Jangan Merisaukan Dunia, Risaukan Akhiratmu
Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu pernah menasihati dengan makna yang sangat dalam:
“Janganlah engkau merisaukan dunia, karena ia milik Allah. Risaukanlah akhiratmu.”
Dunia sering membuat hati gelisah: tentang rezeki, jabatan, pujian manusia, dan masa depan yang belum tentu terjadi. Padahal, semua urusan dunia telah berada dalam genggaman Allah. Rezeki telah ditakar, umur telah ditentukan, dan takdir berjalan sesuai kehendak-Nya. Merisaukan dunia secara berlebihan hanya akan melelahkan hati tanpa menambah satu pun manfaat.
Sebaliknya, akhirat adalah urusan yang benar-benar membutuhkan perhatian dan kesungguhan. Akhirat tidak datang dengan sendirinya, tetapi ditentukan oleh iman, amal, kejujuran, kesabaran, dan keikhlasan. Siapa yang lalai terhadap akhirat, ia akan menyesal saat dunia telah ditinggalkan namun bekal belum dipersiapkan.
Ketika hati sibuk merisaukan akhirat, dunia justru menjadi ringan. Usaha tetap dilakukan, kerja tetap dijalani, tetapi hati bersandar kepada Allah, bukan kepada hasil. Inilah ketenangan sejati: bekerja di dunia dengan amanah, namun berharap hidup di akhirat dengan selamat.
Maka, tenangkanlah hatimu. Serahkan dunia kepada Pemiliknya, dan siapkan akhirat sebelum waktu berakhir. Karena dunia hanya tempat singgah, sedangkan akhirat adalah tempat pulang yang kekal.
Muhasabah (Introspeksi Diri)
Mari bertanya kepada diri sendiri:
Apakah kegelisahan kita lebih banyak karena dunia atau karena dosa?
Apakah waktu kita lebih banyak untuk mencari harta atau memperbaiki ibadah?
Sudahkah hari ini kita menambah bekal untuk kubur dan akhirat?
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”
Cara Bermuhasabah
Luangkan waktu sendiri, terutama di malam hari.
Hitung nikmat Allah, lalu bandingkan dengan kelalaian kita.
Evaluasi ibadah wajib dan sunnah: shalat, dzikir, sedekah.
Ingat kematian, seakan hari ini adalah hari terakhir.
Perbanyak istighfar dan taubat, lalu perbaiki niat esok hari.
Muhasabah bukan untuk membuat putus asa, tetapi untuk melunakkan hati dan memperbaiki arah hidup.
Doa
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَاجْعَلِ الآخِرَةَ هِيَ قَصْدَنَا وَهَمَّنَا
“Ya Allah, jangan Engkau jadikan dunia sebagai kegelisahan terbesar kami dan puncak ilmu kami. Jadikanlah akhirat sebagai tujuan dan kegelisahan kami.”
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih ya Allah atas setiap nasihat yang Engkau sampaikan melalui Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Mu. Terima kasih atas peringatan yang menyadarkan kami agar tidak tenggelam dalam dunia dan lupa akan akhirat. Semoga Allah melembutkan hati kita, menenangkan jiwa kita, dan mengakhiri hidup kita dengan husnul khatimah. Aamiin 🤲
.....
Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.
(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).
.....
Berikut bacaan motivasi singkat yang ringkas dan menenangkan jiwa:
Jangan Merisaukan Dunia, Risaukan Akhiratmu
Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu pernah menasihati dengan makna yang sangat dalam:
“Janganlah engkau merisaukan dunia, karena ia milik Allah. Risaukanlah akhiratmu.”
Dunia sering membuat hati gelisah: tentang rezeki, jabatan, pujian manusia, dan masa depan yang belum tentu terjadi. Padahal, semua urusan dunia telah berada dalam genggaman Allah. Rezeki telah ditakar, umur telah ditentukan, dan takdir berjalan sesuai kehendak-Nya. Merisaukan dunia secara berlebihan hanya akan melelahkan hati tanpa menambah satu pun manfaat.
Sebaliknya, akhirat adalah urusan yang benar-benar membutuhkan perhatian dan kesungguhan. Akhirat tidak datang dengan sendirinya, tetapi ditentukan oleh iman, amal, kejujuran, kesabaran, dan keikhlasan. Siapa yang lalai terhadap akhirat, ia akan menyesal saat dunia telah ditinggalkan namun bekal belum dipersiapkan.
Ketika hati sibuk merisaukan akhirat, dunia justru menjadi ringan. Usaha tetap dilakukan, kerja tetap dijalani, tetapi hati bersandar kepada Allah, bukan kepada hasil. Inilah ketenangan sejati: bekerja di dunia dengan amanah, namun berharap hidup di akhirat dengan selamat.
Maka, tenangkanlah hatimu. Serahkan dunia kepada Pemiliknya, dan siapkan akhirat sebelum waktu berakhir. Karena dunia hanya tempat singgah, sedangkan akhirat adalah tempat pulang yang kekal.
.......
Jangan Overthinking Dunia, Fokus ke Akhiratmu!
Ada nasihat singkat tapi dalem banget dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, kurang lebih gini:
“Janganlah engkau merisaukan dunia, karena ia milik Allah. Risaukanlah akhiratmu.”
Kita sering banget, kan, overthinking soal dunia: mikirin gimana rezeki, karir, pencapaian, atau pendapat orang lain. Padahal, semua itu udah diatur sama Allah. Rezeki udah ada jatahnya, umur udah ditentuin, semua jalan sesuai rencana-Nya. Kalau kita kebanyakan galauin dunia, ya cuma bikin capek hati doang, nggak nambah apa-apa.
Di sisi lain, akhirat itu yang beneran butuh effort kita. Nggak datang otomatis, tapi ditentukan sama seberapa kuat iman, amal, kejujuran, sabar, dan ikhlas kita. Kalau kita ngelalaikan akhirat, bisa-bisa pas udah di sana nyesel, karena sibuk dunia tapi lupa nyiapin bekal buat pulang.
Justru kalau hati kita fokus ke akhirat, urusan dunia jadi lebih light. Kerja tetap jalan, usaha tetap dikerjain, tapi hati nggak ketergantungan sama hasil. Kita trust the process sambil bersandar sama Allah. Nah, itu baru ketenangan yang beneran: hidup di dunia dengan baik, tapi mata tetep tertuju ke kehidupan yang abadi nanti.
So, yuk tenangin hati. Dunia serahin aja ke yang punya-Nya, sementara akhirat kita usahain dari sekarang. Karena dunia cuma tempat mampir, akhirat lah rumah sebenarnya yang kekal.
Muhasabah (Cek Diri Yuk!)
Yuk, tanya ke diri sendiri:
· Apakah kegalauan kita tuh lebih banyak karena urusan duniawi atau karena dosa yang numpuk?
· Waktu kita tuh lebih banyak buat cari cuan atau upgrade ibadah?
· Hari ini, kita udah nambah bekal buat kehidupan setelah mati nggak?
Seperti kata Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”(Artinya: Introspeksilah dirimu sebelum kamu dihisab di akhirat.)
Cara Cek Diri (Muhasabah):
1. Luangkan "me time", terutama malem-malem, buat evaluasi diri.
2. Hitung-hitung nikmat Allah yang udah dikasih, terus bandingin sama kelalaian kita. Masih seimbang nggak?
3. Review ibadah wajib & sunnah: shalat tepat waktu? Dzikir dan sedekah udah rutin?
4. Inget-inget kematian. Anggep aja hari ini adalah hari terakhir, jadi kita hidup lebih bermakna.
5. Perbanyak istighfar dan taubat, lalu rencanain perbaikan buat besok.
Intinya, muhasabah tuh bukan buat bikin kita down, tapi buat bikin hati lebih lembut dan hidup lebih terarah.
Doa yang bisa kita panjatkan:
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَاجْعَلِ الآخِرَةَ هِيَ قَصْدَنَا وَهَمَّنَا
“Ya Allah, jangan Engkau jadikan dunia sebagai kegelisahan terbesar kami dan puncak ilmu kami. Jadikanlah akhirat sebagai tujuan dan kegelisahan kami.”
Ucapan Syukur:
Makasih ya Allah, buat setiap nasihat yang Kamu kasih lewat Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Mu. Makasih udah ngasih peringatan biar kita nggak keasyikan sama dunia dan lupa akhirat. Semoga Allah bikin hati kita lebih lembut, jiwa kita lebih tenang, dan akhir hidup kita penuh kebaikan. Aamiin! 🤲
.......
No comments:
Post a Comment