Kitab Nashaihul ibad (Nawawi bin Umar al-Bantani Al-Jawi Al-Indunisi)
6. BAB III NASIHAT TENTANG EMPAT PERKARA.
16. Panji-panji Keimanan Ada Empat
Segolongan para hukama mengatakan: ‘
“Sesungguhnya panji-panji keimanan ada empat: Takwa, rasa malu, syukur dan sabar.”
Takwa adalah taat dan ikhlas melaksanakan segala perintah Allah swt. dan menjauhi maksiat. Ada yang mengatakan, takwa adalah memelihara kesopanan-kesopanan menurut syarak.
Malu terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
Malu jenis kejiwaan, yakni malu yang diciptakan Allah swt. dalam semua jiwa, seperti malu karena terbuka aurat atau bersetubuh di hadapan orang banyak.”
Malu jenis iimaani (berdasarkan keimanan), yakni seorang mukmin mencegah dirinya berbuat maksiat, karena takut kepada Allah swt.
Syukur yaitu memuji kepada yang berbuat kebaikan dengan menyebut-nyebut kebaikannya. Dengan demikian seorang hamba harus bersyukur kepada Allah swt.
Sabar yaitu tidak mengeluh kepada selain Allah swt. bila ditimpa bencana. Dalam hal ini kita perlu berdoa dengan doa Tamiim Ad-Daari bin Habib yang telah diajarkan Nabi Khidhir ketika kembali dari dasar tanah, karena diculik jin ke Madinah Musyarofah, sebagai berikut:
“Ya, Allah, semoga Engkau memberi nikmat kepadaku dengan rezeki dari Engkau, semoga Engkau menjagaku dari perkara-perkara yang Engkau larang, semoga Engkau tidak menjadikan aku butuh kepada orang yang Engkau jadikan tidak memerlukan kami. Semoga Engkau mengumpulkan aku dalam rombongan umat: junjunganku, Nabi Muhammad saw., semoga Engkau memberi minum kepadaku dengan gelasnya, semoga Engkau menjauhkanku dari maksiat-maksiat kepadaMu, semoga Engkau mematikanku dalam keadaan takwa, semoga Engkau menunjukkan agar aku selalu mengingat-Mu, semoga Engkau menjadikanku pewaris-pewaris surga tempat kenikmatan, semoga Engkau menjadikanku orang yang bahagia dan tidak menjadikanku orang yang celaka, wahai, Yang Mempunyai keagungan dan kemuliaan.”
Diriwayatkan, bahwa Nabi saw. telah bersabda:
“Puncak iman ada empat hal: Sabar menerima keputusan Allah, rela menerima takdir, ikhlas bertawakal dan pasrah sepenuh diri kepada Allah.” (H.R. Abu Nu’aim).
EMPAT PANJI KEIMANAN: MENJAGA HATI DI TENGAH DUNIA YANG BISING
Oleh: …
Di tengah dunia yang bergerak cepat—teknologi yang semakin canggih, komunikasi tanpa jarak, transportasi tanpa batas, dan kedokteran yang menunda kematian—manusia justru kerap kehilangan satu hal paling mendasar: ketenangan hati dan arah hidup. Tasawuf hadir bukan untuk menjauhkan manusia dari dunia, tetapi menjernihkan jiwa agar dunia tidak menguasai hati.
Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nashā’iḥul ‘Ibād mengutip hikmah para hukamā’:
“Sesungguhnya panji-panji keimanan ada empat: takwa, malu, syukur, dan sabar.”
Empat perkara ini bukan teori, tetapi kompas ruhani bagi manusia sepanjang zaman.
1. TAKWA: KEHADIRAN ALLAH DALAM SETIAP GERAK
Takwa bukan sekadar takut, tetapi kesadaran batin bahwa Allah selalu hadir.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa.”
(QS. Āli ‘Imrān: 102)
Dalam perspektif tasawuf, takwa adalah menjaga adab sebelum menjaga amal. Teknologi boleh secanggih apa pun, namun bila mata tidak bertakwa, jari tidak bertakwa, dan hati tidak bertakwa, maka kecanggihan justru menjadi alat maksiat.
Analisis:
Hari ini dosa tidak lagi dilakukan dengan kaki, tetapi dengan sentuhan layar. Maka takwa menjadi filter batin—bukan sekadar aturan luar.
2. MALU: REM MORAL YANG HILANG
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Malu itu bagian dari iman.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Syekh Nawawi menjelaskan dua jenis malu:
- Malu tabiat (fitri)
- Malu iman, yakni malu berbuat dosa karena merasa diawasi Allah
Relevansi hari ini:
Budaya pamer, membuka aib, dan normalisasi dosa di media sosial menunjukkan hilangnya malu imani. Tasawuf mengajarkan: jika malu kepada manusia masih ada, tapi malu kepada Allah hilang, maka iman sedang sakit.
3. SYUKUR: SENI MELIHAT NIKMAT DALAM KEADAAN APA PUN
Allah berfirman:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku tambah nikmatmu.”
(QS. Ibrāhīm: 7)
Syukur bukan hanya saat kaya dan sehat, tetapi mampu melihat hikmah di balik ujian.
Argumentasi tasawuf:
Orang yang bersyukur hatinya lapang, tidak iri, tidak dengki, dan tidak gelisah meski hidup sederhana. Sebaliknya, orang yang kufur nikmat hidupnya sempit meski bergelimang fasilitas.
4. SABAR: MENAHAN JIWA AGAR TIDAK MEMBANTAH TAKDIR
Sabar menurut tasawuf bukan pasif, tetapi menjaga adab kepada Allah saat diuji.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)
Nabi ﷺ bersabda:
“Puncak iman ada empat: sabar menerima keputusan Allah, rela dengan takdir-Nya, ikhlas bertawakal, dan pasrah sepenuh diri.”
(HR. Abu Nu‘aim)
Relevansi zaman:
Di era serba instan, sabar menjadi langka. Padahal kematangan iman justru lahir dari proses panjang dan luka yang disikapi dengan adab.
KEMULIAAN & KEHINAAN
🌍 Di Dunia
- Mulianya: hati tenang, hidup terarah, disegani tanpa mencari pengakuan
- Hinanya: gelisah, rakus validasi, hidup dalam kecemasan
⚰️ Di Alam Kubur
- Mulianya: kubur menjadi taman surga
- Hinanya: kubur menjadi penjara gelap karena iman rapuh
🌅 Di Hari Kiamat
- Mulianya: wajah bercahaya, hisab dipermudah
- Hinanya: wajah hitam, amal runtuh
🌿 Di Akhirat
- Mulianya: minum dari telaga Nabi ﷺ
- Hinanya: terhalang karena maksiat yang diremehkan
MOTIVASI & MUHASABAH
Tanyakan pada diri kita:
- Apakah aku masih malu saat berbuat dosa?
- Apakah aku bersyukur atau hanya menuntut?
- Apakah aku sabar atau selalu protes takdir?
- Apakah takwa hadir saat sendirian?
Cara Praktis (Tasawuf Amaliyah):
- Muraqabah: sadari Allah melihat kita
- Muhasabah malam: hitung dosa, bukan jasa
- Kurangi keluhan, perbanyak doa
- Jaga adab sebelum amal
HIKMAH, TUJUAN, DAN MANFAAT
- Membersihkan hati dari penyakit batin
- Menjadikan iman hidup, bukan slogan
- Menghadirkan Allah dalam setiap keadaan
- Menyelamatkan manusia dari kehancuran moral modern
DOA
“Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami takwa yang hidup di hati kami, malu yang menjaga kami dari maksiat, syukur yang melapangkan jiwa kami, dan sabar yang menguatkan kami dalam ujian. Wafatkanlah kami dalam keadaan Engkau ridhai, dan kumpulkan kami bersama Nabi Muhammad ﷺ.”
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kepada para ulama pewaris Nabi—khususnya Syekh Nawawi al-Bantani—yang telah menyalakan pelita iman bagi umat, agar kami tidak tersesat di zaman terang namun gelap hati.
EMPAT PANJI KEIMANAN: JAGA HATI DI TENGAH DUNIA YANG BISING
By: ...
Dunia kita ngeri-ngeri sedap, guys. Semuanya serba cepat: gadget makin canggih, ngobrol sama orang jauh tinggal video call, bepergian gampang banget, bahkan ilmu kesehatan bisa nunda kematian. Tapi, di tengah semua kemudahan itu, justru kita sering kehilangan yang paling basic: ketenangan hati dan arah hidup. Tasawuf tuh hadir bukan buat nyuruh kita lari dari dunia, tapi buat ngejernihin jiwa biar dunia nggak menguasai hati kita.
Kayak kata Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nashā’iḥul ‘Ibād yang ngutip hikmah para bijak bestie:
“Sesungguhnya panji-panji keimanan ada empat: takwa, malu, syukur, dan sabar.”
Nah, empat hal ini bukan teori doang. Ini tuh kompas jiwa buat kita anak zaman now, biar nggak tersesat walau di timeline yang rame banget.
1. TAKWA: SADAR KALAU ALLAH SELALU ADA
Takwa tuh bukan cuma rasa takut biasa. Ini lebih ke kesadaran batin bahwa Allah lagi liat kita di setiap scroll, setiap click, setiap gerak-gerik kita.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa.” (QS. Āli ‘Imrān: 102)
Dalam perspektif tasawuf, takwa itu jaga adab dulu sebelum jaga amal. Gadget kita boleh yang paling high-end, tapi kalau mata, jari, dan hati kita nggak punya takwa, kecanggihan itu malah jadi alat buat maksiat.
Relate nggak sih?
Zaman now, dosa bisa dilakukan cuma dengan sentuhan layar. Makanya, takwa itu jadi filter batin paling penting, bukan cuma sekadar aturan dari luar.
2. MALU: REM DARURAT MORAL YANG SERING ILANG
Rasulullah ﷺ pernah bilang:
“Malu itu bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut Syekh Nawawi, malu ada dua jenis:
· Malu tabiat (fitri): Misalnya malu kalo ketahuan salah.
· Malu iman: Ini yang utama, yaitu malu berbuat dosa karena sadar Allah lagi ngeliat.
Kaitannya sama kita?
Budaya oversharing, buka aib orang, sampe nge-normalize dosa di media sosial itu tanda hilangnya malu imani. Tasawuf ngingetin: kalo malu sama orang lain masih ada, tapi malu sama Allah udah ilang, itu artinya iman kita lagi sick.
3. SYUKUR: SENI LIHAT HAL BAIK DALAM KEADAAN APA PUN
Allah berjanji:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku tambah nikmatmu.” (QS. Ibrāhīm: 7)
Syukur itu bukan cuma pas kita lagi banyak duit atau sehat. Tapi bisa melihat hikmah di balik ujian. Orang yang hatinya bersyukur, hidupnya lebih chill: nggak gampang iri, nggak dengki, dan nggak gelisah meskipun hidup sederhana. Sebaliknya, orang yang nggak bersyukur, hatinya sempit dan selalu merasa kurang, meskipun dia punya segalanya.
4. SABAR: SELF-CONTROL BIAR NGGAK PROTEST SAMA TAKDIR
Sabar dalam tasawuf bukan berarti pasif atau cuma nunggu. Tapi lebih ke jaga adab sama Allah pas lagi diuji.
Allah janji:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Nabi ﷺ juga bilang:
“Puncak iman ada empat: sabar menerima keputusan Allah, rela dengan takdir-Nya, ikhlas bertawakal, dan pasrah sepenuh diri.” (HR. Abu Nu‘aim)
Zaman serba instan gini, sabar jadi barang langka. Padahal, kematangan iman justru lahir dari proses panjang dan luka yang kita hadapi dengan cara yang baik.
RESIKO & MANFAATNYA GIMANA?
📱 Di Dunia
· Yang mulia: Hati tenang, hidup punya tujuan, dihargai tanpa perlu cari validasi.
· Yang nggak: Gelisah, hidup cuma buat likes dan views, penuh kecemasan.
⚰️ Di Alam Kubur
· Yang mulia: Kuburnya kayak taman surga.
· Yang nggak: Kuburnya terasa kayak penjara gelap karena imannya rapuh.
🌅 Di Hari Kiamat
· Yang mulia: Wajahnya cerah, perhitungan amal dimudahkan.
· Yang nggak: Wajahnya hitam, amalannya runtuh.
🌿 Di Akhirat
· Yang mulia: Bisa minum dari telaga Nabi ﷺ.
· Yang nggak: Terhalang karena maksiat yang dulu diremehkan.
YUK, EVALUASI DIRI!
Coba tanya ke diri sendiri:
· Apa aku masih malu pas berbuat dosa?
· Apa aku lebih banyak bersyukur atau cuma nuntut?
· Apa aku sabar atau malah sering complain sama takdir?
· Apa rasa takwa itu ada pas aku sendirian?
Tips Praktis (Tasawuf Ala Anak Zaman Now):
1. Muraqabah: Selalu ingat kalau Allah lagi ngeliat kita, bahkan pas lagi online di mode private.
2. Muhasabah Malam: Sebelum tidur, hitung dosa, jangan cuma highlights jasa kita.
3. Kurangi Complain: Daripada mengeluh, mending baca doa.
4. Jaga Adab Dulu: Sebelum banyak amal, pastikan niat dan caranya bener dulu.
INTINYA...
Ini semua buat:
· Ngebersihin hati dari penyakit kayak iri, sombong, dan gelisah.
· Bikin iman hidup, bukan cuma jadi quote di bio medsos.
· Nghadirin Allah di setiap kondisi, lagi seneng atau susah.
· Nyelametin kita dari kehancuran moral di zaman yang bikin pusing ini.
DOA PENUTUP
“Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami takwa yang hidup di hati kami, malu yang menjaga kami dari maksiat, syukur yang melapangkan jiwa kami, dan sabar yang menguatkan kami dalam ujian. Wafatkanlah kami dalam keadaan Engkau ridhai, dan kumpulkan kami bersama Nabi Muhammad ﷺ.”
CREDITS & APPRECIATION
Big thanks untuk para ulama, khususnya Syekh Nawawi al-Bantani, yang udah jadi lighthouse buat umat, biar kita nggak kehilangan arah di zaman yang terang benderang tapi kadang bikin hati gelap gulita.
Semoga bermanfaat dan bikin kita makin kece dengan iman kita! ✨

No comments:
Post a Comment