Thursday, February 12, 2026

951. WAJAH MANUSIA, HATI SETAN?



kitab Usfuriyah karya Muhammad bin Abu Bakar bin Usfuri.

Hadis Keempat Puluh (40: Orang-Orang Akhir Zaman.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata kalau Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda:

Di akhir zaman, akan muncul para kaum yang wajah mereka adalah seperti wajah manusia, hati mereka adalah seperti hati setan, sifat mereka adalah seperti sifat macan yang buas berbahaya. Di dalam hati mereka tidak ada sedikitpun rasa belas kasih. Mereka adalah kaum-kaum yang menumpahkan darah dan tidak menghindari keburukan. 

Apabila kamu mengikuti mereka maka mereka akan mendekatimu. Apabila kamu menunda sesuatu dari mereka maka mereka akan mengghibahmu. Apabila kamu percaya kepada mereka maka mereka mengkhianatimu. Para anak kecil dari mereka adalah yang suka berhutang. Para pemuda dari mereka adalah yang berkelakukan buruk. Para orang tua dari mereka adalah yang berkelakukan dosa. Mereka tidak memerintahkan kebaikan dan tidak mencegah kemungkaran. Mencari kemuliaan dengan perantara dukungan dari mereka adalah suatu kehinaan. Hukum di antara mereka adalah bid’ah. Bid’ah di kalangan mereka adalah kesunahan. Ketika kaum-kaum seperti ini muncul maka Allah akan menjadikan orang-orang buruk mereka sebagai para pemimpin. Orang-orang baik dari mereka berdoa tetapi tidak terkabulkan.

.........

🕊️ WAJAH MANUSIA, HATI SETAN?
Muhasabah Akhir Zaman dalam Perspektif Tazkiyatun Nufūs

Hadis ke-40 dalam Kitab ‘Uṣfūriyyah menggambarkan potret manusia akhir zaman: wajahnya manusia, tetapi hatinya seperti setan; lisannya manis, tetapi batinnya buas; tidak ada belas kasih, mudah menumpahkan darah, gemar berkhianat, dan hukum Allah diganti dengan hawa nafsu.

Apakah ini sekadar kisah masa depan?
Ataukah cermin zaman yang sedang kita jalani?


🌍 Relevansi di Zaman Canggih

Kita hidup di era teknologi tinggi:

  • Komunikasi secepat kilat.
  • Transportasi menembus jarak.
  • Kedokteran memperpanjang usia.
  • Informasi menyebar dalam hitungan detik.

Namun pertanyaannya:
Apakah jiwa kita ikut berkembang, atau justru semakin rusak?

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Teknologi tanpa tazkiyah melahirkan:

  • Ghibah digital (fitnah viral).
  • Khianat berbentuk penipuan online.
  • Hati keras karena terlalu sering melihat kekerasan di layar.
  • Ilmu tinggi tetapi adab rendah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya; pendusta dipercaya, orang jujur didustakan…” (HR. Ahmad)

Bukankah ini nyata hari ini?


🧠 Masalahnya Bukan Teknologi, Tapi Jiwa

Teknologi hanyalah alat.
Hati yang rusaklah yang menjadikannya senjata.

Dalam perspektif Tazkiyatun Nufūs, akar kerusakan akhir zaman adalah:

  1. Hati yang mati – tidak lagi takut kepada Allah.
  2. Nafsu yang dipertuhankan – merasa benar meski salah.
  3. Hilangnya rahmah (belas kasih).

Allah berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ
“Maka celakalah bagi hati yang keras.”
(QS. Az-Zumar: 22)

Hati yang keras tidak akan tersentuh oleh kecanggihan apa pun.


🔎 Muhasabah Diri

Sebelum kita menyalahkan zaman, mari bertanya:

  • Apakah kita pernah menyebarkan berita tanpa tabayyun?
  • Apakah kita pernah mengkhianati amanah kecil?
  • Apakah kita lebih takut kehilangan dunia daripada kehilangan iman?

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging; jika ia baik maka baik seluruh tubuh, jika ia rusak maka rusak seluruh tubuh. Itulah hati.” (HR. Bukhari Muslim)

Akhir zaman bukan sekadar fenomena global.
Ia bermula dari hati yang lalai.


🌱 Harapan Masih Ada

Walau zaman rusak, Allah tidak menutup pintu perbaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Beruntunglah orang-orang yang asing.”
Ketika ditanya siapa mereka, beliau menjawab:
“Orang-orang yang memperbaiki ketika manusia rusak.” (HR. Muslim)

Di tengah kerusakan sosial, masih ada:

  • Orang tua yang mendidik anaknya dengan iman.
  • Guru yang ikhlas.
  • Pedagang yang jujur.
  • Da’i yang lembut.
  • Hamba yang bangun malam mendoakan umat.

Allah berfirman:

إِلَّا مَنْ أَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”
(QS. Asy-Syu’ara: 89)

Itulah tujuan tazkiyah: qalbun salīm.


🧴 Cara Membersihkan Jiwa di Zaman Modern

  1. Puasa dari dosa digital.
    Tahan jari sebelum menulis.

  2. Perbanyak dzikir di tengah kebisingan dunia.
    Gadget sibuk, hati tetap bersama Allah.

  3. Jadikan teknologi sarana dakwah, bukan maksiat.

  4. Perbaiki niat dalam setiap aktivitas dunia.
    Transportasi untuk silaturahmi.
    Ilmu kedokteran untuk menyelamatkan nyawa.
    Media sosial untuk menebar rahmah.


🤲 Doa

Ya Allah…
Jangan Engkau jadikan kami bagian dari kaum yang wajahnya manusia tetapi hatinya setan.
Bersihkan hati kami dari riya’, hasad, khianat, dan kerasnya jiwa.
Lembutkan hati kami dengan dzikir kepada-Mu.
Jadikan teknologi di tangan kami sebagai alat kebaikan, bukan alat kehancuran.
Jadikan kami termasuk orang-orang yang memperbaiki ketika manusia rusak.
Karuniakan kepada kami qalbun salīm saat menghadap-Mu.
Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.


Terima kasih atas kesempatan untuk merenung bersama.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi penulis dan pembaca, agar kita tidak sekadar hidup di akhir zaman — tetapi menjadi hamba yang selamat di dalamnya. 🤲

......
Judul Santuy:
Wajahnya Manusia, Hatinya Setan?
—Curhat Akhir Zaman buat Anak Muda yang Masih Peduli

---

Kisahnya:

Jadi gini, di Hadis ke-40 Kitab ‘Uṣfūriyyah tuh ngebahas gimana potret manusia pas zaman udah mepet-mepet: Wajahnya kayak manusia biasa, tapi hatinya… duh, kayak setan banget vibes-nya. Ngomongnya manis, dalemannya serem. No empathy, gampang banget ngeluarin darah, suka khianat, dan hukum Allah diganti sama hawa nafsu sendiri.

Pertanyaannya:
Ini cuma cerita masa depan doang?
Atau jangan-jangan… ini kita banget?

---

📱 Zaman Udah Canggih, Hati Kok Kalah?

Sekarang tuh zaman edan teknologi:

· Chat-an bisa lintas benua.
· Naik pesawat kayak naik angkot.
· Umur panjang gara-gara medis makin canggih.
· Info nyebar cuma dalam hitungan detik.

Tapi nanya: Jiwa kita ikut naik level, atau malah lag?

Allah ﷻ bilang:

إِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
"Allah nggak bakal ngubah nasib suatu kaum, kalau mereka sendiri nggak ngubah apa yang ada di dalam diri mereka."
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Kalau teknologi maju tapi hati nggak ikut di-upgrade, jadinya:

· Ghibah versi kekinian: viral, hate comment, nyinyir di mana-mana.
· Khianat model baru: penipuan online, catfishing, janji manis di kolom komentar.
· Hati keras gegara tiap hari liat konten kekerasan di FYP.
· Pintar secara akademik, tapi adab? Minus.

Rasulullah ﷺ udah warning dari dulu:

"Bakal datang tahun-tahun penuh tipu daya; pembohong dipercaya, orang jujur malah dibilang bohong…"
(HR. Ahmad)

Kedengerannya familiar? Ya ampun, udah happening banget ini.

