Thursday, July 2, 2026

48aj. AL-WALA' WAL BARA'

 📡  LIVE STREAMING


 📖 *KITAB 3 LANDASAN UTAMA : AL-WALA' WAL BARA'*

🎙 *Ustadz ABU JUNDY HAFIDZAHULLAH*


TANGGAL :

SABTU, 27 DZULHIJJAH 1447 / 13 JUNI 2026


⏰  08.30 - 10.00

TEMPAT  :

* MASJID JENDERAL AHMAD YANI, JL. KAHURIPAN 12 MALANG.


Youtube  :

https://www.youtube.com/live/vNsI-_GjeJ0?si=p7eG2IGa8V6lhsMJ

.......

Berikut materi yang dapat dijadikan renungan, dengan pendekatan tasawuf (tazkiyatun nafs) yang tetap berpegang kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah.

KITAB 3 LANDASAN UTAMA

AL-WALA' WAL-BARA'

Mencintai Karena Allah, Membenci Kemaksiatan Karena Allah, dan Menyucikan Hati Menuju Ridha-Nya

Nasehat dan Motivasi (Perspektif Tasawuf – Tazkiyatun Nufus)

Al-Wala' wal-Bara' adalah salah satu prinsip penting dalam akidah Islam. Dalam perspektif tasawuf, makna terdalamnya bukan sekadar loyalitas lahiriah, tetapi penyucian hati agar seluruh cinta, harapan, takut, dan ketergantungan hanya tertuju kepada Allah.

Tasawuf mengajarkan bahwa penyakit hati terbesar adalah ketika kecintaan kepada dunia, hawa nafsu, popularitas, kekuasaan, dan makhluk mengalahkan kecintaan kepada Allah.

Al-Wala' berarti mencintai Allah, Rasul-Nya, orang-orang beriman, amal saleh, ilmu, kejujuran, dan akhlak mulia.

Al-Bara' berarti melepaskan diri dari kekafiran, kemusyrikan, kemunafikan, kezaliman, serta segala bentuk maksiat tanpa diiringi kebencian yang zalim kepada manusia. Seorang mukmin membenci dosa, namun tetap mendoakan agar pelakunya mendapat hidayah.

Inilah akhlak para nabi: tegas terhadap kebatilan, tetapi penuh kasih kepada manusia.

Dalil Al-Qur'an

Allah berfirman:

"Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman." (QS. Al-Ma'idah: 55)

Allah berfirman:

"Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya..." (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Allah berfirman:

"Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya..." (QS. Al-Mujadilah: 22)

Allah juga berfirman:

"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangimu karena agama." (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Ayat ini menunjukkan bahwa prinsip al-wala' wal-bara' tidak meniadakan keadilan, kasih sayang, dan akhlak mulia kepada sesama manusia.

Hadis Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Ikatan iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah." (HR. Ahmad)

Beliau juga bersabda:

"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis Qudsi

Allah Ta'ala berfirman:

"Kecintaan-Ku wajib bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku..." (HR. Malik, Ahmad dan lainnya)

Hadis qudsi ini mengajarkan bahwa cinta yang dibangun atas dasar Allah akan menjadi sebab memperoleh naungan dan kasih sayang Allah pada hari kiamat.

Relevansi di Zaman Sekarang

Di era media sosial, kecerdasan buatan (AI), internet cepat, transportasi modern, dan kemajuan kedokteran, tantangan al-wala' wal-bara' semakin besar.

  • Jangan sampai algoritma media sosial lebih memengaruhi hati daripada Al-Qur'an.
  • Jangan sampai viral lebih dicintai daripada ridha Allah.
  • Gunakan AI dan teknologi sebagai sarana dakwah, belajar, dan kemaslahatan, bukan penyebaran fitnah dan kebencian.
  • Jadikan kemajuan kedokteran sebagai bentuk syukur kepada Allah, bukan alasan melupakan bahwa Allah adalah Asy-Syafi (Maha Penyembuh).
  • Dalam kehidupan sosial, hormati semua manusia dengan adil, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip akidah dan syariat.

Seorang sufi sejati hidup di tengah masyarakat, membawa rahmat, kelembutan, dan keteguhan iman.

Implementasi (Amalan)

  1. Memperbanyak membaca Al-Qur'an setiap hari.
  2. Memperbanyak zikir "Laa ilaaha illallah".
  3. Memilih sahabat yang saleh.
  4. Menjauhi konten yang merusak iman.
  5. Mencintai ulama pewaris nabi.
  6. Membenci dosa tetapi tetap mendoakan pelaku maksiat agar mendapat hidayah.
  7. Memperbanyak istighfar.
  8. Muhasabah setiap malam.
  9. Bersedekah secara ikhlas.
  10. Berdoa agar hati selalu istiqamah.

Nasehat Para Ulama dan Sufi

Hasan al-Bashri berkata:

"Barang siapa mengenal Allah, maka ia akan mencintai-Nya. Barang siapa mengenal dunia, maka ia akan zuhud terhadapnya."

Rabi'ah al-'Adawiyah berkata:

"Aku mencintai Allah bukan karena surga dan bukan karena takut neraka, tetapi karena Dia memang layak dicintai."

Abu Yazid al-Bistami berkata:

"Kosongkan hatimu dari selain Allah."

Junaid al-Baghdadi berkata:

"Tasawuf adalah engkau bersama Allah tanpa sesuatu yang menghalangimu."

Al-Hallaj mengingatkan pentingnya tenggelam dalam cinta kepada Allah, namun ungkapan-ungkapannya perlu dipahami dengan hati-hati sesuai akidah Ahlus Sunnah.

Imam al-Ghazali berkata:

"Penyakit hati lebih berbahaya daripada penyakit badan."

Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata:

"Jangan menggantungkan hati kepada makhluk, gantungkan hanya kepada Allah."

Jalaluddin Rumi berkata:

"Apa yang engkau cintai akan menentukan ke mana engkau berjalan."

Ibnu 'Arabi menekankan pentingnya menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah dalam ciptaan-Nya, dengan tetap menjaga batas-batas syariat.

Ahmad al-Tijani mengajarkan pentingnya memperbanyak zikir, cinta kepada Rasulullah ﷺ, dan penyucian jiwa.

Testimoni Ulama Kontemporer

  • Gus Baha sering menjelaskan bahwa ukuran kecintaan kepada Allah tampak pada ketaatan dan keluasan kasih sayang kepada sesama, bukan pada sikap mudah menghakimi.
  • Ustaz Adi Hidayat menekankan bahwa al-wala' wal-bara' harus dipahami secara utuh berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah sehingga tidak melahirkan sikap ekstrem.
  • Buya Yahya mengingatkan agar membenci kemaksiatan tanpa membenci manusia secara zalim, sebab pintu taubat selalu terbuka.
  • Ustaz Abdul Somad menjelaskan pentingnya menjaga akidah sambil tetap berlaku adil dan berakhlak baik kepada seluruh manusia.
  • Buya Arrazy Hasyim menekankan bahwa tazkiyatun nafs menjadikan al-wala' wal-bara' sebagai proses membersihkan hati dari selain Allah, bukan alasan untuk menumbuhkan kebencian dan permusuhan.

Muhasabah

Renungkanlah:

  • Apakah cintaku kepada Allah lebih besar daripada cintaku kepada dunia?
  • Apakah media sosial lebih sering kubuka daripada mushaf Al-Qur'an?
  • Apakah aku membenci dosa dalam diriku sebelum melihat dosa orang lain?
  • Apakah aku telah menjadi rahmat bagi keluarga dan masyarakat?

Doa

Allahumma inni as'aluka hubbaka, wa hubba man yuhibbuka, wa hubba 'amalin yuqarribuni ila hubbika. Allahumma thahhir qalbi minan nifaq, wa 'amali minar riya', wa lisani minal kadzib, wa 'aini minal khiyanah. Allahumma tsabbit qalbi 'ala dinika wa thahhir nafsi bi nuril iman. Amin ya Rabbal 'alamin.

Artinya: "Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu. Ya Allah, sucikan hatiku dari kemunafikan, amalanku dari riya', lisanku dari dusta, dan pandanganku dari khianat. Teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu dan sucikanlah jiwaku dengan cahaya iman. Amin."

Daftar Pustaka

  1. Al-Qur'an al-Karim.
  2. Shahih al-Bukhari.
  3. Shahih Muslim.
  4. Riyadhus Shalihin – Imam an-Nawawi.
  5. Ihya' 'Ulum ad-Din – Imam al-Ghazali.
  6. Madarij as-Salikin – Ibnul Qayyim.
  7. Al-'Ubudiyyah – Ibnu Taimiyah.
  8. Risalah al-Qusyairiyyah – Imam al-Qusyairi.
  9. Hilyatul Auliya' – Abu Nu'aim al-Ashbahani.
  10. Karya-karya dan kajian ulama kontemporer yang selaras dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Ucapan Terima Kasih

Jazakumullahu khairan katsiran kepada semua pembaca. Semoga Allah menjadikan ilmu ini sebagai cahaya yang menerangi hati, memperkokoh akidah, menyucikan jiwa, memperindah akhlak, serta menghimpunkan kita bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh di surga-Nya. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.

......



No comments: