21. KEUTAMAAN BERDOA DENGAN SUARA KERAS DAN SUARA PELAN.
Umar r.a. berkata: "Aku pernah melihat Rasulullah Saw. tidur di atas tikar, dan terlihat jelas bekas tikar itu pada lambungnya." Aku berkata: "Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah, agar Dia melapangkan dunia untukmu. Karena raja-raja tidak beribadah kepada Allah Swt. Beliau bersabda: "Semua Persi dan Rum benar-benar diberi kelapangan. Padahal mereka kelapangan itu disimpan untuk kita, hai Ibnul Khaththab. Sedang mereka adalah orang-orang yang disegerakan kesenangannya di dunia ini."
Dalam sebuah riwayat disebutkan:
أمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ .
"Apakah engkau tidak rela, kalau dunia ini untuk mereka, sedang kita mendapatkan akhirat?"
.......
Dunia Boleh di Tangan, Akhirat Tetap di Hati
Nasihat Tasawuf dan Tazkiyatun Nufus
Bismillahirrahmanirrahim.
Hadis di atas mengajarkan bahwa kemuliaan seorang mukmin bukan diukur dari banyaknya harta, kemewahan, atau jabatan, tetapi dari kedekatannya kepada Allah dan kerinduannya kepada negeri akhirat.
Ketika Sayyidina Umar r.a. melihat bekas tikar di lambung Rasulullah ﷺ, beliau merasa iba. Namun Rasulullah ﷺ justru mengajarkan pelajaran agung: "Apakah engkau tidak rela jika dunia untuk mereka, sedangkan akhirat untuk kita?"
Inilah hakikat zuhud dalam tasawuf. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hidup. Dunia hanya sarana menuju ridha Allah.
Orang yang hatinya dipenuhi cinta dunia akan selalu merasa kurang. Sebaliknya, orang yang dipenuhi cinta kepada Allah akan selalu merasa cukup, meskipun hidup sederhana.
Allah berfirman:
"Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."
(QS. Al-A'la: 17)
Allah juga berfirman:
"Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal."
(QS. An-Nahl: 96)
Dan firman-Nya:
"Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga dan berlomba memperbanyak harta serta anak."
(QS. Al-Hadid: 20)
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir." (HR. Bukhari)
Beliau juga bersabda:
"Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis qudsi Allah Ta'ala berfirman:
"Wahai anak Adam, beribadahlah kepada-Ku dengan sungguh-sungguh, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku tutupi kefakiranmu." (HR. Tirmidzi)
Relevansi di Zaman Sekarang
Di era media sosial, banyak orang berlomba memamerkan kekayaan, kendaraan, rumah, liburan, bahkan ibadah untuk mendapatkan pujian manusia. Akibatnya hati menjadi gelisah, mudah iri, dan sulit bersyukur.
Tazkiyatun Nufus mengajarkan agar hati tidak diperbudak oleh dunia. Gunakan teknologi untuk berdakwah, belajar ilmu, memperbanyak dzikir, dan menebar manfaat, bukan untuk menumbuhkan riya', ujub, dan cinta dunia.
Muhasabah Diri
Renungkanlah beberapa pertanyaan berikut:
- Apakah aku lebih sibuk mengejar dunia daripada memperbaiki shalatku?
- Apakah hatiku sedih ketika kehilangan harta, tetapi tidak sedih ketika kehilangan kekhusyukan ibadah?
- Apakah aku bersyukur atas nikmat Allah atau terus membandingkan hidupku dengan orang lain?
- Sudahkah aku menjadikan akhirat sebagai tujuan utama?
Cara Bertazkiyah
- Perbanyak dzikir, istighfar, dan shalawat.
- Perbanyak membaca dan mentadabburi Al-Qur'an.
- Biasakan hidup sederhana dan qana'ah.
- Perbanyak sedekah walaupun sedikit.
- Bergaul dengan orang-orang saleh yang mengingatkan kepada akhirat.
- Berdoa dengan penuh keikhlasan, baik dengan suara pelan maupun ketika diperlukan dengan suara yang terdengar, sesuai tuntunan syariat. Yang paling penting adalah hadirnya hati di hadapan Allah.
Doa
Allahumma inni as'aluka hubbaka, wa hubba man yuhibbuka, wa hubba 'amalin yuqarribuni ila hubbika. Allahumma la taj'alid-dunya akbara hammina wa la mablagha 'ilmina, waj'alil-akhirata hiya darana wa qararana. Allahumma athhir qulubana min hubbid-dunya, wa zayyinha bit-taqwa wal-ikhlash, wa wafiqna li husnil-khatimah. Aamiin ya Rabbal 'Alamiin.
Ucapan Terima Kasih
Jazakumullahu khairan katsiran kepada seluruh jamaah dan para pembaca yang senantiasa meluangkan waktu untuk menuntut ilmu. Semoga Allah menerima setiap langkah kita menuju majelis ilmu, membersihkan hati kita dengan cahaya iman, menjadikan kita hamba-hamba yang zuhud terhadap dunia namun kaya dalam ketakwaan, serta mengumpulkan kita bersama Rasulullah ﷺ di surga Firdaus. Aamiin ya Rabbal 'Alamiin.
........
No comments:
Post a Comment