Ali 'Imran · Ayat 79
مَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّؤْتِيَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنُوْا عِبَادًا لِّيْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰكِنْ كُوْنُوْا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَۙ ٧٩
mâ kâna libasyarin ay yu'tiyahullâhul-kitâba wal-ḫukma wan-nubuwwata tsumma yaqûla lin-nâsi kûnû ‘ibâdal lî min dûnillâhi wa lâking kûnû rabbâniyyîna bimâ kuntum tu‘allimûnal-kitâba wa bimâ kuntum tadrusûn
Tidak sepatutnya seseorang diberi Alkitab, hukum, dan kenabian oleh Allah, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu para penyembahku, bukan (penyembah) Allah,” tetapi (hendaknya dia berkata), “Jadilah kamu para pengabdi Allah karena kamu selalu mengajarkan kitab dan mempelajarinya!”
........
Buletin Tausiyah Tasawuf – Tazkiyatun Nufūs
“Menjadi Rabbani, Bukan Mencari Pengikut”
Tadabbur QS. Āli ‘Imrān Ayat 79
Allah Ta'ala berfirman:
"Tidak sepatutnya seseorang diberi Alkitab, hukum, dan kenabian oleh Allah, kemudian dia berkata kepada manusia, 'Jadilah kamu para penyembahku, bukan (penyembah) Allah,' tetapi (hendaknya dia berkata), 'Jadilah kamu para pengabdi Allah karena kamu selalu mengajarkan kitab dan mempelajarinya!'"
(QS. Āli 'Imrān: 79)
1. Makna (Tafsir Al-Jalalain)
Menurut Tafsir Al-Jalalain, ayat ini menjelaskan bahwa tidak mungkin dan tidak pantas seorang nabi yang telah diberi kitab, hikmah, dan kenabian oleh Allah kemudian mengajak manusia menyembah dirinya.
Sebaliknya, para nabi menyeru manusia agar menjadi Rabbaniyyin, yaitu hamba-hamba Allah yang sempurna ilmu, amal, dan akhlaknya.
Kalimat:
"Kūnū rabbāniyyīn"
berarti:
"Jadilah kalian orang-orang yang berilmu, mengamalkan ilmu, mendidik manusia dengan ilmu, dan senantiasa mempelajari Kitab Allah."
Dalam perspektif tasawuf, ayat ini mengajarkan bahwa ilmu sejati tidak mengantar seseorang kepada kebesaran diri, tetapi kepada penghambaan yang semakin sempurna kepada Allah.
2. Asbābun Nuzūl (Sebab Turunnya Ayat)
Diriwayatkan bahwa sebagian kaum Ahli Kitab dan kaum Nasrani berlebihan dalam memuliakan nabi-nabi mereka hingga mengangkat mereka ke derajat ketuhanan.
Ada pula riwayat bahwa sebagian orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
"Apakah engkau ingin kami menyembahmu sebagaimana kaum Nasrani menyembah Isa putra Maryam?"
Maka Allah menurunkan ayat ini untuk menegaskan bahwa seluruh nabi hanya mengajak manusia beribadah kepada Allah semata.
Ayat ini menjadi bantahan terhadap segala bentuk pengkultusan manusia.
3. Hukum (Ahkām)
Beberapa hukum yang dapat dipetik:
- Haram menyekutukan Allah dengan makhluk.
- Haram mengajak manusia menyembah selain Allah.
- Haram berbangga diri karena ilmu dan kedudukan agama.
- Wajib mengarahkan manusia kepada Allah, bukan kepada diri sendiri.
- Wajib mempelajari dan mengajarkan ilmu agama dengan ikhlas.
- Wajib menjaga tauhid dari segala bentuk syirik dan pengkultusan.
4. Hikmah dan Pelajaran (Ibrah)
A. Ilmu adalah Jalan Menuju Allah
Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin tinggi rasa takutnya kepada Allah.
B. Bahaya Ujub dan Kultus Individu
Nafsu senang dipuji dapat merusak amal dan dakwah.
