BAB 22. Tentang Mengekang Emosi (Marah)
Landasan zuhud ‘” di dunia 4 perkara, yaitu:
1. Kemantapan diri atas janji Allah (dalam menjamin) dunia dan akhiratnya.
.......
LANDASAN ZUHUD PERTAMA:
MANTAP DENGAN JANJI ALLAH
“Jangan Takut Kehilangan Dunia, Jika Hati Telah Yakin kepada Allah”
Landasan Zuhud di Dunia Ada Empat Perkara
Salah satu landasan zuhud adalah:
“Kemantapan diri atas janji Allah dalam menjamin kebutuhan dunia dan akhiratnya.”
Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, tidak bekerja, tidak memiliki harta, atau menjadi miskin. Zuhud adalah tidak menjadikan dunia sebagai tuhan di dalam hati.
Orang zuhud boleh memiliki harta, tetapi harta tidak boleh memiliki hatinya.
Ia bekerja, tetapi rezekinya tidak disembah.
Ia berusaha, tetapi hasilnya tidak menjadi sesembahan.
Ia memiliki dunia di tangannya, tetapi Allah tetap berada di dalam hatinya.
I. MAKSUD
Maksud dari landasan zuhud ini adalah membangun keyakinan yang kokoh kepada janji Allah.
Allah telah menjanjikan:
- rezeki bagi makhluk-Nya,
- pertolongan bagi orang beriman,
- jalan keluar bagi orang bertakwa,
- ampunan bagi orang yang bertaubat,
- ketenangan bagi orang yang berdzikir,
- dan kehidupan akhirat bagi orang yang beramal saleh.
Maka seorang salik, seorang hamba yang sedang membersihkan jiwanya, harus belajar berkata:
“Aku akan tetap berusaha, tetapi aku tidak akan menggantungkan hatiku kepada usaha. Aku akan mencari sebab, tetapi aku yakin bahwa Allah adalah Musabbibul Asbāb—Dzat yang menciptakan seluruh sebab.”
II. TUJUAN
Tujuan tazkiyatun nufūs melalui keyakinan kepada janji Allah adalah:
- Membersihkan hati dari penyakit tamak.
- Menghilangkan kecemasan berlebihan terhadap masa depan.
- Membebaskan jiwa dari perbudakan dunia.
- Membangun tawakal yang benar setelah ikhtiar.
- Menjadikan seseorang tetap tenang ketika rezeki sempit.
- Tidak sombong ketika mendapatkan kekayaan.
- Tidak putus asa ketika mengalami kegagalan.
- Menjadikan Allah sebagai tujuan utama kehidupan.
III. AYAT-AYAT AL-QUR’AN YANG BERKAITAN
1. Allah Menjamin Rezeki Makhluk-Nya
QS. Hūd: 6
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya.”
Ayat ini bukan berarti manusia boleh bermalas-malasan.
Burung tetap keluar dari sarangnya.
Petani tetap menanam.
Pedagang tetap berdagang.
Pekerja tetap bekerja.
Namun hati mereka harus memahami:
Usaha adalah kewajiban kita, sedangkan hasil adalah ketetapan Allah.
2. Janji Jalan Keluar bagi Orang Bertakwa
QS. At-Thalaq: 2–3
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
Kemudian Allah berfirman:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”
Inilah salah satu fondasi zuhud:
Orang yang hatinya yakin kepada Allah tidak akan menjadi budak kekhawatiran terhadap dunia.
3. Janji Allah bagi Orang yang Bertawakal
QS. Az-Zumar: 38
قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ
“Katakanlah: Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nya orang-orang yang bertawakal berserah diri.”
Kalimat:
حَسْبِيَ اللَّهُ
“Cukuplah Allah bagiku”
bukan berarti seseorang berhenti bekerja.
Namun maknanya:
“Aku bekerja, tetapi aku tidak menjadikan pekerjaan sebagai tuhanku. Aku berdagang, tetapi aku tidak menyembah keuntungan. Aku berusaha, tetapi hatiku tetap bergantung kepada Allah.”
IV. HADIS SHAHIH YANG BERKAITAN
1. Tawakal seperti Burung
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.”
(HR. At-Tirmidzi)
Perhatikan:
Burung tidak tinggal diam di sarangnya.
Burung keluar.
Burung mencari.
Burung berusaha.
Tetapi burung tidak membawa kalkulator kecemasan tentang rezeki hari esok.
Maka tawakal bukan pasrah tanpa usaha.
Tawakal adalah:
Bergerak dengan anggota badan, tetapi berserah dengan hati.
2. Dunia Hanya Sementara
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
(HR. Bukhari)
Seorang musafir tidak membangun rumah permanen di setiap tempat persinggahannya.
Ia menggunakan tempat itu secukupnya.
Demikian pula dunia.
Kita tinggal di dunia, tetapi jangan sampai dunia tinggal di dalam hati kita.
3. Kekayaan yang Hakiki
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ada orang yang memiliki banyak harta tetapi selalu merasa kurang.
Ada orang yang sederhana, tetapi hatinya penuh syukur.
Maka:
Kaya bukan karena banyak memiliki. Kaya adalah ketika hati tidak diperbudak oleh apa yang dimiliki.
V. HADIS QUDSI YANG BERKAITAN
Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:
“Wahai anak Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku akan menutup kefakiranmu.”
(HR. At-Tirmidzi, dengan pembahasan ulama mengenai derajat riwayatnya)
Makna yang sangat dalam:
Kadang manusia mengejar dunia dengan seluruh tenaganya, tetapi tetap merasa kosong.
Ia mengejar uang.
Mengejar popularitas.
Mengejar viral.
Mengejar pujian.
Mengejar pengakuan.
Namun semakin banyak yang dikejar, semakin banyak pula yang terasa kurang.
Sebab yang kosong bukan rekeningnya.
Yang kosong adalah hatinya.
VI. ANALISA TASAWUF DAN TAZKIYATUN NUFŪS
Dalam tasawuf, penyakit terbesar manusia bukanlah memiliki dunia.
Penyakit terbesar adalah:
Dunia memiliki hati manusia.
Ada orang yang hartanya sedikit tetapi hatinya sangat terikat kepada dunia.
Ada pula orang yang hartanya banyak tetapi hatinya tetap tunduk kepada Allah.
Maka ukuran zuhud bukan:
“Berapa banyak harta yang engkau miliki?”
Tetapi:
“Ketika harta itu hilang, apakah Allah tetap ada di dalam hatimu?”
Zuhud adalah ketika:
- mendapat harta → bersyukur,
- kehilangan harta → bersabar,
- memperoleh pujian → tidak mabuk,
- mendapat celaan → tidak hancur,
- mendapat rezeki → tidak sombong,
- mengalami kesulitan → tidak berburuk sangka kepada Allah.
VII. ARGUMENTASI RELEVAN DI DUNIA YANG VIRAL SAAT INI
Hari ini manusia hidup di zaman:
- semua ingin cepat kaya,
- semua ingin viral,
- semua ingin terlihat sukses,
- semua ingin dipuji,
- semua ingin menunjukkan kehidupan terbaiknya,
- semua ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain.
Media sosial sering menampilkan:
“Lihat rumahku.”
“Lihat mobilku.”
“Lihat hartaku.”
“Lihat kesuksesanku.”
“Lihat perjalanan hidupku.”
Namun yang sering tidak terlihat adalah:
- hutang di balik kemewahan,
- tangisan di balik senyuman,
- kecemasan di balik popularitas,
- kesepian di balik banyaknya pengikut,
- tekanan mental di balik pencitraan.
Maka seorang muslim harus berhati-hati.
Jangan sampai kita membandingkan:
“Dapur hidup kita dengan panggung hidup orang lain.”
Kita melihat lima menit kehidupan orang lain di media sosial, lalu merasa hidup kita gagal.
Padahal mungkin kita tidak mengetahui seluruh perjuangan mereka.
Di sinilah zuhud menjadi sangat penting.
Zuhud mengajarkan:
“Aku tidak harus memiliki semua yang kulihat.”
“Aku tidak harus viral untuk menjadi berharga.”
“Aku tidak harus dipuji manusia untuk dicintai Allah.”
“Aku tidak harus terlihat sukses di mata manusia jika aku sedang berusaha menjadi hamba yang baik di hadapan Allah.”
VIII. NASIHAT PARA ULAMA DAN TOKOH SUFI
1. Hasan Al-Bashri
Hasan Al-Bashri rahimahullah dikenal dengan nasihatnya tentang hakikat dunia:
“Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Apabila satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu telah berlalu.”
Maknanya:
Jangan habiskan hidup hanya untuk mengumpulkan sesuatu yang akan kita tinggalkan.
Pertanyaan terbesar bukan:
“Berapa banyak yang berhasil kukumpulkan?”
Tetapi:
“Berapa banyak yang berhasil kubawa menuju akhirat?”
2. Rabi‘ah Al-Adawiyah
Rabi‘ah Al-Adawiyah mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus mengalahkan cinta kepada selain-Nya.
Semangat ajarannya:
Jangan beribadah kepada Allah hanya karena takut neraka atau berharap surga, tetapi karena Allah memang layak dicintai.
Inilah zuhud yang tinggi.
Hati tidak lagi menjadikan dunia sebagai tujuan.
Allah menjadi tujuan.
3. Abu Yazid Al-Bistami
Dalam tradisi tasawuf, Abu Yazid Al-Bistami dikenal dengan penekanan kuat pada pelepasan ego dan keakuan.
Pelajaran penting dari jalan spiritualnya:
Selama “aku” masih menjadi pusat kehidupan, seorang hamba belum sepenuhnya menemukan ketundukan kepada Allah.
Zuhud bukan sekadar meninggalkan harta.
Zuhud juga meninggalkan:
- kesombongan,
- keinginan dipuji,
- rasa paling benar,
- ambisi untuk selalu menang,
- dan kecintaan kepada ego.
4. Junaid Al-Baghdadi
Junaid Al-Baghdadi rahimahullah dikenal sebagai tokoh tasawuf yang menekankan bahwa tasawuf harus berjalan di atas Al-Qur’an dan Sunnah.
Inti ajarannya:
Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara lahiriah, tetapi hati tidak bergantung kepada dunia.
Seorang pedagang boleh kaya.
Seorang pemimpin boleh memiliki kekuasaan.
Seorang ulama boleh memiliki ilmu.
Namun semuanya harus tunduk kepada Allah.
5. Al-Hallaj
Dari kisah kehidupan Al-Hallaj, kita dapat mengambil pelajaran tentang pengorbanan dan kesungguhan dalam kecintaan kepada Allah.
Namun ungkapan-ungkapan metafisik yang kontroversial dalam sejarah tasawuf hendaknya tidak dijadikan dasar akidah.
Pelajaran tazkiyah yang dapat diambil:
Jangan menjadikan perjalanan spiritual sebagai alasan untuk meninggalkan syariat.
Cinta kepada Allah harus melahirkan:
- shalat,
- kejujuran,
- kasih sayang,
- amanah,
- dan akhlak mulia.
6. Imam Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa penyakit hati sering muncul karena keterikatan kepada dunia.
Dunia bukanlah musuh ketika berada di tangan.
Dunia menjadi bahaya ketika telah menguasai hati.
Maka seorang manusia harus selalu bertanya:
“Apakah aku memiliki harta, atau sebenarnya hartalah yang telah memiliki diriku?”
7. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Nasihat yang sangat kuat dalam semangat beliau adalah:
Jangan bergantung kepada makhluk, bergantunglah kepada Allah.
Namun bergantung kepada Allah bukan berarti meninggalkan sebab.
Kita tetap bekerja.
Tetap berikhtiar.
Tetap berdagang.
Tetap mencari solusi.
Tetapi hati berkata:
“Ya Allah, aku melakukan sebab. Engkaulah yang menentukan hasil.”
8. Jalaluddin Rumi
Rumi sering menggambarkan manusia seperti perahu yang berlayar di lautan.
Air laut berada di luar perahu.
Jika air masuk ke dalam perahu, perahu akan tenggelam.
Demikian pula dunia.
Dunia boleh berada di sekitar kita.
Tetapi jangan sampai dunia masuk dan menguasai hati kita.
9. Ibnu ‘Arabi
Dalam pembahasan spiritual, Ibnu ‘Arabi banyak menekankan bahwa seluruh keberadaan manusia harus diarahkan kepada pengenalan dan penghambaan kepada Allah.
Pelajaran pentingnya:
Jangan berhenti pada bentuk-bentuk lahiriah dunia. Lihatlah tanda-tanda kekuasaan Allah di balik segala sesuatu.
Harta bukan hanya untuk dibanggakan.
Ia adalah amanah.
Kekuasaan bukan hanya untuk dinikmati.
Ia adalah pertanggungjawaban.
Ilmu bukan hanya untuk dipamerkan.
Ia adalah amanah untuk diamalkan.
10. Ahmad Al-Tijani
Dalam tradisi Tarekat Tijaniyah, penekanan besar diberikan kepada dzikir, shalawat, wirid, dan keterikatan hati kepada Allah.
Pelajaran zuhud yang dapat diambil:
Hati yang selalu berdzikir tidak mudah menjadi budak dunia.
Sebab dzikir mengembalikan hati kepada pusatnya:
Allah.
IX. PELAJARAN DARI NASIHAT PARA GUS DAN USTADZ
Berbagai nasihat para ulama dan pendakwah masa kini—termasuk Gus Baha, Ustadz Adi Hidayat, Buya Yahya, Ustadz Abdul Somad, dan Buya Arrazy Hasyim—dapat kita ambil benang merahnya:
Islam tidak mengajarkan manusia untuk membenci dunia, tetapi mengajarkan agar dunia tidak mengalahkan akhirat.
Dunia boleh digunakan untuk:
- mencari nafkah,
- menolong keluarga,
- membangun masjid,
- membantu fakir miskin,
- membiayai pendidikan,
- berdakwah,
- bersedekah,
- dan melakukan kebaikan.
Tetapi jangan sampai:
Kita sibuk membangun rumah di dunia, tetapi lupa membangun rumah di akhirat.
Jangan sampai:
Kita takut kehilangan uang, tetapi tidak takut kehilangan iman.
Jangan sampai:
Kita sedih ketika kehilangan jabatan, tetapi tidak sedih ketika kehilangan shalat.
Jangan sampai:
Kita marah ketika bisnis rugi, tetapi tidak merasa bersalah ketika hati jauh dari Allah.
X. HUKUM DAN SIKAP ISLAM TERHADAP DUNIA
Islam tidak mengharamkan kekayaan.
Yang haram adalah:
- mencari harta dengan cara haram,
- menipu,
- riba,
- korupsi,
- mencuri,
- merampas hak orang lain,
- dan menjadikan harta sebagai tujuan tertinggi kehidupan.
Harta yang halal dapat menjadi:
jalan menuju surga.
Dengan harta, seseorang dapat:
- bersedekah,
- membayar zakat,
- menolong orang miskin,
- membiayai pendidikan,
- membantu dakwah,
- membangun masjid,
- dan menghidupi keluarga.
Maka yang harus diubah bukan selalu hartanya.
Yang harus dibersihkan adalah:
hati yang terlalu mencintai harta.
XI. SENTUHAN HATI: MUHASABAH
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
1. Ketika rezekiku terlambat, apakah aku berburuk sangka kepada Allah?
2. Ketika melihat orang lain lebih kaya, apakah aku merasa hidupku gagal?
3. Ketika mendapat harta, apakah aku semakin dekat kepada Allah atau semakin jauh?
4. Ketika bisnis mengalami kerugian, apakah aku masih percaya bahwa Allah adalah Ar-Razzaq?
5. Apakah aku bekerja untuk mencari rezeki, atau aku telah menjadi budak uang?
6. Apakah aku lebih takut kehilangan harta daripada kehilangan shalat?
7. Apakah aku lebih sibuk mengejar popularitas manusia daripada mencari ridha Allah?
8. Jika seluruh dunia diberikan kepadaku, tetapi Allah mencabut ketenangan dari hatiku, apakah aku benar-benar bahagia?
Renungkanlah:
Apa yang kita miliki hari ini, dahulu belum menjadi milik kita.
Apa yang kita miliki hari ini, suatu saat akan meninggalkan kita.
Dan pada akhirnya, kita akan meninggalkan semuanya.
Yang akan menemani kita bukan:
- rumah,
- kendaraan,
- jabatan,
- pengikut,
- popularitas,
- rekening,
- atau pujian manusia.
Yang menemani kita adalah:
iman, amal saleh, dan rahmat Allah.
XII. AMALAN DAN IMPLEMENTASI
1. Perbaiki Tawakal Setiap Hari
Setiap pagi ucapkan:
“Ya Allah, aku berusaha dengan kemampuan yang Engkau berikan. Aku serahkan hasilnya kepada-Mu.”
2. Bekerja dengan Niat Ibadah
Niatkan:
“Aku bekerja untuk mencari rezeki halal, menafkahi keluarga, menjaga kehormatan diri, dan agar dapat membantu sesama.”
Dengan niat yang benar, pekerjaan dunia dapat menjadi ibadah.
3. Biasakan Bersedekah
Sedekah adalah latihan agar hati tidak menjadi budak harta.
Tidak harus banyak.
Yang penting:
Ikhlas, halal, dan istiqamah.
4. Latihan Melepaskan
Sesekali belajarlah memberikan sesuatu yang kita cintai.
Karena:
Hati tidak akan belajar zuhud jika tidak pernah belajar melepaskan.
5. Jangan Membandingkan Kehidupan
Kurangi melihat kehidupan orang lain dengan perasaan iri.
Doakan kebaikan untuk mereka.
Lalu katakan:
“Ya Allah, berikan kepadaku rezeki yang paling baik untuk agamaku, kehidupanku, dan akhiratku.”
6. Perbanyak Dzikir
Dzikir:
حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“Cukuplah Allah bagiku dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.”
Dan:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
7. Evaluasi Harta
Tanyakan kepada diri sendiri:
“Dari mana harta ini datang?”
“Ke mana harta ini pergi?”
“Apakah harta ini mendekatkanku kepada Allah atau menjauhkanku dari Allah?”
XIII. DOA
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الدُّنْيَا فِي أَيْدِينَا، وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوبِنَا.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا وَاسِعًا مُبَارَكًا فِيهِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الزَّاهِدِينَ فِي الدُّنْيَا، الرَّاغِبِينَ فِي الْآخِرَةِ، الْمُحِبِّينَ لَكَ، الْمُتَوَكِّلِينَ عَلَيْكَ.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ أَمْوَالَنَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَمْوَالَنَا فِي أَيْدِينَا، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا لَكَ وَحْدَكَ.
اللَّهُمَّ إِنْ أَعْطَيْتَنَا فَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ، وَإِنْ مَنَعْتَنَا فَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِينَ، وَإِنْ ابْتَلَيْتَنَا فَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاضِينَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا نَعْمَلُ لِلدُّنْيَا بِأَبْدَانِنَا، وَلِلْآخِرَةِ بِقُلُوبِنَا.
آمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
PENUTUP
Wahai saudaraku…
Jangan takut terhadap masa depan selama Allah menjadi tempat bergantung.
Jangan takut rezekimu tertukar.
Jangan takut kehilangan sesuatu yang memang bukan milikmu.
Jangan terlalu gelisah terhadap apa yang belum terjadi.
Allah yang menciptakanmu tidak akan menyia-nyiakanmu.
Allah yang memberimu kehidupan tidak akan melupakanmu.
Allah yang selama ini menolongmu tidak akan meninggalkanmu.
Maka:
Berusahalah tanpa sombong.
Bekerjalah tanpa lupa kepada Allah.
Berdoalah tanpa putus asa.
Bersedekahlah tanpa takut miskin.
Dan percayalah kepada janji Allah.
Karena hakikat zuhud bukanlah:
“Aku tidak memiliki dunia.”
Tetapi:
“Dunia tidak memiliki hatiku.”
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang:
memiliki dunia di tangan, tetapi memiliki Allah di dalam hati;
bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi bertawakal dengan sepenuh hati;
menerima rezeki dengan syukur, menghadapi ujian dengan sabar, dan menjalani hidup dengan keyakinan kepada janji Allah.
Jazakumullāhu khairan katsīran
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para ustadz, kyai, guru, ulama, dan seluruh pembaca yang telah meluangkan waktu untuk membaca, mengkaji, dan mengambil manfaat dari nasihat ini.
Semoga setiap ilmu yang kita baca menjadi cahaya bagi hati, setiap nasihat menjadi amal, dan setiap amal menjadi sebab datangnya ridha Allah Subhānahu wa Ta‘ālā.
Mohon maaf atas segala kekurangan.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
..........
No comments:
Post a Comment