Thursday, November 27, 2025

842. HIKMAH KALIMAT IKHLAS DI UJUNG HIDUP.



Edisi: 842


HIKMAH KALIMAT IKHLAS DI UJUNG HIDUP

Kisah Lelaki yang Diampuni Karena “Lā Ilāha illallāh”

Oleh: M. Djoko Ekasanu

Edisi: 842



Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ حَضَرَ مَلَكُ الْمَوْتِ رَجُلًا يَمُوْتُ فَشَقَّ أَعْضَاءَهَ فَلَمْ يَجِدْ عَمَلًا خَيْرًا ثُمَّ شَقَّ قَلْبَهُ فَلَمْ يَجِدْ فِيْهِ خَيْرًا فَفَكَّ لِحْيَيْهِ فَوَجَدَ طَرَفَ لِسَانِهِ لَاصِقًا بِحَنَكِهِ يَقُوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ فَغَفَرَ لَهُ بِكَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ. ابن ابي الدنيا و البيهقي


Artinya: “Abu Hurairah berkata: Ada malaikat maut datang kepada seorang lelaki yang mati, lalu dia membedah anggota tubuh mayat itu, ternyata dia tidak menjumpai amal baik. Kemudian membedah hati mayat, ternyata di sana tidak ada amal kebaikan. Lalu dia buka mulutnya, lantas di temui ujung lidahnya melekat ke langit mulutnya yang membaca Laa Ilaha Illallah. Lalu mayat itu diampuni dosanya, lantaran kalimat ikhlas.” (HR. Ibnu Abiddunya dan Al Baihaqi).


Ringkasan Redaksi Hadis

Hadis riwayat Ibnu Abiddunyā dan al-Baihaqī menceritakan seorang lelaki yang wafat dalam kondisi seluruh anggota tubuh dan hatinya tidak menyimpan amal kebaikan. Ketika malaikat maut membedah mulutnya, ditemukan ujung lidahnya menempel pada langit-langit mulut sambil mengucapkan Lā Ilāha illallāh. Kalimat tauhid itu menjadi sebab Allah mengampuni seluruh dosanya.


Latar Belakang Masalah pada Zamannya

Pada masa Rasulullah SAW, banyak sahabat dan manusia Arab awal memeluk Islam setelah bertahun-tahun hidup dalam tradisi jahiliyah. Sebagian di antara mereka baru mengenal iman menjelang akhir hayat—tidak sedikit yang amalnya sedikit, namun hatinya tersentuh oleh Cahaya Ilahi di penghujung hidup.

Kisah ini muncul sebagai:

  1. Peringatan bahwa amal lahir saja tidak cukup bila hati keras.
  2. Penghiburan bagi orang-orang yang bertobat di akhir usia.
  3. Pelajaran bahwa ampunan Allah melampaui hitungan manusia.

Sebab Terjadinya Masalah

Lelaki dalam kisah itu hidup tanpa amal yang dapat menjadi penyelamat di hadapan Allah. Namun ia tetap menyimpan satu hal: pengakuan tulus akan keesaan Allah yang tertanam kuat, hingga lidahnya spontan mengucap Lā Ilāha illallāh ketika maut menjemput.

Inilah bentuk:

  • Husnul khātimah yang datang dari rahmat Allah,
  • Keikhlasan yang tersimpan dalam hati,
  • Latihan zikir yang membekas meski banyak kekurangan.

Intisari Judul

“Hikmah Kalimat Ikhlas di Ujung Hidup: Selamat oleh Tauhid Meski Tanpa Amal.”
Inti pesannya ialah: ketulusan iman dapat menjadi cahaya paling terakhir ketika seluruh amal manusia gagal menerangi hidupnya.


Tujuan Penulisan

  1. Menghidupkan kesadaran tentang pentingnya tauhid dan zikir.
  2. Menanamkan harapan kepada kaum Muslim bahwa rahmat Allah sangat luas.
  3. Mengajak pembaca memperkuat iman di tengah kehidupan modern yang penuh gangguan.
  4. Menumbuhkan rasa takut sekaligus cinta kepada Allah—dasar ibadah yang seimbang.

Manfaat Bacaan

  • Menjadi bahan renungan harian umat.
  • Menguatkan motivasi bertaubat dan beramal.
  • Menyadarkan pentingnya menjaga lisan hingga detik terakhir.
  • Menjadi bekal dakwah untuk keluarga dan masyarakat.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

1. Al-Qur’an

“Allah mengokohkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat.”
(QS. Ibrāhīm: 27)

“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
(QS. al-A‘rāf: 156)

2. Hadis

“Barangsiapa akhir perkataannya adalah Lā Ilāha illallāh, maka ia akan masuk surga.”
(HR. Abu Dawud)

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)


Analisis, Argumentasi, dan Keutamaan

1. Keutamaan Tauhid

Tauhid adalah fondasi seluruh amal. Tanpa tauhid, amal ibadah kosong makna. Dengan tauhid, bahkan sedikit amal pun bisa ditinggikan.

2. Keutamaan Ikhlas

Kalimat tersebut disebut kalimat al-ikhlāsh karena hanya dilakukan oleh hati yang jernih. Ikhlas adalah ruh dari seluruh ibadah.

3. Amal Hati Mengalahkan Amal Fisik

Dalam kisah itu, tidak ditemukan amal fisik yang memadai. Namun Allah melihat cahaya tersembunyi di dalam hati lelaki itu.

