Bismillahirahmanirrahim.
Senin, 18 Mei 2026
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Buat njenengan para penikmat ilmu!
Ada souvenir magriban dari masjid Nurul Jannah tempo hari, nyantri bareng Ust. Farid A., kupas tipis tipis kitab Usfuriyah (karya Muhammad bin Abu Bakar bin Usfuri). :
HADITS KE-30 : SESUNGGUHNYA HAMBA AKAN DIAMPUNI SEBAB PUJIAN ORANG-ORANG KEPADANYA SETELAH KEMATIANNYA
c. Penipu Cerdas.
(Diceritakan) pada zaman dahulu, ada seorang laki-laki pembohong. Ia dijuluki dengan julukan “Si Fulan Penipu (at- Thorror)”. Suatu ketika ia masuk ke pasar dan mencari target yang akan menjadi korban penipuannya. Tak lama kemudian ia bertemu dengan seorang laki- laki desa. Si Thorror pura-pura menyapanya dengan uluk salam dan berjabat tangan dengannya.
“Kamu adalah teman ayahku. Aku ingin mentraktirmu hari ini,” kata Si Thorror.
“Aku tidak mengenalmu dan juga tidak mengenal ayahmu,” jawab si laki-laki.
“Kamu itu sebenarnya teman ayahku. Barang kali kamu lupa tetapi aku tidak lupa. Aku ingin mentraktirmu hari ini karena Allah Ta’ala,” kata si Thorror.
Kemudian Si Thorror masuk ke warung makan sambil mengajak si laki-laki itu. Si Thorror membeli kepala kambing, roti dan makanan lainnya. Adat yang berlaku di daerah tersebut adalah seorang pembeli akan membayar setelah selesai makan. Ketika Si Thorror telah selesai makan dan makanannya hanya tersisa satu suap atau dua suap, Si Thorror keluar dari warung dengan alasan ingin kencing atau alasan keperluan lain. Ketika si laki-laki yang ditraktir ingin keluar dari warung, tiba-tiba penjual makanan meminta bayaran.
“Bayar dulu! Jangan pergi!” kata penjual.
“Saya ditraktir orang tadi, pak! (Thorror)” jawab si laki-laki.
“Aku tidak mau tahu siapa yang mentraktir dan siapa yang ditraktir. Pokoknya makanan yang kalian beli harus dibayar!” jelas penjual.
Selama masa hidupnya, Si Thorror selalu melakukan penipuan.
Suatu ketika, si Thorror sakit di saat menjelang kematiannya. Ia menyewa dua laki-laki. Masing- masing dari mereka disewa dengan bayaran satu dinar. Si Thorror pun memberi mereka dua dinar dan berkata:
“Nanti, kalau aku telah mati, ketika kalian mengiring jenazahku, katakan kalau aku ini adalah orang yang solih dan baik. Jangan berhenti mengatakan itu hingga aku selesai dikubur!”
Ketika Si Thorror benar-benar telah mati, dua laki-laki yang disewa itu mengiring jenazahnya dan berkata:
“Sebaik-baik orang adalah orang ini (Si Thorror). Ia adalah orang yang salih dan baik.”
Kedua laki-laki itu tak henti- hentinya berkata demikian hingga orang-orang selesai mengubur jenazah Si Thorror dan pulang.
Kemudian dua malaikat masuk ke dalam kuburan Si Thorror untuk memberi pertanyaan. Tiba-tiba terdengar seruan:
“Hai dua malaikat! Tinggalkan hamba-Ku. Sesungguhnya hamba- Ku hidup selalu menipu dan matipun ia juga menipu!”
Akhirnya Si Thorror diampuni oleh Allah berkat kesaksian dua saksi meskipun disewa.
.......
TIPU DAYA YANG MEMBAWA AMPUNAN ?
Perspektif Tasawuf – Tazkiyatun Nufūs (Penyucian Jiwa)
MUQADDIMAH
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Kisah tentang “Si Thorror (Penipu)” di atas mengandung pelajaran yang sangat dalam tentang hakikat manusia, rahasia ampunan Allah, bahaya penipuan, dan luasnya rahmat Allah Ta‘ālā. Dalam pandangan tasawuf, kisah ini bukan untuk membenarkan kebohongan, tetapi menjadi cermin agar manusia tidak putus asa dari rahmat Allah dan tidak tertipu oleh amal dirinya sendiri.
Allah Ta‘ālā berfirman:
“Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya.”
(QS. Az-Zumar: 53)
1. MAKNA (TAFSIR) ISI REDAKSI
Kisah ini menunjukkan beberapa makna batin (isyarat ruhaniyah):
A. Penipuan adalah penyakit hati
Si Thorror hidup dengan:
- kebohongan,
- manipulasi,
- memanfaatkan kebaikan orang,
- dan memakan harta dengan cara batil.
Dalam tasawuf, ini disebut:
- penyakit hubbud dunya (cinta dunia),
- lemahnya muraqabah kepada Allah,
- dan matinya rasa malu kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa menipu maka ia bukan golongan kami.”
(HR. Muslim)
B. Allah Maha Membolak-balik Keadaan
Meski hidupnya buruk, pada akhir hidupnya justru muncul sebab ampunan.
Ini menunjukkan:
- Allah tidak wajib mengazab,
- Allah berhak mengampuni siapa yang Dia kehendaki,
- dan rahmat Allah mengalahkan murka-Nya.
Hadis qudsi:
“Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
C. Jangan tertipu oleh amal
Orang saleh belum tentu husnul khatimah bila sombong.
Orang berdosa belum tentu su’ul khatimah bila Allah memberi rahmat.
Dalam tasawuf:
- yang menyelamatkan bukan amal semata,
- tetapi rahmat Allah.
2. HUKUM (AHKAM)
Hukum Penipuan
Penipuan (ghisy) hukumnya haram.
Allah Ta‘ālā berfirman:
“Janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil.”
(QS. Al-Baqarah: 188)
Termasuk penipuan:
- manipulasi dagangan,
- pencitraan palsu,
- testimoni palsu,
- janji palsu,
- memanfaatkan orang awam,
- dan kebohongan demi keuntungan.
Hukum Kesaksian Palsu
Kesaksian palsu termasuk dosa besar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Maukah aku beritahu dosa terbesar?”
Beliau menyebut:
“Syirik kepada Allah dan kesaksian palsu.”
(HR. Bukhari)
Namun dalam kisah ini, ampunan Allah bukan karena kebohongan itu menjadi halal, tetapi karena kehendak dan rahmat Allah yang luas.
3. HIKMAH DAN PELAJARAN (IBRAH)
A. Jangan Meremehkan Dosa Kecil
Kebiasaan menipu dapat:
- mengeraskan hati,
- menghilangkan keberkahan,
- dan mematikan nur iman.
B. Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah
Meski dosa menumpuk, pintu taubat tetap terbuka.
Allah Ta‘ālā berfirman:
“Jangan berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)
C. Allah Menilai Akhir Kehidupan
Yang paling penting adalah:
- bagaimana seseorang meninggal,
- dan bagaimana ia menghadap Allah.
D. Dunia Bisa Ditipu, Allah Tidak
Manusia bisa tertipu oleh ucapan dan penampilan.
Tetapi Allah mengetahui:
- isi hati,
- niat,
- dan rahasia jiwa.
4. DALIL QUR’AN – HADIS – HADIS QUDSI
Dalil Al-Qur’an
Tentang Penipuan
“Kecelakaan besar bagi orang-orang yang curang.”
(QS. Al-Muthaffifin: 1)
Tentang Rahmat Allah
“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
(QS. Al-A‘raf: 156)
Tentang Husnul Khatimah
“Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jangan mati kecuali dalam keadaan muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)
Hadis Nabi ﷺ
“Sesungguhnya amal itu tergantung penutupnya.”
(HR. Bukhari)
“Orang cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk setelah kematian.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis Qudsi
“Wahai anak Adam, selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni dosa-dosamu.”
(HR. Tirmidzi)
5. ANALISIS DAN ARGUMENTASI
Apakah kisah ini membolehkan menipu?
Tidak.
Kisah ini justru menunjukkan:
- bahayanya kebiasaan menipu,
- anehnya takdir Allah,
- dan luasnya ampunan-Nya.
Ampunan Allah bukan berarti dosa menjadi benar.
Sebagaimana Fir‘aun tenggelam dalam kekafiran, namun seorang pembunuh 100 jiwa justru diampuni karena taubatnya.
Tasawuf mengajarkan:
- takut kepada keadilan Allah,
- dan berharap kepada rahmat-Nya.
Keduanya harus seimbang.
6. AMALAN (IMPLEMENTASI)
A. Jujur dalam Semua Urusan
- jujur berdagang,
- jujur berbicara,
- jujur bermedia sosial,
- jujur dalam agama.
B. Biasakan Muhasabah Harian
Tanyakan:
- adakah ucapan dusta hari ini?
- adakah hati menipu manusia?
- adakah ibadah hanya pencitraan?
C. Perbanyak Istighfar
Minimal:
- 100x sehari,
- terutama sebelum tidur.
D. Sedekah Diam-Diam
Sedekah membersihkan hati dari cinta dunia.
7. RELEVANSI YANG VIRAL DI ZAMAN SEKARANG
Kisah ini sangat relevan dengan zaman sekarang:
Bentuk “Thorror Modern”
- penipuan online,
- investasi bodong,
- konten palsu,
- pencitraan agama,
- manipulasi sedekah,
- berita hoaks,
- jualan dengan kebohongan,
- dan kemunafikan digital.
Banyak orang:
- terlihat saleh di media,
- tetapi menipu dalam transaksi.
Ada pula:
- yang tampak buruk,
- namun diam-diam memiliki hati yang dekat dengan Allah.
Karena itu: jangan mudah memvonis manusia.
8. MOTIVASI
Saudaraku…
Bila engkau pernah berdosa:
- jangan putus asa.
Bila engkau masih diberi umur:
- pintu taubat masih terbuka.
Tangisan taubat di malam hari: lebih dicintai Allah daripada kesombongan ahli ibadah.
9. MUHASABAH & CARANYA
Pertanyaan Muhasabah
- Apakah aku pernah menipu?
- Apakah aku pernah memanfaatkan kebaikan orang?
- Apakah aku jujur dalam agama?
- Apakah aku memakai topeng kesalehan?
Cara Muhasabah
1. Menyendiri sebelum tidur
Renungi dosa harian.
2. Membaca istighfar
Minimal:
Astaghfirullāhal-‘Azhīm wa atūbu ilaih.
3. Menangis kepada Allah
Air mata taubat dapat melembutkan hati.
4. Memperbaiki hak manusia
Kembalikan:
- hutang,
- amanah,
- dan nama baik orang.
10. KEMULIAAN DAN KEHINAAN
Di Dunia
Kemuliaan Orang Jujur
- dipercaya,
- dicintai,
- diberkahi rezekinya.
Kehinaan Pendusta
- hilang kepercayaan,
- hidup penuh ketakutan,
- hati gelisah.
Di Alam Kubur
Kubur orang jujur:
- luas,
- terang,
- dan tenang.
Kubur pendusta:
- sempit,
- gelap,
- dan menyakitkan.
Kecuali bila Allah memberi ampunan.
Di Hari Kiamat
Pendusta akan:
- dipermalukan,
- mulutnya dikunci,
- anggota tubuh menjadi saksi.
Di Akhirat
Kemuliaan
- surga,
- ridha Allah,
- melihat wajah Allah.
Kehinaan
- neraka,
- penyesalan abadi,
- terputus dari rahmat Allah.
11. DOA
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ
“Allāhumma ṭahhir qulūbanā minan-nifāq, wa alsinatanā minal-kadhib, wa a‘mālanā minar-riyā’.”
Ya Allah, bersihkan hati kami dari kemunafikan, lisan kami dari dusta, dan amal kami dari riya’.
اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى وَلَا تَخْتِمْ عَلَيْنَا بِالسُّوْءِ
“Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan husnul khatimah dan jangan Engkau akhiri dengan keburukan.”
Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.
12. UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kepada seluruh pembaca buletin tauziah ini.
Semoga Allah menjadikan kita:
- hamba yang jujur,
- hati yang lembut,
- lisan yang benar,
- dan wafat dalam keadaan husnul khatimah.
Jangan pernah merasa suci.
Jangan pula berputus asa dari rahmat Allah.
Karena di antara rahasia terbesar kehidupan adalah:
“Allah mampu mengangkat orang yang hina karena taubatnya, dan merendahkan orang yang merasa mulia karena kesombongannya.”
Wallāhu A‘lam bish-Ṣawāb.
...,.........
No comments:
Post a Comment