Monday, October 6, 2025

192djo. IKHLAS : INTI DARI SEGALA AMAL.

 


IKHLAS: INTI DARI SEGALA AMAL

Berdasarkan Kitab Tanbihul Ghafilin karya Imam Abu Laits As-Samarqandi

✍️ Penulis: M. Djoko Ekasanu



🌿 1. Pengertian Ikhlas

Imam Abu Laits As-Samarqandi menulis:

الاخلاص هو أن يكون عمل العبد لله تعالى لا يريد به غيره

“Ikhlas ialah ketika amal seorang hamba dilakukan hanya untuk Allah Ta‘ala dan tidak menghendaki selain-Nya.”

🔹 Maknanya: Segala amal, baik besar maupun kecil — salat, sedekah, dakwah, atau bahkan senyum — harus murni karena Allah, bukan karena ingin dipuji manusia atau diakui kehebatannya.


💎 2. Tanda Orang yang Ikhlas

Beliau menyebutkan, tanda orang yang ikhlas adalah:

“Tidak berubah amalnya ketika dilihat atau tidak dilihat manusia.”

🔹 Maknanya: Orang yang ikhlas tetap semangat beribadah baik di hadapan orang banyak maupun ketika sendirian.
Sedangkan orang yang riya’ (ingin dipuji) hanya giat ketika diperhatikan.


🕊️ 3. Bahaya Tidak Ikhlas (Riya’ dan Sum‘ah)

Abu Laits menukil dari Rasulullah ﷺ:

"Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah syirik kecil."

Ditanya, “Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Riya’, yaitu seseorang beramal agar dilihat manusia.”

🔹 Maknanya: Amal yang disertai riya’ tidak akan diterima Allah, walaupun secara lahir tampak baik.


🌸 4. Derajat Keikhlasan

Imam Abu Laits membagi ikhlas dalam tiga tingkatan:

  1. Ikhlas orang awam:
    Beramal karena ingin pahala dan surga.
  2. Ikhlas orang khawas (pilihan):
    Beramal karena ingin dekat kepada Allah.
  3. Ikhlas orang khawasul khawas:
    Beramal hanya karena cinta kepada Allah, tidak mengharap surga dan tidak takut neraka.

🔹 Inilah derajat para wali dan orang-orang arif billah.


🪞 5. Hati-hati dari Ikhlas Palsu

Abu Laits juga mengingatkan bahwa:

“Kadang seseorang mengira dirinya ikhlas, padahal dalam hatinya masih ingin dipuji atau dikenal.”

🔹 Nasihatnya: Perbanyak muhasabah (introspeksi diri) dan istighfar, karena setan paling lihai menipu manusia melalui niat.


🌼 6. Cara Menumbuhkan Ikhlas

Menurut Abu Laits:

“Ikhlas tumbuh dari keyakinan bahwa semua yang ada hanyalah milik Allah, dan segala amal hanya akan berguna jika diterima-Nya.”

🔹 Langkah-langkah:

  1. Mengingat kematian, agar sadar bahwa hanya amal yang diterima Allah yang bernilai.
  2. Menyembunyikan amal saleh seperti menyembunyikan dosa.
  3. Menganggap amal sendiri kecil, agar tidak ujub.
  4. Bersyukur ketika mampu beramal, bukan bangga.

🌺 7. Doa agar Diberi Keikhlasan

Abu Laits meriwayatkan doa yang baik dibaca oleh orang yang ingin menjaga ikhlas:

اللهم اجعل عملي كله صالحا، واجعله لوجهك خالصا، ولا تجعل لأحد فيه شيئا

“Ya Allah, jadikanlah seluruh amal perbuatanku baik dan perbaikilah niatku untuk wajah-Mu semata, dan jangan Engkau jadikan bagi siapa pun bagian darinya.”


🌙 Hikmah Penutup

Imam Abu Laits menulis:

“Ikhlas itu rahasia antara Allah dan hamba-Nya, tidak diketahui oleh malaikat hingga ia menulisnya, tidak diketahui oleh setan hingga ia bisa merusaknya, dan tidak diketahui oleh manusia agar tidak bisa merusaknya dengan pujian.”


Ringkasan Redaksi Asli

Imam Abu Laits As-Samarqandi berkata:

الاخلاص هو أن يكون عمل العبد لله تعالى لا يريد به غيره
“Ikhlas ialah ketika amal seorang hamba dilakukan hanya untuk Allah Ta‘ala dan tidak menghendaki selain-Nya.”

