🕌 BERIBADAH DENGAN KEBODOHAN
(Refleksi dari Kitab Al-Ghayah karya Al-Hishni)
Oleh: M. Djoko Ekasanu
Dalam kitab Al-Ghayah karangan Al-Hishni terdapat keterangan bahwa Dhirar bin Amar berkata: Sesungguhnya ada suatu kaum yang enggan menuntut ilmu, tidak sudi duduk bersama ahlul ilmi, baik pelajar atau ulama, lalu mereka hanya membikin kamar khusus, melakukan shalat, berpuasa sehingga kurus kering, kulitnya telah melekat pada tulangnya.
Tindakan mereka ini ternyata bertentangan dengan ajaran agama, akhirnya kebinasaanlah yang mereka terima. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Allah, tidak seorangpun yang beribadah dengan kebodohan, kecuali yang merusak lebih banyak daripada yang memperbaiki. Oleh karena itu, dia menyatakan bahwa mereka akan menemui kebinasaan.
🔹 Ringkasan Redaksi Aslinya
Dalam kitab Al-Ghayah karya Al-Hishni disebutkan bahwa Dhirar bin Amar pernah menegur sekelompok orang yang menjauh dari majelis ilmu. Mereka menolak duduk bersama para ulama dan pelajar, memilih mengurung diri di kamar untuk shalat dan puasa hingga tubuhnya kurus kering. Namun, ternyata amal ibadah mereka tidak membawa kebaikan, bahkan menjerumuskan pada kebinasaan.
Dhirar berkata:
“Demi Allah, tidak ada seorang pun yang beribadah dengan kebodohan kecuali kerusakannya lebih besar daripada perbaikannya.”
🔹 Maksud dan Hakekat
Pesan yang hendak disampaikan Dhirar bin Amar sangat dalam: ibadah tanpa ilmu adalah bencana.
Ibadah sejati menuntut ilmu yang membimbing hati, bukan sekadar gerakan fisik. Ilmu adalah cahaya yang menerangi ibadah, sedangkan kebodohan adalah kegelapan yang bisa menyesatkan.
Hakekatnya, ilmu adalah syarat diterimanya amal. Tanpa ilmu, seseorang bisa terjebak dalam kesalahan yang dianggapnya kebaikan — sebagaimana firman Allah:
“Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?
Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”
(QS. Al-Kahfi: 103–104)
🔹 Tafsir dan Makna Judul
“Beribadah dengan Kebodohan” bukan sekadar peringatan, melainkan kritik keras terhadap tafaqquh yang diabaikan.
Allah berfirman:
“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu.”
(QS. Muhammad: 19)
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu (“fa’lam” – ketahuilah) harus mendahului amal (“fastaghfir” – beristighfar). Artinya, mengenal Allah (ma’rifatullah) menjadi fondasi amal.
🔹 Tujuan dan Manfaat
- Mengingatkan umat Islam bahwa ilmu adalah jalan menuju amal yang benar.
- Mencegah munculnya paham-paham ekstrem yang menolak ulama dan pendidikan agama.
- Menumbuhkan semangat thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu) sebagai ibadah utama.
- Membimbing hati agar ibadah dilakukan dengan pengertian, bukan taklid buta.
🔹 Latar Belakang Masalah di Jamannya
Pada masa awal Islam hingga abad ketiga Hijriyah, muncul kelompok-kelompok zuhud ekstrem yang meninggalkan masyarakat dan menganggap cukup dengan shalat serta puasa. Mereka menolak duduk di majelis ilmu karena merasa sudah “dekat dengan Allah”.
Namun para ulama besar seperti Al-Hishni, Imam Ghazali, dan Dhirar bin Amar meluruskan pandangan itu: zuhud bukan berarti meninggalkan ilmu dan amal sosial.
Zuhud tanpa ilmu menjelma menjadi kesesatan.
🔹 Intisari Masalah
➡️ Masalah utama: Menolak ilmu dan majelis ulama.
➡️ Akibat: Ibadah yang dilakukan tidak sesuai tuntunan syariat, menjadi kerusakan rohani.
➡️ Kesimpulan: Ilmu dan ibadah harus berjalan bersama — seperti dua sayap burung menuju ridha Allah.
🔹 Sebab Terjadinya Masalah
- Kesalahpahaman terhadap makna zuhud.
- Rasa sombong rohani (ujub) yang menganggap diri suci tanpa perlu belajar.
- Ketidakhadiran ulama dalam pembinaan masyarakat awam.
- Godaan setan yang menyesatkan manusia lewat jalan ibadah.
🔹 Dalil Al-Qur’an dan Hadis
Al-Qur’an:
“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
(QS. Az-Zumar: 9)
Hadis Nabi ﷺ:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari manusia, tetapi mencabutnya dengan mewafatkan para ulama, hingga bila tidak ada lagi orang alim, manusia mengangkat orang bodoh sebagai pemimpin; mereka ditanya lalu memberi fatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
🔹 Analisis dan Argumentasi
Ilmu adalah cahaya yang membimbing ibadah kepada arah yang benar.
Ibadah tanpa ilmu seperti kapal berlayar tanpa kompas — bisa tenggelam di lautan kesesatan.
Mereka yang beribadah tanpa ilmu sering terjebak dalam bentuk ritualisme kosong, menilai kesalehan dari kurusnya tubuh, lamanya sujud, atau banyaknya wirid, padahal hakikat ibadah adalah taat yang disertai pengenalan kepada Allah.
🔹 Relevansi Saat Ini
Fenomena serupa terjadi hari ini:
Sebagian orang rajin beribadah tetapi menolak belajar dari ulama, menolak fiqh, tafsir, bahkan merasa cukup dengan “bisikan hati”. Akibatnya, muncul kelompok yang menyeleweng dari sunnah, menyalahkan ulama, dan menebar kebingungan di tengah umat.
Padahal, ulama adalah pewaris para nabi.
🔹 Hikmah
- Ilmu adalah cahaya ibadah, tanpa ilmu ibadah menjadi kegelapan.
- Zuhud sejati adalah hati yang tenang di tengah dunia, bukan tubuh yang tersiksa karena lapar.
- Menghadiri majelis ilmu adalah bentuk ibadah yang lebih tinggi daripada ibadah yang tidak disertai pengertian.
- Orang berilmu akan selalu merendah karena tahu betapa sedikit pengetahuannya di hadapan Allah.
🔹 Muhasabah dan Caranya
- Bertanyalah kepada diri sendiri:
Apakah aku beribadah karena ilmu atau karena kebiasaan? - Hadiri majelis ilmu dengan hati rendah.
- Pelajari hukum ibadah dari sumber yang sahih.
- Jangan merasa cukup dengan pengalaman spiritual tanpa rujukan syariat.
🔹 Doa
“Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, amal yang diterima, hati yang khusyuk, dan lisan yang selalu berdzikir kepada-Mu.
Jauhkan kami dari ibadah yang menyesatkan dan dekatkan kami kepada cahaya ilmu-Mu.
Amin ya Rabbal ‘alamin.”
🔹 Nasehat Para Sufi Besar
- Hasan Al-Bashri: “Ilmu tanpa amal adalah kesombongan, amal tanpa ilmu adalah kebodohan.”
- Rabi‘ah al-Adawiyah: “Cintailah Allah karena pengetahuanmu tentang-Nya, bukan karena harapan surga atau takut neraka.”
- Abu Yazid al-Bistami: “Jalan menuju Allah terang bagi yang berilmu, gelap bagi yang bodoh.”
- Junaid al-Baghdadi: “Tasawuf bukan sekadar gerak zahir, tapi pengetahuan tentang hakikat.”
- Al-Hallaj: “Barang siapa mengenal Allah tanpa ilmu, ia akan terjerumus pada dirinya sendiri.”
- Imam al-Ghazali: “Ilmu tanpa amal gila, amal tanpa ilmu sia-sia.”
- Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Belajarlah sebelum engkau beramal, karena amal tanpa ilmu seperti bangunan tanpa pondasi.”
- Jalaluddin Rumi: “Ilmu adalah sayap rohani yang mengangkat jiwa ke langit makrifat.”
- Ibnu ‘Arabi: “Siapa mengenal Tuhan tanpa mengenal ilmu-Nya, sesungguhnya ia mengenal khayalan.”
- Ahmad al-Tijani: “Orang berilmu itu hidup dalam dua dunia; dunia ilmu dan dunia amal, keduanya saling menyempurnakan.”
🔹 Daftar Pustaka
- Al-Hishni, Al-Ghayah fi Ikhtishar an-Nihayah, Beirut: Dar al-Fikr.
- Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin.
- Jalaluddin Rumi, Matsnawi al-Ma’nawi.
- Ibnu ‘Arabi, Futuhat al-Makkiyyah.
- Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Al-Fath ar-Rabbani.
- Hasan Al-Bashri, Mawa’izh wa Rasail.
- Al-Qur’an dan Hadis Shahih Bukhari-Muslim.
🔹 Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada para guru, ulama, dan pembaca yang senantiasa menumbuhkan cinta kepada ilmu dan cahaya kebenaran.
Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah dan pengingat bahwa ibadah tanpa ilmu hanyalah bayang-bayang kesalehan.
🖋️ Penulis: M. Djoko Ekasanu
(Pemerhati Ilmu, Tasawuf, dan Peradaban Islam)
Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai dan sopan dari teks tersebut:
🕌 BERIBADAH DENGAN KEBODOHAN? NO, THANKS!
(Refleksi dari Kitab Al-Ghayah karya Al-Hishni) Oleh:M. Djoko Ekasanu
🔹 CERITANYA GIMANA SIH?
Jadi, dalam kitab Al-Ghayah, ada cerita tentang Dhirar bin Amar yang ngeluh tentang sekelompok orang. Katanya, mereka ini anti-banget belajar ilmu agama. Nggak mau gabung di majelis ilmu, nggak mau duduk-duduk sama ustadz atau para pencari ilmu.
Mereka milih ngurung diri di kamar, fokus shalat dan puasa aja, sampe badannya kurus kering. Tapi, menurut Dhirar, action mereka ini justru melenceng dari ajaran agama dan bikin mereka celaka. Dia bilang dengan tegas:
“Demi Allah, nggak ada satu orang pun yang beribadah tapi masih bodoh, kecuali kerusakan yang dia bikin lebih banyak daripada perbaikan.”
Intinya, ibadah tanpa ilmu = bahaya.
🔹 MAKNA DI BALIK JUDUL: “BERIBADAH DENGAN KEBODOHAN”
Judul ini sebenernya sindiran halus buat yang males belajar agama. Ibadah itu butuh ilmu, bukan cuma modal semangat. Kalo nggak paham, bisa-bisa yang kita anggap benar ternyata salah. Mirip kayak kata Allah dalam QS. Al-Kahfi: 103–104:
“Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”
Ngeri, kan? Bisa aja kita merasa paling bener, tapi ternyata sesat.
Allah juga bilang di QS. Muhammad: 19: “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah,dan mohonlah ampunan atas dosamu.”
Perhatikan urutannya: “fa’lam” (tahu dulu) baru “fastaghfir” (minta ampun). Jadi, ilmu dulu, baru amal.
🔹 KENAPA BISA KEJADIAN GINI?
1. Salah paham zuhud: Ngira zuhud itu harus ninggalin dunia dan menyendiri aja.
2. Ujub spiritual: Merasa diri udah cukup suci, jadi nggak butuh belajar dari orang lain.
3. Lingkungan: Kurangnya peran ulama atau guru yang ngasih pemahaman yang bener.
4. Godaan setan: Setan bisa nipu lewat jalur ibadah, bikin kita merasa paling soleh tanpa ilmu.
🔹 RELEVANSINYA DI ZAMAN NOW?
Masih banget relevan! Sekarang kan banyak yang rajin ibadah tapi skip belajar agama. Ada yang merasa cukup baca dari medsos, nggak mau ikut pengajian, atau bahkan ngeremehin ilmu fiqh dan tafsir. Alhasil, muncul pemahaman yang sempit dan gampang nyalahin orang lain. Padahal, ulama itu pewaris para nabi, lho.
🔹 JADI, HARUS GIMANA?
1. Ilmu dulu, baru action. Sebelum ibadah, cari tahu dulu caranya yang bener.
2. Rajin ke majelis ilmu. Ikutan pengajian, dengerin ceramah, atau diskusi sama yang lebih paham.
3. Jangan sombong rohani. Semakin banyak ilmu, harusnya kita makin rendah hati.
4. Cek sumbernya. Pastikan ilmu agama kita dari sumber yang jelas dan terpercaya.
🔹 NASEHAT GOLD PARA SUFI
· Hasan Al-Bashri: “Ilmu tanpa amal itu sombong, amal tanpa ilmu itu goblok.”
· Imam al-Ghazali: “Ilmu tanpa amal itu gila, amal tanpa ilmu itu percuma.”
· Jalaluddin Rumi: “Ilmu itu sayap yang bikin jiwa kita terbang ke langit makrifat.”
· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Belajar dulu sebelum beramal, soalnya amal tanpa ilmu kayak bangunan tanpa pondasi.”
🔹 MUHASABAH DIRI SENDIRI
· “Gue ibadah karena ikut-ikutan atau karena paham?”
· “Udah berapa sering gue cari ilmu agama minggu ini?”
· “Apakah gue merasa paling bener sendiri dalam beragama?”
🔹 DOA PENUTUP
“Ya Allah, kasih kami ilmu yang bermanfaat, amal yang diterima, hati yang khusyuk, dan mulut yang selalu ingat Kamu. Jauhin kami dari ibadah yang nyasar dan deketin kami sama cahaya ilmu-Mu. Aamiin.”
🔹 SUMBER-SUMBER RUJUKAN
· Kitab Al-Ghayah karya Al-Hishni
· Ihya’ Ulumuddin-nya Imam Al-Ghazali
· Karya-karya Rumi, Ibn ‘Arabi, dll.
· Al-Qur’an dan Hadis Shahih Bukhari-Muslim.
🖋️ Penulis: M. Djoko Ekasanu (Pemerhati Ilmu,Tasawuf, dan Peradaban Islam)
Tetap semangat belajar, guys! Soalnya, ibadah yang bener itu yang pake ilmu, bukan cuma modal feeling. 😉

No comments:
Post a Comment