tanbihul ghofilin ghibah yang tak berdosa
Ada tiga laku ghibah yang tak berdosa, yaitu:
- Membicarakan penganiayaan raja kejam,
- Membicarakan kebejatan moral, ahklak manusia brutal (yang sengaja memperlihatkan laku) maksiatnya di muka umum.
- Membicarakan kesalahan tukang mengada-adakan acara keagamaan yang tidak punya dasar (bid’ah).
Tetapi jika yang disebut-sebut itu pribadinya, maka tetap ghibah yang berdosa. Nabi bersabda: Sebutlah keburukan dan bahayanya pelacur, agar orang lain berhati-hati.
......
BULETIN TAUZIAH
“MENJAGA LISAN DAN MEMBERSIHKAN HATI”
(Dalam Perspektif Tasawuf – Tazkiyatun Nufūs)
Mukadimah
Segala puji bagi Allah ﷻ yang menciptakan lisan sebagai nikmat dan ujian. Dengan lisan seseorang dapat masuk surga, namun karena lisan pula seseorang dapat tergelincir ke dalam neraka. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita , keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.
Di zaman modern ini, ghibah tidak lagi hanya terjadi di pasar, di jalan, atau di rumah-rumah, tetapi telah berpindah ke media sosial, video pendek, grup percakapan, siaran langsung, dan berbagai teknologi komunikasi yang menjadikan dosa tersebar lebih cepat daripada angin.
Tasawuf mengajarkan bahwa kebersihan hati tidak mungkin terwujud jika lisan masih gemar membuka aib manusia tanpa hak.
MAKNA (TAFSIR) ISI REDAKSI
Perkataan di atas menjelaskan bahwa pada asalnya ghibah adalah haram. Namun sebagian ulama menerangkan adanya keadaan tertentu yang dibolehkan demi kemaslahatan umat dan mencegah bahaya.
Tiga perkara yang disebutkan:
1. Membicarakan penganiayaan penguasa zalim
Hal ini dibolehkan untuk menjelaskan kezhaliman agar manusia waspada dan keadilan ditegakkan.
2. Membicarakan orang yang terang-terangan bermaksiat
Yaitu orang yang sengaja mempertontonkan dosa tanpa malu, seperti mabuk, zina, penipuan, perjudian, atau menyebarkan kerusakan secara terbuka.
3. Membicarakan pelaku bid’ah atau penyesatan agama
Yaitu orang yang membuat perkara agama tanpa dasar syariat lalu mengajak manusia kepadanya sehingga menyesatkan umat.
Namun tasawuf menegaskan:
- Tujuannya harus karena agama dan maslahat,
- Bukan karena dengki,
- Bukan untuk mempermalukan,
- Tidak berlebihan,
- Tidak mencampur dengan fitnah atau kebencian pribadi.
Jika pembicaraan berubah menjadi penghinaan pribadi dan hawa nafsu, maka jatuh menjadi ghibah yang berdosa.
HUKUM (AHKAM)
Hukum Asal Ghibah
Haram dan termasuk dosa besar.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Ghibah yang Dibolehkan
Para ulama seperti menjelaskan beberapa keadaan yang dibolehkan, di antaranya:
- Mengadukan kezaliman,
- Memperingatkan umat dari bahaya,
- Meminta fatwa,
- Menjelaskan pelaku kefasikan terang-terangan,
- Menjelaskan kesesatan.
Namun tetap wajib:
- Jujur,
- Adil,
- Tidak berlebihan,
- Ikhlas karena Allah.
DALIL AL-QUR’AN, HADIS, DAN HADIS QUDSI
Al-Qur’an
Allah ﷻ berfirman:
“Allah tidak menyukai ucapan buruk yang diucapkan terang-terangan kecuali oleh orang yang dizalimi.”
(QS. An-Nisa’: 148)
Allah ﷻ juga berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
(QS. Al-Ahzab: 70)
Hadis Nabi ﷺ
meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tahukah kalian apa itu ghibah?”
Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Beliau bersabda:
“Engkau menyebut tentang saudaramu sesuatu yang ia tidak suka.”
(HR. Muslim)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis Qudsi
Allah ﷻ berfirman:
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan kezhaliman itu haram di antara kalian.”
(HR. Muslim)
ANALISIS DAN ARGUMENTASI TASAWUF
Dalam ilmu Tazkiyatun Nufūs, ghibah bukan sekadar dosa lisan, tetapi tanda penyakit hati:
- iri,
- sombong,
- dengki,
- merasa diri suci,
- cinta popularitas,
- ingin menjatuhkan orang lain.
Orang yang hatinya hidup akan sibuk memperbaiki dirinya sendiri.
Para ulama sufi berkata:
“Barangsiapa mengenal aib dirinya, ia akan sibuk dari membicarakan aib manusia.”
Tasawuf mengajarkan bahwa membicarakan keburukan orang demi maslahat harus seperti dokter membedah luka:
- seperlunya,
- hati-hati,
- tidak menikmati prosesnya,
- dan bertujuan menyembuhkan.
Bukan seperti orang yang menikmati membuka kebusukan manusia.
HIKMAH DAN PELAJARAN (IBRAH)
1. Islam menjaga kehormatan manusia
Kehormatan seorang mukmin sangat mulia di sisi Allah.
2. Lisan mencerminkan hati
Hati yang bersih melahirkan ucapan yang bersih.
3. Keadilan harus ditegakkan
Membiarkan kezhaliman dan penyesatan tanpa peringatan dapat merusak masyarakat.
4. Ikhlas menjadi pembeda
Nasihat karena Allah berbeda dengan celaan karena hawa nafsu.
AMALAN (IMPLEMENTASI)
Amalan Harian Menjaga Lisan
- Membaca istighfar minimal 100 kali sehari.
- Membiasakan diam dari perkara sia-sia.
- Menghindari grup atau konten penuh gibah.
- Tidak mudah menyebarkan berita sebelum tabayyun.
- Membaca dzikir:
“Allahumma thahhir qalbi wa hashshin farji واحفظ لساني”
- Mengingat kematian sebelum berbicara.
RELEVANSI DI ZAMAN SEKARANG
1. Media Sosial
Hari ini ghibah berubah menjadi:
- komentar,
- video viral,
- podcast,
- status,
- meme,
- konten roasting,
- fitnah digital.
Sekali tersebar, dosa dapat terus mengalir walau pelakunya telah meninggal.
2. Teknologi Komunikasi
Grup percakapan sering berubah menjadi majelis gibah:
- membahas tetangga,
- keluarga,
- ustadz,
- pejabat,
- artis.
3. Kecanggihan AI dan Editing
Video palsu, potongan ceramah, dan manipulasi suara dapat menjadi fitnah besar.
4. Dunia Kedokteran dan Privasi
Membocorkan aib pasien tanpa hak termasuk pengkhianatan amanah.
5. Kehidupan Sosial
Budaya “konten viral” sering membuat manusia kehilangan rasa malu dan kasih sayang.
MOTIVASI
Jagalah lisanmu karena satu kalimat dapat:
- mengangkat derajatmu ke surga,
- atau menjerumuskanmu ke neraka.
Orang yang mampu menahan lisannya sedang menjaga:
- agamanya,
- kehormatannya,
- dan cahaya hatinya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Keselamatan manusia terletak pada penjagaan lisannya.”
MUHASABAH & CARANYA
Pertanyaan Muhasabah
- Apakah lisanku lebih banyak menyebut Allah atau menyebut aib manusia?
- Apakah aku menikmati membuka kesalahan orang?
- Apakah komentarku membawa manfaat?
- Apakah aku akan rela jika aibku dibuka seperti aku membuka aib orang?
Cara Muhasabah
- Menulis dosa lisan setiap malam.
- Mengurangi berbicara tanpa manfaat.
- Berteman dengan orang saleh.
- Memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an.
- Meminta maaf kepada orang yang pernah dizalimi lisannya.
KEMULIAAN DAN KEHINAAN
Di Dunia
Kemuliaan
- dicintai manusia,
- dipercaya,
- dihormati,
- hati tenang.
Kehinaan
- dibenci,
- dijauhi,
- kehilangan keberkahan,
- hati gelap dan keras.
Di Alam Kubur
Orang yang menjaga lisan
Kuburnya dilapangkan dan diterangi.
Ahli ghibah dan fitnah
Terancam azab kubur karena dosa lisannya.
Di Hari Kiamat
Lisan akan menjadi saksi.
Allah ﷻ berfirman:
“Pada hari itu lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(QS. An-Nur: 24)
Di Akhirat
Kemuliaan
Masuk surga karena menjaga kehormatan sesama muslim.
Kehinaan
Pahala habis diberikan kepada orang yang pernah dizalimi lisannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang dengan pahala, namun ia pernah mencaci dan menzalimi orang lain.”
(HR. Muslim)
DOA
Ya Allah…
Bersihkan hati kami dari iri dan dengki.
Jagalah lisan kami dari ghibah, fitnah, dusta, dan celaan.
Jadikan ucapan kami penuh dzikir, ilmu, dan manfaat.
Ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum muslimin.
Wafatkan kami dalam husnul khatimah dan kumpulkan kami bersama di surga-Mu yang mulia.
Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kepada seluruh pembaca yang berusaha membersihkan hati dan menjaga lisannya di tengah fitnah zaman modern. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang lembut hatinya, bersih lisannya, dan mulia akhlaknya.
“Kesucian hati adalah jalan menuju kedekatan kepada Allah.”
.........
Catatan Redaksi:
jika ada Kisah dalam redaksi yang termasuk dalam kategori Israiliyat, yaitu cerita warisan tradisi Yahudi–Nasrani yang masuk ke dalam literatur tafsir dan kisah-kisah klasik umat Islam, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, Ia hanya disajikan sebagai bahan renungan, bukan dalil akidah.
penulis : M. Djoko Ekasanu.
No comments:
Post a Comment