Saturday, May 30, 2026

301dur. Menjaga Lisan, Menghidupkan Cinta kepada Rasulullah, dan Menyucikan Hati

 63. KECAMAN TERHADAP SIFAT BURUK SANGKA DAN MENGGUNJING.

Dan sabda Nabi saw. pula :

Artinya : “Ada tiga golongan manusia yang tidak akan melihat wajahku (pada hari kiamat nanti) : (1) orang yang durhaka kepada ibu-bapaknya, (2) orang yang meninggalkan sunnahku, (3) orang yang ketika aku disebut di sisinya, dia tidak bersalawat untukku.

Sungguh benarlah Nabi dengan sabdanya.

Konon, sebab turunnya ayat ini adalah berkaitan dengan dua orang sahabat Nabi saw., yaitu ketika Nabi saw. mengikutsertakan seorang laki-laki dari kalangan sahabat yang fakir miskin dalam suatu perjalanan kepada dua orang laki-laki kaya, supaya dia dapat ikut makan bersama dari makanan mereka, dan supaya dia mendahului mereka berdua turun di tempat persinggahan untuk menyiapkan tempat dan makanan bagi mereka berdua. Nabi mengikut-sertakan Salman Alfarisi kepada dua orang laki-laki tersebut. Pada suatu hari, Salman singgah di suatu tempat, tetapi dia tidak menyiapkan apa-apa untuk mereka berdua. Maka berkatalah kedua orang itu kepadanya : “Pergilah kepada Rasulullah, dan mintalah untuk kita sisa lauk-pauk”.

Ketika Salman telah pergi, salah seorang di antara mereka berdua berkata kepada sahabatnya, sementara Salman tidak ada : “Sesungguhnya, kalau Salman itu tiba di sumur Samihah (yakni sebuah sumur yang banyak airnya), pasti airnya akan surut”.

Setelah Salman sampai kepada Rasulullah dan menyampaikan pesan mereka kepada Beliau, Rasulullah saw. berkata : “Katakanlah kepada mereka berdua, sesungguhnya kalian telah memakan lauk-pauk itu”.

Saiman pun kembali menemui mereka, lalu menyampaikan apa yang diucapkan oleh Rasulullah saw. tadi. Maka mereka berdua lalu menemui Rasulullah dan berkata : “Kami belum memakan lauk-pauk itu, Ya Rasulullah”.

Rasulullah saw. menjawab : “Sesungguhnya aku benar-benar telah melihat daging yang merah pada mulutmu berdua, karena perbuatanmu menggunjing sahabatmu itu”.

Kemudian turunlah ayat di atas tadi.

......

Menjaga Lisan, Menghidupkan Cinta kepada Rasulullah, dan Menyucikan Hati

Nasihat Tasawuf (Tazkiyatun Nufus): Lisan yang Bersih, Hati yang Berseri

Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.

Lisan adalah cermin hati. Hati yang dipenuhi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya akan melahirkan ucapan yang lembut, penuh dzikir, doa, dan kebaikan. Sebaliknya, hati yang dipenuhi penyakit seperti iri, dengki, sombong, dan meremehkan orang lain akan mudah terjerumus ke dalam ghibah (menggunjing), mencela, dan menyakiti sesama.

Kisah Salman Al-Farisi radhiyallāhu 'anhu mengajarkan bahwa dosa lisan bukanlah perkara ringan. Dua sahabat yang menggunjing saudaranya dianggap oleh Rasulullah ﷺ seakan-akan telah memakan daging saudaranya sendiri. Dalam pandangan tasawuf, ghibah bukan hanya melukai kehormatan orang lain, tetapi juga mengotori hati pelakunya sehingga cahaya ma'rifat dan kekhusyukan ibadah menjadi redup.

Demikian pula sabda Nabi ﷺ tentang tiga golongan yang tidak memperoleh kemuliaan melihat beliau pada hari kiamat merupakan peringatan agar seorang mukmin senantiasa berbakti kepada kedua orang tua, menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ, dan memperbanyak shalawat ketika nama beliau disebut.

Orang-orang saleh berkata:

"Membersihkan hati lebih sulit daripada membersihkan pakaian, tetapi hati yang bersih akan mengantarkan pemiliknya kepada ridha Allah."

Dalil Al-Qur'an

1. Larangan ghibah

"...Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya..."
QS. Al-Hujurat: 12

2. Berbakti kepada orang tua

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua."
QS. Al-Isra': 23

3. Perintah bershalawat kepada Nabi ﷺ

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan."
QS. Al-Ahzab: 56

Hadis-Hadis Terkait

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."

Beliau juga bersabda:

"Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya."

Dan:

"Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku."

Hadis Qudsi

Allah Ta'ala berfirman:

"Aku bersama hamba-Ku ketika ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku."

Hadis qudsi ini mengajarkan bahwa lisan yang dipenuhi dzikir akan mendekatkan seorang hamba kepada Allah, sedangkan lisan yang dipenuhi ghibah akan menjauhkan dirinya dari rahmat-Nya.

Relevansi dengan Kitab-Kitab Akhlak dan Tasawuf

Isi nasihat ini sangat selaras dengan pelajaran dalam kitab-kitab seperti:

  • Usfuriyah: banyak mengingatkan bahaya dosa lisan dan pentingnya menjaga akhlak.
  • Nashaihul 'Ibad: menekankan taubat, ikhlas, serta menjaga hubungan dengan sesama.
  • Daqa'iqul Akhbar: menjelaskan akibat dosa-dosa lisan di akhirat.
  • Irsyadul 'Ibad: mengajarkan adab seorang mukmin terhadap Allah dan manusia.
  • Durratun Nashihin: penuh kisah yang menggugah hati agar menjauhi ghibah, durhaka kepada orang tua, dan meninggalkan sunnah Nabi ﷺ.

Muhasabah

Renungkanlah setiap malam:

  • Sudahkah lisanku hari ini lebih banyak berdzikir daripada menggunjing?
  • Sudahkah aku membahagiakan kedua orang tuaku?
  • Sudahkah aku menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari?
  • Berapa kali aku bershalawat kepada Nabi ﷺ hari ini?
  • Apakah ada hati saudara muslim yang tersakiti karena ucapanku?

Cara Melatih Diri

  1. Biasakan berpikir sebelum berbicara.
  2. Perbanyak membaca shalawat setiap hari.
  3. Jadikan dzikir sebagai pengganti pembicaraan yang tidak bermanfaat.
  4. Jika tergelincir dalam ghibah, segera bertaubat, memohon ampun kepada Allah, dan bila memungkinkan meminta maaf kepada orang yang digunjing.
  5. Bergaullah dengan orang-orang saleh yang menjaga lisannya.

Doa

Allāhumma thahhir qalbī minan nifāq, wa lisānī minal kadzib, wa 'amalī minal riyā', wa a'yunī minal khiyānah. Allāhumma a'inni 'alā dzikrika wa syukrika wa husni 'ibādatik. Allāhumma shalli 'alā Sayyidinā Muhammad wa 'alā āli Sayyidinā Muhammad. Āmīn.

"Ya Allah, sucikanlah hatiku dari kemunafikan, lisanku dari dusta, amalanku dari riya, dan pandanganku dari khianat. Bantulah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya. Limpahkanlah shalawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya. Aamiin."

Penutup

Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita hamba yang menjaga lisan, memuliakan kedua orang tua, mencintai sunnah Rasulullah ﷺ, memperbanyak shalawat, serta membersihkan hati dari penyakit-penyakit yang menghalangi kedekatan kepada-Nya. Semoga kita termasuk golongan yang kelak mendapat syafaat dan dapat memandang wajah Rasulullah ﷺ di hari kiamat. Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.

Terima kasih.
Jazakumullāhu khairan katsīrā. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menghimpun kita bersama Rasulullah ﷺ serta orang-orang saleh di surga-Nya. Āmīn.

.....

No comments: