Dalam kitab Irsyadul 'Ibad ilaa Sabilir Rasyad karya Syekh Zainuddin Al-Malibari, terdapat pembahasan mengenai larangan mendiamkan atau tidak bertegur sapa dengan sesama Muslim melebihi tiga hari. Hal ini berkaitan dengan menjaga tali persaudaraan dan menghindari permusuhan.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai larangan tersebut berdasarkan kajian kitab tersebut:
Batas Maksimal 3 Hari: Islam membolehkan seseorang mendiamkan saudaranya karena konflik hanya selama tiga hari tiga malam, sebagai batas waktu untuk meredakan emosi.
Hukum Haram Lebih dari 3 Hari: Tidak halal bagi seorang Muslim memboikot, mendiamkan, atau tidak bertegur sapa dengan saudaranya sesama Muslim lebih dari tiga hari.
Ancaman Neraka: Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang memutuskan hubungan (mendiamkan) lebih dari tiga hari dan meninggal dunia, maka ia masuk neraka".
Kewajiban Menyapa Kembali: Jika perselisihan terjadi, yang paling baik dan mulia adalah orang yang pertama kali memulai salam atau bertegur sapa kembali setelah lewat dari 3 hari.
Mendiamkan untuk Kebaikan (Pengecualian): Pengecualian diperbolehkan jika mendiamkan saudara tersebut bertujuan untuk kemaslahatan, seperti untuk memberi pelajaran pada pelaku bid'ah atau orang yang tidak malu melakukan maksiat secara terang-terangan.
Kitab Irsyadul 'Ibad menekankan bahwa memutuskan tali persaudaraan merupakan dosa besar yang dapat menghalangi diterimanya amal ibadah.
.......
Baik, berikut bacaan koran bernuansa Tazkiyatun Nufūs—gaya reflektif, argumentatif, dan menenangkan jiwa—berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan spirit Irsyādul ‘Ibād ilaa Sabīlir Rasyād karya Syekh Zainuddin Al-Malibari.
Tazkiyatun Nufūs: Bahaya Mendiamkan Sesama Muslim dan Jalan Penyucian Jiwa
Pendahuluan
Salah satu penyakit hati yang kerap dianggap sepele, namun berdampak besar pada rusaknya jiwa dan masyarakat, adalah mendiamkan sesama Muslim. Dalam kitab Irsyādul ‘Ibād ilaa Sabīlir Rasyād, Syekh Zainuddin Al-Malibari dengan tegas mengingatkan bahwa memutus komunikasi lebih dari tiga hari bukan sekadar pelanggaran adab, tetapi dosa besar yang menghalangi cahaya tazkiyah (penyucian jiwa).
Islam bukan agama yang membiarkan dendam berlama-lama, karena dendam adalah racun batin yang perlahan mematikan hati.
Landasan Al-Qur’an dan Hadis
Al-Qur’an
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara dua saudaramu.”
(QS. Al-Ḥujurāt: 10)
Ayat ini menunjukkan bahwa persaudaraan iman adalah kewajiban syar‘i, bukan sekadar etika sosial.
Hadis Nabi ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ
“Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dan ancaman yang sangat keras:
مَنْ هَجَرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ فَمَاتَ دَخَلَ النَّارَ
“Barangsiapa mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari lalu ia meninggal, maka ia masuk neraka.”
(HR. Abu Dawud)
Ancaman ini bukan karena sekadar diam, tetapi karena memelihara kebencian di dalam hati.
Analisis dan Argumentasi (Perspektif Tazkiyatun Nufūs)
Dalam tazkiyatun nufūs, dosa hati lebih berbahaya daripada dosa anggota badan. Mendiamkan saudara:
- Menyuburkan kibr (kesombongan)
- Menghidupkan hiqd (dendam)
- Memadamkan rahmah (kasih sayang)
Padahal tujuan syariat adalah ishlāḥ al-qulūb (perbaikan hati). Karena itu, Islam memberi batas tiga hari sebagai waktu alami meredam emosi, bukan memperpanjang permusuhan.
Syekh Zainuddin Al-Malibari menegaskan:
Memutus persaudaraan termasuk dosa besar karena menghancurkan pondasi agama yang dibangun di atas ukhuwah.
Pengecualian yang Dibolehkan
Mendiamkan dibolehkan bila:
- Bertujuan mendidik, bukan melampiaskan ego
- Terhadap pelaku maksiat terang-terangan
- Terhadap ahli bid‘ah yang membahayakan umat
Namun syaratnya:
- Hati tetap bersih dari dendam
- Ada harapan perbaikan, bukan kehancuran
Kemuliaan dan Kehinaan Akibat Mendiamkan
1. Di Dunia
Kemuliaan orang yang memaafkan:
- Hati lapang
- Hidup tenang
- Dicintai manusia
Kehinaan pendendam:
- Gelisah
- Mudah marah
- Hubungan rusak
2. Di Alam Kubur
Orang yang memutus silaturahmi:
- Terhalang dari kenikmatan kubur
- Disempitkan hatinya sebelum jasadnya disempitkan
3. Di Hari Kiamat
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Amal manusia diangkat setiap Senin dan Kamis, kecuali dua orang yang saling bermusuhan—dikatakan: tangguhkan sampai mereka berdamai.”
(HR. Muslim)
➡️ Amal tertahan, walau ibadah banyak.
4. Di Akhirat
- Pendendam terancam neraka
- Pemaaf mendapat kedudukan tinggi di sisi Allah
Hikmah, Tujuan, dan Manfaat Larangan Mendiamkan
Hikmah
- Membersihkan hati dari racun dendam
- Menjaga stabilitas umat
- Menghidupkan sifat rahmah
Tujuan
- Mencetak jiwa yang lembut, jujur, dan tawadhu
- Meneladani akhlak Rasulullah ﷺ
Manfaat
- Amal diterima
- Doa mudah dikabulkan
- Hidup penuh keberkahan
Motivasi & Muhasabah
Pertanyaan Muhasabah
- Sudah berapa lama aku mendiamkan saudaraku?
- Apakah diamku karena Allah atau karena ego?
- Jika aku wafat hari ini, apakah hatiku bersih?
Cara Muhasabah
- Diam sejenak sebelum tidur
- Hadirkan wajah orang yang kita jauhi
- Mohonkan ampunan untuknya
- Niatkan besok memulai salam
Orang paling mulia bukan yang menang debat, tapi yang menang melawan egonya.
Doa
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْحِقْدِ وَالْحَسَدِ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَبْدَءُونَ بِالسَّلَامِ طَلَبًا لِرِضَاكَ
“Ya Allah, sucikan hati kami dari dendam dan hasad. Satukan hati-hati kami. Jadikan kami orang yang memulai salam demi mengharap ridha-Mu.”
Penutup
Tazkiyatun nufūs bukan hanya dzikir dan ibadah lahir, tetapi membersihkan relasi dan niat di dalam hati. Siapa yang mampu memaafkan, dialah orang yang paling kuat—dan paling dekat dengan Allah.
........Judul: Jangan Sampai "Ghosting" Sesama Muslim, Bahaya Banget Lho! Bisa Gagal "Healing" Hati.
Pembuka:
Eh, ada satu penyakit hati yang sering dianggap remeh, padahal efeknya gede banget: mendiamkan atau "ghosting" sesama Muslim. Kata Syekh Zainuddin Al-Malibari di kitab Irsyadul 'Ibad, mutusin komunikasi lebih dari tiga hari itu nggak cuma masalah attitude aja, tapi udah masuk dosa besar yang bikin hati kita gelap, nggak bisa bersih-bersih jiwa alias tazkiyah.
Islam tuh nggak ngajarin kita buat nyimpen dendam. Soalnya, dendam itu kayak racun yang pelan-pelan bikin hati kita "mati".
Dasar Agamanya Tetap Kuat:
1. Dari Al-Qur'an:
Allah ﷻ bilang:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara dua saudaramu." (QS. Al-Hujurat: 10)
Ini jelas, ya! Persaudaraan iman itu kewajiban, bukan sekadar basa-basi.
2. Dari Hadits Nabi ﷺ:
Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ
"Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan nih, ancamannya serius banget:
> مَنْ هَجَرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ فَمَاتَ دَخَلَ النَّارَ
"Barangsiapa mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari lalu ia meninggal, maka ia masuk neraka." (HR. Abu Dawud)
Kok bisa separah itu? Karena ini bukan cuma soal "diemin", tapi soal ngebiarin kebencian tumbuh subur di dalam hati.
Ngomongin Penyucian Hati (Tazkiyatun Nufus):
Dalam ilmu penyucian jiwa, dosa di hati lebih berbahaya daripada dosa yang keliatan. Nyuekin saudara itu:
· Nyuuburin rasa sombong (kibr).
· Ngehidupin dendam (hiqd).
· Matiin rasa kasih sayang (rahmah).
Padahal, tujuan utama agama itu ishlah al-qulub (napokin hati). Makanya, Islam ngasih batas waktu tiga hari buat meredam emosi. Lebih dari itu? Udah masuk zona bahaya, bukan healing lagi.
Kata Syekh Zainuddin, mutusin silaturahmi itu dosa besar karena ngerusak pondasi agama yang dibangun di atas persaudaraan.
Tapi, Apa Selalu Salah Buat "Diemin"?
Nggak juga sih. Boleh aja mendiamkan kalau:
· Buat ngebimbing, bukan sekadar melampiaskan emosi.
· Ke orang yang maksiatnya terang-terangan.
· Ke ahli bid'ah yang bahayain umat.
Syaratnya: Hati harus tetap bersih dari dendam, dan tujuannya ada harapan perbaikan, bukan sekadar nyakitin.
Akibatnya, Mau Mulia Atau Hina?
1. Di Dunia:
· Yang memaafkan: Hatenya adem, hidup tenang, disenengin orang.
· Yang pendendam: Galau, gampang marah, hubungan sama orang lain jadi rusak.
2. Di Alam Kubur:
Yang mutusin silaturahmi: Nggak dapet kenikmatan kubur, hatinya sempit sebelum kuburnya sempit.
3. Di Hari Kiamat Nanti:
Rasulullah ﷺ bilang, amal manusia diangkat tiap Senin-Kamis, kecuali buat orang yang lagi bermusuhan. Mereka disuruh "tunggu dulu, damaiin dulu". Bayangin, amal tertahan meski ibadahnya banyak!
4. Di Akhirat:
Pendendam: Ancaman neraka.
Pemaaf: Dapet tempat yang tinggi di sisi Allah.
Intinya, Apa Sih Hikmahnya?
· Biar hati bersih dari racun dendam.
· Biar hubungan sesama Muslim stabil.
· Biar sifat kasih sayang hidup.
Tujuannya? Membentuk jiwa yang lembut, jujur, dan rendah hati, kayak akhlak Rasulullah ﷺ.
Manfaatnya? Amal diterima, doa dikabulin, hidup penuh berkah.
Yuk, Introspeksi Diri! (Muhasabah)
· "Udah berapa lama gue 'ghosting' dia? Apa worth it?"
· "Diem-dieman ini demi Allah, apa cuma karena gengsi gue?"
· "Kalo tiba-tiba gue meninggal sekarang, apa hati gue udah bersih?"
Coba deh, sebelum tidur, ingat-ingat lagi wajah orang yang kita jauhin. Minta ampun buat dia juga. Niatin besok buat nyapa duluan. Ingat, orang paling kuat bukan yang menang debat, tapi yang bisa ngalahin egonya sendiri.
Doa Penutup:
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْحِقْدِ وَالْحَسَدِ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَبْدَءُونَ بِالسَّلَامِ طَلَبًا لِرِضَاكَ
"Ya Allah, sucikan hati kami dari dendam dan hasad. Satukan hati-hati kami. Jadikan kami orang yang memulai salam demi mengharap ridha-Mu."
Kesimpulan:
Tazkiyatun nufus itu nggak cuma lewat dzikir dan sholat aja, tapi juga lewat napokin hubungan sama orang lain dan niat di hati. Siapa yang bisa memaafkan, dialah orang yang paling kuat—dan paling deket sama Allah.
---
Mau dibikin versi yang lebih formal buat artikel koran, khutbah Jumat, atau buku? Bisa banget! Tinggal kasih tahu aja.

No comments:
Post a Comment