Sunday, August 24, 2025

779qot. IMAN Bukan Sekadar Hafal Nama, tetapi Tunduk kepada Kebenaran

 


PERMASALAHAN X

HAFAL NAMA DAN HITUNGAN PARA RASUL, JADI SYARAT SAHNYA IMAN ATAU TIDAK?

Jika ditanyakan padamu: "Menghafal nama-nama dan jumlah hitungan

mereka (para rasul) menjadi syarat sahnya iman terhadap kita semua atau tidak?".

Maka hendaklah kamu berkata: Bahwa menghafal nama-nama dan jumlah hitungan

tersebut tidaklah menjadi syarat sahnya iman bagi kita semua.

Firman Allah dalam surat Ghafir:

"Dan Sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara

mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang

tidak Kami ceritakan kepadamu".

Maksudnya, "Sesungguhnya kami telah mengutus para utusan dengan jumalah

yang banyak dari sebelum kamu kepada umat-umat mereka untuk menyampaikan

dari kami pada apa yang telah kami perintahkan kepada mereka, wahai asrafal khalqi,

diantara mereka ada yang kami ceritakan kepadamu kisah-kisah mereka, dan diantara

mereka ada pula yang tidak kami ceritakan kisah-kisahnya dan kami tidak

menyebutkan nama-nama mereka kepadamu, walaupun kami mempunyai ilmu dan

kekuasaan yang sempurna".

Apabila telah menjadi ketetapan bahwasannya para rasul tidak wajib bagi kita

mengetahui jumlah hitungannya beserta jumlahnya yang sedikit, maka terlebih lagi

mengetahui jumlah hitungan para nabi yang selain rasul beserta banyaknya jumalah

mereka, akan tetapi wajib iman terhadap adanya mereka secara tafshil dalam apa

yang telah diketahui seperti tersebut. Mereka adalah dua puluh lima Rasul yang

terdapat dalam Al-Quran. Yaitu: Muhammad saw., Adam as., Nuh as., Idris as., Hud

as., Shalih as., Yasa' as., Dzulkifli as, Ilyas as., Yunus as., Ayyub as., Ibrahim as.,

Ismail as., Ishaq as., Ya'qub as., Yusuf as., Luth as., Daud as., Sulaiman as., Syu'aib

as., Musa as., Harun as., Zakariyya as., Yahya as. dan Isa as.

Yang dimaksud iman kepada mereka secara tafshil, yaitu seandainya

disampaikan kepadanya seorang dari mereka maka ia tidak memungkiri terhadap

kenabian dan kerasulannya, walaupun ia tidak hafal pada nama-nama mereka, karena

menghafal hukumnya tidak wajib. Barang siapa yang mengingkari terhadap kenabian

atau kerasulan seorang dari mereka maka orang tersebut kafir. Akan tetapi orang

awam tidak dihiukumi kafir, kecuali ia ingkar setelah ia belajar, dan juga wajib iman

secara ijmal kepada selain mereka (25 utusan yang telah disebutkan) yaitu dengan

cara membenarkan terhadap adanya, kenabian dan kerasulan mereka, dan

membenarkan bahwasanya Allah memiliki para rasul dan para nabi. Barang siapa

yang tidak iman terhadap mereka sebagaimana tersebut maka imannya tidak sah dan

orang tersebut adalah kafir.

Adapun mereka yang di-khilafi (masih terjadi perbedaan pendapat ulama’)

dalam kenabiannya ada tiga, Dzul Qarnain, 'Uzai, dan Luqman. Dan juga di-hilafi

tentang Khidlir. Disebutkan, bahwasannya beliau adalah nabi dan juga rasul,

..........

IMAN Bukan Sekadar Hafal Nama, tetapi Tunduk kepada Kebenaran

Tazkiyatun Nufūs: Mensucikan Hati dengan Iman kepada Seluruh Nabi dan Rasul Allah

1. Maksud dan Tujuan

Maksud: Menanamkan pemahaman bahwa menghafal nama dan jumlah para rasul bukanlah syarat sahnya iman. Yang diwajibkan adalah membenarkan seluruh nabi dan rasul yang diutus Allah, baik yang disebutkan namanya maupun yang tidak disebutkan.

Tujuan:

  • Meluruskan pemahaman tentang rukun iman kepada para rasul.
  • Membersihkan hati dari kesombongan ilmu (ujub) dan kebodohan yang menyebabkan pengingkaran.
  • Menumbuhkan sikap tawadhu', karena ilmu Allah jauh lebih luas daripada ilmu manusia.
  • Menjadikan iman sebagai keyakinan yang hidup, bukan sekadar hafalan.

2. Ayat Al-Qur'an, Hadis Shahih, dan Hadis Qudsi

A. Al-Qur'an

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau. Di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan ada pula yang tidak Kami ceritakan kepadamu."

(QS. Ghafir: 78)

Allah juga berfirman:

"Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Mereka berkata: 'Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara rasul-rasul-Nya.'"

(QS. Al-Baqarah: 285)

Allah berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya serta bermaksud membeda-bedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya... mereka itulah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya."

(QS. An-Nisa': 150–151)


B. Hadis Shahih

Rasulullah ﷺ bersabda ketika menjelaskan rukun iman:

"Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk."

(HR. Muslim)


C. Hadis Qudsi

Allah Ta'ala berfirman dalam hadis qudsi:

"Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah saling menzalimi."

(HR. Muslim)

Pelajaran tasawufnya adalah bahwa salah satu bentuk kezaliman terbesar ialah menolak kebenaran yang datang dari Allah melalui para nabi dan rasul.


3. Analisa, Argumentasi, dan Implementasi Kehidupan

A. Perspektif Tazkiyatun Nufūs

Dalam tasawuf, yang dinilai Allah bukan banyaknya hafalan, tetapi cahaya iman yang hidup di dalam hati.

Ada orang hafal nama 25 rasul, tetapi tidak meneladani kejujuran Nabi Muhammad ﷺ, kesabaran Nabi Ayyub, tauhid Nabi Ibrahim, dan taubat Nabi Yunus.

Sebaliknya, ada orang awam yang tidak hafal seluruh nama para nabi, namun membenarkan semua utusan Allah dan mencintai mereka. Imannya tetap sah selama ia tidak mengingkari kerasulan mereka.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang melahirkan rasa takut kepada Allah, tawadhu', dan amal saleh.


B. Relevansi di Dunia yang Viral Saat Ini

Di era media sosial, banyak orang berlomba-lomba menunjukkan hafalan, debat agama, dan mencari popularitas.

Fenomena yang sering terjadi:

  • merasa paling benar karena hafal banyak dalil;
  • merendahkan orang awam;
  • mudah mengkafirkan orang lain;
  • menjadikan ilmu sebagai ajang pamer.

Padahal penyakit hati seperti riya', ujub, sombong, dan merasa paling suci lebih berbahaya daripada sekadar tidak hafal.

Allah melihat hati, bukan sekadar kemampuan mengingat.

Ilmu yang tidak melahirkan akhlak hanyalah informasi, bukan cahaya.


C. Implementasi Sehari-hari

  • Belajar agama dengan rendah hati.
  • Menghormati seluruh nabi dan rasul.
  • Tidak memperdebatkan hal yang tidak diwajibkan.
  • Memperbanyak amal daripada sekadar memperbanyak perdebatan.
  • Mengakui keterbatasan ilmu manusia di hadapan ilmu Allah.

4. Muhasabah dan Caranya

Renungkanlah pertanyaan berikut:

  • Apakah aku belajar agama untuk mencari ridha Allah atau mencari pujian manusia?
  • Apakah aku lebih bangga dengan hafalanku daripada akhlakku?
  • Apakah aku mudah menyalahkan orang lain?
  • Apakah aku benar-benar meneladani akhlak Rasulullah ﷺ?

Cara Bermuhasabah

  1. Perbanyak membaca Al-Qur'an dengan tadabbur.
  2. Membaca sirah para nabi dan mengambil pelajaran akhlaknya.
  3. Memohon kepada Allah agar diberi ilmu yang bermanfaat.
  4. Menjaga lisan dari menghina orang yang masih belajar.
  5. Berdoa agar hati selalu diberi hidayah dan istiqamah.

5. Doa

اللَّهُمَّ زَيِّنْ قُلُوبَنَا بِالإِيمَانِ، وَنَوِّرْهَا بِالْقُرْآنِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَتْبَاعِ جَمِيعِ أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ، وَارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَحُسْنَ الْخَاتِمَةِ.

Artinya:

"Ya Allah, hiasilah hati kami dengan iman, terangilah hati kami dengan Al-Qur'an. Jadikanlah kami termasuk pengikut seluruh nabi dan rasul-Mu. Anugerahkan kepada kami ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, hati yang khusyuk, serta akhir kehidupan yang husnul khatimah. Aamiin."


6. Ucapan Terima Kasih

Jazakumullahu khairan katsiran kepada para ustadz, kiai, habaib, guru, dan seluruh pewaris ilmu para nabi yang dengan penuh keikhlasan membimbing umat menuju jalan Allah.

Terima kasih pula kepada seluruh pembaca. Semoga setiap huruf yang dibaca menjadi cahaya ilmu, melembutkan hati, menambah keimanan, serta menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga hari kiamat.

"Ya Allah, jangan jadikan ilmu kami hanya berhenti di lisan dan hafalan, tetapi hidupkanlah ia di dalam hati, menghiasi akhlak, dan mengantarkan kami kepada ridha-Mu." Aamiin.




No comments: