Thursday, April 30, 2026

1018ir. Berbakti kepada kedua orang tua

 Bismillahirahmanirrahim.


Jum'at, 17 Apr 2026

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Buat njenengan penikmat ilmu, terkirim dari Mushollah An Nur oleh oleh isya'an tempo hari nyantri bareng Ust. A. Mujib kupas tipis tipis kitab Irsyadul Ibad (karya Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari) bidang studi : ilmu tasawuf, akhlak, sufiesme *Edisi 1017* :


Berbakti kepada kedua orang tua

---

Berbakti (birrul walidain) adalah kewajiban mutlak setelah tauhid. Bakti kepada orang tua lebih utama daripada haji, umrah, dan jihad. Ridha Allah terletak pada ridha orang tua, dan durhaka kepada mereka diancam tidak masuk surga. 

Berikut poin-poin penting berbakti kepada orang tua menurut Irsyadul Ibad:

Kedudukan Tinggi: Berbuat baik kepada orang tua adalah jalan utama menuju surga.

Perintah Bersyukur: Allah memerintahkan manusia untuk bersyukur kepada-Nya dan kepada kedua orang tua.

Bakti Saat Hidup: Berbicara lemah lembut, tidak berkata "ah" (membentak), dan memuliakan mereka.

Bakti Setelah Wafat: Mendoakan, memohonkan ampunan, melaksanakan wasiat, dan menyambung silaturahmi dengan sahabat-sahabat orang tua.

Ancaman Durhaka: Orang yang durhaka (uququl walidain) tidak akan mencium bau surga dan Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat. 

Dalam kitab ini, juga dikisahkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah amalan yang sangat dicintai Allah dan dapat mendatangkan keberkahan serta pertolongan dalam hidup. 

---

Birrul walidain merupakan ungkapan yang mengandung arti berbakti dan berbuat baik kepada orang tua. Birrul walidain memiliki kedudukan yang tinggi dan termasuk amalan yang berkedudukan paling tinggi pula.

Termasuk Amal yang Disukai Allah Swt

عَنِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ: أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ اِلَى الله؟ قَالَ: الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا، قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: بِرُّ الوَالِدَيْنِ، قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ    .

Dari Ibnu Mas’ud ra berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw, amal apa yang paling disukai Allah?”

Maka Rasulullah saw menjawab, “Melakukan shalat pada waktunya.” Kemudian apa lagi? “Berbakti kepada orang tua.” Lalu apa lagi? ”Kemudian jihad fi sabilillah.” (HR. Bukhari).

Pahala Birrul Walidain Serupa dengan Haji dan Umrah

عَنْ اَبِيْ يَعْلَى وَالطَّبْرَانِي اَتَى رَجُلٌ اِلَى رَسُوْلِ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ  إِنَّنِي أَشْتَهِي الْجِهَادَ وَلا أَقْدِرُ عَلَيْهِ، قَالَ: هَلْ بَقِيَ مِنْ وَالِدَيْكَ أَحَدٌ؟ قَالَ: أُمِّي، قَالَ: قاتل لِلّهِ فِي بِرِّهَا، فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ فَأَنْتَ حَاجٌّ، وَمُعْتَمِرٌ، وَمُجَاهِدٌ.

Diriwayatkan dari Imam Abu Ya’la dan Ath-Thabrani, “Bahwa ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw dan berkata, aku ingin pergi berjihad tetapi aku tidak mampu melakukannya.”

Kemudian Rasulullah saw bertanya padanya, “Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki tersebut menjawab, “Ibuku.”

Lalu Rasulullah berkata, “Berjihadlah karena Allah dengan berbakti kepada ibumu, jika Engkau melakukannya maka kamu seperti melakukan ibadah haji, umrah dan jihad.”

Memandang Orang Tua dengan Kasih Sayang sama dengan Haji yang Mabrur

وَالرَّافِعِيّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: مَا مِنْ رَجُلٍ يَنْظُرُ اِلَى وَجْهِ وَالِدِيْهِ نَظْرَةً رَحْمَة اِلَّا كَتَبَ اللُه لَهُ بِهَا حَجَّةً مَقْبُوْلَةً مَبْرُوْرَةً

Imam Rafi’i meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, beliau berkata, “Tidak ada seorang lelaki yang memandang kepada orang tuanya dengang pandangan kasih sayang kecuali ditulis baginya pahala haji yang mabrur (diterima).”

Birrul walidain Lebih Utama dari Berperang

وَابْنُ مَاجَه وَالنَّسَائِيُّ وَالْحَاكِمُ ,جَاءَ رَجُلٌ اِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ الله اَرَدْتُ اَنْ اَغْزُوَ وَقَدْ جِئْتُ أَسْتَشِيْرُكَ, فَقَالَ هَلْ لَكَ مِنْ اُمٍّ, قَالَ نَعَمْ, قَالَ فَالْزَمْهَا, فَاِنَّ الْجَنَّةَ عِنْدَ رِجْلِهَا. وَفِي رِوَايَةٍ: أَلَكَ وَالِدَانِ, قُلْتُ نَعَمْ, قَالَ فَالْزَمْهُمَا فَاِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ اَرْجُلِهِمَا

Imam Ibnu Majah, Imam Nasa’i dan Imam Hakim meriwayatkan hadits, “Telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah saw kemudian berkata, Wahai Rasulullah aku ingin pergi berperang dan aku datang ke sini meminta petunjukmu.”

Maka Rasulullah menjawab, “Apakah kamu masih mempunyai ibu?” Lelaki tersebut berkata, “Iya”. Lalu Rasulullah berkata, “Maka berbaktilah padanya karena surga berada di bawah telapak kakinya.”

Dalam riwayat yang lain disebutkan, Nabi Muhammad saw bertanya kepada lelaki tersebut, “Apakah kamu masih memiliki kedua orang tua?” Lalu lelaki itu menjawab, “Iya”. Kemudian Rasulullah berkata, “Berbaktilah kepada keduanya karena surga berada di telapak kakinya.”

Orang yang Paling Berhak Diperlakukan dengan Baik Itu Orang Tua

وَالشَّيْخَانِ, جَاءَ رَجُلٌ اِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ الله مَنْ اَحَقُّ النَّاسَ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ اُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ اُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ اُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ اَبُوْكَ

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits, “Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw kemudian bertanya, Siapa orang yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik dalam hubungan?”

Nabi Muhammad saw pun menjawab, “Ibumu.” Kemudian siapa? “Ibumu.” Kemudian siapa? “Ibumu.” Kemudian siapa? “Ayahmu.”

6. Membahagiakan Orang Tua Bisa Menghapus Dosa Besar

وَالتُّرْمُذِىُّ وَابْنُ حِبَّان وَالْحَاكِمُ اَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ رَجُلٌ فَقَالَ اْنِّي اَذْنَبْتُ ذَنْبًا عَظِيْمًا فَهَلْ لِيْ مِنْ تَوْبَةٍ, فَقَالَ هَلْ لَكَ مِنْ اُمٍّ فَقَالَ لَا قَالَ فَهَلْ لَكَ مِنْ خَالَةٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَبَرِّهَا

Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Hibban dan Imam Hakim meriwayatkan hadits, “Telah datang lelaki kepada Nabi Muhammad saw kemudian berkata, Saya telah berbuat dosa besar, apakah masih ada ruang untuk bertaubat?”

Maka Nabi saw bertanya padanya, ”Apakah kamu masih punya ibu?” Lelaki tersebut menjawab, “Tidak.”

Lalu Nabi saw bertanya lagi, “Apakah kamu masih punya bibi?” Lelaku tersebut menjawab, “Iya”. Kemudian Nabi saw berkata, “Maka berbaktilah padanya.”

Doa Orang Tua Ibarat Doa Nabi kepada Umatnya

وَالدَّيْلَمِى, دُعَاءُ الْوَالِدُ لِوَلَدِهِ كَدُعَاءِ النَّبِيّ لِأُمَّتِهِ

Imam Ad-Dailami meriwayatkan hadits, “Doa orang tua kepada anaknya itu sebagaimana doa nabi kepada umatnya.”

Membahagiakan Orang Tua yang Sudah Meninggal

وَاَبُوْ دَاوُدَ وَابْنُ مَاجَه عَنِ مَالِكِ بْنِ رَبِيْعَة السَّعِدِيّ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ َعَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَة فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ اَبَوَيّ شَيْءٌ اَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا فَقَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا اَيْ الدُّعَاءُ وَالْإِسِتِغْفَارُ لَهُمَا وَانْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحْمِ التى لَا تُوْصَلُ اِلَّا بِهِمَا وَاِكْرَامُ صَدِيْقِهِمَا

Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Malik bin Rabia’ah As-Sa’idi. Beliau berkata, “Ketika kami duduk bersama Rasulullah saw tiba-tiba datang seorang lelaki dari bani Salamah, kemudian lelaki itu berkata, Wahai Rasulullah apakah masih ada cara untuk membahagiakan orang tua setelah meninggal?”

Kemudian Rasulullah menjawab, “Ada, yaitu mendoakan keduanya, yakni dengan berdoa dan memintakan istighfar untuknya, memenuhi janji-janjinya setelah meninggal, dan memuliakan sahabat-sahabatnya.”

........

Setiap umat Islam hendaknya memiliki hubungan yang baik dengan sesama manusia, terutama dengan orang tua. Dalam surat An-Nisa ayat 36, Allah Swt berfirman.

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا

Artinya: “Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua”.

..........................


Hubungan yang baik dengan manusia ini, diartikan oleh beliau sebagai hubungan yang baik dengan orang tua.


“Dalam ayat ini, Allah memerintahkan seorang hamba memiliki hubungan yang baik dengan Allah حبل من الله, kemudian hubungan yang baik dengan orang tua, yakni sesama manusia حبل من الناس” Terang KH. Ubaidillah Faqih.


Kemudian, beliau juga menjelaskan bahwa diturunkannya ayat ini sebagai perintah agar seorang hamba senantiasa berbuat baik dan membahagiakan kedua orang tuanya. Sebab ridhonya Allah Swt itu juga atas kehendak ridhonya orang tua.

Ibnu Abbas ra., salah seorang sahabat nabi mengatakan, hendaknya seorang anak membahagiakan orang tua dengan disertai rasa kasih sayang dan perilaku yang lemah lembut kepadanya. Tidak berbuat kasar, serta tidak melakukan kontak mata secara langsung.

Selain itu, masih dalam perkataan Ibnu Abbas ra, saat seorang anak menghadap kedua orang tua, hendaknya menyamakan dirinya sebagaimana budak yang menghadap ke tuannya, yaitu dengan merasa hina dan merendahkan diri.


“Menghinakan diri dan merasa tidak ada harganya di hadapan orang tua” Terang KH. Ubaid kemudian.


Hal yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan Kepada Orang Tua


Dalam surat Al Isra ayat 23-24, Allah swt berfirman:


وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا٠ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ


Artinya: “Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu di antara keduanya, atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya dengan perkataan “ah'” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”

Ayat di atas menjelaskan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan kepada orang tua. Termasuk hal-hal yang boleh, bahkan diharuskan bagi orang tua adalah berbuat baik, berkata yang baik kepada orang tua, dan merasa rendah diri saat berada di hadapan mereka.

Termasuk perilaku yang tidak diperbolehkan bahkan dilarang terhadap orang tua adalah mengatakan “اف”. Perkataan ini memiliki arti semacam bentakan, gambarannya seperti perkataan “Huss”.

Perkataan ini adalah perkataan yang dilarang, bahkan KH. Ubaidillah Faqih menegaskan agar jangan sekali-kali seorang santri mengatakan اف kepada kedua orang tuanya.

“Jangan sekali-kali kamu melampaui batas dan kemudian kamu berani mengatakan اف” Tegas beliau.

Termasuk perilaku yang tidak diperbolehkan terhadap orang tua adalah membentak mereka. Dalam ayat di atas terdapat penggalan yang berbunyi وَلَا تَنْهَرْهُمَا. Penggalan ini memerintahkan agar tidak membentak kedua orang tua saat berbicara. Sebaliknya, seseorang harus menjaga nada bicaranya dengan mereka sehingga terdengar halus dan lembut.

............

🕌 Berbakti kepada Orang Tua (Birrul Walidain): Jalan cepat Menuju Ridha Allah

Berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) adalah kewajiban agung dalam Islam, yang kedudukannya berada tepat setelah tauhid kepada Allah. Amal ini bukan sekadar akhlak mulia, tetapi menjadi sebab utama seseorang meraih ridha Allah dan terbukanya pintu surga.

Keutamaan Birrul Walidain

Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa setelah shalat tepat waktu, amalan yang paling dicintai Allah adalah berbakti kepada orang tua. Bahkan, dalam kondisi tertentu, birrul walidain lebih utama daripada jihad, haji, dan umrah.

Berbakti kepada orang tua juga memiliki keutamaan besar:

- Menjadi jalan tercepat menuju surga

- Mendatangkan pahala seperti haji mabrur

- Menghapus dosa-dosa besar

- Mendatangkan keberkahan hidup

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu, dan orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik adalah ibu, kemudian ibu, kemudian ibu, lalu ayah.

Perintah Al-Qur’an

Allah SWT berfirman:

"Sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua." (QS. An-Nisa: 36)

Dalam ayat lain, Allah melarang berkata “ah” sekalipun kepada orang tua, serta memerintahkan berbicara dengan lemah lembut, penuh kasih sayang, dan merendahkan diri di hadapan mereka (QS. Al-Isra: 23–24).

Bentuk Bakti kepada Orang Tua

1. Saat Orang Tua Masih Hidup:

   - Berkata lembut dan sopan

   - Tidak membentak atau menyakiti hati

   - Taat selama tidak dalam maksiat

   - Membahagiakan dan memuliakan mereka


2. Setelah Orang Tua Wafat:

   

   - Mendoakan dan memohonkan ampunan

   - Melaksanakan wasiat mereka

   - Menyambung silaturahmi dengan kerabat dan sahabat mereka

   - Memuliakan orang-orang yang mereka cintai


Ancaman Durhaka

Durhaka kepada orang tua (uququl walidain) termasuk dosa besar. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa pelakunya terancam tidak mencium bau surga dan tidak mendapatkan pandangan rahmat Allah di hari kiamat.


Renungan (Muhasabah)

Para ulama mengajarkan agar seorang anak merendahkan diri di hadapan orang tuanya, sebagaimana seorang hamba di hadapan tuannya. Bahkan Ibnu Abbas r.a. mencontohkan agar seorang anak memandang orang tuanya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.


Penutup

Mari kita perbaiki hubungan dengan orang tua, selagi mereka masih hidup. Jika mereka telah tiada, jangan putus doa untuk mereka. Ridha Allah sangat dekat—ia terletak pada ridha kedua orang tua kita.


1. Makna (Tafsir) Ayat

Allah berfirman dalam QS. An-Nisa: 36 dan QS. Al-Isra: 23–24:

  • Perintah tauhid (حبل من الله) selalu disandingkan dengan birrul walidain (حبل من الناس)
  • Ini menunjukkan: hubungan dengan Allah tidak akan sempurna tanpa hubungan baik dengan orang tua

Makna mendalam dalam tasawuf:

  • Orang tua adalah perantara وجود (keberadaan kita di dunia)
  • Maka berbakti kepada mereka adalah bentuk syukur atas وجود (eksistensi diri)

Ayat “فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ” bukan hanya larangan berkata “ah”
➡ tetapi larangan segala bentuk getaran hati yang merendahkan orang tua


2. Hukum (Ahkam)

  • Wajib ‘ain berbakti kepada orang tua
  • Haram durhaka (uququl walidain)
  • Lebih utama dari sunnah besar seperti haji, umrah, bahkan jihad (dalam kondisi tertentu)

Dalam perspektif fiqih dan tasawuf:

  • Ketaatan kepada orang tua = bagian dari ketaatan kepada Allah
  • Kecuali jika diperintah maksiat → “لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق”

3. Hikmah dan Pelajaran (Ibrah)

  • Ridha Allah tersembunyi dalam ridha orang tua
  • Doa orang tua = senjata langit tanpa hijab
  • Birrul walidain adalah amalan pembuka pintu keberkahan hidup

Dalam tasawuf:

  • Orang yang sulit khusyuk, sering gelisah → bisa jadi ada luka pada orang tua
  • Hati yang bersih dimulai dari memuliakan asal-usul kita

4. Dalil Qur’an & Hadis

Hadis utama:

“Shalat tepat waktu, kemudian birrul walidain, kemudian jihad.” (HR. Bukhari)

“Surga di bawah telapak kaki ibu.”

“Ridha Allah tergantung ridha orang tua.”

Ayat:

  • QS. Al-Isra: 23–24 (larangan “ah” dan perintah lemah lembut)
  • QS. Luqman: 14 (perintah bersyukur kepada Allah dan orang tua)

5. Analisis dan Argumentasi (Tazkiyatun Nufūs)

Dalam ilmu tasawuf:

🔹 Orang tua = sebab lahiriah kehidupan
🔹 Allah = sebab hakiki kehidupan

➡ Maka siapa yang tidak menghormati sebab lahiriah, ia belum sempurna mengenal sebab hakiki

Durhaka = tanda:

  • Ego tinggi (nafsu ammārah)
  • Kurang syukur
  • Hati keras

Birrul walidain = tanda:

  • Tunduknya nafsu
  • Bersihnya hati
  • Dekatnya seorang hamba kepada Allah

6. Amalan (Implementasi)

Saat orang tua hidup:

  • Bicara lembut, tunduk, tidak memotong
  • Mendahulukan kebutuhan mereka
  • Minta ridha sebelum melakukan hal besar
  • Melayani tanpa diminta

Saat orang tua wafat:

  • Doa setiap hari: “رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا”
  • Sedekah atas nama mereka
  • Menyambung silaturahmi sahabatnya
  • Menjaga nama baik keluarga

Amalan khusus tasawuf:

  • Bayangkan wajah orang tua sebelum tidur → kirim doa
  • Setiap selesai shalat → hadiah Al-Fatihah

7. Relevansi Zaman Sekarang

Zaman sekarang:

  • Banyak anak lebih hormat ke HP daripada orang tua
  • Lebih cepat jawab chat teman daripada panggilan ibu
  • Lebih bangga posting daripada berbakti

➡ Ini tanda penyakit hati modern

Solusinya:

  • Kembalikan adab
  • Jadikan rumah sebagai ladang pahala
  • Anggap orang tua sebagai “pintu surga pribadi

8. Motivasi

Kalau ingin:

  • Rezeki lancar
  • Hati tenang
  • Hidup berkah
  • Mati husnul khatimah

➡ Mulailah dari: membahagiakan orang tua

Karena:

  • Amal lain bisa tertolak
  • Tapi doa orang tua sulit tertolak

9. Muhasabah & Caranya

Tanya pada diri:

  • Sudahkah aku membuat orang tuaku tersenyum hari ini?
  • Pernahkah aku meninggikan suara?
  • Lebih sering mana: menyenangkan mereka atau menyakiti?

Cara muhasabah:

  1. Ingat jasa mereka sejak kecil
  2. Bayangkan jika mereka sudah tiada
  3. Menangis dalam doa untuk mereka
  4. Minta maaf walau tidak merasa salah

10. Kemuliaan & Kehinaan

Di Dunia:

  • Berbakti → hidup berkah, rezeki lapang
  • Durhaka → sempit, gelisah, sering sial

Di Alam Kubur:

  • Berbakti → kubur lapang, terang
  • Durhaka → kubur sempit, gelap

Di Hari Kiamat:

  • Berbakti → wajah bercahaya
  • Durhaka → tidak dilihat Allah

Di Akhirat:

  • Berbakti → dekat surga
  • Durhaka → terancam tidak mencium bau surga

11. Doa

اللهم اغفر لي ولوالديّ وارحمهما كما ربياني صغيرا
اللهم ارزقني برّهما أحياءً وأمواتاً
اللهم لا تجعلني من العاقّين واجعلني من الصالحين

Artinya:
Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil. Jadikan aku anak yang berbakti, bukan yang durhaka.


12. Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada:

  • Guru-guru kita yang mengajarkan adab
  • Orang tua kita yang menjadi jalan hadirnya kita di dunia
  • Para ulama seperti yang mengingatkan kita akan pentingnya birrul walidain

Penutup:

Jangan menunggu orang tua tiada baru menyesal.
Karena satu kalimat “Ibu… Bapak… maafkan saya” hari ini,
lebih berharga daripada ribuan doa setelah mereka tiada.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semoga bermanfa'at selalu.

—M. Djoko ekasanU—

..............

Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.

(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).

(kata "Gue" diganti "aku", kata "lo" diganti "njenengan")

No comments: