Kitab Irsyadul Ibad karya Syekh Zainuddin al-Malibari memuat larangan keras memutus silaturahmi. Di dalamnya terdapat sebuah kisah masyhur dari Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengenai seorang saudagar kaya yang hartanya lenyap dan mendapat azab di alam kubur akibat menelantarkan serta memutuskan hubungan dengan saudaranya yang miskin.Kisah dan penjelasan selengkapnya mengenai bab larangan memutus hubungan sanak famili tersebut dapat disimak melalui ringkasan berikut:
1. Kronologi Kisah Saudagar dan Harta 1.000 DinarTitipan Harta: Sebelum berangkat haji, seorang saudagar kaya menitipkan uang sebesar \(1.000\) dinar kepada sahabatnya yang dikenal jujur dan amanah.
Musibah Kematian: Sepulang dari ibadah haji, sang saudagar mendatangi sahabatnya tersebut, tetapi ternyata ia telah meninggal dunia.Respons Ahli Waris: Saat ia menanyakan uang titipannya kepada pihak keluarga sahabatnya, mereka kompak menjawab tidak tahu menahu tentang uang tersebut.
2. Mimpi dan Hukuman Akibat Memutus SilaturahmiMimpi Bertemu Sahabat: Saudagar tersebut bermimpi bertemu dengan sahabatnya yang telah wafat dan bertanya tentang uangnya.
Kenyataan Pahit: Sahabatnya memberitahu bahwa uang tersebut dikuburkan di suatu tempat. Namun, ada hal yang sangat mengejutkan ketika si saudagar melihat keadaan sahabatnya di alam kubur.
Penyebab Azab: Sahabat yang dikenal saleh tersebut disiksa oleh Allah karena semasa hidupnya pernah memutus tali silaturahmi dengan saudara perempuannya yang miskin. Ia membiarkan dan tidak peduli terhadap saudaranya yang hidup dalam kekurangan.
Pelajaran Moral (Ibrah)Dosa Besar: Perbuatan qathu ar-rahim (memutus hubungan kekeluargaan) adalah dosa besar yang sangat dibenci dalam Islam.
Ancaman di Akhirat: Sebagaimana keterangan yang dinukil dalam pengajian kitab Ngaji Kitab Irsyadul Ibad oleh Pesantren Langitan, perbuatan ini menjadi penghalang seseorang untuk masuk surga.
Kewajiban Menyambung: Islam mewajibkan kita untuk senantiasa menyambung tali persaudaraan, baik berupa kunjungan, saling memberi, maupun menjaga lisan agar tidak saling menyakiti.
.........
Jangan Putuskan Tali yang Allah Perintahkan untuk Disambung
Tazkiyatun Nufūs: Silaturahmi adalah Jalan Rahmat, Memutusnya adalah Jalan Azab
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Kisah yang disebutkan dalam Kitab Irsyādul 'Ibād mengajarkan bahwa amal lahir yang tampak baik belum tentu menyelamatkan seseorang apabila masih menyimpan dosa besar terhadap sesama, terutama kepada keluarga sendiri. Seorang yang dikenal saleh ternyata tetap mendapatkan azab di alam kubur karena memutus hubungan dengan saudara perempuannya yang miskin dan membiarkannya hidup dalam kesusahan.
Dalam perspektif tasawuf (Tazkiyatun Nufūs), silaturahmi bukan sekadar saling berkunjung, tetapi merupakan cermin kebersihan hati. Hati yang dipenuhi kasih sayang akan mudah memaafkan, membantu, dan menguatkan keluarga. Sebaliknya, hati yang dipenuhi kesombongan, kebencian, atau cinta dunia akan mudah memutus hubungan dengan orang yang seharusnya paling dekat.
Orang yang benar-benar mengenal Allah tidak hanya rajin shalat dan berzikir, tetapi juga menghadirkan akhlak rahmat kepada keluarganya. Sebab, mendekat kepada Allah harus dibuktikan dengan berbuat baik kepada makhluk-Nya.
Dalil Al-Qur'an
1. QS. Muhammad: 22–23
"Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah, lalu Allah menjadikan mereka tuli dan membutakan penglihatannya."
2. QS. An-Nisā': 1
"Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan."
3. QS. Ar-Ra'd: 21
"Orang-orang yang menyambung apa yang Allah perintahkan agar disambung dan mereka takut kepada Tuhannya."
Hadis-hadis Terkait
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi."
(HR. Bukhari dan Muslim).
Beliau juga bersabda:
"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi."
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis Qudsi
Allah Ta'ala berfirman:
"Aku adalah Ar-Rahman, dan Aku menciptakan rahim (hubungan kekeluargaan). Barang siapa menyambungnya, Aku akan menyambungnya. Barang siapa memutuskannya, Aku akan memutuskannya."
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hikmah dan Pelajaran
- Jangan merasa cukup dengan banyaknya ibadah jika masih menyakiti keluarga.
- Membantu saudara yang membutuhkan adalah jalan memperoleh rahmat Allah.
- Kesombongan dan cinta dunia sering menjadi penyebab putusnya silaturahmi.
- Maaf dan kasih sayang lebih mulia daripada mempertahankan gengsi.
- Silaturahmi adalah sebab datangnya keberkahan umur, rezeki, dan ketenangan hati.
Muhasabah
Renungkanlah sejenak:
- Apakah ada saudara yang sudah lama tidak aku sapa?
- Apakah ada keluarga yang membutuhkan bantuanku tetapi aku abaikan?
- Apakah aku masih menyimpan dendam kepada kerabat?
- Apakah aku lebih mudah berbuat baik kepada orang lain daripada kepada keluargaku sendiri?
Cara Memperbaiki Diri
- Niatkan taubat karena Allah.
- Hubungi kembali keluarga yang renggang hubungannya.
- Minta maaf walaupun merasa benar.
- Sisihkan sebagian rezeki untuk membantu kerabat yang membutuhkan.
- Doakan keluarga setiap selesai shalat.
- Biasakan menjaga lisan agar tidak melukai hati keluarga.
Doa
Allāhumma allif baina qulūbinā, wa aṣliḥ dzāta baininā, waj'alnā min al-wāṣilīna lir-raḥim, wabārik lanā fī a'mārinā wa arzāqinā, waghfir lanā wa liwālidaynā wa li jamī'i aqribā'inā. Āmīn.
"Ya Allah, satukanlah hati-hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menyambung tali silaturahmi, limpahkan keberkahan pada umur dan rezeki kami, serta ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh keluarga kami. Āmīn."
Penutup
Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan, kedengkian, dan kerasnya hati. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang menjaga silaturahmi, mengasihi keluarga, serta diwafatkan dalam keadaan memperoleh rahmat-Nya, bukan azab-Nya.
Jangan sampai kita rajin beribadah kepada Allah, tetapi lalai terhadap hak saudara sendiri. Sebab hati yang bersih selalu dekat kepada Allah dan dekat pula kepada keluarga.
Jazakumullāhu khairan katsīrā.
Semoga Allah menerima amal ibadah kita, menguatkan ukhuwah, dan menjadikan kita ahli silaturahmi yang kelak dipanggil memasuki surga-Nya tanpa rasa takut dan tanpa kesedihan.
:::
No comments:
Post a Comment