c. Penipu Cerdas.
(Diceritakan) pada zaman dahulu, ada seorang laki-laki pembohong. Ia dijuluki dengan julukan “Si Fulan Penipu (at- Thorror)”. Suatu ketika ia masuk ke pasar dan mencari target yang akan menjadi korban penipuannya. Tak lama kemudian ia bertemu dengan seorang laki- laki desa. Si Thorror pura-pura menyapanya dengan uluk salam dan berjabat tangan dengannya.
“Kamu adalah teman ayahku. Aku ingin mentraktirmu hari ini,” kata Si Thorror.
“Aku tidak mengenalmu dan juga tidak mengenal ayahmu,” jawab si laki-laki.
“Kamu itu sebenarnya teman ayahku. Barang kali kamu lupa tetapi aku tidak lupa. Aku ingin mentraktirmu hari ini karena Allah Ta’ala,” kata si Thorror.
Kemudian Si Thorror masuk ke warung makan sambil mengajak si laki-laki itu. Si Thorror membeli kepala kambing, roti dan makanan lainnya. Adat yang berlaku di daerah tersebut adalah seorang pembeli akan membayar setelah selesai makan. Ketika Si Thorror telah selesai makan dan makanannya hanya tersisa satu suap atau dua suap, Si Thorror keluar dari warung dengan alasan ingin kencing atau alasan keperluan lain. Ketika si laki-laki yang ditraktir ingin keluar dari warung, tiba-tiba penjual makanan meminta bayaran.
“Bayar dulu! Jangan pergi!” kata penjual.
“Saya ditraktir orang tadi, pak! (Thorror)” jawab si laki-laki.
“Aku tidak mau tahu siapa yang mentraktir dan siapa yang ditraktir. Pokoknya makanan yang kalian beli harus dibayar!” jelas penjual.
Selama masa hidupnya, Si Thorror selalu melakukan penipuan.
Suatu ketika, si Thorror sakit di saat menjelang kematiannya. Ia menyewa dua laki-laki. Masing- masing dari mereka disewa dengan bayaran satu dinar. Si Thorror pun memberi mereka dua dinar dan berkata:
“Nanti, kalau aku telah mati, ketika kalian mengiring jenazahku, katakan kalau aku ini adalah orang yang solih dan baik. Jangan berhenti mengatakan itu hingga aku selesai dikubur!”
Ketika Si Thorror benar-benar telah mati, dua laki-laki yang disewa itu mengiring jenazahnya dan berkata:
“Sebaik-baik orang adalah orang ini (Si Thorror). Ia adalah orang yang salih dan baik.”
Kedua laki-laki itu tak henti- hentinya berkata demikian hingga orang-orang selesai mengubur jenazah Si Thorror dan pulang.
Kemudian dua malaikat masuk ke dalam kuburan Si Thorror untuk memberi pertanyaan. Tiba-tiba terdengar seruan:
“Hai dua malaikat! Tinggalkan hamba-Ku. Sesungguhnya hamba- Ku hidup selalu menipu dan matipun ia juga menipu!”
Akhirnya Si Thorror diampuni oleh Allah berkat kesaksian dua saksi meskipun disewa.
.......
No comments:
Post a Comment