---

🧠 Bukan Teknologi-nya, Tapi Hati-nya

Teknologi itu netral. Dia alat.
Tapi kalau alatnya dipegang hati yang rusak? Bencana.

Dalam bahasa Tazkiyatun Nufūs (alias self-care versi akhirat), akar masalahnya itu:

· Hati udah mati rasa → nggak takut sama Allah.
· Nafsu jadi tuhan → selalu ngerasa bener sendiri.
· Hilangnya rahmah → susah iba, susah maafin.

Allah ﷻ bilang:

فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ
"Celaka lah buat hati yang keras."
(QS. Az-Zumar: 22)

Hati kayak gini, secanggih apa pun alat di tangan, bakal tetap jadi sumber masalah.

---

🔎 Self-Renungan, Jangan Cuma Nyalahin Zaman

Sebelum nuduh orang lain, yuk tanya diri sendiri:

· Udah pernah share berita tanpa cek dulu?
· Pernah ngelakuin khianat kecil? Janji nggak ditepati, amanah diremehin?
· Lebih takut kehilangan followers atau kehilangan iman?

Rasulullah ﷺ bilang:

"Dalam tubuh itu ada segumpal daging. Kalau dia baik, baiklah seluruh badan. Kalau dia rusak, rusaklah semuanya. Itulah hati."
(HR. Bukhari Muslim)

Akhir zaman bukan cuma tentang Dajjal atau perang besar.
Akhir zaman juga bisa dimulai dari hati yang nggak dirawat.

---

🌱 Tapi Tenang, Masih Ada Harapan

Meskipun vibe zaman udah kayak gini, Allah ﷻ nggak pernah nutup pintu perbaikan.

Rasulullah ﷺ bilang:

"Beruntung banget orang-orang asing."
Ditanya: "Siapa mereka, ya Rasul?"
Jawabnya: "Orang-orang yang tetap baik di saat orang lain udah rusak."
(HR. Muslim)

Artinya: di tengah tren toxic, masih ada yang:

· Jadi orang tua yang sabar ngajarin iman ke anak-anaknya.
· Jadi guru yang ngajar ikhlas, bukan cuma ngejar sertifikasi.
· Jadi pedagang yang jujur, nggak tipu-tipu timbangan.
· Jadi konten kreator yang nyebarin ilmu, bukan aib orang.
· Jadi anak muda yang masih bangun malam, nangis doain umat.

Allah ﷻ bilang:

إِلَّا مَنْ أَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
"Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat."
(QS. Asy-Syu’ara: 89)

Itu goal-nya tazkiyah: punya hati yang damai, bersih, selamat. Qalbun salīm.

---

🧴Tips Upgrade Diri di Era Serba Digital

1. Puasa dari dosa digital
      Mikir dulu sebelum ngetik, apalagi sebelum post. Jari lo bisa jadi pahala atau dosa.
2. Dzikir di sela-sela scroll
      Isi feeds hati lo dengan "Subhanallah" di sela-sela timeline.
3. Jadikan gadget ladang pahala
      Bukan cuma buat mantengin drama, tapi buat nyebarin konten yang mencerahkan.
4. Niat lagi, ulang lagi
      Mau naik mobil? Niat buat silaturahmi. Mau kuliah kedokteran? Niat buat nyembuhin pasien dengan kasih sayang. Mau main medsos? Niat buat nebarkan manfaat.

---

🤲 Doa Dari Hati

Ya Allah…
Jangan jadikan kami bagian dari generasi yang wajahnya innocent tapi hatinya keras kayak batu.
Bersihin hati kami dari riya’, iri, khianat, dan mati rasa.
Lembutkan hati kami dengan dzikir ke Engkau.
Berkahi gadget kami, jadikan alat itu buat nyebarin kebaikan, bukan keburukan.
Jadikan kami bagian dari orang-orang yang tetap istiqamah di tengah gempuran tren dosa.
Dan matikan kami dalam keadaan qalbun salīm.
Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.

---

Terima kasih udah baca sampai bawah.
Semoga tulisan santuy ini bukan cuma numpang lewat di hati, tapi ninggalin bekas buat ubah diri.
Kita bukan cuma hidup di akhir zaman—tapi kita bisa jadi hamba yang selamat di dalamnya. 🤲💙

No comments: