irsyadul ibad
Bab : Wudhu.
Pada suatu hari mata Junaid sakit, lalu pergi ke dokter, lalu dibilang: ‘Apabila kamu (Junaid) ingin matamu sembuh, maka janganlah sampai tersentuh dengan air. Namun rupanya Junaid kurang menerima terhadap nasehat dokter itu, setelah pak dokter pergi. Junaid pun segera berwudhu,’lalu shalat dan tidur, ternyata kedua matanya malah sembuh.
Lalu terdengarlah suara hati yang berkata: ‘Junaid telah mengorbankan mata untuk memperoleh keridhaan-Ku.’ Seandainya orang-orang yang durhaka minta padaku dengan sungguh-sungguh sebagaimana kesemangatan Junaid, maka Aku akan mengabulkannya. Ketika sang dokter datang, dan melihat kedua mata Junaid dalam keadaan sembuh, lalu bertanya: ‘Apa yang kamu lakukan untuk matamu?’
Junaid tak segan-segan menjawab: ‘Aku berwudhu,’ lalu shalat. Ketepatan pada waktu itu, dokternya seorang Nasrani, lalu beriman seketika dan berkata: ‘Ini adalah pengobatan yang langsung dari Allah swt, bukan dengan tata cara medis.’ Lalu Junaid berkata: ‘Aku sedang sakit mata dan Engkaulah sebagai dokternya. (Allah swt).’
............
Sebelum masuk ke nasihatnya, perlu dicatat bahwa kisah ini populer dalam literatur tasawuf sebagai hikayat tentang Al-Junaid al-Baghdadi. Status riwayatnya bukan hadis Nabi, sehingga sebaiknya dipahami sebagai kisah yang mengandung pelajaran ruhani, bukan sebagai dalil bahwa seseorang harus mengabaikan nasihat medis. Dalam Islam, berobat juga merupakan bagian dari ikhtiar yang dianjurkan.
........
Ketika Hati Berserah, Allah Menjadi Sebaik-baik Penolong
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Kisah Imam Junaid mengajarkan bahwa kekuatan seorang hamba bukan terletak pada jasadnya, melainkan pada hati yang sepenuhnya bergantung kepada Allah. Seorang ahli tasawuf tidak menolak sebab (ikhtiar), tetapi ia tidak menggantungkan hati kepada sebab. Yang menjadi sandarannya hanyalah Allah, Sang Musabbibul Asbab (Pencipta segala sebab).
Mata boleh sakit, tubuh boleh lemah, jalan hidup boleh sempit, tetapi apabila hati tetap yakin kepada Allah, maka pertolongan-Nya dapat datang melalui jalan yang tidak pernah disangka.
Makna (Tazkiyatun Nufūs)
Tasawuf mengajarkan bahwa penyakit terbesar bukanlah sakitnya mata, melainkan sakitnya hati.
Hati yang bersih akan lebih memilih ridha Allah daripada kenyamanan dunia. Ketika seorang hamba mengutamakan Allah, maka Allah mencukupkan segala urusannya.
Allah berfirman:
"...Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka..."
QS. .
Allah juga berfirman:
"...Cukuplah Allah menjadi Penolong bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung."
QS. .
Dan Allah berfirman:
"Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan."
QS. .
Hikmah dan Pelajaran (Ibrah)
- Tawakal bukan meninggalkan ikhtiar, tetapi membersihkan hati dari ketergantungan kepada selain Allah.
- Semakin kuat keyakinan kepada Allah, semakin tenang jiwa menghadapi ujian.
- Keikhlasan mampu mengangkat derajat seorang hamba di sisi Allah.
- Karamah bukan tujuan perjalanan ruhani; tujuan utamanya adalah ridha Allah.
- Seorang mukmin hendaknya menggabungkan ikhtiar yang benar, doa yang tulus, dan tawakal yang sempurna.
Hadis yang Berkaitan
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah engkau lemah." (HR. )
Beliau juga bersabda:
"Setiap penyakit ada obatnya." (HR. dan )
Hadis ini menunjukkan bahwa berobat adalah bagian dari syariat, sedangkan kesembuhan hakikatnya berasal dari Allah.
Hadis Qudsi yang Berkaitan
Allah Ta'ala berfirman:
"Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku."
(Hadis Qudsi riwayat dan )
Relevansi Zaman Sekarang
Di zaman modern, banyak orang menggantungkan harapan hanya kepada uang, teknologi, jabatan, atau kemampuan manusia. Ketika semua itu gagal, mereka mudah putus asa.
Tasawuf mengajarkan keseimbangan:
- Berobat dengan sungguh-sungguh.
- Bekerja dengan maksimal.
- Berikhtiar sesuai syariat.
- Tetapi hati tetap yakin bahwa hanya Allah yang menyembuhkan, memberi rezeki, dan mengubah keadaan.
Muhasabah
Renungkanlah dalam hati:
- Apakah selama ini aku lebih percaya kepada sebab daripada kepada Allah?
- Ketika sakit, apakah aku lebih banyak mengeluh daripada berdoa?
- Ketika memiliki masalah, apakah aku lebih dahulu mencari manusia daripada bersujud kepada Allah?
- Sudahkah aku menjadikan shalat sebagai tempat kembali ketika menghadapi kesulitan?
Cara Membersihkan Hati (Tazkiyatun Nufūs)
- Perbaiki niat dalam setiap amal.
- Jaga shalat tepat waktu dengan khusyuk.
- Perbanyak istighfar minimal 100 kali setiap hari.
- Biasakan membaca Hasbunallahu wa ni'mal wakil ketika menghadapi kesulitan.
- Latih hati untuk selalu ridha terhadap takdir Allah.
- Berikhtiar dengan benar, kemudian serahkan hasilnya kepada Allah.
Doa
اللهم يا شافي اشفنا شفاءً لا يغادر سقماً، وطهر قلوبنا من الرياء والعجب والتعلق بغيرك، وارزقنا صدق التوكل عليك، وحسن الظن بك، واجعل رضاك أكبر همنا، ولا تكلنا إلى أنفسنا طرفة عين.
Artinya:
"Ya Allah, Wahai Dzat Yang Maha Menyembuhkan, sembuhkanlah kami dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikit pun. Bersihkan hati kami dari riya, ujub, dan ketergantungan kepada selain-Mu. Karuniakan kepada kami tawakal yang benar, prasangka yang baik kepada-Mu, jadikan ridha-Mu sebagai tujuan terbesar kami, dan jangan Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri walau sekejap mata."
Penutup
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang selalu berikhtiar sesuai syariat, namun tidak pernah menggantungkan hati kepada selain-Nya. Semoga Allah membersihkan hati kita, menguatkan iman kita, menerima amal ibadah kita, dan mengaruniakan husnul khatimah.
Jazakumullahu khairan katsiran.
Semoga Allah membalas segala kebaikan, melimpahkan rahmat, keberkahan, kesehatan, serta menjadikan kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu dekat kepada-Nya. Āmīn Yā Rabbal 'Ālamīn.
......
No comments:
Post a Comment