Thursday, July 2, 2026

46aj. MEMBERONTAK DAN MENGKAFIRKAN ORANG LAIN DIKARENAKAN MELAKUKAN DOSA BESAR

 📡  LIVE STREAMING


 📖 *KITAB AL KABAIR : DOSA BESAR KE-49, MEMBERONTAK DAN MENGKAFIRKAN ORANG LAIN DIKARENAKAN MELAKUKAN DOSA BESAR*


🎙 *Ustadz ABU JUNDY HAFIDZAHULLAH*


TANGGAL :

JUM'AT, 27 DZULHIJJAH 1447 H / 12 JUNI 2026


⏰  BA'DA MAGRIB - SELESAI 


TEMPAT  :

* DI MASJID BAITUT TAUBAH, JL. KALIDAMI VII / 10 SURABAYA


Youtube  :

https://www.youtube.com/live/ABbZwLKkJHU?si=aLr-QXpXWl1fCa1O

.........

KITAB AL-KABĀ'IR

Dosa Besar ke-49:

Memberontak dan Mengkafirkan Orang Lain Karena Melakukan Dosa Besar

(Perspektif Tasawuf dan Tazkiyatun Nufus)

Mukadimah

Di antara penyakit hati yang paling berbahaya adalah merasa diri paling benar, lalu mudah mengkafirkan, memfasikkan, atau membenci sesama muslim hanya karena mereka terjatuh ke dalam dosa besar. Sikap ini merupakan ciri kelompok Khawarij yang telah diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ.

Tasawuf mengajarkan bahwa sebelum melihat dosa orang lain, hendaknya seseorang terlebih dahulu menangisi dosa dirinya sendiri. Orang yang sibuk memperbaiki hati akan sedikit mencela manusia, tetapi banyak memohonkan ampun kepada Allah.

Dalil Al-Qur'an

1. QS. An-Nisā' ayat 94

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu pergi di jalan Allah, maka telitilah, dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu: 'Engkau bukan seorang mukmin'..."

Ayat ini mengajarkan agar tidak mudah menghakimi keimanan seseorang.

2. QS. Al-Hujurāt ayat 11

"...Janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain..."

3. QS. Az-Zumar ayat 53

"Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah..."

Ayat ini menunjukkan bahwa pelaku dosa masih memiliki pintu taubat.


Hadis Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Apabila seseorang berkata kepada saudaranya: 'Wahai kafir', maka tuduhan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda:

"Mencela seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Tentang Khawarij, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari busurnya karena berlebihan dalam memahami agama.


Hadis Qudsi

Allah Ta'ala berfirman:

"Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi." (HR. Muslim)

Mudah mengkafirkan orang termasuk bentuk kezaliman apabila tanpa hak.


Perspektif Tasawuf (Tazkiyatun Nufus)

Penyakit yang melahirkan mudah mengkafirkan ialah:

  • ujub (bangga diri),
  • takabur,
  • merasa paling suci,
  • keras hati,
  • minim kasih sayang,
  • kurang mengenal keluasan rahmat Allah.

Orang yang ma'rifat justru semakin takut terhadap amalnya sendiri daripada sibuk menghitung dosa orang lain.

Tasawuf mengajarkan keseimbangan antara takut (khauf), berharap (raja'), kasih sayang (rahmah), dan adab.


Relevansi Zaman Sekarang

Di era media sosial, kecerdasan buatan (AI), komunikasi digital, transportasi yang cepat, dan informasi yang menyebar dalam hitungan detik, fenomena "takfir digital" semakin mudah terjadi.

Seseorang dipotong videonya beberapa detik, lalu divonis kafir.

Potongan ceramah disebarkan tanpa konteks.

Komentar di media sosial dipenuhi ujaran kebencian.

Fenomena "cancel culture" menjadikan manusia merasa berhak menjadi hakim atas iman orang lain.

Padahal dokter tidak memvonis pasien tanpa pemeriksaan, hakim tidak memutus perkara tanpa bukti, maka terlebih lagi urusan iman seseorang yang hanya Allah mengetahui hakikatnya.

Kemajuan teknologi hendaknya menjadi sarana menyebarkan ilmu, kasih sayang, dan akhlak, bukan memperluas permusuhan.


Implementasi (Amalan)

  1. Memperbanyak istighfar setiap hari.
  2. Menjaga lisan dan jari ketika bermedia sosial.
  3. Mendoakan pelaku maksiat agar mendapat hidayah.
  4. Memperbaiki diri sebelum menilai orang lain.
  5. Menghidupkan dzikir pagi dan petang.
  6. Membaca Al-Qur'an setiap hari.
  7. Berteman dengan orang-orang saleh.
  8. Mengedepankan tabayyun sebelum menyimpulkan sesuatu.
  9. Menghindari debat yang menimbulkan permusuhan.
  10. Memohon husnul khatimah kepada Allah.

Nasehat Ulama Tasawuf

Hasan al-Bashri "Orang mukmin selalu menuduh dirinya sendiri, sedangkan orang munafik selalu menyalahkan orang lain."

Rabi'ah al-Adawiyah "Jangan sibuk mencari dosa manusia, tetapi sibukkanlah dirimu agar dicintai Allah."

Abu Yazid al-Bisthami "Ketika aku melihat dosaku sendiri, aku tidak lagi sempat melihat dosa orang lain."

Junaid al-Baghdadi "Hakikat tasawuf adalah bersih hati terhadap seluruh makhluk."

Al-Hallaj "Cinta kepada Allah melahirkan kasih sayang kepada makhluk."

Imam al-Ghazali "Pangkal kesombongan adalah merasa diri lebih baik daripada orang lain."

Syekh Abdul Qadir al-Jailani "Jangan menghina ahli maksiat, sebab engkau tidak mengetahui bagaimana akhir hidupmu dan akhir hidupnya."

Jalaluddin Rumi "Angkatlah manusia dengan cinta, bukan dengan kebencian."

Ibnu 'Arabi "Hati seorang mukmin adalah tempat turunnya rahmat Allah."

Ahmad al-Tijani "Akhlak yang mulia merupakan jalan tercepat menuju keridhaan Allah."


Testimoni Ulama Kontemporer

Gus Baha "Pelaku dosa besar belum tentu kafir. Selama tidak menghalalkan dosanya, ia tetap muslim yang membutuhkan taubat."

Ustaz Adi Hidayat "Tidak setiap pelaku maksiat keluar dari Islam. Takfir memiliki syarat-syarat yang sangat ketat."

Buya Yahya "Doakan orang yang bermaksiat, jangan buru-buru menghukuminya."

Ustaz Abdul Somad "Kita diperintahkan berdakwah, bukan menjadi hakim surga dan neraka."

Buya Arrazy Hasyim "Ilmu yang tidak melahirkan kasih sayang berpotensi melahirkan kesombongan spiritual."


Penutup

Seorang sufi berkata:

"Boleh jadi orang yang hari ini engkau hina akan menjadi wali Allah esok hari. Dan boleh jadi orang yang hari ini engkau banggakan justru tergelincir di akhir hayatnya."

Karena itu, sibukkanlah diri dengan taubat, dzikir, dan memperbaiki hati. Serahkan urusan penilaian akhir kepada Allah Yang Maha Adil.


Doa

Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.

Allahumma yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qulūbanā 'alā dīnik.

Allahumma athhir qulūbanā mina al-kibri wal-'ujbi war-riyā' wal-ghill wal-hasad.

Allāhumma ij'alnā min 'ibādika al-mukhliṣīn, warzuqnā husnal-khātimah, waj'al lisānanā rāthiban bi dzikrika, wa lā taj'alnā mimman yuhakkimu 'alā 'ibādika bi ghairi 'ilm.

Rabbanā ātinā fid-dunyā hasanah wa fil-ākhirati hasanah wa qinā 'adzāban-nār.

Āmīn yā Rabbal-'Ālamīn.


Daftar Pustaka

  1. Al-Qur'an al-Karim.
  2. Shahih al-Bukhari.
  3. Shahih Muslim.
  4. Imam Adz-Dzahabi, Al-Kabā'ir.
  5. Imam al-Ghazali, Ihya' 'Ulumuddin.
  6. Imam al-Ghazali, Minhajul 'Abidin.
  7. Ibn Rajab al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wal-Hikam.
  8. Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Al-Fath ar-Rabbani.
  9. Imam an-Nawawi, Riyadhus Shalihin.
  10. Ibnu Taimiyah, Majmu' al-Fatawa (pembahasan tentang takfir dan Khawarij).

Ucapan Terima Kasih

Alhamdulillāhi Rabbil 'Ālamīn.

Semoga Allah ﷻ menjadikan ilmu ini sebagai cahaya bagi hati, penyejuk jiwa, penambah keimanan, dan pemberat timbangan amal saleh. Terima kasih kepada para guru, ulama, orang tua, dan seluruh penuntut ilmu yang senantiasa menjaga adab dalam menuntut ilmu serta menyebarkan Islam dengan hikmah, kasih sayang, dan akhlak mulia.

Semoga Allah menerima setiap amal kita dan mempertemukan kita kelak di surga-Nya bersama Rasulullah ﷺ.

Āmīn Yā Rabbal 'Ālamīn.

......


No comments: