Judul:
TUHAN TETAP SATU, SEBELUM DAN SESUDAH MARIA HAMIL
---
1. Intisari, Maksud, Tujuan
Pertanyaan "Siapa Tuhanmu sebelum Maria hamil?" muncul dari kebingungan memahami posisi Nabi Isa (Yesus) dalam Islam. Intinya, Tuhan umat Islam sejak dulu, sekarang, dan selamanya adalah Allah Yang Maha Esa.
Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Nabi Isa adalah hamba dan utusan Allah yang mulia, lahir dari seorang perawan bernama Maryam atas kehendak Allah. Jadi, sebelum Maria hamil, Tuhannya adalah Allah. Saat Maria hamil, Tuhannya tetap Allah. Setelah Isa lahir, Tuhannya ya Allah juga.
Tujuan nasihat ini adalah meluruskan akidah tentang keesaan Allah (Tauhid) dan memuliakan Nabi Isa sesuai ajaran Islam, sambil mengambil hikmah untuk kehidupan kita.
---
2. Dalil: Ayat Qur'an & Hadis
A. Al-Qur'an
· Surah Ali 'Imran (3): 45
(Ingatlah), ketika malaikat (Jibril) berkata, "Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang (kelahiran anak yang diciptakan) dengan kalimat dari-Nya, namanya Al-Masih, Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)."
· Surah Maryam (19): 34-35
Itulah (hakikat) Isa putra Maryam, perkataan benar yang mereka ragukan. Tidaklah pantas bagi Allah mempunyai anak. Maha Suci Dia. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu.
· Surah Al-Ikhlas (112): 1-4
Katakanlah (Muhammad), "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia."
B. Hadis Shahih
· Hadis tentang Turunnya Isa: Rasulullah ﷺ bersabda, "Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh Isa putra Maryam akan turun di antara kalian sebagai hakim yang adil..." (HR. Bukhari, Muslim). Ini menunjukkan Isa adalah makhluk yang mulia, bukan Tuhan.
---
3. Analisa, Argumentasi & Implementasi
Analisa: Dalam Islam, status kenabian dan kemuliaan Isa tidak mengurangi keesaan Allah. Kehamilan Maria adalah mukjizat besar, bukti kekuasaan Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Argumentasi: Keyakinan bahwa Isa adalah Tuhan atau anak Tuhan, menurut Islam, adalah syirik (menyekutukan Allah) karena bertentangan dengan Tauhid. Allah itu Esa, tidak butuh anak, dan tidak ada yang setara dengan-Nya.
Implementasi di Kehidupan Sehari-hari (Relevansi Zaman Now):
1. Luruskan Niat: Saat berdoa atau meminta pertolongan, hanya kepada Allah, bukan kepada siapa pun, termasuk Nabi Isa.
2. Hormati Perbedaan: Di tengah isu SARA yang viral, kita bisa tetap teguh pada akidah tanpa menghina keyakinan orang lain. Saling menghormati itu penting.
3. Ambil Hikmah Mukjizat: Kelahiran Isa tanpa ayah mengajarkan kita untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah. Apa pun masalahnya, percayalah pada kekuasaan Allah.
---
4. Muhasabah dan Caranya
Muhasabah adalah introspeksi diri. Coba tanya ke hati:
· "Apakah selama ini aku sudah benar-benar mengesakan Allah dalam ibadah dan keyakinanku?"
· "Apakah aku pernah menempatkan seseorang atau sesuatu di posisi yang seharusnya hanya untuk Allah?"
Caranya:
1. Kosongkan Waktu: Luangkan 5-10 menit di waktu tenang (misal, setelah salat).
2. Renungkan Dalil: Baca dan hayati makna Surat Al-Ikhlas.
3. Evaluasi Tindakan: Tulis satu tindakan hari ini yang menunjukkan ketergantunganmu hanya kepada Allah.
4. Perbaiki Niat: Perbaiki niat untuk esok hari, agar semua amal hanya karena Allah.
---
5. Doa
"Ya Allah, Tuhan Yang Maha Esa, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu yang lurus. Limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya. Ya Allah, janganlah Engkau sesatkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk, dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi. Amin."
---
6. Ucapan Terimakasih
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para ulama dan ustadz yang telah mengajarkan ilmu agama dengan sabar, terutama Ustadz Adi Hidayat, Buya Yahya, Ustadz Abdul Somad, Buya Arrazy Hasyim, dan Gus Baha yang ilmunya selalu menyejukkan hati.
Terima kasih juga buat njenengan semua para pembaca yang budiman. Semoga kita semua selalu dalam lindungan dan petunjuk-Nya.
---
7. Nasehat Para Ulama Salaf (Tazkiyatun Nufus)
· Imam Al-Ghazali: "Ketahuilah, bahwa tujuan akhir dari ibadah adalah makrifatullah (mengenal Allah). Dan puncak makrifat adalah tauhid, yaitu mengesakan-Nya dalam zat, sifat, dan perbuatan."
· Jalaluddin Rumi: "Di luar gagasan tentang benar dan salah, ada sebuah ladang. Aku akan menemuimu di sana. Saat jiwa terbaring di rumput itu, dunia ini begitu luas untuk dibicarakan. Di sanalah tauhid sejati bersemayam."
· Syekh Abdul Qadir Al-Jailani: "Hai anakku, janganlah engkau melihat kepada makhluk, tetapi lihatlah kepada Sang Pencipta. Barang siapa yang melihat kepada makhluk, ia akan tersesat. Dan barang siapa yang melihat kepada Pencipta, ia akan selamat."
· Hasan Al-Bashri: "Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian memandang Al-Qur'an sebagai surat-surat yang datang dari Allah, lalu mereka merenungkannya di malam hari dan mengamalkannya di siang hari."
· Rabi'ah Al-Adawiyah: "Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena ingin surga, maka haramkanlah aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu, maka janganlah Engkau tutup mata hatiku dari keindahan-Mu yang abadi."
· Abu Yazid Al-Bistami: "Aku telah melepaskan diriku dari segala sesuatu yang bukan Allah, seperti ular melepaskan kulitnya."
· Junaid Al-Baghdadi: "Tauhid adalah memisahkan yang qadim (Allah) dari yang baru (makhluk)."
· Al-Hallaj: "Aku adalah Yang Kukasihi, dan Yang Kukasihi adalah aku. Kami dua jiwa yang bertempat dalam satu tubuh. Maka jika engkau melihatku, engkau melihat Dia. Dan jika engkau melihat Dia, engkau melihatku." (Dalam konteks ini, dimaknai sebagai rindu dan dekatnya hamba kepada Tuhan, bukan peleburan zat).
· Ibnu 'Arabi: "Tuhan itu satu, tetapi Dia tampak dalam berbagai bentuk. Janganlah engkau terikat pada satu bentuk saja, sehingga engkau mengingkari yang lain."
· Ahmad Al-Tijani: "Barang siapa yang mengenal Allah, maka ia akan mencintai-Nya. Dan barang siapa yang mencintai-Nya, maka ia akan taat kepada-Nya."
---
8. Testimoni
· Gus Baha (KH. Bahauddin Nursalim): "Kiai saya dulu ngajeni (mengajarkan) Al-Fatihah itu maknane 'Iyyaka na'budu' (Hanya kepada-Mu kami menyembah). Artinya, pas kita shalat, kita itu lagi 'ngadep' (menghadap) siapa? Ya Allah. Bukan kepada Nabi, bukan kepada wali, tapi kepada Allah. Itu yang harus ditata."
· Ustadz Adi Hidayat: "Dalam Islam, akidah itu fundamental. Meyakini Isa sebagai utusan Allah adalah bagian dari rukun iman. Tapi meyakini Isa sebagai Tuhan, itu keluar dari Islam. Karena Allah itu Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan."
· Buya Yahya (KH. Yahya Zainul Ma'arif): "Jangan samakan Nabi Isa dengan Allah. Nabi Isa itu mulia, tapi beliau adalah makhluk. Allah itu Khaliq (Pencipta). Bedakan antara yang menciptakan dan yang diciptakan."
· Ustadz Abdul Somad (UAS): "Kita imani Nabi Isa sebagai Nabi dan Rasul. Kelahirannya tanpa ayah adalah mukjizat. Tapi itu bukan berarti dia Tuhan. Allah itu esa, mandiri, tidak butuh kepada siapa pun."
· Buya Arrazy Hasyim: "Di dalam dada ini, hanya ada satu tempat untuk Tuhan. Jangan pernah kita isi dengan selain Dia. Cintai Nabi Isa, cintai semua Nabi, tapi sembahlah hanya Allah semata."
---
Daftar Pustaka
· Al-Qur'an dan Terjemahannya. Kementerian Agama RI.
· Shahih Bukhari & Shahih Muslim.
· Ihya' 'Ulumuddin, Imam Al-Ghazali.
· Fihi Ma Fihi, Jalaluddin Rumi.
· Al-Futuhat Al-Makkiyyah, Ibnu 'Arabi.
Penutup & Doa:
"Semoga Allah meridai kita semua. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin."
Terima kasih ya, njenengan semua, sudah menyimak. Semoga bermanfaat.
......
No comments:
Post a Comment