BAB IV NASIHAT TENTANG LIMA PERKARA
9. Lima Bekal Untuk Meraih Kebahagiaan
Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ashr.a.:
“Lima hal, jika dimiliki seseorang, maka ia berbahagia di dunia dan di akhirat, yaitu pertama, menyebut ‘Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rasuulullaah’ dari waktu ke waktu: kedua, jika diterima bencana, menyebut: ‘Innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun, wa laa haula wa laa guwwata illaa billaa hil ‘aliyyil ‘azhiim: ketiga, jika dianugerahi nikmat, menyebut: ‘Alhamdu lillaahi Rabbil ‘aalamiin’ sebagai mensyukuri nikmat tersebut: keempat, bila memulai sesuatu, mengucap: ‘Bismillaahir rahmaanir rahiim’: dan kelima, jika terlanjur berbuat dosa, mengucap ‘Astaghfirullaahal ‘azhiim wa atuubu ilaih’.”
..........
🌟
5 JURUS JITU BAHAGIA DUNIA-AKHIRAT ALA SAHABAT
1. Intisari, Maksud & Tujuan
Intinya: Sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash RA ngasih tahu kita lima amalan ringan tapi dahsyat. Kalau kelima hal ini ada dalam diri seseorang, dijamin bahagia dunia dan akhirat.
Maksudnya: Hidup itu simpel sebenernya. Bahagia bukan cuma soal harta, tahta, atau followers. Tapi soal koneksi kita sama Allah di setiap momen—seneng, susah, mau ngapa-ngapain, bahkan pas kita jatuh dalam dosa sekalipun.
Tujuannya: Ngajak kita sadar bahwa Allah itu hadir di setiap detik kehidupan. Bukan cuma diinget pas lagi susah doang, tapi juga pas lagi seneng, pas mau mulai kerja, dan pas kita sadar lagi salah.
2. Komentar Ayat Qur’an, Hadis Shahih & Hadis Qudsi
🔹 Amalan 1: Dzikir Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rasuulullaah
“Perbanyaklah berdzikir kepada Allah dalam segala keadaan. Karena tidak ada amal yang lebih dicintai Allah dan lebih menyelamatkan hamba dari keburukan dunia dan akhirat selain dzikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Shorshori)
Kalimat tauhid ini adalah inti dari segalanya. Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa setiap hari membacanya seratus kali, maka ia datang pada hari kiamat dengan wajah bagaikan bulan purnama.” (Kitab Lubabul Hadits)
🔹 Amalan 2: Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun + Laa haula wa laa quwwata illaa billaah
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 156-157:
“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Kalimat “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah” ini adalah perbendaharaan surga. Bayangin, kata-kata ini simpenan surgawi!
🔹 Amalan 3: Alhamdu lillaahi Rabbil ‘aalamiin
Allah berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’”
Hamdalah itu bentuk syukur paling simpel. Syukur = nikmat nambah. Ingkar = nikmat ilang. Pilihan ada di tangan kita.
🔹 Amalan 4: Bismillaahir rahmaanir rahiim
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan ‘Bismillaahir rahmaanir rahiim’, maka perbuatan tersebut akan terputus (dari rahmat Allah).”
Basmalah itu seperti kunci—buka pintu rezeki, berkah, dan kemudahan. Tanpa kunci, pintu nggak kebuka maksimal.
🔹 Amalan 5: Astaghfirullaahal ‘azhiim wa atuubu ilaih
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Istighfar itu powerful banget. Buat dosa kecil maupun besar, Allah Maha Pengampun. Nggak ada yang bisa nutup pintu taubat kecuali kita sendiri yang males balik.
3. Analisa Makrifat, Argumentasi Hakikat & Implementasi Tarekah
Secara makrifat: Kelima amalan ini sebenernya ngajarin satu hal—tauhid dalam tindakan. Bukan cuma teori, tapi living tauhid. Dzikir itu pengakuan bahwa cuma Allah yang berhak disembah. Istirja’ dan hauqalah itu pengakuan bahwa semua dari Allah dan semua kembali ke Allah. Hamdalah itu pengakuan bahwa semua nikmat dari Allah. Basmalah itu pengakuan bahwa semua langkah kita butuh Allah. Istighfar itu pengakuan bahwa kita nggak sempurna dan butuh ampunan-Nya.
Argumentasi hakikat: Ini adalah zikir ma’rifah—dzikir yang lahir dari kesadaran hati, bukan cuma gerakan bibir. Orang yang mencapai hakikat ini akan merasa Allah selalu dekat. Hidup jadi adem, nggak gampang panik, nggak gampang sombong.
Implementasi kekinian (biar nggak ketinggalan zaman):
· Dzikir tauhid → Bisa sambil scroll medsos, sambil macetan, sambil ngantri kopi. Nggak perlu khusyuk ala-ala, yang penting istiqamah.
· Istirja’ + hauqalah → Pas dapat bad news (di-PHK, putus, kena musibah, HP ilang), langsung tarik napas dan ucapkan ini. Bikin hati lega dan nggak overthinking.
· Hamdalah → Pas dapet good news (naik gaji, dapat jodoh, lolos ujian), langsung hamdalah. Nggak pamer, nggak sombong, tapi balik ke Allah.
· Basmalah → Mau mulai apa aja—kerja, belajar, makan, bahkan buka IG—baca basmalah dulu. Biar berkah dan nggak sia-sia.
· Istighfar → Sadar lagi salah? Langusng istighfar. Nggak usah berlama-lama dalam dosa. Allah pasti nerima taubat.
4. Yuk Muhasabah!
Coba tanya ke diri sendiri:
1. Dzikir: Udah berapa kali hari ini aku inget Allah? Atau malah sibuk sama dunia sampai lupa?
2. Sabar: Pas dapat ujian, apa reaksiku? Panik? Marah? Atau langsung istirja’?
3. Syukur: Pas dapet nikmat, apa aku inget Allah? Atau malah ngerasa ini usaha aku sendiri?
4. Niat: Setiap kali mau mulai kerja, apa aku baca basmalah? Atau asal jalani aja?
5. Taubat: Dosa yang sama, udah berapa kali aku ulangin tanpa istighfar?
Gak usah sempurna. Mulai dari satu per satu. Pelan-pelan. Yang penting konsisten. Allah nggak lihat hasil besar, tapi proses dan niat kita.
5. Doa
*Allahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika. *
“Ya Allah, bantu aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu.”
*Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa illam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakoonanna minal khaasiriin. *
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
*Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aali Sayyidinaa Muhammad. *
“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan kepada keluarganya.”
6. Penutup: Terima Kasih & Mohon Maaf
Alhamdulillah, akhirnya kita sampai di sini. Terima kasih sebesar-besarnya buat semua pihak yang sudah baca, yang sudah kasih waktu, dan yang sudah mau nginget Allah lewat tulisan sederhana ini. Khususnya buat Sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash RA, yang sudah ninggalin warisan berharga ini buat umat. Buat para ulama dan pengasuh pesantren yang merawat dan menyebarkan ilmu ini. Dan tentu buat njenengan semua yang udah meluangkan waktu.
Saya mohon maaf kalau ada kata-kata yang kurang pas atau kurang sopan. Manusia tempatnya salah dan lupa. Yang bener itu dari Allah, yang salah dari saya pribadi.
Semoga Allah mudahkan kita semua untuk mengamalkan lima hal ini. Semoga hidup kita bahagia di dunia, selamat di akhirat, dan dikumpulkan bersama orang-orang yang dicintai-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. 🤲
.........

No comments:
Post a Comment