Friday, February 6, 2026

940. Menjaga Lisan, Menyelamatkan Jiwa

 


Al-An'am · Ayat 108

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًا ۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۝١٠٨

wa lâ tasubbulladzîna yad‘ûna min dûnillâhi fa yasubbullâha ‘adwam bighairi ‘ilm, kadzâlika zayyannâ likulli ummatin ‘amalahum tsumma ilâ rabbihim marji‘uhum fa yunabbi'uhum bimâ kânû ya‘malûn

Janganlah kamu memaki (sesembahan) yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa (dasar) pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.



Menjaga Lisan, Menyelamatkan Jiwa

Tazkiyatun Nufūs dalam Cahaya QS. Al-An‘ām: 108

Allah Ta‘ālā berfirman:

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(QS. Al-An‘ām: 108)


Intisari Tafsir Al-Ibrīz (KH. Bisri Musthofa)

Dalam Tafsir Al-Ibrīz, KH. Bisri Musthofa menjelaskan bahwa ayat ini adalah larangan keras bagi kaum Muslimin untuk mencaci berhala dan keyakinan kaum musyrik, bukan karena berhala itu mulia, tetapi karena akibatnya lebih buruk:
➡️ mereka akan membalas dengan mencaci Allah secara serampangan dan penuh kedurhakaan.

Beliau menegaskan:

  • Islam mendidik adab sebelum debat
  • Menjaga maslahat lebih utama daripada meluapkan emosi kebenaran
  • Dakwah tanpa adab justru merusak tujuan dakwah itu sendiri

Ini adalah pelajaran besar bahwa kebenaran yang disampaikan tanpa hikmah dapat berubah menjadi fitnah.


Asbābun Nuzūl (Sebab Turunnya Ayat)

Para mufassir menjelaskan bahwa ayat ini turun ketika sebagian sahabat mengecam berhala-berhala kaum Quraisy secara terbuka, dengan tujuan menunjukkan kebatilan mereka.
Namun yang terjadi justru sebaliknya:
👉 kaum musyrik mencaci Allah dengan kebencian dan kebodohan.

Maka Allah menurunkan ayat ini sebagai pendidikan ruhani:

“Jangan membela tauhid dengan cara yang merusak tauhid itu sendiri.”


Hadis-Hadis yang Bersangkutan

  1. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji dan kotor.”
(HR. Tirmidzi)

  1. Dalam kaidah besar dakwah Nabi ﷺ:

“Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis-hadis ini menegaskan bahwa lisan adalah pintu tazkiyah atau kehancuran jiwa.


Analisis dan Argumentasi (Perspektif Tazkiyatun Nufūs)

Ayat ini mengajarkan tazkiyah pada tiga level:

1. Tazkiyah Lisan

Jiwa yang bersih tercermin dari ucapan yang terkontrol.
Mencaci adalah tanda ego keagamaan, bukan kedalaman iman.

2. Tazkiyah Niat

Apakah kita membela agama karena Allah, atau karena ingin menang, merasa paling benar, dan melampiaskan emosi?

3. Tazkiyah Hikmah

Orang yang jiwanya bersih melihat akibat sebelum bertindak, bukan sekadar reaksi sesaat.


Keistimewaan Ayat Ini

  • Menjadi fondasi etika toleransi dalam Islam
  • Menegaskan prinsip saddu dzarī‘ah (menutup jalan menuju kerusakan)
  • Menggabungkan tauhid, akhlak, dan kecerdasan sosial
  • Menunjukkan bahwa Allah lebih mementingkan keselamatan hati daripada kemenangan debat

Kemuliaan dan Kehinaan yang Didapat

1. Di Dunia

  • Kemuliaan: dihormati, dipercaya, dakwah diterima
  • Kehinaan: konflik, permusuhan, agama dicap kasar

2. Di Alam Kubur

  • Lisan yang terjaga menjadi penenang di alam barzakh
  • Lisan yang liar menjadi saksi yang memberatkan

3. Di Hari Kiamat

  • Orang yang menjaga adab akan ringan hisabnya
  • Pencela dan provokator akan ditanya setiap kata

4. Di Akhirat

  • Akhlak mulia adalah timbangan terberat di mizan
  • Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Orang yang paling dekat denganku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.”


Relevansi dengan Kehidupan Modern

🔹 Teknologi & Media Sosial

Ayat ini sangat relevan di era:

  • komentar pedas
  • debat agama di kolom komentar
  • konten provokatif demi viral

➡️ Mencela kini hanya butuh satu klik, tapi dosanya bisa mengalir tanpa henti.

🔹 Komunikasi & Transportasi

Dunia makin dekat, gesekan makin cepat.
Tanpa tazkiyah jiwa, perbedaan kecil bisa jadi konflik besar.

🔹 Kedokteran & Psikologi

Ucapan kasar terbukti:

  • meningkatkan stres
  • merusak kesehatan mental
  • memicu kekerasan

Islam sudah mengajarkannya 1400 tahun lalu.

🔹 Kehidupan Sosial

Masyarakat damai lahir dari lisan yang beradab, bukan dari menang debat.


Hikmah, Tujuan, dan Manfaat

Hikmah

  • Tidak semua kebenaran harus disampaikan dengan frontal
  • Adab adalah wajah iman

Tujuan

  • Membersihkan hati dari kesombongan rohani
  • Menjadikan dakwah sebagai rahmat, bukan senjata

Manfaat

  • Hati lebih tenang
  • Dakwah lebih diterima
  • Persaudaraan terjaga

Motivasi, Muhasabah, dan Caranya

Muhasabah Diri

Tanyakan pada diri:

  • Apakah ucapanku mendekatkan orang pada Allah?
  • Atau justru menjauhkan?

Cara Melatih Tazkiyah Lisan

  1. Diam sebelum emosi reda
  2. Timbang manfaat dan mudarat ucapan
  3. Ingat: Allah mendengar sebelum manusia membaca

Doa

“Ya Allah, sucikanlah hati kami dari kesombongan, jagalah lisan kami dari ucapan yang Engkau murkai, jadikan kami pembawa hidayah, bukan sumber fitnah. Hiasi iman kami dengan akhlak mulia sebagaimana Engkau hiasi Nabi-Mu dengan kesempurnaan adab.”
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Ucapan Terima Kasih

Terima kasih telah meluangkan waktu membaca renungan ini.
Semoga setiap hurufnya menjadi cermin muhasabah,
setiap maknanya menjadi jalan penyucian jiwa,
dan setiap amal kecil kita diterima oleh Allah sebagai ibadah.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
🌿

..........

Jaga Lidah, Selamatkan Hati: Self-Reminder dari QS. Al-An‘ām: 108


The Verse (Tetap Bahasa Asli & Arti Resmi):

Allah Ta‘ālā berfirman:


“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-An‘ām: 108)


Intisarinya (Versi Santai):

Intinya, ayat ini kayak reminder buat kita: "Jangan asal nyinyir atau jelek-jelekin kepercayaan orang lain, sekalipun kita tau itu salah."

Kenapa? Bukan karena kepercayaannya itu bener, tapi karena efek sampingnya bisa lebih parah. Bisa-bisa malah bikin mereka balas hate kepada Allah dengan cara yang keterlaluan dan ignorant.


Kyai Bisri Musthofa (dalam Tafsir Al-Ibrīz) bilang, Islam tuh ngajarin etika dulu sebelum debat. Jangan sampe niat ngelurusin malah bikin runyam. Kebenaran yang disampaikan tanpa kebijaksanaan, akhirnya bisa jadi bumerang.


Context Dulu (Asbābun Nuzūl):

Dulu, ada beberapa sahabat yang openly nyindir berhala-berhala orang musyrik Quraisy. Niatnya sih baik, pengen nunjukkin itu sesat. Eh, malah bikin mereka panas dan jadi triggered buat mencaci Allah dengan hate speech. Akhirnya turunlah ayat ini. Intinya: "Jangan jaga tauhid pake cara yang ngehancurin tauhid itu sendiri."


Hadis Pendukung (Tetap Bahasa Asli & Arti):

Rasulullah ﷺ bersabda:


“Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji dan kotor.” (HR. Tirmidzi)

Prinsip Nabi ﷺ:

“Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Intinya, lidah tuh bisa jadi alat penyuci jiwa atau perusak hubungan.


Analisis (Versi Gaul):

Ayat ini ngajarin kita self-cleaning di 3 level:


1. Bersihin Ucapan: Jiwa yang clean keliatan dari omongan yang controlled. Nyinyir tuh seringnya cuma tanda "ego keagamaan", bukan kedalaman iman.

2. Bersihin Niat: Cek lagi, bela agama karena Allah, atau karena pengen feel superior, pengen menang debat, atau meluapin emosi?

3. Bersihin Cara: Orang yang jiwanya bersih mikirin "consequence" sebelum action, bukan sekadar react gegabah.


Relevansi di Era Sekarang:


· Di Medsos & Grup WA: BANGET. Debat agama di kolom komen, komen pedas, bikin konten provocative biar viral. Ingat, mencela sekarang cuma butuh satu click, tapi digital footprint-nya abadi dan dosanya bisa flowing.

· Komunikasi: Dunia makin kecil, gesekan makin cepat. Tanpa self-control, beda pendek dikit bisa jadi big conflict.

· Dunia Psikologi & Kesehatan: Kata-kata kasar terbukti bikin stress, toxic, dan trigger kekerasan. Islam udah ngajarin mental health sejak 1400 taun lalu.


Take Home Message:


· Hikmah: Gak semua kebenaran harus diomongin frontal. Adab itu adalah wajah iman kita.

· Manfaat: Hati lebih peace, dakwah lebih acceptable, hubungan sama siapapun tetep good.

· Motivasi: Di akhirat nanti, yang paling berat timbangannya adalah akhlak mulia. Orang yang baik akhlaknya, paling deket sama Rasulullah ﷺ di surga.


Self-Reflection & Tips:


· Cek Diri: Sebelum nge-post atau ngomong, tanya: "Ini bikin orang tertarik pada Islam, atau malah kabur?"

· Tips: Kalo lagi triggered, diam dulu. Tarik napak. Timbang benefit vs risk-nya. Ingat, Allah denger duluan sebelum orang lain baca komen kita.

· Doa (Versi Santai): "Ya Allah, bersihin hati gue dari rasa sok bener. Jagain lidah gue dari omongan yang bikin Engkau murka. Jadikan gue agen penyejuk, bukan sumber onar. Amin."


Penutup:

Thanks udah baca sampe sini, guys! Semoga jadi bahan refleksi buat kita semua. Semoga kita makin pinter jaga lisan, biar hati juga ikut bersih dan tenang.


Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

🌿💫

No comments: