atau satu potongan video.
4. Larangan berprasangka dan mencari-cari kesalahan
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Kemudian Allah melarang:
“Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.”
D. HADIS-HADIS SHAHIH YANG BERKAITAN
1. Larangan mencela seorang Muslim
Rasulullah ﷺ bersabda:
سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ
“Mencaci seorang Muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa Islam tidak menganggap hinaan sebagai perkara ringan.
2. Seorang Muslim harus menjaga orang lain dari lisannya
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Pertanyaan untuk diri kita:
Apakah orang-orang di sekitar kita merasa aman dari lisan kita?
3. Larangan mudah mengkafirkan
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا
“Apabila seseorang berkata kepada saudaranya, ‘Wahai kafir,’ maka tuduhan itu kembali kepada salah satu dari keduanya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan berarti setiap orang yang salah dalam menuduh otomatis keluar dari Islam. Namun hadis ini merupakan peringatan yang sangat keras agar seorang Muslim tidak sembarangan menuduh Muslim lain sebagai kafir.
Masalah takfir bukan permainan emosi, bukan senjata debat, dan bukan bahan untuk mendapatkan kemenangan dalam perdebatan di media sosial.
E. HADIS QUDSI: ALLAH MENJAGA KEHORMATAN HAMBA
Dalam hadis qudsi, Allah ﷻ berfirman:
يَا عِبَادِي، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا
“Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.”
(HR. Muslim)
Perhatikan!
Allah mengharamkan kezaliman.
Maka siapa pun yang merusak kehormatan manusia, menyebarkan fitnah, menghancurkan nama baik, atau menyakiti jiwa tanpa hak, hendaknya segera bertaubat dan memperbaiki kesalahannya.
F. PERSPEKTIF TASAWUF DAN TAZKIYATUN NUFŪS
1. Lisan adalah cermin hati
Dalam tasawuf, lisan tidak berdiri sendiri.
Lisan adalah pintu keluar dari apa yang ada di dalam hati.
Jika hati dipenuhi:
- iri,
- dengki,
- kesombongan,
- kebencian,
- fanatisme,
- merasa paling benar,
maka lisan akan mudah:
- mencela,
- menghina,
- memfitnah,
- melaknat,
- mengkafirkan.
Karena itu, Tazkiyatun Nufūs tidak hanya mengajarkan:
“Jangan berkata buruk.”
Tetapi lebih dalam:
“Bersihkan sumber keburukan di dalam hati.”
2. Membunuh kehormatan adalah bentuk kezaliman
Tidak semua pembunuhan dilakukan dengan senjata.
Ada orang yang tidak membunuh tubuh seseorang, tetapi membunuh:
- nama baiknya,
- kehormatannya,
- kepercayaan masyarakat kepadanya,
- rumah tangganya,
- pekerjaannya,
- mental dan semangat hidupnya.
Satu fitnah dapat menyebar kepada ribuan orang.
Satu tuduhan dapat menghancurkan kehidupan seseorang.
Satu video yang dipotong dapat mengubah persepsi masyarakat.
Karena itu, seorang mukmin harus memahami:
Jangan sampai jari kita menjadi senjata.
Jangan sampai komentar kita menjadi pisau.
Jangan sampai unggahan kita menjadi alat untuk membunuh kehormatan orang lain.
G. ANALISA DAN IMPLEMENTASI DI DUNIA VIRAL SAAT INI
1. Jangan langsung percaya sesuatu yang viral
Viral bukan berarti benar.
Banyak orang menyebarkan berita hanya karena:
- marah,
- benci,
- fanatik,
- ingin mendapatkan perhatian,
- ingin menjatuhkan orang lain.
Allah ﷻ berfirman:
فَتَبَيَّنُوا
“Maka telitilah.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Sebelum membagikan berita, tanyakan:
TABAYYUN 5 LANGKAH
- Apakah berita ini benar?
- Dari mana sumbernya?
- Apakah konteksnya lengkap?
- Apakah saya mengetahui faktanya?
- Apakah menyebarkannya membawa maslahat atau mudarat?
Jika tidak yakin, maka:
Diam adalah ibadah.
2. Jangan mengkafirkan karena perbedaan
Perbedaan pendapat dalam masalah keagamaan harus disikapi dengan ilmu dan adab.
Jangan mudah berkata:
- kafir,
- sesat,
- munafik,
- ahli neraka,
- tidak punya iman.
Hanya karena seseorang:
- berbeda pendapat,
- berbeda organisasi,
- berbeda pilihan,
- berbeda metode,
- berbeda pemahaman dalam masalah tertentu.
Tazkiyatun Nufūs mengajarkan:
Kita boleh berbeda pendapat tanpa harus saling menghancurkan.
3. Jangan menjadikan agama sebagai senjata kebencian
Agama diturunkan untuk membimbing manusia menuju Allah.
Namun terkadang manusia menggunakan agama untuk:
- menghina,
- merendahkan,
- membenci,
- memecah belah,
- mencari kemenangan pribadi.
Maka kita harus berhati-hati.
Seseorang bisa berbicara tentang Allah dengan lisannya, tetapi hatinya sedang memperturutkan hawa nafsu.
H. MUHASABAH DIRI
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
1. Pernahkah lisanku melaknat seseorang?
2. Pernahkah aku menuduh seseorang tanpa bukti?
3. Pernahkah aku membagikan berita yang belum jelas kebenarannya?
4. Pernahkah aku menuduh seorang Muslim kafir hanya karena berbeda pendapat?
5. Pernahkah komentarku membuat orang lain menangis?
6. Pernahkah aku menghancurkan kehormatan seseorang?
7. Apakah aku lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada kesalahan diriku sendiri?
8. Apakah aku merasa diriku lebih suci daripada orang lain?
Ingatlah firman Allah ﷻ:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”
(QS. An-Najm: 32)
I. CARA MELAKUKAN MUHASABAH
1. Muhasabah sebelum berbicara
Tanyakan:
“Apakah ucapan ini benar?”
Kemudian:
“Apakah ucapan ini bermanfaat?”
Kemudian:
“Apakah ucapan ini diperlukan?”
Jika tidak, lebih baik diam.
2. Muhasabah sebelum mengirim pesan
Sebelum menekan tombol:
KIRIM
berhentilah sejenak.
Baca kembali.
Tanyakan:
“Jika pesan ini dibaca oleh Allah, malaikat, keluarga, dan seluruh manusia, apakah aku tidak malu?”
3. Muhasabah sebelum membagikan berita
Jangan bertanya:
“Apakah ini akan menjadi viral?”
Tetapi tanyakan:
“Apakah ini akan menjadi amal atau dosa?”
4. Muhasabah sebelum menghakimi
Ingat:
Kita hanya melihat perbuatan lahiriah seseorang.
Allah mengetahui seluruh isi hati manusia.
Maka jangan mengambil posisi sebagai hakim atas hati manusia.
5. Muhasabah sebelum tidur
Sebelum tidur, lakukan tiga hal:
Pertama:
Istighfar atas dosa lisan.
Kedua:
Maafkan orang lain.
Ketiga:
Jika kita menzalimi seseorang, segera berniat memperbaiki dan meminta maaf.
J. AMALAN TAZKIYATUN NUFŪS
1. Perbanyak istighfar
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ
Bacalah dengan kesadaran:
“Ya Allah, ampuni dosa lisanku, dosa pikiranku, dosa hatiku, dan dosa tanganku.”
2. Latih diam
Diam bukan berarti lemah.
Diam bisa menjadi:
- penjagaan iman,
- penjagaan kehormatan,
- penjagaan persaudaraan,
- penjagaan diri dari dosa.
3. Ganti celaan dengan doa
Ketika ingin mencela seseorang, katakan:
اللَّهُمَّ أَصْلِحْنِي وَأَصْلِحْهُ
“Ya Allah, perbaikilah aku dan perbaikilah dia.”
Sebab mungkin saja orang yang kita cela hari ini lebih dahulu bertaubat daripada kita.
4. Perbanyak shalawat
Hati yang sering bershalawat kepada Nabi ﷺ hendaknya belajar meneladani akhlak beliau.
Rasulullah ﷺ adalah rahmat.
Maka seorang yang ingin dekat dengan Rasulullah ﷺ harus belajar menjadi rahmat bagi orang lain.
K. PESAN TAZKIYATUN NUFŪS
Wahai saudaraku...
Jangan mudah mengucapkan:
“Kafir!”
Jangan mudah mengucapkan:
“Munafik!”
Jangan mudah mengucapkan:
“Ahli neraka!”
Karena kita tidak mengetahui bagaimana akhir hidup seseorang.
Bisa jadi orang yang kita hina hari ini:
- menangis di hadapan Allah malam ini,
- bertaubat dengan sungguh-sungguh,
- mendapatkan husnul khatimah.
Dan bisa jadi orang yang merasa paling suci:
- terjatuh karena kesombongannya,
- tertipu oleh amalnya,
- jauh dari Allah karena merasa dirinya paling benar.
Maka marilah kita belajar rendah hati.
Jangan membunuh tubuh manusia.
Jangan membunuh kehormatan manusia.
Jangan membunuh harapan manusia.
Jangan membunuh persaudaraan dengan lisan kita.
Karena seorang mukmin adalah orang yang membuat orang lain merasa aman dari lisan dan tangannya.
L. DOA
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْحِقْدِ وَالْحَسَدِ وَالْكِبْرِ وَالرِّيَاءِ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَاللَّعْنِ وَالْبُهْتَانِ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ أَيْدِيَنَا مِنْ ظُلْمِ عِبَادِكَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا سَبَبًا لِلسَّلَامِ، وَلَا تَجْعَلْنَا سَبَبًا لِلْفِتْنَةِ وَالْخُصُومَةِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَذُنُوبَ وَالِدَيْنَا، وَذُنُوبَ أُسْتَاذِنَا وَمَشَايِخِنَا، وَذُنُوبَ جَمِيعِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَلْسِنَتَنَا، وَأَصْلِحْ أَعْمَالَنَا، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ وَحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
PENUTUP
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para ustadz, ustadzah, guru, kyai, ulama, dan para pembimbing umat yang senantiasa mengajarkan ilmu, adab, akhlak, dan jalan untuk membersihkan hati.
Semoga ilmu yang disampaikan menjadi cahaya bagi kehidupan dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Terima kasih juga kepada seluruh pembaca yang telah meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan nasehat ini.
Semoga tulisan sederhana ini menjadi pengingat bagi kita semua:
Sebelum menilai orang lain, nilailah diri sendiri.
Sebelum mencela orang lain, periksalah hati sendiri.
Sebelum mengkafirkan orang lain, takutlah kepada Allah.
Sebelum menekan tombol “kirim”, ingatlah bahwa setiap kata akan dicatat oleh malaikat.
JAGA LISAN.
JAGA TANGAN.
JAGA KEHORMATAN.
JAGA NYAWA.
JAGA HATI.
Karena setiap manusia adalah hamba Allah yang memiliki kehormatan dan hak untuk diperlakukan dengan adil.
والله أعلم بالصواب
Semoga bermanfaat.
.......
No comments:
Post a Comment