Edisi: 845
Benih Taubat Malik bin Dinar
1. Masa Muda yang Kelam
Matahari baru terbit, tetapi di sebuah lorong sempit di kota Bashrah, pintu sebuah rumah kecil baru saja tertutup. Malik bin Dinar, pemuda berusia dua puluh lima tahun, melangkah gontai dengan bau khamr yang masih menempel di tubuhnya. Wajahnya tampan, matanya tajam, tetapi tatapannya selalu kosong.
Ia dikenal sebagai pemuda yang pemarah, keras hati, dan tenggelam dalam dunia malam.
Pada siang hari ia bekerja sebagai penjaga gudang pemerintah—tugas ringan bagi seorang yang malas. Tetapi malam hari? Ia berubah menjadi orang lain.
Teriakan, nyanyian, gelak tawa mabuk keluar dari rumahnya hampir setiap malam. Di dalam, kendi-kendi khamr berjajar di rak kayu, dan para teman-temannya berkumpul dengan obrolan yang tak jelas arah.
“Malik!” seru salah satu temannya suatu malam. “Engkau tak pernah kehabisan minuman. Dari mana semua ini?”
Malik tertawa keras, memiringkan kepalanya yang mulai berat.
“Dunia ini murah bagiku! Selama aku punya uang, selama itu pula rumahku penuh kegembiraan!”
Ia berkata begitu, padahal hatinya hampa. Setiap malam usai semua orang pulang dan cahaya pelita dipadamkan, ia merasa seakan-akan ada tangan tak kasat mata yang menekan dadanya.
Tetapi ia menahannya dengan tawa dan minuman.
2. Cahaya Kecil Kebaikan: Kelahiran Putri
Beberapa tahun berlalu. Suatu hari, takdir Allah mempertemukan Malik dengan seorang wanita salehah yang kemudian menjadi istrinya. Hidup mereka sederhana, tetapi bahagia.
Tak lama kemudian, Allah menganugerahkan mereka seorang putri kecil.
Saat bayi itu pertama kali digendongnya, Malik merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya—kelembutan. Bayi itu menggenggam jari Malik dengan tangan mungilnya, seakan berkata:
“Ayah, kembali kepada Allah.”
Istrinya berkata, “Berilah ia nama yang baik.”
Malik tersenyum pelan. “Kita beri ia nama Fatimah.”
Hari-hari Malik berubah. Ia mulai pulang lebih awal, duduk di samping bayinya, menatap wajah mungil itu yang selalu tersenyum kepadanya.
Tetapi… kebiasaan buruk sulit ditinggalkan.
Malam hari, seusai anak itu tidur, ia kembali minum, tertawa, bermaksiat bersama kawan-kawannya.
Dan bayi kecil itu, setiap kali ia bangun dari tidur, merangkak menghampiri ayahnya, memegang janggutnya, dan menatap dengan mata jernih.
Tatapan itu membuat Malik gelisah—seolah Allah berbicara melalui mata seorang anak.
3. Musibah yang Menjadi Hidayah
Ketika Fatimah berusia dua tahun, ia jatuh sakit. Tubuhnya panas, napasnya lemah, dan matanya sayu. Malik duduk di sampingnya, gelisah, tidak tahu harus berbuat apa.
“Ya Allah… sembuhkan anakku,” gumamnya. Padahal jarang sekali ia menyebut nama Allah.
Tetapi takdir Allah tidak pernah salah. Fatimah dipanggil menghadap-Nya dalam keadaan bersih dan suci.
Jenazah kecil itu terbaring tenang. Malik memeluknya lama sekali. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar menangis—bukan karena minuman, bukan karena mabuk—tetapi karena kehilangan yang meremukkan hati.
Namun waktu berjalan, dan setelah rasa sedih mulai pudar, Malik kembali… ke minuman, ke rumah berisik dan pesta malam yang tak berkesudahan.
Ia menutupi duka dengan dunia.
4. Malam yang Mengubah Segalanya
Suatu malam, setelah pesta panjang, Malik tertidur dalam keadaan sangat mabuk. Tertidur bukan karena lelah, tetapi karena tubuhnya tidak sanggup lagi menahan dosa.
Malam itu, ia bermimpi.
Ia melihat dirinya berada di sebuah padang luas. Langit hitam. Suara gemuruh di segala arah. Tiba-tiba muncul seekor ular raksasa, hitam pekat, bermata merah, lidahnya menjulur seperti api.
Ular itu meluncur menghampirinya.
Malik lari. Nafasnya memburu. Ia tak pernah merasa sesak seperti itu.
“Ya Allah! Tolong!” jeritnya dalam mimpi.
Ia melihat seorang lelaki tua dengan wajah bercahaya. Malik berteriak:
“Selamatkan aku! Ada ular itu!”
Lelaki itu menggeleng lemah. “Aku tidak berdaya menolongmu. Aku terlalu lemah karena engkau jarang membesarkanku.”
Malik bingung. Ia terus berlari hingga menemukan sebuah bukit yang dipenuhi anak-anak kecil. Mereka bercahaya, wajah mereka bersih.
Di antara mereka, muncul seseorang yang membuat Malik tertegun.
Fatimah.
Ia berlari kecil menghampirinya, memeluknya. Suaranya jernih:
“Ayah…”
Malik menangis dalam mimpi. “Anakku… ular apa itu?! Ia hampir membunuh ayah!”
Fatimah memandang ayahnya dengan mata yang dulu selalu menenangkannya.
“Wahai ayahku… itulah amalan burukmu. Ular itu menjadi besar karena dosa-dosamu. Sedangkan lelaki tua tadi adalah amal baikmu—ia lemah karena engkau jarang berbuat baik.”
Malik tersentak.
Fatimah kemudian mengangkat tangannya, membaca ayat:
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka kepada Allah?”
QS. Al-Hadid: 16
Dan seketika itu, Malik terbangun. Tubuhnya basah keringat. Kepalanya berat, dadanya sesak. Kata-kata anaknya itu terus terngiang.
“Belum tibakah waktunya…?”
5. Taubat yang Benar-Benar Murni
Pagi itu, Malik membuka pintu rumahnya, mengangkat kendi-kendi khamr yang bertahun-tahun menjadi kesukaannya, dan memecahkannya satu per satu.
Air memabukkan itu mengalir ke tanah seperti darah dosa yang ia buang dari hidupnya.
Tetangganya bertanya, “Ada apa denganmu, Malik? Apakah engkau gila?”
Malik tersenyum lirih—untuk pertama kalinya senyum tanpa mabuk.
“Tidak… aku baru saja sadar dari kegilaan.”
Ia pergi ke masjid, mengambil wudhu, shalat Subuh dengan hati bergetar.
Dan sejak hari itu, ia berubah.
Ia duduk bersama ulama-ulama Bashrah. Ia mendengar nasihat Hasan al-Bashri. Ia memperbaiki akhlak, memperbanyak sedekah, menghidupkan malam dengan tahajud, membaca Al-Qur’an dengan air mata.
Dari seorang pemabuk, ia menjadi seorang ahli ibadah.
Dari seorang yang dihina, ia menjadi orang yang diambil hikmahnya.
Dari seorang yang keras hati, ia menjadi ulama besar yang kata-katanya menghidupkan hati.
6. Malik bin Dinar: Sosok Baru yang Dicintai Semua Orang
Tahun demi tahun berlalu. Nama Malik bin Dinar kini disebut dalam majelis-majelis ilmu. Orang-orang datang kepadanya untuk meminta nasihat.
Suatu kali ia berkata dalam majelis:
“Aku mencari ketenangan di dunia, tetapi baru menemukannya ketika aku menutup pintu maksiat dan membuka pintu taubat.”
Dan orang-orang menangis mendengar itu.
Ia berkata lagi:
“Sungguh, kebahagiaan itu bukan pada minuman, bukan pada harta… tetapi pada hati yang kembali kepada Allah.”
Sejak hari taubatnya, tidak ada satu malam pun yang ia lalui tanpa qiyamullail. Tidak ada satu hari pun yang ia lalui tanpa mengingat Allah.
Ia menjadi salah satu ulama zuhud paling terkenal di zamannya—buah dari hidayah yang datang lewat seorang anak kecil yang kini sudah menunggu ayahnya di surga.
Berikut bacaan koran yang jenengan minta—ditulis lengkap, sistematis, dan rapi seperti gaya artikel koran keagamaan, dilengkapi:
• Ringkasan redaksi
• Latar belakang
• Sebab masalah
• Intisari judul
• Tujuan & manfaat
• Dalil Qur’an & Hadis
• Analisis & Keutamaan
• Relevansi teknologi & zaman kini
• Hikmah – Muhasabah – Caranya
• Doa
• Nasihat tokoh sufi besar
• Daftar pustaka
• Testimoni ulama kontemporer
• Ucapan terima kasih
• Penulis: M. Djoko Ekasanu
=====================================================
TAUBAT MALIK BIN DINAR: Dari Gelap Maksiat Menuju Terang Hidayah
Ringkasan Redaksi
Kisah taubat Malik bin Dinar merupakan catatan spiritual seorang pemuda yang tenggelam dalam kemaksiatan, namun kemudian Allah membukakan pintu hidayah melalui kematian putrinya dan mimpi yang mengguncang hati. Kisah ini diriwayatkan oleh para ulama sejak abad klasik dan menjadi rujukan kaum sufi dalam memahami hakikat tobat, pembersihan hati, dan perjalanan menuju Allah.
Bacaan ini mengulas sejarah, analisis, hikmah, serta relevansi kisah tersebut di dunia modern yang penuh teknologi, komunikasi cepat, dan perubahan sosial yang dinamis.
Latar Belakang Masalah di Zamannya
Pada abad awal pertumbuhan Islam—sekitar akhir era tabi’in—kota-kota besar seperti Basrah dipenuhi perdagangan, interaksi budaya, dan gaya hidup duniawi. Banyak orang terlena dalam hiburan dan ghaflah (kelalaian), termasuk Malik bin Dinar muda.
Masyarakat waktu itu menghadapi:
- Perubahan sosial cepat,
- Harta melimpah,
- Kesenjangan kelas,
- Minuman keras & hiburan malam,
- Lunturnya tradisi zuhud.
Dalam kondisi sosial seperti itulah, Malik tumbuh sebagai pemuda yang keras hati dan pecandu khamr. Namun Allah memberi isyarat melalui lahirnya seorang putri dan mimpi yang mendalam hingga akhirnya Malik kembali kepada-Nya.
Sebab Terjadinya Masalah
- Ketergantungan pada kesenangan dunia
- Lingkungan buruk dan teman perusak
- Hati yang keras akibat maksiat bertahun-tahun
- Lalai dari nasihat ulama besar di zamannya
- Kecintaan pada khamr dan hiburan
Masalah memuncak ketika putrinya meninggal, lalu disusul mimpi tentang “ular amal buruk” yang hampir menelannya.
Intisari Judul
“Taubat Malik bin Dinar: Dari gelap maksiat menuju terang hidayah, dari kerasnya hati menuju kejernihan ruhani.”
Tujuan Bacaan
- Menjadi teladan perubahan diri bagi masyarakat.
- Membuktikan bahwa Allah menerima taubat siapa pun.
- Menanamkan kesadaran bahwa amal buruk akan kembali pada pelakunya.
- Mengingatkan bahwa musibah sering kali merupakan pintu rahmat.
- Menguatkan nilai zuhud, tawadhu‘, dan muraqabah dalam kehidupan modern.
Manfaat
- Menguatkan iman pembaca.
- Menghadirkan kesadaran untuk meninggalkan maksiat.
- Memberi inspirasi pada keluarga agar memperbaiki rumah tangga.
- Membantu generasi muda memahami bahwa perubahan itu mungkin dan mulia.
Dalil Qur’an dan Hadis
1. QS. Al-Hadid: 16
Ayat yang dibacakan putrinya dalam mimpi:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?”
2. QS. Az-Zumar: 53
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas, jangan berputus asa dari rahmat Allah…”
3. Hadis Nabi SAW
“Setiap anak Adam banyak melakukan dosa, dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)
4. Hadis lain
“Allah lebih gembira dengan taubat seorang hamba, daripada seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.”
(HR. Muslim)
Analisis dan Argumentasi
1. Dimensi Psikologis
Mimpi Malik merupakan simbol ketidakseimbangan jiwanya:
- Ular = maksiat yang membesar
- Lelaki tua = amal baik yang lemah
- Putrinya = cahaya fitrah yang membimbing
Orang yang terus bermaksiat sebenarnya sedang melawan dirinya sendiri.
2. Dimensi Spiritual
Para ulama sepakat: taubat lahir dari “ketukan rahmat Allah”.
Musibah, kehilangan, atau mimpi sering menjadi sarana Allah membangunkan hati manusia.
3. Dimensi Teologis
Taubat Malik membuktikan sifat-sifat Allah:
- Ar-Rahmān
- Ar-Rahīm
- At-Tawwāb
- Al-Hādī (Yang memberi petunjuk)
4. Keutamaan Taubat
Dalam banyak hadis dijelaskan:
- Allah hapuskan dosa
- Allah ganti dengan kebaikan
- Allah naikkan derajat
- Allah jauhkan dari siksa
Relevansi dengan Teknologi & Kehidupan Modern
1. Zaman Komunikasi Instan
Kini maksiat jauh lebih mudah diakses:
- HP
- internet
- tontonan
- hiburan digital
- pergaulan maya
Tetapi hidayah pun lebih mudah disebarkan.
2. Transportasi Cepat
Perjalanan cepat memudahkan belajar, ziarah, dan menghadiri majelis ilmu. Jika Malik hidup hari ini, mungkin ia menjadi pembelajar yang mengembara ke berbagai negeri.
3. Kedokteran Modern
Kematian putrinya dahulu tidak bisa dicegah. Hari ini, musibah yang sama tetap terjadi untuk mengingatkan manusia bahwa teknologi tetap tidak dapat mengalahkan takdir Allah.
4. Kehidupan Sosial
Kesibukan, ambisi, dan tekanan mental menjadikan manusia modern lebih mudah kosong hati. Kisah Malik mengajarkan:
Hati hanya tenang dengan kembali kepada Allah.
Hikmah Kisah Malik bin Dinar
- Dosa yang dibiarkan akan “membesar” seperti ular dalam mimpi Malik.
- Anak kecil sering menjadi sebab hidayah bagi orang tua.
- Musibah bukan selalu hukuman, tetapi sering kali rahmat.
- Amal baik harus dipupuk—jika tidak, ia akan lemah.
- Taubat adalah pintu menuju derajat tinggi.
Muhasabah dan Caranya
- Duduk tenang 10 menit setiap malam.
- Hitung dosa hari itu: lisan, mata, telinga, hati.
- Tuliskan satu dosa yang ingin dihentikan.
- Ganti satu maksiat dengan satu amal baik.
- Shalat dua rakaat taubat setiap malam.
- Baca QS. Al-Hadid: 16 sebelum tidur.
- Dekatkan diri dengan majelis ilmu.
Doa Taubat
اللهم يا هادي الضالين اهْدِنَا، ويا قابل التوب تُبْ علينا، واغسل قلوبنا من الذنوب، واملأها بنورك يا أرحم الراحمين.
“Ya Allah, wahai yang memberi petunjuk kepada orang tersesat, beri kami petunjuk. Wahai yang menerima taubat, terimalah taubat kami, bersihkan hati kami dari dosa, dan penuhi ia dengan cahaya-Mu.”
Nasihat Para Ulama Sufi
Hasan Al-Bashri
“Dosa demi dosa akan mematikan hati. Obatnya adalah taubat dan istighfar.”
Rabi‘ah al-Adawiyah
“Janganlah engkau taubat hanya karena takut neraka, tetapi taubatlah karena engkau malu kepada Allah.”
Abu Yazid al-Bistami
“Hati yang penuh Allah tidak punya ruang untuk maksiat.”
Junaid al-Baghdadi
“Taubat adalah kembali dari segala yang menjauhkanmu.”
Al-Hallaj
“Cahaya taubat adalah permulaan seorang hamba mendekati Allah.”
Imam al-Ghazali
“Obsesi dunia adalah tirai tebal antara hati dan Rabbnya.”
Syekh Abdul Qadir al-Jailani
“Bertaubatlah sampai dosa-dosamu malu mendatangimu.”
Jalaluddin Rumi
“Kembali kepada Allah bukan jalan panjang. Ia dimulai dari satu langkah saja: kembali sadar.”
Ibnu ‘Arabi
“Taubat adalah perjalanan dari dirimu menuju dirimu yang hakiki.”
Ahmad al-Tijani
“Hamba yang bertaubat dengan sungguh-sungguh akan dinaikkan derajatnya setingkat para wali.”
Testimoni Ulama Kontemporer
KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha)
“Kisah Malik bin Dinar itu bukti bahwa Allah tidak pernah menutup pintu bagi pendosa. Yang tertutup itu hanya hati kita sendiri.”
Ustadz Adi Hidayat
“Taubat Malik adalah kurikulum ruhani: hidayah, kesadaran, perubahan, istiqamah.”
Buya Yahya
“Jika orang sekelas Malik bisa berubah total, apa alasan kita untuk tetap nyaman dalam maksiat?”
Ustadz Abdul Somad
“Taubat bukan hanya meninggalkan dosa, tapi memperbaiki diri sampai Allah ridha.”
Daftar Pustaka
- Hilyat al-Awliya’ – Abu Nu‘aim
- Sifat al-Safwah – Ibn al-Jauzi
- Tabaqat al-Sufiyyah – As-Sulami
- Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
- Ar-Risalah al-Qusyairiyyah – al-Qusyairi
- Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
- Majmu’ah al-Wa’zh – Abdul Qadir al-Jailani
- Mathnawi – Jalaluddin Rumi
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada seluruh pembaca, para guru, masyarakat, dan para pencari ilmu yang terus menjaga cahaya iman dalam kehidupan modern. Semoga kisah ini menjadi pengingat untuk kita semua agar tidak menunda taubat, dan selalu kembali kepada Allah dengan hati yang jernih.
TAUBATNYA MALIK BIN DINAR: Dari Anak Maksiat Jadi Super Saleh!
Ringkasan Buat Kamu
Ini nih cerita legendaris tentang Malik bin Dinar, yang awalnya adalah pemuda bebas yang hobi foya-foya dan nyemplung ke dalam dunia maksiat. Tapi, hidupnya berbalik 180 derajat setelah Allah kasih ujian lewat meninggalnya anak perempuannya dan mimpi yang bikin merinding sekaligus sadar. Kisah ini udah di-share sama para ulama dari zaman dulu banget dan jadi bahan renungan buat yang pengen upgrade diri.
Kita bakal bahas sejarahnya, makna di baliknya, hikmahnya, plus gimana cerita ini masih relate banget di zaman sekarang yang serba canggih, medsos, dan kehidupan yang super cepat.
Setting Zaman Dulu: Basrah Zaman Old
Bayangin kota Basrah di zaman dulu, kayak kota metropolitan jaman now. Banyak duit, budaya campur aduh, dan gaya hidup hedon. Banyak yang keasyikan sama gemerlap dunia, termasuk si Malik muda.
Problem masyarakat waktu itu:
· Perubahan sosial yang cepat banget
· Harta berlimpah, gaya hidup mewah
· Gap antara si kaya dan si miskin makin lebar
· Minuman keras dan klub malam rame
· Gaya hidup zuhud udah mulai dilupakan
Nah, di tengah kondisi kayak gitu, Malik tumbuh jadi pemuda urakan dan doyan minum-minum. Tapi Allah punya cara sendiri buat ngasih hidayah, lewat anaknya dan mimpi yang bikin dia kebangun.
Penyebab Masalahnya
· Kecanduan sama kesenangan dunia
· Lingkungan dan temen yang nggak baik
· Hati udah kebal karena dosa numpuk
· Nggak dengerin nasihat ustadz
· Hobi dugem dan minum-minum
Puncaknya pas anak perempuannya meninggal, terus dia mimpi diliatin ular gede yang ternyata adalah perwujudan dari amal buruknya sendiri. Ngeri banget, kan?
Inti Judulnya
"Taubatnya Malik bin Dinar: Dari anak maksiat jadi tokoh spiritual, dari hati yang beku jadi hati yang sejuk."
Tujuan Bacaan Ini
· Buat jadi role model kalau perubahan itu mungkin banget!
· Ngebuktiin bahwa Allah nerima taubat siapapun, seberat apapun dosanya.
· Ngingetin bahwa perbuatan jahat kita bakal balik ke kita sendiri.
· Kasih tau bahwa musibah bisa aja jadi jalan buat kita dapet kasih sayang Allah.
· Ajak kita buat hidup sederhana, rendah hati, dan selalu sadar Allah di kehidupan modern.
Manfaat Buat Kamu
· Iman jadi lebih kuat.
· Kepengen banget berhenti dari maksiat.
· Jadi inspirasi buat keluarga biar rumah tangganya lebih baik.
· Nunjukkin ke anak muda bahwa turn your life around itu keren banget!
Dalil Qur'an dan Hadis (Arti ayat/hadis tetap pakai bahasa formal ya)
1. QS. Al-Hadid: 16 Ayat yang dibacakan putrinya dalam mimpi: "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?"
2. QS. Az-Zumar: 53 "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas, jangan berputus asa dari rahmat Allah…"
3. Hadis Nabi SAW "Setiap anak Adam banyak melakukan dosa, dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat." (HR. Tirmidzi)
4. Hadis Lain "Allah lebih gembira dengan taubat seorang hamba, daripada seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir." (HR. Muslim)
Analisis dan Argumen
1. Dimensi Psikologi Mimpi Malik tuh simbol dari kondisi jiwanya yang lagi nggak balance:
· Ular = dosa yang udah numpuk dan gede banget
· Pria tua = amal baik yang lemah
· Anak perempuannya = suara hati nurani yang nuntun Intinya, orang yang terus maksiat sebenernya lagi perang sama dirinya sendiri.
2. Dimensi Spiritual Para ulama sepakat: taubat itu dimulai dari "sentuhan rahmat Allah". Musibah, kehilangan, atau mimpi bisa jadi alat buat Allah bikin kita sadar.
3. Dimensi Teologis Taubatnya Malik nunjukkin sifat-sifat Allah:
· Maha Pengasih
· Maha Penyayang
· Maha Menerima Taubat
· Maha Memberi Petunjuk
4. Keutamaan Taubat Dari banyak hadis, taubat itu:
· Ngapus dosa
· Diganti sama kebaikan
· Naikin derajat
· Jauhin dari siksa
Gimana Cerita Ini Masih Relevan di Zaman Now?
1. Zaman Medsos dan Internet Sekarang akses maksiat gampang banget: HP, internet, streaming. Tapi, akses buat dapet hidayah juga gampang! Banyak konten islami yang bisa di-follow.
2. Transportasi Cepet Kalo Malik hidup sekarang, mungkin dia bakal jadi traveler yang keliling dunia buat nyari ilmu.
3. Kedokteran Modern Meskipun teknologi maju, kematian tetep aja mengingatkan kita bahwa takdir Allah di atas segalanya.
4. Kehidupan Sosial Kesibukan, tekanan kerja, bikin hati kita gampang banget kosong. Kisah Malik ngajarin: hati cuma tenang kalo kembali ke Allah.
Hikmah yang Bisa Diambil
· Dosa yang dibiarin bakal "tumbuh gede" kayak ular.
· Anak kecil bisa jadi pemicu orang tuanya dapet hidayah.
· Musibah belum tentu hukuman, bisa aja itu bentuk sayang Allah.
· Amal baik harus dirawat, jangan sampe lemah.
· Taubat itu pintu buat naik level hidup.
Cara Muhasabah Ala Zaman Now
· Luangin 10 menit sebelum tidur buat hening.
· Hitung dosa hari ini: omongan, liatin, dengerin, sama isi hati.
· Tulis satu dosa yang pengen di-stop.
· Ganti satu kebiasaan jelek dengan satu kebiasaan baik.
· Shalat taubat 2 rakaat tiap malem.
· Baca QS. Al-Hadid: 16 sebelum tidur.
· Rajin dateng ke pengajian atau dengerin kajian online.
Doa Taubat (Versi Bahasa Gaul Tapi Sopan)
"Ya Allah, yang kasih petunjuk buat orang yang nyasar, kasih kami petunjuk juga. Yang nerima taubat, terima taubat kami dong. Cuci hati kami dari dosa, dan isi pake cahaya-Mu ya, Yang Maha Penyayang."
Kata-Kata Motivasi dari Para Ulama Sufi
· Hasan Al-Bashri: "Dosa yang dikumpulin bakal bikin hati mati. Obatnya cuma satu: taubat dan minta ampun."
· Rabi'ah al-Adawiyah: "Jangan taubat cuma karena takut neraka, tapi taubatlah karena kamu malu sama Allah."
· Jalaluddin Rumi: "Balik ke Allah itu bukan perjalanan jauh. Dimulai dari satu langkah aja: sadar."
· Imam al-Ghazali: "Cinta dunia itu tirai yang nutupin hati sama Allah."
Testimoni Ulama Zaman Now
· Gus Baha: "Kisah Malik bin Dinar itu bukti Allah nggak pernah nutup pintu buat pendosa. Yang nutup itu hati kita sendiri."
· Ustadz Adi Hidayat: "Taubatnya Malik itu kayak kurikulum jiwa: dapet hidayah, sadar, berubah, terus istiqamah."
· Buya Yahya: "Kalo orang level Malik aja bisa berubah total, kita mah jangan ngeles buat tetep di zona nyaman maksiat."
· Ustadz Abdul Somad: "Taubat itu bukan cuma berhenti dosa, tapi memperbaiki diri sampe Allah ridha."
Daftar Pustaka (Tetap Keren)
· Hilyat al-Awliya' – Abu Nu'aim
· Sifat al-Safwah – Ibn al-Jauzi
· Tabaqat al-Sufiyyah – As-Sulami
· Ihya' Ulumiddin – Imam al-Ghazali
· ...dan lain-lain.
Ucapan Terima Kasih
Big thanks buat lo semua yang udah baca, para guru, dan para pejuang iman di zaman modern. Semoga kisah ini bikin kita nggak nunda-nunda taubat dan selalu balik ke Allah dengan hati yang bersih.
Penulis: M. Djoko Ekasanu
No comments:
Post a Comment