Perintah menjaga kebiasaan baik.
Pilihlah sesuatu yang bisa dijadikannya istiqoma (yang ringan, yang mudah).
...........
PERINTAH MENJAGA KEBIASAAN BAIK
(Dalam Perspektif Tasawuf – Tazkiyatun Nufūs)
Pendahuluan
Salah satu tanda keberhasilan seorang hamba dalam perjalanan menuju Allah Ta'ala bukanlah banyaknya amal yang dilakukan sesekali, melainkan istiqamah dalam amal yang baik. Dalam ilmu tasawuf, menjaga kebiasaan baik merupakan bagian dari proses penyucian jiwa (Tazkiyatun Nufūs), karena jiwa manusia akan terbentuk sesuai dengan kebiasaan yang terus-menerus dilakukan.
Orang yang membiasakan dirinya dengan kebaikan akan mudah melakukan kebaikan. Sebaliknya, orang yang membiasakan dirinya dengan kemaksiatan akan merasa berat meninggalkannya.
Makna (Tafsir) Isi Redaksi
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu sesuatu yang diyakini (kematian)." (QS. Al-Hijr: 99)
Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah dan ketaatan tidak boleh berhenti sampai ajal datang.
Allah juga berfirman:
"Maka tetaplah engkau pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu." (QS. Hud: 112)
Perintah istiqamah menunjukkan kewajiban menjaga amal saleh secara berkesinambungan.
Menurut para ulama tasawuf, istiqamah lebih tinggi daripada banyaknya karamah. Sebab karamah dapat terjadi sesaat, sedangkan istiqamah merupakan perjuangan sepanjang hayat.
Hukum (Ahkam)
Menjaga kebiasaan baik hukumnya:
1. Wajib
Apabila berkaitan dengan kewajiban syariat:
- Shalat lima waktu
- Puasa Ramadan
- Menutup aurat
- Menjaga kejujuran
- Berbakti kepada orang tua
2. Sunnah Muakkadah
Apabila berupa amal-amal sunnah yang terus dijaga:
- Shalat tahajud
- Shalat dhuha
- Membaca Al-Qur'an
- Zikir pagi dan petang
- Sedekah harian
3. Haram ditinggalkan
Jika meninggalkan kebiasaan baik menyebabkan jatuh pada kemaksiatan atau kerusakan agama.
Dalil Al-Qur'an, Hadis dan Hadis Qudsi
Al-Qur'an
Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka istiqamah..." (QS. Fussilat: 30)
Hadis Nabi ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau juga bersabda:
"Katakanlah aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah." (HR. Muslim)
Hadis Qudsi
Allah Ta'ala berfirman:
"Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya." (HR. Bukhari)
Kata "senantiasa" menunjukkan kontinuitas dan kebiasaan baik yang dijaga terus-menerus.
Analisis dan Argumentasi
Dalam perspektif tasawuf, hati manusia bagaikan tanah. Apa yang ditanam berulang kali akan tumbuh menjadi karakter.
Sekali berbuat baik belum tentu menjadi orang baik.
Tetapi jika kebaikan dilakukan terus-menerus, maka terbentuklah:
- Akhlak mulia
- Kesabaran
- Keikhlasan
- Kedekatan dengan Allah
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa jiwa dibentuk oleh pengulangan amal. Semakin sering suatu amal dilakukan, semakin kuat sifat tersebut tertanam dalam hati.
Karena itu syariat tidak hanya memerintahkan amal, tetapi juga istiqamah dalam amal.
Hikmah dan Pelajaran (Ibrah)
1. Amal kecil menjadi besar karena istiqamah
Sedekah Rp1.000 setiap hari lebih dicintai Allah daripada sedekah besar yang hanya sekali.
2. Jiwa menjadi bersih
Kebiasaan baik mengikis penyakit hati:
- Riya
- Hasad
- Takabur
- Ujub
3. Mendatangkan pertolongan Allah
Orang yang menjaga hubungan dengan Allah akan dijaga Allah ketika mengalami kesulitan.
4. Menjadi teladan
Kebaikan yang istiqamah akan menginspirasi keluarga dan masyarakat.
Amalan (Implementasi)
Mulailah dengan kebiasaan yang ringan tetapi konsisten:
Harian
- Shalat berjamaah
- Membaca Al-Qur'an 1–2 halaman
- Sedekah walau sedikit
- Istighfar 100 kali
- Shalawat 100 kali
Mingguan
- Puasa sunnah
- Menghadiri majelis ilmu
- Membantu fakir miskin
Bulanan
- Muhasabah diri
- Menambah target amal
- Membaca buku agama
Prinsipnya:
Sedikit tetapi terus menerus lebih baik daripada banyak tetapi terputus.
Relevansi di Zaman Sekarang
1. Teknologi
Teknologi dapat menjadi sarana istiqamah:
- Aplikasi Al-Qur'an
- Jadwal shalat digital
- Kajian online
- Sedekah online
Namun teknologi juga menjadi sebab lalai:
- Kecanduan media sosial
- Game berlebihan
- Konten maksiat
- Gosip digital
2. Komunikasi
Dulu satu dosa lisan didengar beberapa orang.
Sekarang satu dosa jari dapat dibaca jutaan orang.
Karena itu istiqamah menjaga lisan harus diperluas menjadi menjaga:
- Jari
- Komentar
- Status
- Konten media sosial
3. Transportasi
Kemudahan transportasi memudahkan:
- Silaturahmi
- Menuntut ilmu
- Dakwah
Tetapi juga memudahkan manusia menuju kemaksiatan jika tidak menjaga diri.
4. Kedokteran
Usia manusia semakin panjang karena kemajuan medis.
Maka semakin panjang umur seharusnya semakin banyak kesempatan memperbanyak amal dan memperbaiki diri.
5. Kehidupan Sosial
Di era modern banyak orang mengejar pencitraan sesaat.
Tasawuf mengajarkan: bukan hebat sesaat, tetapi baik sampai wafat.
Motivasi
Jangan menunggu menjadi sempurna untuk istiqamah.
Mulailah dari:
- Satu halaman Al-Qur'an
- Satu sedekah
- Satu dzikir
- Satu kebaikan
Gunung yang besar tersusun dari butiran-butiran kecil.
Demikian pula surga dibangun oleh amal-amal kecil yang dilakukan terus-menerus.
Allah tidak melihat besarnya amal semata, tetapi keikhlasan dan kesinambungannya.
Muhasabah dan Caranya
Tanyakan kepada diri sendiri:
Tentang Shalat
- Apakah shalatku semakin baik?
Tentang Al-Qur'an
- Berapa hari berlalu tanpa membaca Al-Qur'an?
Tentang Zikir
- Berapa banyak waktuku untuk mengingat Allah?
Tentang Media Sosial
- Apakah lebih banyak manfaat atau dosa?
Tentang Amal Saleh
- Apakah hari ini lebih baik daripada kemarin?
Cara Muhasabah:
- Sediakan waktu 10 menit sebelum tidur.
- Hitung amal dan dosa hari itu.
- Bersyukur atas kebaikan.
- Menyesali kesalahan.
- Bertekad memperbaiki diri esok hari.
Kemuliaan dan Kehinaan yang Didapat
Di Dunia
Kemuliaan
- Hati tenang
- Rezeki diberkahi
- Dicintai orang saleh
- Mudah melakukan kebaikan
Kehinaan
- Hati keras
- Sulit beribadah
- Gelisah
- Jauh dari keberkahan
Di Alam Kubur
Kemuliaan
- Kubur diluaskan
- Mendapat cahaya
- Ditemani amal saleh
Kehinaan
- Kesempitan kubur
- Penyesalan
- Berat menghadapi pertanyaan malaikat
Di Hari Kiamat
Kemuliaan
- Mendapat naungan Allah
- Hisab lebih mudah
- Timbangan amal berat
Kehinaan
- Hisab berat
- Penyesalan panjang
- Kehilangan kesempatan keselamatan
Di Akhirat
Kemuliaan
- Ridha Allah
- Surga yang penuh kenikmatan
- Melihat wajah Allah Yang Maha Mulia
Kehinaan
- Jauh dari rahmat Allah
- Penyesalan abadi
- Siksa yang pedih bagi yang tidak bertaubat
Doa
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
"Ya Allah, bantulah kami untuk selalu mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya."
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُسْتَقِيمِينَ
"Ya Allah, teguhkan hati kami di atas agama-Mu dan jadikan kami termasuk orang-orang yang istiqamah."
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
"Ampunilah kami, teguhkan hati kami, dan anugerahkan kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi."
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada seluruh pembaca yang telah meluangkan waktu untuk merenungkan nasihat ini. Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang istiqamah dalam kebaikan, menjaga amal hingga akhir hayat, serta diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.
"Bukan siapa yang paling cepat berlari menuju Allah yang akan selamat, tetapi siapa yang mampu tetap berjalan di jalan-Nya hingga akhir hayat."
Wallāhu A'lam bish-Ṣawāb.
..........
No comments:
Post a Comment