4. Harapan bagi Pendosa

Kisah ini tidak menormalisasi maksiat, tetapi menunjukkan bahwa pintu ampunan tetap terbuka hingga napas terakhir. Selama kalimat tauhid masih hidup, harapan masih ada.


Relevansi di Era Teknologi, Transportasi, Komunikasi, dan Kedokteran

1. Di Era Gadget dan Distraksi

Teknologi sering membuat manusia lalai. Zikir dapat menjadi penstabil jiwa di tengah derasnya informasi dan media sosial.

2. Dalam Dunia Transportasi Cepat

Mobilitas tinggi meningkatkan risiko. Zikir dan tauhid menjaga hati ketika perjalanan panjang atau aktivitas berbahaya.

3. Dalam Ilmu Kedokteran Modern

Dokter dapat menolong raga, namun jiwa tetap butuh bekal zikir. Banyak pasien menjelang ajal yang hanya mampu berkata sedikit—maka kalimat tauhid menjadi penyelamat.

4. Kehidupan Sosial yang Kompleks

Tekanan sosial, ekonomi, dan konflik membuat orang mudah lupa Tuhan. Kisah ini mengajak kita kembali pada dasar: tauhid adalah rumah aman bagi jiwa.


Hikmah

  1. Lidah yang terbiasa dengan zikir akan dimudahkan mengucapnya saat sakaratul maut.
  2. Keikhlasan yang kecil tetapi murni dapat mengalahkan gunung dosa yang besar.
  3. Jangan remehkan zikir harian—ia mungkin menjadi penyelamat paling terakhir.
  4. Jangan menghakimi lahir seseorang; Allah melihat sisi-sisi rahasia dalam hati manusia.

Muhasabah dan Caranya

1. Muhasabah Harian

  • Tanyakan pada diri: “Apakah hari ini aku ingat Allah lebih banyak atau dunia lebih banyak?”
  • Catat dosa-dosa kecil sebelum tidur dan istighfarlah.

2. Latihan Lisan

  • Minimal 100 kali Lā Ilāha illallāh setiap pagi dan sore.
  • Hindari lisan dari ghibah, debat sia-sia, dan kesombongan.

3. Latihan Hati

  • Ikhlaskan niat setiap memulai aktivitas.
  • Biasakan berdoa sebelum bekerja atau bepergian.

4. Taubat

  • Taubat bukan menunggu nanti. Taubat ialah “sekarang”.

Doa

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى الإِيمَانِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالطَّاعَةِ، وَاجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا فِي الدُّنْيَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.


Nasehat Para Tokoh Tasawuf

Hasan al-Bashri

“Iman bukan angan-angan, tetapi apa yang mengakar dalam hati dan dibuktikan oleh amal.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Cintailah Allah karena Dia layak dicintai, bukan karena engkau ingin surga atau takut neraka.”

Abu Yazid al-Bistami

“Jadilah tanah: diinjak orang namun tetap menumbuhkan kehidupan.”

Junaid al-Baghdadi

“Ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hamba-Nya.”

Al-Hallaj

“Yang tinggal dari seorang hamba hanyalah hatinya; di situlah Allah menatap.”

Imam al-Ghazali

“Lidah tidak akan benar kecuali bila hati benar.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Biasakan zikir hingga zikir itu menjadi sahabatmu ketika sakaratul maut.”

Jalaluddin Rumi

“Yang paling indah bukan mati, tapi pulang kepada-Nya dengan hati yang mengenal-Nya.”

Ibnu ‘Arabi

“Setetes keikhlasan lebih berat daripada dunia dan seluruh isinya.”

Ahmad al-Tijani

“Perbanyak tauhid; ia adalah cahaya yang menuntun ruh ketika seluruh cahaya padam.”


Daftar Pustaka (Sumber Utama)

  1. Ibnu Abiddunyā – Kitab al-Muhtadhirīn.
  2. Al-Baihaqī – Syu‘ab al-Iman.
  3. Imam al-Ghazali – Ihya’ Ulumuddin.
  4. Ibn Rajab al-Hanbali – Kalimat al-Ikhlas.
  5. Al-Qur’an dan hadis-hadis sahih.
  6. Literatur tasawuf klasik (Junaid, Rabi‘ah, dll.).

Catatan Gaya Testimoni Ulama Kontemporer

(bukan kutipan literal, tetapi ringkasan gaya tutur mereka dalam menjelaskan makna kisah seperti ini)

Gus Baha’ (gaya penyampaian)

“Sing penting kuwi istiqamah. Wong nek tauhidé bener, Allah bakal ngejak metu saka keburukan—senajan sakdurunge uripe campur aduk.”

Ustadz Adi Hidayat (gaya ilmiah)

“Tauhid adalah fondasi. Ketika fondasi kuat, Allah mudahkan hamba saat sakaratul maut dengan kalimat Lā Ilāha illallāh.”

Buya Yahya (gaya nasihat lembut)

“Jangan putus asa. Zikir harian itu seperti menanam cahaya. Cahaya itu yang akan menuntun kita saat mati.”

Ustadz Abdul Somad (gaya retoris)

“Mulut yang biasa maksiat tidak mudah mengucap Lā Ilāha illallāh saat mati. Maka jaga lisan! Latih dari sekarang.”


Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada seluruh pembaca setia rubrik keagamaan. Semoga tulisan ini menjadi wasilah hidayah, penyegar iman, dan penguat langkah menuju husnul khatimah.
Semoga Allah mengampuni kita sebagaimana Dia mengampuni lelaki dalam kisah ini.

Wallāhu a‘lam.

..........

Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.

(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).

No comments: