Saturday, August 22, 2026

1453djo. ALLAH SEDANG APA SEKARANG?

 

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

ALLAH SEDANG APA SEKARANG?

“Jangan sibuk mencari-cari keadaan Allah. Sibukkan diri dengan keadaan hati kita di hadapan Allah.”

Catatan penting: kisah dialog “murid bertanya kepada Imam Abu Hanifah, Allah sedang apa sekarang?” sering beredar dalam tradisi nasihat. Namun, saya tidak menemukan sumber hadis atau riwayat primer yang kuat untuk memastikan kisah dialog tersebut sebagai perkataan Imam Abu Hanifah. Jadi, kisah ini sebaiknya dipakai sebagai ilustrasi hikmah, bukan sebagai hadis.

1. Intisari, Maksud, Tujuan

Kalau pertanyaannya, “Allah sedang apa?”, Al-Qur'an sudah memberi jawaban:

كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
“Setiap waktu Dia dalam kesibukan.”
(QS. Ar-Rahman: 29)

Maksudnya bukan Allah seperti manusia yang sibuk karena membutuhkan sesuatu. Allah Mahakaya, tidak membutuhkan makhluk.

Justru kita yang setiap detik membutuhkan Allah: napas, rezeki, kesehatan, ampunan, petunjuk, bahkan kemampuan untuk beribadah.

Jadi, daripada penasaran “Allah sedang apa?”, lebih baik bertanya:

“Aku sekarang sedang apa di hadapan Allah?”


2. Komentar Ayat Qur'an, Hadis Shahih, Hadis Qudsi

QS. Ar-Rahman: 29

كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
“Setiap waktu Dia dalam kesibukan.”

Para ulama tafsir menjelaskan, di antara urusan Allah adalah mengabulkan doa, memberi kepada yang meminta, menghilangkan kesusahan, menyembuhkan yang sakit, menghidupkan dan mematikan, mengangkat serta merendahkan derajat manusia.

Hadis shahih:

Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah berfirman:

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku...”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini mengajarkan: jangan membangun prasangka buruk kepada Allah. Ketika hati sedang sempit, tetap yakin bahwa Allah sedang mengatur sesuatu yang belum kita pahami.

Hadis Qudsi:

Allah berfirman:

“Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta...”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Bukan berarti Allah berubah tempat atau jarak seperti makhluk. Ini menunjukkan rahmat, pertolongan, penerimaan dan kedekatan Allah kepada hamba yang mendekat kepada-Nya.


3. Analisa Makrifat, Hakikat & Tarekat

Makrifatnya:
Semakin mengenal Allah, semakin sadar bahwa Allah tidak pernah lengah mengurus kita.

Hakikatnya:
Yang sering “offline” bukan Allah.

Hati kitalah yang sering offline dari Allah. 😌

Allah terus mengatur alam, sementara kita kadang sibuk dengan HP, komentar orang, viralnya dunia, likes, views, rezeki, jabatan dan urusan manusia.

Tarekatnya:
Latih hati supaya selalu connect dengan Allah:

  • shalat tepat waktu;
  • dzikir meskipun sebentar;
  • istighfar ketika salah;
  • bersyukur ketika mendapat nikmat;
  • sabar ketika diuji;
  • tawakal setelah ikhtiar;
  • jangan merasa sendirian ketika masalah datang.

Jadi tasawuf bukan berarti meninggalkan dunia.

Tasawuf itu membersihkan hati ketika sedang menjalani dunia.


4. Muhasabah

Coba kita tanya diri sendiri:

“Kalau Allah setiap waktu mengurus hidupku, mengapa aku masih sering lupa kepada-Nya?”

Saat rezeki datang → lupa bersyukur.
Saat masalah datang → panik.
Saat doa belum terkabul → kecewa.
Saat mendapat nikmat → merasa hasil usaha sendiri.

Padahal setiap detik hidup kita sedang berada dalam pengaturan Allah.

Maka mulai sekarang:

Jangan terlalu sibuk mencari tahu Allah sedang apa.
Sibukkan diri memperbaiki apa yang sedang kita lakukan untuk Allah.


5. Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْ قَلْبِي دَائِمًا ذَاكِرًا لَكَ، شَاكِرًا لِنِعَمِكَ، مُحْسِنًا فِي عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, jadikanlah hatiku selalu mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan berbuat baik dalam beribadah kepada-Mu.”

Ya Allah, ketika Engkau sedang mengatur hidup kami, jangan biarkan hati kami jauh dari-Mu.
Ketika kami mendapat nikmat, jadikan kami bersyukur.
Ketika kami diuji, jadikan kami sabar.
Ketika kami jatuh, tuntun kami kembali kepada-Mu.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


6. Penutup

Terima kasih kepada para guru, ustadz, ulama, keluarga, sahabat dan semua pihak yang terus mengingatkan kami kepada Allah.

Mohon maaf apabila ada kekeliruan dalam redaksi, kekurangan dalam penyampaian, atau kekurangan dalam memahami ayat dan hadis.

Semoga yang sedikit ini bukan hanya menjadi bahan untuk dibaca, tetapi menjadi jalan untuk hati semakin mengenal Allah.

Allah sedang mengurus seluruh kehidupan kita.
Pertanyaannya sekarang:
kita sedang mengurus apa—dunia saja, atau juga hati kita untuk menghadap Allah?

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

No comments: