Menjaga Lisan, Menjaga Iman
Maksiat Lisan artinya perbuatan dosa yang dilakukan oleh mulut.
Meniup seruling
Diam tak mau amar makruf nahi mungkar, padahal tidak ada uzur.
Menyimpan ilmu yang wajib, sementara ada orang yang menuntut.
Mengeluarkan angin keluar dari dubur (kentut).
Menertawakan orang islam dengan maksud menghina.
.........
Menjaga Lisan, Menjaga Iman
Lisan adalah nikmat yang besar, namun juga pintu dosa yang paling mudah terbuka. Banyak manusia tergelincir bukan karena tangan atau kaki, tetapi karena ucapan dan sikap diamnya. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa keselamatan seorang hamba sangat bergantung pada lisannya.
Hakikat Maksiat Lisan
Maksiat lisan adalah perbuatan dosa yang dilakukan melalui mulut atau yang berkaitan dengannya, baik berupa ucapan, suara, maupun sikap diam yang seharusnya berbicara.
Termasuk di dalamnya:
Meniup seruling dan alat musik yang melalaikan, yang menjauhkan hati dari dzikir kepada Allah.
Diam tidak mau amar ma’ruf nahi mungkar, padahal mampu dan tidak ada uzur.
Menyimpan ilmu yang wajib disampaikan, sementara ada orang yang membutuhkan.
Mengeluarkan angin (kentut) dengan sengaja hingga mengganggu dan meremehkan adab, khususnya di majelis.
Menertawakan dan menghina sesama muslim, baik secara langsung maupun isyarat.
Dalil Al-Qur’an
Allah Ta’ala berfirman:
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18)
Tentang kewajiban menyampaikan kebaikan:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.”
(QS. Ali ‘Imran: 104)
Tentang larangan menghina sesama muslim:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka.”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Dalil Hadis
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Tentang menyembunyikan ilmu:
“Barangsiapa ditanya tentang ilmu lalu ia menyembunyikannya, maka ia akan dikekang dengan kekang dari api neraka pada hari kiamat.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Tentang meremehkan adab lisan dan sikap:
“Sungguh seseorang mengucapkan satu kata yang ia anggap ringan, namun karena itu ia terjerumus ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Penutup Motivasi
Wahai saudaraku, lisan yang tidak dijaga dapat meruntuhkan pahala bertahun-tahun, dan diam yang salah bisa menjadi dosa yang panjang hisabnya. Maka jadikan lisan untuk:
Dzikir, nasihat, dan amar ma’ruf
Mengajarkan ilmu
Menjaga adab dan kehormatan sesama muslim
Karena lisan yang bersih adalah tanda hati yang hidup, dan lisan yang kotor adalah cermin iman yang lemah.
“Keselamatan manusia terletak pada penjagaan lisannya.”
Semoga Allah menjaga lisan kita dari maksiat dan menjadikannya jalan menuju ridha-Nya. 🤲
....
Muhasabah Diri
Marilah kita menundukkan hati sejenak.
Berapa banyak kata yang telah keluar dari lisan kita hari ini?
Apakah semuanya membawa pahala, atau justru memberatkan timbangan dosa?
Sering kali kita merasa aman karena tidak berkata kasar,
namun lupa bahwa diam dari kebenaran, menyimpan ilmu,
atau tertawa merendahkan saudara seiman
adalah maksiat yang tak bersuara, tetapi berat di hadapan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kebanyakan dosa anak Adam berasal dari lisannya.”
(HR. Thabrani)
Maka muhasabah sejati bukan hanya menghitung ucapan,
tetapi juga menghitung kebaikan yang seharusnya kita ucapkan namun kita tahan.
Cara Bermuhasabah Lisan
Diam sebelum bicara
Tanyakan pada diri: apakah ini benar, bermanfaat, dan diridhai Allah?
Menimbang niat
Apakah ucapan ini untuk menasihati atau sekadar melampiaskan ego?
Menghitung dampak
Apakah kata ini akan menyakiti, merendahkan, atau melalaikan?
Memperbanyak dzikir
Lisan yang sibuk berdzikir akan sulit digunakan untuk maksiat.
Bertaubat setiap hari
Menutup kesalahan lisan dengan istighfar sebelum tidur.
Doa Penjagaan Lisan
اللَّهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ،
وَقُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ،
وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ
Artinya:
“Ya Allah, jagalah lisan kami dari dusta,
jagalah hati kami dari kemunafikan,
dan jagalah amal kami dari riya.”
اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَلْسِنَتَنَا ذَاكِرَةً،
وَكَلَامَنَا نَافِعًا،
وَصَمْتَنَا فِكْرًا وَعِبْرَةً
“Ya Allah, jadikan lisan kami selalu berdzikir,
ucapan kami bermanfaat,
dan diam kami sebagai pikir dan pelajaran.”
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada Allah سبحانه وتعالى
yang masih memberi kita kesempatan bernapas,
berdzikir, dan memperbaiki lisan sebelum datang hari
di mana setiap kata akan diminta pertanggungjawabannya.
Terima kasih kepada para pembaca dan pendengar,
semoga tulisan singkat ini menjadi pengingat,
bukan untuk menghakimi,
melainkan untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Semoga Allah menjadikan lisan kita
sebagai jalan menuju surga, bukan sebab penyesalan.
Penulis:
✍️ M. Djoko Ekasanu
.......
Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.
(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).

No comments:
Post a Comment