Cara Beriman Terhadap Para Nabi
Beriman kepada para Nabi berarti meyakini bahwa Nabi pertama adalah Adam `alaihis-salam, dengan nama Syarif, kunyah Abul Basyar, dan laqab Shafiullah. Nabi paling utama adalah Nabi Muhammad ﷺ, penutup para Nabi, dan tidak ada nabi setelah beliau.
Para Nabi adalah orang-orang yang menyampaikan kabar ghaib tentang hari kiamat dan peristiwa-peristiwanya, seperti kebangkitan dari kubur, mahsyar, hisab, mizan, shirath, telaga, syafaat, surga, dan neraka. Mereka juga memberi nasihat, membimbing umat agar beramal ikhlas, menyeru pada ketaatan, dan melarang kemaksiatan. Mereka jujur, amanah, serta penyampai wahyu Allah melalui berbagai cara: tulisan, malaikat, mimpi, ilham, atau langsung, sebagaimana Nabi Muhammad ﷺ saat Isra’ menerima kewajiban shalat.
Para Nabi adalah ma’shum, yakni terjaga dari dosa besar dan kecil, bahkan sejak sebelum kenabian. Allah menjaga lahir dan batin mereka dari hal yang dilarang, meski berupa makruh. Jumhur ulama berpendapat ke-ma’shum-an ini berlaku sepanjang hidup mereka.
Mencintai para Nabi adalah syarat sahnya iman, sedangkan membenci mereka adalah kufur.
Jumlah Orang yang Memiliki Syariat
Ada perbedaan pendapat mengenai siapa saja yang memiliki syariat:
- Enam orang menurut sebagian riwayat: Adam as., Nuh as., Ibrahim as., Musa as., Isa as., dan Muhammad saw.
- Lima orang (Ulul Azmi) menurut Ibnu Abbas dan Qatadah: Nuh as., Ibrahim as., Musa as., Isa as., dan Muhammad saw.
- Enam orang menurut Muqâtil: Nuh as. (sabar dari celaan kaumnya), Ibrahim as. (sabar menghadapi api), Ishaq as. (sabar dari ujian penyembelihan), Ya’qub as. (sabar kehilangan anak dan penglihatan), Yusuf as. (sabar dipenjara), dan Ayyub as. (sabar menghadapi penyakit).
Semua syariat terdahulu telah dimansukh oleh syariat Nabi Muhammad saw., kecuali yang sesuai dengannya. Contoh: di zaman Nabi Adam diperbolehkan menikah dengan saudara (bukan kembar), tetapi setelah itu diharamkan dan ulama sepakat atas keharamannya.
Dalilnya adalah firman Allah:
"Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima daripadanya" (QS. Ali Imran: 85).
BERAPA JUMLAH PARA NABI?
Jika ditanyakan kepadamu: "Berapa banyaknya jumlah para nabi?".
Maka hendaklah kamu berkata: Bahwasanya jumlah para nabi dalam suatu riwayat
berjumlah seratus dua puluh empat nabi. Ahmad Dardiri mengatakan, yang lebih baik
adalah tidak membatasi mereka-mereka dalam jumlah hitungan tertentu, karena
dengan adanya pembatasan dalam menyebutkan hitungan, maka tidak menutup
kemungkinan akan adanya seseorang yang tidak termasuk dari para nabi masuk
dalam hitungan tersebut, dikarenakan bisa saja penyebutan jumlah hitungan tadi lebih
banyak dari yang sebenarnya, dan seseorang yang termasuk dari para nabi tidak
masuk dalam hitungan, dikarenakan jumlah hitungan tersebut lebih sedikit dari yang
sebenarnya. Adapun hadits yang telah diriwayatkan; "Bahwasanya Nabi saw. telah
ditanya tentang jumlah mereka, beliau menjawab: Seratus dua puluh empat ribu", dan
dalam suatu riwayat: "Dua ratus dua puluh empat ribu", hadits ini adalah hadits Ahad
yang tidak menunjukkan terhadap kepastian, sedang tidak ada pelajaran dengan suatu
keraguan didalam bab i'tiqad.
-------------
BERAPA JUMLAH PARA NABI YANG MENJADI RASUL?
Jika ditanyakan kepadamu: " Berapa banyaknya para nabi yang menjadi
rasul?". Maka hendaklah kamu berkata: Bahwa dalam satu riwayat mereka berjumlah
tiga ratus tiga belas utusan, sebanyak jumlah Ahli Badar (orang yang ikut dalam
perang badar), dalam satu riwayat tiga ratus empat belas, sebanyak jumlah tentara
Thalut yang telah sabar bersamanya dalam memerangi tentara Jalut, dan dalam satu
riwayat lain mereka berjumlah tiga ratus lima belas utusan. Telah diceritakan,
bahwasanya Allah telah mengutus delapan ribu nabi, empat ribu dari Bani Israil, dan
empat ribu dari manusia lainnya. Perbedaan antara Nabi dan Rasul ialah:
Rasul: Orang yang diperintah untuk menyampaikan beberapa hukum kepada
orang yang dikirimi hukum.
Nabi: Orang yang tidak diperintah untuk menyampaikan perkara tersebut, akan
tetapi diprintah untuk menyampaikan bahwa sesungguhnya dirinya adalah seorang
nabi, supaya dirinya terhormat.
------------
Hafal Nama dan Hitungan Rasul: Syarat Sah Iman atau Tidak?
Menghafal nama dan jumlah para rasul bukan syarat sah iman. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam QS. Ghafir: “Di antara rasul-rasul itu ada yang Kami ceritakan kepadamu, dan ada pula yang tidak Kami ceritakan kepadamu.”
Maka, mengetahui jumlah pasti para rasul dan nabi tidak diwajibkan. Yang wajib adalah iman secara tafshil kepada 25 rasul yang disebutkan dalam Al-Qur’an, dan iman secara ijmal kepada selain mereka, yakni membenarkan bahwa Allah telah mengutus banyak nabi dan rasul lainnya.
Menghafal nama-nama rasul tidak wajib, namun mengimani kerasulan mereka wajib. Barang siapa mengingkari kenabian salah satu rasul yang disebutkan Al-Qur’an, maka kafir. Adapun orang awam tidak dihukumi kafir kecuali setelah belajar lalu tetap mengingkari.
Tentang kenabian sebagian tokoh masih diperselisihkan, seperti Dzul Qarnain, Uzair, Luqman, dan Khidlir.
No comments:
Post a Comment