C. Ukuran Kemuliaan adalah Kehambaan
Dalam tasawuf, maqam tertinggi bukan menjadi terkenal, melainkan menjadi hamba yang tulus.
D. Rabbani adalah Cita-cita Seorang Mukmin
Rabbani berarti:
- Berilmu.
- Mengamalkan ilmu.
- Mengajarkan ilmu.
- Membimbing manusia kepada Allah.
5. Kaitan dengan Ayat Lain
QS. Adz-Dzāriyāt: 56
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
Tujuan hidup adalah penghambaan kepada Allah.
QS. Fāthir: 28
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama."
Ilmu yang benar melahirkan ketakwaan.
QS. Al-An‘ām: 162
"Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan seluruh alam."
Seluruh hidup harus diarahkan kepada Allah.
6. Hadis yang Berkaitan
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan memuji Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya." (HR. Bukhari)
Hadis lain:
"Barang siapa mempelajari ilmu yang seharusnya dicari untuk mengharap wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya untuk memperoleh dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga." (HR. Abu Dawud)
Dalam tasawuf, hadis ini menjadi peringatan agar ilmu tidak dijadikan alat mencari kemuliaan dunia.
7. Amalan (Implementasi)
Harian
✓ Membaca Al-Qur'an setiap hari.
✓ Memperbaiki niat sebelum mengajar, berdakwah, atau beramal.
✓ Menghindari keinginan dipuji manusia.
✓ Membiasakan dzikir:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
untuk membersihkan hati dari ketergantungan kepada makhluk.
Mingguan
✓ Mengikuti majelis ilmu.
✓ Muhasabah niat dalam seluruh aktivitas.
✓ Bersedekah secara sembunyi-sembunyi.
Sepanjang Hayat
✓ Menjadi pembelajar Al-Qur'an.
✓ Menjadi pengajar kebaikan.
✓ Menjadi hamba Allah yang ikhlas.
8. Relevansi di Belahan Dunia Saat Ini
Di era media sosial, manusia mudah mencari popularitas, pengikut, dan pujian.
Tidak sedikit orang yang:
- Haus sanjungan.
- Bangga dengan jumlah pengikut.
- Menjadikan agama sebagai sarana mencari ketenaran.
QS. Āli 'Imrān ayat 79 mengingatkan bahwa tugas para pewaris nabi bukan mengumpulkan pengagum, melainkan mengarahkan manusia kepada Allah.
Dunia saat ini membutuhkan lebih banyak orang rabbani, bukan sekadar orang terkenal.
Dalam bahasa tasawuf:
"Jangan menjadi cermin yang membuat manusia melihat dirimu, tetapi jadilah jendela yang membuat manusia melihat Allah."
9. Sentuhan Hati (Muhasabah)
Wahai diri...
Ketika engkau beramal, siapa yang sebenarnya ingin engkau cari?
Apakah ridha Allah?
Ataukah tepuk tangan manusia?
Ketika engkau berbicara tentang agama, apakah engkau ingin manusia semakin dekat kepada Allah?
Ataukah engkau ingin mereka semakin kagum kepadamu?
Ingatlah...
Para nabi tidak meninggalkan pengikut yang fanatik kepada dirinya.
Mereka meninggalkan manusia yang mengenal Tuhannya.
Jangan sibuk membesarkan nama diri.
Besarkanlah nama Allah di dalam hati.
Karena saat engkau mati, semua pujian akan hilang.
Yang tersisa hanyalah amal yang ikhlas.
10. Doa
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الرَّبَّانِيِّينَ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالْعُجْبِ وَحُبِّ الشُّهْرَةِ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِي الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ، وَاجْعَلْنَا دُعَاةً إِلَيْكَ لَا إِلَى أَنْفُسِنَا. آمِينَ.
Artinya:
"Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan rabbani. Bersihkanlah hati kami dari riya, ujub, dan cinta popularitas. Karuniakanlah kepada kami keikhlasan dalam ilmu dan amal. Jadikanlah kami penyeru kepada-Mu, bukan kepada diri kami sendiri. Amin."
11. Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada para pembaca yang telah meluangkan waktu untuk mentadabburi firman Allah ini. Semoga Allah menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang rabbani, berilmu, beramal, ikhlas, serta istiqamah meniti jalan penyucian jiwa (Tazkiyatun Nufūs).
Wallāhu A‘lam bish-Ṣawāb.
Semoga bermanfaat dan menjadi bekal menuju ridha Allah Ta'ala. 🤲🏻📖🌿
.........
Buletin Tausiyah Tasawuf – Tazkiyatun Nufūs
“Menjadi Rabbani, Bukan Mencari Pengikut”
Tadabbur QS. Āli ‘Imrān Ayat 79
Allah Ta'ala berfirman:
"Tidak sepatutnya seseorang diberi Alkitab, hukum, dan kenabian oleh Allah, kemudian dia berkata kepada manusia, 'Jadilah kamu para penyembahku, bukan (penyembah) Allah,' tetapi (hendaknya dia berkata), 'Jadilah kamu para pengabdi Allah karena kamu selalu mengajarkan kitab dan mempelajarinya!'"
(QS. Āli 'Imrān: 79)
1. Makna (Tafsir Al-Jalalain)
Menurut Tafsir Al-Jalalain, ayat ini menjelaskan bahwa tidak mungkin dan tidak pantas seorang nabi yang telah diberi kitab, hikmah, dan kenabian oleh Allah kemudian mengajak manusia menyembah dirinya.
Sebaliknya, para nabi menyeru manusia agar menjadi Rabbaniyyin, yaitu hamba-hamba Allah yang sempurna ilmu, amal, dan akhlaknya.
Kalimat:
"Kūnū rabbāniyyīn"
berarti:
"Jadilah kalian orang-orang yang berilmu, mengamalkan ilmu, mendidik manusia dengan ilmu, dan senantiasa mempelajari Kitab Allah."
Dalam perspektif tasawuf, ayat ini mengajarkan bahwa ilmu sejati tidak mengantar seseorang kepada kebesaran diri, tetapi kepada penghambaan yang semakin sempurna kepada Allah.
2. Asbābun Nuzūl (Sebab Turunnya Ayat)
Diriwayatkan bahwa sebagian kaum Ahli Kitab dan kaum Nasrani berlebihan dalam memuliakan nabi-nabi mereka hingga mengangkat mereka ke derajat ketuhanan.
Ada pula riwayat bahwa sebagian orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
"Apakah engkau ingin kami menyembahmu sebagaimana kaum Nasrani menyembah Isa putra Maryam?"
Maka Allah menurunkan ayat ini untuk menegaskan bahwa seluruh nabi hanya mengajak manusia beribadah kepada Allah semata.
Ayat ini menjadi bantahan terhadap segala bentuk pengkultusan manusia.
3. Hukum (Ahkām)
Beberapa hukum yang dapat dipetik:
- Haram menyekutukan Allah dengan makhluk.
- Haram mengajak manusia menyembah selain Allah.
- Haram berbangga diri karena ilmu dan kedudukan agama.
- Wajib mengarahkan manusia kepada Allah, bukan kepada diri sendiri.
- Wajib mempelajari dan mengajarkan ilmu agama dengan ikhlas.
- Wajib menjaga tauhid dari segala bentuk syirik dan pengkultusan.
4. Hikmah dan Pelajaran (Ibrah)
A. Ilmu adalah Jalan Menuju Allah
Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin tinggi rasa takutnya kepada Allah.
B. Bahaya Ujub dan Kultus Individu
Nafsu senang dipuji dapat merusak amal dan dakwah.
C. Ukuran Kemuliaan adalah Kehambaan
Dalam tasawuf, maqam tertinggi bukan menjadi terkenal, melainkan menjadi hamba yang tulus.
D. Rabbani adalah Cita-cita Seorang Mukmin
Rabbani berarti:
- Berilmu.
- Mengamalkan ilmu.
- Mengajarkan ilmu.
- Membimbing manusia kepada Allah.
5. Kaitan dengan Ayat Lain
QS. Adz-Dzāriyāt: 56
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
Tujuan hidup adalah penghambaan kepada Allah.
QS. Fāthir: 28
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama."
Ilmu yang benar melahirkan ketakwaan.
QS. Al-An‘ām: 162
"Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan seluruh alam."
Seluruh hidup harus diarahkan kepada Allah.
6. Hadis yang Berkaitan
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan memuji Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya." (HR. Bukhari)
Hadis lain:
"Barang siapa mempelajari ilmu yang seharusnya dicari untuk mengharap wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya untuk memperoleh dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga." (HR. Abu Dawud)
Dalam tasawuf, hadis ini menjadi peringatan agar ilmu tidak dijadikan alat mencari kemuliaan dunia.
7. Amalan (Implementasi)
Harian
✓ Membaca Al-Qur'an setiap hari.
✓ Memperbaiki niat sebelum mengajar, berdakwah, atau beramal.
✓ Menghindari keinginan dipuji manusia.
✓ Membiasakan dzikir:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
untuk membersihkan hati dari ketergantungan kepada makhluk.
Mingguan
✓ Mengikuti majelis ilmu.
✓ Muhasabah niat dalam seluruh aktivitas.
✓ Bersedekah secara sembunyi-sembunyi.
Sepanjang Hayat
✓ Menjadi pembelajar Al-Qur'an.
✓ Menjadi pengajar kebaikan.
✓ Menjadi hamba Allah yang ikhlas.
8. Relevansi di Belahan Dunia Saat Ini
Di era media sosial, manusia mudah mencari popularitas, pengikut, dan pujian.
Tidak sedikit orang yang:
- Haus sanjungan.
- Bangga dengan jumlah pengikut.
- Menjadikan agama sebagai sarana mencari ketenaran.
QS. Āli 'Imrān ayat 79 mengingatkan bahwa tugas para pewaris nabi bukan mengumpulkan pengagum, melainkan mengarahkan manusia kepada Allah.
Dunia saat ini membutuhkan lebih banyak orang rabbani, bukan sekadar orang terkenal.
Dalam bahasa tasawuf:
"Jangan menjadi cermin yang membuat manusia melihat dirimu, tetapi jadilah jendela yang membuat manusia melihat Allah."
9. Sentuhan Hati (Muhasabah)
Wahai diri...
Ketika engkau beramal, siapa yang sebenarnya ingin engkau cari?
Apakah ridha Allah?
Ataukah tepuk tangan manusia?
Ketika engkau berbicara tentang agama, apakah engkau ingin manusia semakin dekat kepada Allah?
Ataukah engkau ingin mereka semakin kagum kepadamu?
Ingatlah...
Para nabi tidak meninggalkan pengikut yang fanatik kepada dirinya.
Mereka meninggalkan manusia yang mengenal Tuhannya.
Jangan sibuk membesarkan nama diri.
Besarkanlah nama Allah di dalam hati.
Karena saat engkau mati, semua pujian akan hilang.
Yang tersisa hanyalah amal yang ikhlas.
10. Doa
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الرَّبَّانِيِّينَ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالْعُجْبِ وَحُبِّ الشُّهْرَةِ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِي الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ، وَاجْعَلْنَا دُعَاةً إِلَيْكَ لَا إِلَى أَنْفُسِنَا. آمِينَ.
Artinya:
"Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan rabbani. Bersihkanlah hati kami dari riya, ujub, dan cinta popularitas. Karuniakanlah kepada kami keikhlasan dalam ilmu dan amal. Jadikanlah kami penyeru kepada-Mu, bukan kepada diri kami sendiri. Amin."
11. Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada para pembaca yang telah meluangkan waktu untuk mentadabburi firman Allah ini. Semoga Allah menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang rabbani, berilmu, beramal, ikhlas, serta istiqamah meniti jalan penyucian jiwa (Tazkiyatun Nufūs).
Wallāhu A‘lam bish-Ṣawāb.
Semoga bermanfaat dan menjadi bekal menuju ridha Allah Ta'ala. 🤲🏻📖🌿
Buletin Tausiyah Tasawuf – Tazkiyatun Nufūs
Versi Santuy buat Anak Kekinian
"Jadi Rabbani, Bukan Sekadar Cari Follower"
Tadabbur QS. Āli ‘Imrān Ayat 79
Allah Ta'ala berfirman (teks ayat tetap asli ya):
"Tidak sepatutnya seseorang diberi Alkitab, hukum, dan kenabian oleh Allah, kemudian dia berkata kepada manusia, 'Jadilah kamu para penyembahku, bukan (penyembah) Allah,' tetapi (hendaknya dia berkata), 'Jadilah kamu para pengabdi Allah karena kamu selalu mengajarkan kitab dan mempelajarinya!'"
(QS. Āli 'Imrān: 79)
---
1. Arti Gampangnya (Tafsir Al-Jalalain dengan gaya santai)
Menurut Tafsir Al-Jalalain, ayat ini bilang: nggak mungkin banget seorang nabi yang udah dikasih kitab, hikmah, dan kenabian sama Allah, malah ngajak manusia buat nyembah dirinya sendiri. Nggak masuk akal, kan?
Para nabi justru ngajak manusia jadi Rabbaniyyin — yaitu hamba Allah yang ilmunya top, amalnya mantap, akhlaknya oke punya.
Kata "Kūnū rabbāniyyīn" artinya kurang lebih:
"Jadilah kalian orang-orang yang pinter, ngamalin ilmu, ngajarin ilmu ke orang lain, dan rajin belajar Al-Qur'an."
Dalam dunia tasawuf, ayat ini ngajarin kita: ilmu sejati itu bukan bikin orang jadi sombong atau merasa hebat, tapi justru bikin dia makin sadar diri sebagai hamba Allah.
---
2. Latar Belakang Turunnya Ayat (Asbābun Nuzūl - versi santuy)
Ceritanya, dulu ada sebagian Ahli Kitab dan kaum Nasrani yang kelewatan dalam memuliakan nabi-nabi mereka, sampai-sampai nganggap mereka kayak tuhan. Ada juga yang nanya ke Rasulullah ﷺ:
"Ya Rasul, apa kami boleh menyembah njenengan kayak orang Nasrani menyembah Nabi Isa?"
Maka turunlah ayat ini buat ngegas: Para nabi itu cuma ngajak manusia beribadah cuma sama Allah. Jadi jangan sampai ada pengkultusan individu, ya!
---
3. Hukum yang Bisa Kita Petik (dibuat ringan)
· Haram menyekutukan Allah dengan makhluk apapun.
· Haram ngajak manusia nyembah selain Allah.
· Haram bangga diri karena ilmu atau jabatan agama.
· Wajib ngajak manusia ke jalan Allah, bukan ke diri sendiri.
· Wajib belajar dan ngajarin ilmu agama dengan ikhlas.
· Wajib jaga tauhid, jangan sampai ada budaya "pelet" atau kultus.
---
4. Hikmah dan Pelajaran (biar nggak cuma tahu doang)
A. Ilmu itu jembatan menuju Allah
Semakin tinggi ilmu seseorang, mestinya semakin takut sama Allah, bukan malah sombong.
B. Bahaya ujub dan kultus individu
Suka dipuji itu bisa merusak amal dan dakwah. Bahaya banget.
C. Kemuliaan sejati itu jadi hamba yang tulus
Dalam tasawuf, posisi paling tinggi bukan terkenal, tapi jadi hamba Allah yang ikhlas.
D. Cita-cita seorang mukmin itu jadi Rabbani
Maksudnya: berilmu, ngamalin, ngajarin, dan nuntun orang ke Allah.
---
5. Kaitan dengan Ayat Lain (biar makin nyambung)
· QS. Adz-Dzāriyāt: 56
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
Jadi tujuan hidup kita cuma buat beribadah ke Allah.
· QS. Fāthir: 28
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama."
Ilmu yang bener bikin takut sama Allah.
· QS. Al-An‘ām: 162
"Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan seluruh alam."
Semua gerak-gerik kita harus buat Allah.
---
6. Hadis yang Nyambung (teks hadis tetap asli)
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan memuji Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya." (HR. Bukhari)
Hadis lain:
"Barang siapa mempelajari ilmu yang seharusnya dicari untuk mengharap wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya untuk memperoleh dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga." (HR. Abu Dawud)
Pesan tasawufnya: jangan jadikan ilmu buat cari popularitas.
---
7. Amalan Praktis (biar nggak cuma teori)
Harian
✓ Baca Al-Qur'an tiap hari.
✓ Perbaiki niat sebelum ngajar, ceramah, atau beramal.
✓ Hindari pengen dipuji orang.
✓ Biasakan dzikir Lā ilāha illallāh buat bersihin hati dari ketergantungan sama makhluk.
Mingguan
✓ Ikut majelis ilmu (bisa online juga kok).
✓ Introspeksi niat di setiap kegiatan.
✓ Sedekah secara sembunyi (biar ikhlas).
Sepanjang hayat
✓ Jadi pembelajar Al-Qur'an.
✓ Jadi pengajar kebaikan.
✓ Jadi hamba Allah yang ikhlas.
---
8. Relevansi di Zaman Now
Di era medsos kayak sekarang, banyak orang cari popularitas, follower, dan pujian. Nggak sedikit yang:
· Haus sanjungan.
· Bangga sama jumlah follower.
· Bikin agama jadi alat cari ketenaran.
Nah, QS. Āli 'Imrān ayat 79 ini ngingetin kita: tugas para pewaris nabi itu bukan kumpulin penggemar, tapi arahin manusia ke Allah.
Dunia sekarang butuh lebih banyak orang rabbani, bukan sekadar selebritis.
Dalam bahasa tasawuf yang keren:
"Jangan jadi cermin yang bikin orang lihat dirimu, tapi jadi jendela yang bikin orang lihat Allah."
---
9. Sentuhan Hati (Muhasabah ala anak muda)
Wahai diriku...
Saat njenengan beramal, sebenernya njenengan mau cari siapa?
Ridha Allah atau tepuk tangan manusia?
Saat njenengan ngomongin agama, apa njenengan pengen orang makin dekat ke Allah?
Atau biar mereka makin kagum sama njenengan?
Ingat ya...
Para nabi nggak ninggalin pengikut yang fanatik sama dirinya.
Mereka ninggalin manusia yang kenal Tuhannya.
Jangan sibuk besarin nama diri.
Besarin nama Allah di hati.
Karena saat njenengan mati, semua pujian bakal lenyap.
Yang tersisa cuma amal yang ikhlas.
---
10. Doa (boleh diaminkan bareng)
Allāhumma ij‘alnā minar rabbāniyyīn, wa tahhir qulūbanā minar riyā’i wal ‘ujbi wa hubbisy syuhrah, warzuqnal ikhlāsha fil ‘ilmi wal ‘amal, waj‘alnā du‘ātan ilayka lā ilā anfusinā. Āmīn.
Artinya:
"Ya Allah, jadikan kami termasuk golongan rabbani. Bersihkan hati kami dari riya, ujub, dan cinta popularitas. Kasih kami keikhlasan dalam ilmu dan amal. Jadikan kami penyeru ke jalan-Mu, bukan ke diri kami sendiri. Amin."
---
11. Ucapan Terima Kasih (dari hati)
Makasih banget buat para pembaca yang udah meluangkan waktu buat tadabbur ayat ini bareng-bareng. Semoga Allah jadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang rabbani: berilmu, ngamalin, ikhlas, dan istiqamah di jalan penyucian jiwa (Tazkiyatun Nufūs).
Wallāhu A‘lam bish-Ṣawāb.
Semoga bermanfaat dan jadi bekal buat ngeraih ridha Allah Ta'ala. 🤲🏻📖🌿
---
Gimana, kak? Lebih santuy tapi tetep berbobot, kan? 😄
.......

No comments:
Post a Comment