Beliau juga menulis,

“Ikhlas itu rahasia antara Allah dan hamba-Nya, tidak diketahui oleh malaikat hingga ia menulisnya, tidak diketahui oleh setan hingga ia bisa merusaknya, dan tidak diketahui oleh manusia agar tidak merusaknya dengan pujian.”


Maksud dan Hakikat

Ikhlas adalah memurnikan niat hanya untuk Allah dalam setiap amal perbuatan, tanpa mengharapkan pujian manusia, keuntungan dunia, atau kemegahan diri.
Hakikatnya adalah meniadakan “aku” di hadapan Allah, hingga seluruh amal menjadi ibadah murni karena cinta dan pengabdian.

Imam Al-Ghazali berkata:

“Ikhlas itu bahwa engkau tidak mencari saksi atas amalmu selain Allah, dan tidak mengharap balasan selain dari-Nya.”


Tafsir dan Makna dari Judul

Judul Ikhlas berasal dari akar kata خَلَصَ yang berarti “murni, bersih, lepas dari campuran.”
Dalam konteks spiritual, maknanya:

Amal yang bersih dari niat selain Allah.

Ikhlas adalah penyaring hati. Ia memisahkan ibadah sejati dari kebiasaan duniawi. Sebagaimana emas dimurnikan dari kotorannya, begitu pula hati dimurnikan dari riya’ melalui ujian dan mujahadah.


Tujuan dan Manfaat

  1. Mendapat ridha Allah, bukan sekadar pahala.
  2. Menjernihkan jiwa dari penyakit hati seperti ujub, sum‘ah, dan riya’.
  3. Menumbuhkan ketenangan batin, karena orang ikhlas tidak lagi bergantung pada penilaian manusia.
  4. Menyelamatkan amal dari kebatilan, sebab amal tanpa ikhlas bagaikan tubuh tanpa ruh.

Latar Belakang Masalah di Zaman Abu Laits

Pada masa Imam Abu Laits As-Samarqandi (abad ke-4 H), umat Islam mengalami kemajuan lahiriah — banyak ulama, ahli ibadah, dan lembaga keagamaan berdiri. Namun di balik itu muncul penyakit riya’ dan cinta dunia, yaitu orang beramal bukan karena Allah, melainkan ingin dikenal saleh.

Beliau menulis Tanbihul Ghafilin sebagai peringatan bagi kaum berilmu dan ahli ibadah agar tidak lalai dalam niat. Karena penyakit hati itu lebih berbahaya daripada dosa fisik.


Intisari Masalah

Banyak orang berbuat baik, tetapi tidak diterima oleh Allah karena niatnya bukan untuk-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Masalah utama adalah campuran niat: ingin pahala, ingin nama baik, ingin dianggap saleh. Maka, ikhlas menjadi obat penjernih amal.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Cinta dunia dan ingin dipuji.
  2. Kurangnya ilmu tentang niat.
  3. Tidak muhasabah diri.
  4. Pengaruh lingkungan yang menilai berdasarkan penampilan, bukan hati.

Dalil dari Al-Qur’an dan Hadis

📖 Al-Qur’an:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)

🕋 Hadis:

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah syirik kecil.”
Para sahabat bertanya: “Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab: “Riya’, yaitu seseorang beramal agar dilihat manusia.”
(HR. Ahmad)


Analisis dan Argumentasi

Ikhlas adalah inti seluruh ajaran tasawuf dan fondasi agama.
Tanpa ikhlas, amal seperti pohon tanpa akar — tampak besar tapi mudah tumbang.

Para sufi memandang bahwa:

  • Amal yang kecil tapi ikhlas lebih mulia daripada amal besar tapi tercampur niat dunia.
  • Keikhlasan tidak bisa dipaksakan, tetapi dilatih dengan dzikir, tafakkur, dan muhasabah.

Relevansi di Zaman Sekarang

Di era media sosial, banyak orang menampilkan amal baik untuk disaksikan publik. Riya’ modern hadir dalam bentuk pamer kebaikan, sedekah yang diunggah, dan ibadah yang disiarkan.

Padahal, Imam Abu Laits mengingatkan:

“Tidak berubah amalnya ketika dilihat atau tidak dilihat manusia.”

Ikhlas kini menjadi ujian besar umat modern — menjaga hati tetap murni di tengah sorotan dunia maya.


Hikmah

  • Ikhlas membuat amal ringan, sebab hanya mengharap ridha Allah.
  • Ikhlas menenangkan jiwa, sebab tidak kecewa bila tidak dihargai.
  • Ikhlas menjadikan amal abadi, sebab diterima di sisi Allah.

Muhasabah dan Caranya

  1. Tanyakan pada diri sebelum beramal: “Untuk siapa aku melakukan ini?”
  2. Setelah beramal: “Apakah aku senang karena Allah atau karena dipuji?”
  3. Perbanyak istighfar, karena niat bisa berubah setiap saat.
  4. Latih amal tersembunyi, agar hati terbiasa tanpa saksi.

Doa

اللهم اجعل عملي كله صالحا، واجعله لوجهك خالصا، ولا تجعل لأحد فيه شيئا
“Ya Allah, jadikanlah seluruh amal perbuatanku baik dan perbaikilah niatku hanya untuk wajah-Mu semata, dan jangan Engkau jadikan bagi siapa pun bagian darinya.”


Nasihat Para Ulama Sufi

  • Hasan Al-Bashri:
    “Orang ikhlas adalah yang merahasiakan amalnya sebagaimana ia merahasiakan dosanya.”

  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Aku tidak menyembah Allah karena takut neraka atau mengharap surga, tetapi karena cinta kepada-Nya.”

  • Abu Yazid al-Bistami:
    “Ikhlas ialah ketika engkau lupa dengan amalmu setelah melakukannya.”

  • Junaid al-Baghdadi:
    “Ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hamba-Nya yang tidak diketahui malaikat maupun setan.”

  • Al-Hallaj:
    “Barangsiapa mengenal Allah, ia tidak melihat selain Allah.”

  • Imam Al-Ghazali:
    “Ikhlas adalah memandang Allah semata dalam setiap amal, dan melupakan selain-Nya.”

  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Ikhlas adalah mengosongkan hati dari selain Allah, dan memenuhi hati dengan dzikir kepada-Nya.”

  • Jalaluddin Rumi:
    “Bersihkan cermin hatimu dari debu dunia, maka cahaya Ilahi akan tampak jelas di sana.”

  • Ibnu ‘Arabi:
    “Keikhlasan sejati lahir dari cinta yang melenyapkan diri (‘fana’) di hadapan Kekasih.”

  • Ahmad al-Tijani:
    “Ikhlas itu ketika engkau meniadakan segala daya dan upaya selain kehendak Allah semata.”


Daftar Pustaka

  1. Abu Laits As-Samarqandi, Tanbihul Ghafilin, Beirut: Dar al-Fikr.
  2. Imam Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, Kairo: Dar al-Ma’arif.
  3. Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Futuh al-Ghaib.
  4. Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari, Al-Hikam.
  5. Al-Qur’an al-Karim dan Hadis Shahih Bukhari-Muslim.
  6. Jalaluddin Rumi, Mathnawi Ma’nawi.
  7. Ibnu ‘Arabi, Futuhat al-Makkiyyah.

Ucapan Terima Kasih

Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik dan hidayah untuk menulis renungan ini.
Terima kasih kepada para guru, ulama, dan jamaah yang terus menghidupkan semangat keikhlasan di jalan Allah.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi hati yang lalai, dan penyejuk bagi jiwa yang rindu kepada-Nya.


🕊️ Semoga setiap amal kita diterima bukan karena banyaknya, tetapi karena ikhlasnya.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)


Apakah Abah ingin saya lanjutkan versi PDF siap cetak dari bacaan koran ini (dengan tata letak kolom dua, bingkai, dan kaligrafi di judulnya)?

Sunday, October 5, 2025

HISAB PERTAMA DI HADAPAN ALLAH.

 

HISAB PERTAMA DI HADAPAN ALLAH

“Dari Lauhul Mahfuzh Hingga Hati Manusia”



Ringkasan Redaksi Asli Hadits

Sesungguhnya telah terdapat dalam hadits, bahwasanya yang pertama kali 

dimintai perhitungan oleh Allah adalah Lauhul Mahfudh, dengan sekiranya diberikan 

pengetahuan, akal, dan suara padanya, lalu Allah memanggilnya dan gemetarlah otot-

ototnya, lalu Allah bertanya: "Apakah kamu telah menyampaikan apa yang ada pada 

kamu kepada Israfil?", ia menjawab: "Aku telah menyampaikannya", kemudian Allah 

memanggil Israfil dan gemetarlah otot-ototnya karena takut kepada Allah, lalu Allah 

bertanya: "Apa yang telah kamu perbuat pada apa yang telah diceritakan oleh Lauhul 

Mahfudh padamu?", Israfil menjawab: “Aku menyampaikannya kepada Jibril”, 

kemudian Allah memanggil Jibril dan gemetarlah otot-ototnya, lalu Allah bertanya 

kepadanya: "Apa yang telah kamu perbuat pada apa yang telah Israfil ceritakan 

padamu?", Jibril menjawab: "Aku menyampaikannya kepada para utusan", kemudian 

Allah memanggil para utusan seraya bertanya: "Apa yang telah kamu perbuat pada 

apa yang telah Jibri ceritakan padamu?", mereka menjawab: "Kami 

menyampaikannya pada manusia", lalu manusia ditanya tentang umur mereka, 

terhadap apa mereka menghabiskan/mempergunakannya?, tentang masa mudanya, 

terhadap apa mereka menggunakannya?, tentang harta-hartanya, dari mana mereka 

mendapatkan dan terhadap apa merka menafaqahkannya?, dan tentang ilmunya, apa 

yang telah mereka perbuat dengannya? Firman Allah :

"Maka Sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus Rasul-rasul 

kepada mereka dan Sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) Rasul-rasul (Kami), # 

Maka Sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah 

mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali 

tidak jauh (dari mereka)". 

Dan firman Allah : 

"Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, # tentang apa yang 

telah mereka kerjakan dahulu". 


Ringkasan Redaksi Asli Hadits

Diriwayatkan bahwa makhluk pertama yang dimintai perhitungan oleh Allah pada hari kiamat adalah Lauhul Mahfudh. Allah memberi padanya akal dan suara, lalu menanyainya apakah ia telah menyampaikan seluruh ketetapan kepada malaikat Israfil. Lauhul Mahfudh menjawab bahwa ia telah melakukannya.
Kemudian Israfil dipanggil, lalu Jibril, kemudian para Rasul, dan akhirnya manusia.
Setiap tingkatan makhluk dimintai pertanggungjawaban atas apa yang disampaikan kepadanya.
Manusia ditanya tentang umur, masa muda, harta, dan ilmu.

Allah berfirman:

“Maka Sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus Rasul-rasul kepada mereka, dan Sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) Rasul-rasul (Kami).”
(QS. Al-A‘raf: 6–7)

Dan firman-Nya:

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.”
(QS. Al-Hijr: 92–93)


Maksud dan Hakekat

Hadits ini mengandung pesan bahwa amanah ilmu dan wahyu adalah tanggung jawab yang berjenjang.
Setiap makhluk, bahkan Lauhul Mahfudh yang menjadi tempat catatan takdir, tunduk pada keadilan Allah.
Hakekatnya, tidak ada satu pun ciptaan Allah yang bebas dari pertanggungjawaban.
Ilmu yang diberikan kepada manusia bukan untuk disimpan, tetapi untuk diamalkan dan disebarkan dengan kejujuran.


Tafsir dan Makna Judul

Judul “Hisab Pertama di Hadapan Allah” menggambarkan bahwa awal penghisaban bukan dimulai dari manusia, melainkan dari sumber wahyu itu sendiri — Lauhul Mahfudh.
Maknanya dalam tasawuf:

  • Segala sesuatu akan kembali kepada asalnya, dan setiap rahasia Ilahi yang pernah diamanahkan akan diminta kembali jawabannya.
  • Lauhul Mahfudh adalah simbol pengetahuan Ilahi, sedangkan manusia adalah penerjemahnya dalam amal perbuatan.

Tujuan dan Manfaat

  • Menumbuhkan rasa takut dan cinta kepada Allah secara seimbang.
  • Menyadarkan manusia bahwa setiap amanah, terutama ilmu, akan dimintai pertanggungjawaban.
  • Mengajak pembaca untuk bermuhasabah sebelum datang hari perhitungan yang sesungguhnya.
  • Menumbuhkan etika ilmu, kejujuran, dan tanggung jawab moral.

Latar Belakang Masalah di Jamannya

Hadits ini muncul di masa umat mulai menyia-nyiakan amanah ilmu dan wahyu.
Sebagian orang berilmu hanya memperbanyak hafalan tanpa pengamalan.
Sebagian ulama sibuk pada perdebatan, sementara amal mereka jauh dari keikhlasan.
Maka hadits ini menjadi peringatan keras bahwa ilmu bukan kebanggaan, tapi beban amanah yang akan ditanya oleh Allah.


Intisari Masalah

  • Sumber ilmu (wahyu) tidak boleh berhenti pada pemiliknya.
  • Setiap yang menerima, wajib menyampaikan dengan amanah.
  • Kegagalan menyampaikan atau mengamalkan adalah bentuk pengkhianatan spiritual.

Sebab Terjadinya Masalah

  • Lupa kepada asal ilmu (dari Allah).
  • Kesombongan terhadap pengetahuan.
  • Menjadikan ilmu sebagai alat duniawi, bukan sarana mendekat kepada Allah.
  • Hati yang mati karena jarang berdzikir dan bermuhasabah.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

  1. QS. Al-A‘raf: 6–7
    “Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus Rasul kepada mereka...”
  2. QS. Al-Hijr: 92–93
    “Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua...”
  3. Hadis Riwayat Tirmidzi
    “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: umurnya, masa mudanya, hartanya, dan ilmunya.”

Analisis dan Argumentasi

Dalam pandangan ulama tasawuf:

  • Lauhul Mahfudh bukan hanya simbol tempat takdir, tapi juga hati manusia yang menerima cahaya ilmu.
  • Ketika hati mengkhianati cahaya itu dengan kelalaian, maka ia akan dimintai hisab sebagaimana Lauhul Mahfudh ditanya.
  • Allah mengajarkan bahwa tidak ada perantara yang bebas dari amanah: dari malaikat hingga manusia.

Relevansi Saat Ini

Di era modern, informasi dan pengetahuan sangat mudah tersebar, namun tidak semuanya membawa keberkahan.
Hadits ini mengingatkan agar:

  • Setiap orang berhati-hati dalam menyebarkan ilmu dan berita.
  • Menjaga kejujuran dalam dakwah dan pendidikan.
  • Memastikan bahwa ilmu yang kita pelajari membawa manfaat bagi hati, bukan hanya untuk perdebatan.

Hikmah

  • Allah Maha Adil, tidak satu pun makhluk lolos dari pertanggungjawaban.
  • Ilmu adalah amanah, bukan kebanggaan.
  • Kehidupan adalah ujian; semakin besar ilmu, semakin besar pertanggungjawabannya.
  • Ketakutan Lauhul Mahfudh dan para malaikat menunjukkan betapa besar rasa takut makhluk kepada Allah.

Muhasabah dan Caranya

  1. Luangkan waktu setiap malam untuk mengevaluasi diri: apa yang kita sampaikan hari ini? bermanfaatkah?
  2. Beristighfar atas ilmu yang tidak diamalkan.
  3. Perbanyak shalawat, agar hati lembut menerima bimbingan ilahi.
  4. Sedekahkan ilmu dengan tulus, tanpa pamrih duniawi.

Doa

“Ya Allah, jadikan ilmu kami cahaya, bukan beban di hari hisab.
Limpahkan kepada kami keikhlasan para malaikat dan amanah para nabi.
Ampunilah kelalaian kami dalam menyampaikan kebenaran,
dan jadikan setiap pengetahuan kami jalan menuju ridha-Mu.”

Aamiin.


Nasihat Para Sufi

  • Hasan Al-Bashri: “Ilmu tanpa amal adalah gila, amal tanpa ilmu adalah sia-sia.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku tidak menyembah Allah karena takut neraka, tapi karena cinta kepada-Nya.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Barangsiapa mengenal amanah Allah, ia akan hancur karena takut kepada-Nya.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Tasawuf adalah menjadikan hati bersih dari selain Allah.”
  • Al-Hallaj: “Tiada yang disampaikan kecuali Dia menyampaikan Diri-Nya melalui engkau.”
  • Imam al-Ghazali: “Ilmu adalah lentera hati; jika tidak dijaga dengan amal, padamlah cahayanya.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jangan sibukkan dirimu dengan ilmu yang tidak menghidupkan hatimu.”
  • Jalaluddin Rumi: “Ilmu tanpa cinta hanyalah kulit tanpa isi.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Setiap ilmu yang tidak menuntun kepada Allah adalah hijab, bukan hidayah.”
  • Ahmad al-Tijani: “Amanah terbesar bukan harta, tapi ilmu yang diilhamkan oleh Allah kepada hati.”

Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’anul Karim
  2. Shahih Al-Bukhari & Shahih Muslim
  3. Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  4. Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  5. Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari
  6. Fushush al-Hikam – Ibnu ‘Arabi
  7. Diwan Rumi – Jalaluddin Rumi
  8. Siyar A’lam an-Nubala – Adz-Dzahabi
  9. Risalah Qusyairiyyah – Al-Qusyairi

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT, selawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ.
Terima kasih kepada para guru ruhani, para sufi, dan sahabat yang terus menuntun dalam jalan ilmu dan keikhlasan.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat lembut bagi hati yang lalai dan lampu kecil di jalan menuju Allah.


Apakah Anda ingin saya bantu ubah format ini menjadi layout koran siap cetak (PDF) dengan kolom, judul besar, dan foto atau ornamen islami di halaman depan?