Wednesday, December 24, 2025

877. Empat Hal yang Tak Pernah Merasa Cukup

 


Empat Hal yang Tak Pernah Merasa Cukup

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Empat macam yang tidak pernah kenyang dari empat macam: buih dari hujan, perempuan dari laki-laki, mata dari pandangan, dan orang alim dari ilmu.”

(HR. Al-Hakim)

Hadis ini mengajarkan kepada kita tentang sifat dasar keinginan manusia, sekaligus arah yang benar untuk mengelolanya. Tidak semua “ketidakpuasan” tercela; sebagian justru terpuji jika diarahkan kepada kebaikan.

1. Mata Tidak Pernah Kenyang dari Pandangan

Manusia memiliki kecenderungan ingin terus melihat. Namun Islam mengingatkan agar pandangan dikendalikan, bukan dituruti.

Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah kepada orang-orang beriman agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya.”

(QS. An-Nur: 30)

Pandangan yang tidak dijaga akan menumbuhkan syahwat, iri, dan lalai dari Allah. Sebaliknya, menundukkan pandangan akan melahirkan kejernihan hati dan kekuatan iman.

2. Laki-laki dan Perempuan: Fitrah yang Harus Dijaga

Ketertarikan antara laki-laki dan perempuan adalah fitrah, namun harus berada dalam koridor halal.

Allah berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.”

(QS. Ar-Rum: 21)

Jika tidak dijaga dengan syariat, ia menjadi sumber kerusakan. Jika dijaga dengan nikah dan takwa, ia menjadi ladang pahala dan ketenangan.

3. Buih dari Hujan: Gambaran Dunia

Buih hujan banyak namun cepat hilang, sebagaimana dunia yang tampak menarik namun fana.

Allah Ta’ala berfirman:

“Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak berguna, tetapi yang bermanfaat bagi manusia akan tetap di bumi.”

(QS. Ar-Ra’d: 17)

Jangan tertipu oleh banyaknya dunia, sebab yang bernilai adalah yang membawa manfaat dan akhirat.

4. Orang Alim Tidak Pernah Kenyang dari Ilmu

Inilah satu-satunya “ketidakpuasan” yang terpuji. Semakin berilmu, semakin ia merasa butuh ilmu.

Allah berfirman:

“Dan katakanlah: ‘Ya Rabb-ku, tambahkanlah aku ilmu.’”

(QS. Thaha: 114)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”

(HR. Muslim)

Ilmu tidak membuat sombong, tetapi menumbuhkan takut kepada Allah dan kerendahan hati.

Penutup

Jika manusia pasti “tidak pernah puas”, maka pilihlah ketidakpuasan yang diridhai Allah:

➡️ Tidak puas dalam menuntut ilmu

➡️ Tidak puas dalam beramal shalih

➡️ Tidak puas dalam memperbaiki diri

Sebab yang paling merugi adalah orang yang kehausannya diarahkan kepada dunia, dan yang paling beruntung adalah orang yang tidak pernah kenyang dari ilmu dan ketaatan.

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”

(QS. Fathir: 28)

Berikut lanjutan bacaan Islami berupa muhasabah, caranya, doa, dan ucapan terima kasih, disusun singkat, lembut, dan mudah dibaca untuk renungan pribadi maupun dibacakan di majelis:

Muhasabah Diri

Mari kita bertanya dengan jujur kepada hati kita:

Apakah mata ini lebih sering lapar memandang dunia atau kenyang dengan dzikir dan tadabbur?

Apakah keinginan kepada lawan jenis kita jaga dalam ketaatan, atau kita biarkan liar tanpa batas?

Apakah kita mengejar dunia yang seperti buih hujan—banyak namun cepat sirna?

Ataukah kita termasuk orang yang tidak pernah kenyang dari ilmu, sebagaimana para ulama dan orang-orang shalih?

Jika kehausan hati diarahkan pada dunia, ia tak akan pernah puas.

Namun jika diarahkan kepada ilmu dan taqwa, ia akan mengantar pada ketenangan dan keselamatan akhirat.

Cara Melakukan Muhasabah

Luangkan waktu sunyi

Pilih waktu sepi, terutama setelah shalat atau sebelum tidur.

Hadapkan hati kepada Allah

Sadari bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui isi hati.

Hitung nikmat dan kesalahan

Ingat nikmat yang sering dilupakan dan dosa yang sering dianggap kecil.

Bandingkan amal dunia dan akhirat

Seberapa banyak waktu untuk dunia, dan seberapa sedikit untuk Allah?

Berniat memperbaiki diri

Muhasabah bukan untuk putus asa, tapi untuk kembali dan bertumbuh.

Sayyidina Umar bin Khaththab ra. berkata:

“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”

Doa Muhasabah

اللَّهُمَّ بَصِّرْنَا بِعُيُوبِنَا، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الدُّنْيَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ لَا يَشْبَعُونَ مِنَ الْعِلْمِ، وَلَا يَمَلُّونَ مِنَ الطَّاعَةِ

“Ya Allah, perlihatkan kepada kami aib-aib kami, sucikan hati kami dari kecintaan berlebihan kepada dunia, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang tidak pernah kenyang dari ilmu dan tidak pernah bosan dalam ketaatan.”

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا

“Wahai Rabb kami, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk.”

(QS. Ali ‘Imran: 8)

Ucapan Terima Kasih

Ya Allah,

Terima kasih atas nikmat iman yang masih Engkau jaga,

atas kesempatan bertaubat sebelum ajal tiba,

atas ilmu yang Engkau alirkan meski kami sering lalai,

dan atas peringatan-Mu yang datang melalui ayat, hadis, dan nasihat.

Kami sadar, tanpa rahmat-Mu, kami hanyalah hamba yang lemah.

Terimalah muhasabah kami, perbaiki langkah kami,

dan wafatkan kami dalam keadaan husnul khatimah.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin 🤲

Jika Anda ingin, saya bisa menyusunkannya menjadi naskah khutbah singkat, renungan pengajian, atau bacaan koran Islami dengan bahasa yang lebih jurnalistik.

penulis : M. Djoko Ekasanu.

No comments: