SIAPA YANG RIDA BERTEMU ALLAH, AKAN DISAMBUT ALLAH DENGAN CINTA
Renungan Menjelang Sakaratul Maut dalam Perspektif Hadis, Tasawuf, dan Kehidupan Modern
Oleh: M. Djoko Ekasanu
Tentang Mati dan Penderitaannya
Al-Faqih meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas, Rasulullah bersabda:
Artinya:
”Barangsiapa lega hati berjumpa dengan Allah, maka Allahpun senang bertemu dengannya, sebaliknya barangsiapa enggan berjumpa dengan Alah, maka Allahpun enggan bertemu dengannya”.
Berjumpa dengan Allah, maksudnya dikembalikan ke negeri akhirat, melewati mati. Orang mukmin hatinya lega menghadapi datangnya mati, karena di saat itu (sakaratul maut) ia dihibur dengan keridaan Allah dan sorgaNya, sudah tentu ia lebih senang menerimanya daripada hidup terus di dunia. Sebaliknya orang kafir enggan mati, karena di saat itu ia diperlihatkan balasan amal perbuatannya berupa siksa, oleh karena itu ia kecut hatinya, benci padanya, yang mengundang kebencian pula bagi Allah untuk menerimanya.
Sehubungan dengan sabda Rasulullah tersebut, sahabat berkata: “Ya Rasulullah, kami belum senang mati?” Jawab beliau: “Tidak demikian, tetapi di saat itu (sakaratul maut), malaikat pembawa khabar gembira datang kepada orang mukmin, melaksanakan tugasnya memenuhi janji Allah kepadanya”. Sebaliknya kepada orang kafir kedatangan malaikat membuat gentar dan kecut hatinya, sehingga timbul rasa enggan untuk bertemu dengan Tuhannya.
Ringkasan Redaksi Hadis Asli
Dari Anas r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang hatinya senang berjumpa dengan Allah, Allah pun senang berjumpa dengannya. Dan barangsiapa enggan berjumpa dengan Allah, maka Allah pun enggan berjumpa dengannya.”
Ketika para sahabat bertanya, “Kami belum senang mati, wahai Rasulullah,” beliau menjawab:
“Bukan itu maksudnya. Tetapi pada saat sakaratul maut, malaikat pembawa kabar gembira datang kepada orang mukmin… sedangkan malaikat bagi orang kafir menimbulkan ketakutan.”
Latar Belakang Masalah di Zaman Nabi
Pada masa Rasulullah, para sahabat hidup dalam suasana perjuangan: peperangan, hijrah, dan tekanan sosial. Kematian adalah realitas yang mereka hadapi setiap hari.
Ketakutan manusia terhadap mati adalah hal yang alami. Ketika Rasulullah menyampaikan hadis ini, sebagian sahabat khawatir mereka tidak memiliki sifat "senang mati". Maka Nabi menjelaskan, bahwa rida bertemu Allah bukan berarti mencari kematian, tetapi tenang menyongsong takdir saat ajal benar-benar datang.
Sebab Terjadinya Masalah
- Manusia takut meninggalkan dunia: keluarga, harta, cita-cita.
- Kurangnya pengetahuan tentang nikmat akhirat.
- Belum siap menghadapi hisab karena amal belum cukup.
- Gaya hidup duniawi yang menutup pandangan dari hakikat akhirat.
Intisari Judul
Hubungan cinta antara manusia dan Allah terlihat dari sikap hatinya ketika ajal tiba. Orang yang rida dan berharap perjumpaan dengan Allah, akan disambut dengan keridaan Allah di alam akhirat.
Tujuan Artikel
- Menjelaskan makna hadis secara komprehensif.
- Memberikan pemahaman logis, psikologis, dan spiritual tentang sakaratul maut.
- Menghubungkan pesan hadis dengan zaman modern.
- Menyediakan pedoman praktis agar hati siap menjelang perjumpaan dengan Allah.
Manfaat
- Menguatkan iman
- Menghilangkan ketakutan berlebih terhadap kematian
- Menginspirasi amal saleh
- Membentuk sikap hidup yang lebih tenang dan bijak
- Memperdalam cinta kepada Allah
DALIL AL-QUR’AN DAN HADIS LAIN
1. Al-Qur’an
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai.”
(QS. Al-Fajr: 27–30)
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqamah, malaikat turun kepada mereka (ketika mati)…”
(QS. Fussilat: 30)
2. Hadis-Hadis Terkait
- “Sesungguhnya ruh seorang mukmin dicabut dengan kelembutan…” (HR. Ahmad)
- “Mati adalah hadiah bagi seorang mukmin.” (HR. al-Baihaqi)
ANALISIS & ARGUMENTASI
1. Kematian sebagai perjumpaan cinta
Menurut ulama, yang dicintai bukan kematian, melainkan Allah yang ditemui setelahnya. Itulah makna mendalam hadis ini.
2. Keadaan hati saat sakaratul maut
- Mukmin: melihat ampunan, rahmat, malaikat yang menenteramkan.
- Durhaka: melihat azab dan penyesalan.
Hati otomatis menunjukkan rasa senang atau takut sesuai amal.
3. Argumen psikologi modern
Rasa takut pada kematian (thanatophobia) berkurang ketika seseorang memiliki:
✓ keyakinan kuat
✓ tujuan hidup jelas
✓ pengalaman spiritual
✓ hubungan cinta dengan Allah
KEUTAMAAN KEUTAMAAN HADIS INI
- Memberi ketenangan menghadapi ajal.
- Menjawab ketakutan universal manusia terhadap mati.
- Menanamkan hubungan cinta antara hamba dan Allah.
- Menguatkan iman dan amal saleh.
- Mengajarkan bahwa sakaratul maut adalah awal perjalanan mulia bagi mukmin.
RELEVANSI DENGAN ZAMAN MODERN
1. Teknologi & Kecanggihan Medis
- ICU, ventilator, dan alat monitoring memperlihatkan betapa lemahnya manusia di ujung hayat.
- Meski teknologi canggih, ruh tetap hanya dicabut oleh Allah — menunjukkan keagungan-Nya.
2. Transportasi & Mobilitas
Kematian bisa datang kapan saja: kecelakaan, perjalanan, bencana — memperkuat urgensi untuk selalu siap.
3. Komunikasi Digital
- Banyak orang merekam detik-detik terakhir pasien, menjadi pengingat betapa sakaratul maut itu nyata.
- Cerita “near-death experience” memperkuat keimanan sebagian manusia akan kehidupan setelah mati.
4. Sosial Modern
- Pergaulan bebas, konsumerisme, dan hedonisme membuat manusia jauh dari kesadaran akhirat.
Hadis ini mengembalikan manusia kepada kesadaran spiritual.
HIKMAH
- Dunia hanyalah tempat singgah, bukan tujuan.
- Ajal adalah kepastian, tapi cara menyambutnya bisa kita pilih.
- Siapa yang hidupnya dekat dengan Allah, matinya pun akan indah.
- Ketakutan mati hilang jika cinta kepada Allah telah memenuhi hati.
MUHASABAH & CARA MEMPERSIAPKAN DIRI
1. Amalan Harian
- Perbanyak istighfar
- Baca Al-Qur’an setiap hari
- Jaga salat tepat waktu
- Perbanyak sedekah
- Doakan orang tua
2. Menata Hati
- Latih diri untuk rida pada takdir
- Bangun rasa cinta kepada Allah melalui dzikir
- Kurangi keterikatan dunia berlebih
3. Persiapan Praktis
- Lunasi hutang
- Perbaiki hubungan
- Buat wasiat
- Minta maaf sebelum terlambat
DOA
“Ya Allah, jadikanlah kematian kami sebagai sebaik-baik pertemuan dengan-Mu.
Lembutkan sakaratul maut kami, wafatkan kami dalam keadaan khusnul khatimah,
dan pertemukan kami dengan wajah-Mu yang Maha Mulia dalam keridaan penuh.”
NASEHAT PARA TOKOH SUFI
Hasan al-Bashri
“Orang berakal adalah yang lebih banyak mengingat mati daripada dunia.”
Rabi‘ah al-Adawiyah
“Aku tidak mencintai-Mu karena takut neraka atau ingin surga, tapi karena Engkau layak dicintai.”
Abu Yazid al-Bistami
“Kematian hanyalah pintu untuk menyatu dalam cinta Allah.”
Junaid al-Baghdadi
“Siapa yang hidupnya bersama Allah, matinya pun bersama Allah.”
Al-Hallaj
“Mati adalah perjalanan pulang menuju Kekasih.”
Imam al-Ghazali
“Takut mati adalah tanda belum siap bertemu Allah.”
Syekh Abdul Qadir al-Jailani
“Perbaiki hatimu, maka kematian menjadi kawan yang lembut.”
Jalaluddin Rumi
“Kematian bagi pecinta Allah adalah malam pertemuan (‘urs).”
Ibnu ‘Arabi
“Di balik kematian terdapat cahaya kehadiran Tuhan.”
Ahmad al-Tijani
“Siapa yang memperbanyak shalawat, Allah mudahkan sakaratul mautnya.”
DAFTAR PUSTAKA
- Sahih Muslim
- Musnad Ahmad
- Ihya Ulumuddin – Imam al-Ghazali
- Al-Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi
- Qawa’id al-Tasawwuf – Junaid al-Baghdadi
- Diwan Rumi
- Risalah Qadiriyah – Abdul Qadir al-Jailani
- Kutub Sittah
TESTIMONI ULAMA INDONESIA
Gus Baha
“Siapa yang hatinya bening, mati itu bukan menakutkan — justru kesempatan bertemu Allah.”
Ustadz Adi Hidayat
“Hadis ini menjelaskan bahwa kesiapan mati adalah buah dari amal dan ilmu.”
Buya Yahya
“Orang yang cinta akhirat, kematian menjadi jembatan menuju bahagia.”
Ustadz Abdul Somad (UAS)
“Malaikat datang membawa kabar gembira bagi orang beriman. Karena itu perbaikilah amal sebelum ajal.”
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kepada semua guru, ulama, dan pembaca yang terus menjaga cahaya ilmu. Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah yang mengajak kepada kedamaian dan kesiapan menghadapi perjumpaan agung dengan Allah.
Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.
(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).
No comments:
Post a Comment