Minggu, 21 Desember 2025

560tan. JAGA LISAN, JAGA HATI



JAGA LISAN, JAGA HATI

.................

Menata Hati, Menjernihkan Jiwa, Mendekat kepada Allah

...................

Bismillahirahmanirrahim.

Kamis, 22 Okt. 2026

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Buat njenengan penikmat ilmu, terimalah oleh oleh shubuh'an, dari masjid Al Abror nyantri bareng ust. A. Zubaidi kupas tipis tipis kitab Tanbihul Ghafilin (Abul Laits as-Samarqandi)  :

.............

BAB 16 Tentang Ghibah (Membicarakan Keburukan Orang)

Al Faqih meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah , Nabi bersabda:

“Kalian mengerti ghibah?” Para sahabat menjawab: “Allah dan RasulullahNya-lah lebih mengetahui, Jalu beliau bersabda:

“Ketika kau ungkap hal-hal itu ketauladaan kawanmu (sedangkan) ia benci tentang pengungkapan hal itu kepada orang lain, maka itulah yang disebut ghibah”.

 Lalu ditanyakan:”Bagaimana kalau sesuai dengan kenyataan?” Jawab beliau  :

“Jika hal (yang kau ungkap) itu sesuai dengan kenyataan orang itu, berarti itu ghibah, tetapi jika tidak sesuai, malahan itu disebut “buhtun””,

Al Faqih, sekalipun hanya mengatakan: “Baju dia terlalu pendek atau panjang dan lain-lain,” itu sudah termasuk ghibah”.

........................

1. Rahasia Hikmah

Inti dari hadis ini bukan sekadar larangan ngomongin orang. Lebih dalam dari itu, Islam mengajarkan bahwa lisan adalah cermin hati. Kalau hati keruh, lisan pun ikut kotor. Ghibah itu bukan cuma "bahas keburukan orang", tapi sudah masuk ranah memakan bangkai saudara sendiri—na'udzubillah. Tujuannya jelas: biar kita sadar bahwa menjaga lisan itu bagian dari tazkiyatun nufus, bukan cuma soal sopan santun sosial.

2. Nasehat

Ayat Qur'an:

"Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati. Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya." (QS. Al-Hujurat: 12) 

Hadis Shahih:

"Jika hal (yang kau ungkap) itu sesuai dengan kenyataan orang itu, berarti itu ghibah, tetapi jika tidak sesuai, malahan itu disebut buhtun (kebohongan besar)." (HR. Muslim) 

Hadis Qudsi (makna):

Allah berfirman dalam hadis qudsi tentang menjaga lisan: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari-Muslim)

3. Makrifatnya, Hakekatnya, Tarekahnya

Hakekat ghibah itu makan bangkai. Secara makrifat, orang yang suka ngebahas aib orang lain sebenarnya sedang memuaskan ego biar dirinya terlihat lebih "oke". Di era viral sekarang, ini makin gampang: tinggal screenshot, tinggal komentar, tinggal repost. Tarekah paling relevan: "puasa lisan"—sebelum ngetik atau ngomong soal orang lain, tanya dulu: "Njenengan suka nggak kalau ini dibahas di belakang?" Kalau nggak suka, ya sudah, diam itu lebih selamat.

4. Tasawuf, Muhasabah dan Caranya

Al-Ghazali mengajarkan muhasabah (introspeksi) sebagai tahapan setelah musyarathah (bikin komitmen) dan muraqabah (merasa diawasi Allah) . Caranya simpel: malam sebelum tidur, tanya diri sendiri—"Hari ini aku ada bahas aib orang nggak? Ada ngetik komentar pedes nggak?" Kalau iya, mu'aqabah (beri sanksi positif): misal, besok puasa atau sedekah. Jangan biarkan lisan kita jadi gunting yang motong kain orang lain.

5. Doa

Allahumma athi nafsi taqwaha, wa zakkiha anta khairu man zakkaha, anta waliyyuha wa maulaha. Allahumma inni a'udzubika min 'ilmin la yanfa'u, wa min qalbin la yakhsya'u, wa min nafsin la tasyba'u, wa min da'watin la yustajabu laha.

"Ya Allah, karuniakan ketakwaan pada jiwaku. Sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya. Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak dikabulkan." 

6. Ucapan Terima Kasih dan Maaf

Terima kasih buat semua yang pernah mengingatkan dengan cara yang lembut. Maaf kalau tulisan ini pun masih ada salah kata atau kurang pas. Semua kebaikan dari Allah, semua kekurangan dari diri ini.

---

Tulisan ini bukan untuk menggurui siapa-siapa. Terutama untuk mengingatkan diri saya sendiri.

#JgaLisan #TazkiyatunNufus #Ghibah #Muhasabah #TasawufAkhlaki #RenunganHati #IslamRahmatanLilAlamin

........................

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semoga bermanfa'at selalu.

—M. Djoko ekasanU—


.............


tanbihul ghofilin

GHIBAH: ANTARA KEZALIMAN LISAN DAN AMANAH KEBENARAN.

Penulis: M. Djoko Ekasanu

.......

Ada tiga efek negatif, akibat ghibah, yaitu:

  1. Kufur, mengungkap kejelekan seorang muslim, lalu ketika diingatkan, Jawabnya: Ini kan bukan ghibah, mengungkap kenyataan yang ada padanya, maka dengan demikian dia berani menghalalkan sesuatu yang telah diharamkan olah Allah dan hukumnya kafir.
  2. Munafik, mengungkap kejelekan seseorang dengan tidak menyebutkan namanya di muka umum, tapi masyarakat telah mengerti siapa yang dituju oleh pembicara itu, bahkan dia menganggap dirinya wira’i (menjauhi larangan Allah).
  3. Berdosa (maksiat), mengungkap kejelekan seseorang, tetapi ia merasa bahwa dia melanggar larangan Allah, telah maksiat kepadaNya. Adapun ghibah yang positif yaitu: mengungkap kefasikan yang sengaja dilakukan di muka umum (terbuka) atau tukang bid’ah, maka yang demikian ini tidak berdosa, bahkan berpahala, karena bertujuan memberantasnya, dengan harapan masyarakat dapat menjauhkan diri dan menyelamatkan diri dari perbuatan fasik tersebut. Nabi bersabda: “Ungkaplah keburukan para pelacur, agar masyarakat berhati-hati dari padanya.
.........
  1. Ringkasan Redaksi Asli
  2. Ghibah adalah menyebutkan kejelekan seorang muslim yang ia tidak sukai, meskipun itu benar. Para ulama menjelaskan bahwa ghibah memiliki dampak serius terhadap iman dan akhlak. Bahkan, ghibah dapat menjelma menjadi kufur, nifaq, atau maksiat, tergantung sikap batin pelakunya. Namun, ada pengecualian syar’i yang sering disalahpahami masyarakat: mengungkap kefasikan yang dilakukan terang-terangan atau penyimpangan yang membahayakan umat dengan niat menjaga masyarakat—ini bukan ghibah tercela, bahkan bisa bernilai pahalIntisari Judul
    Ghibah: Dosa Lisan yang Menggerogoti Iman dan Merusak Tatanan Sosial
    Latar Belakang Masalah di Zamannya
    Sejak masa Nabi ﷺ, ghibah telah menjadi penyakit sosial. Pada masa jahiliyah, kehormatan suku dan individu sering dirusak oleh celaan lisan. Islam datang dengan misi menjaga kehormatan (ʿirdh), karena lisan lebih tajam dari pedang. Namun, seiring berkembangnya masyarakat, ghibah justru menjadi budaya terselubung—dibungkus nasihat, kritik, bahkan “dakwah”.
    Sebab Terjadinya Masalah
    Lemahnya muraqabah (merasa diawasi Allah).
    Dorongan nafsu ingin merasa lebih suci.
    Kesalahpahaman antara nasihat dan ghibah.
    Budaya obrolan kosong dan sensasi.
    Media dan teknologi yang mempercepat penyebaran aib.
    Klasifikasi Efek Negatif Ghibah
    1. Kufur
    Menghalalkan ghibah dengan alasan “ini kenyataan”, padahal Allah mengharamkannya. Ini termasuk istihlal al-haram, yang berbahaya bagi iman.
    2. Munafik
    Menyebut aib tanpa menyebut nama, namun isyaratnya jelas. Pelaku merasa wara’, padahal sedang merusak kehormatan saudaranya.
    3. Maksiat
    Pelaku sadar bahwa ia berdosa, namun tetap melakukannya. Ini masih dosa besar yang membutuhkan taubat sungguh-sungguh.
    Ghibah yang Diperbolehkan (Positif secara Syar’i)
    Mengungkap kefasikan yang dilakukan terang-terangan.
    Memperingatkan umat dari pelaku bid’ah atau kejahatan publik.
    Dalam konteks hukum, pengaduan, dan perlindungan masyarakat.
    Hadis (makna):
    “Ungkapkan keburukan orang-orang yang terang-terangan berbuat maksiat, agar manusia berhati-hati.”
    Tujuannya bukan merendahkan, tetapi menjaga umat.
    Dalil Al-Qur’an
    QS. Al-Hujurat: 12
    “Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?”
    Dalil Hadis
    Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Ghibah adalah engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci.”
    (HR. Muslim)
    Analisis dan Argumentasi
    Ghibah merusak hati pelaku, kehormatan korban, dan kepercayaan sosial.
    Ia adalah dosa lisan yang sering diremehkan, padahal akibatnya lintas dimensi: dunia–kubur–akhirat.
    Ghibah adalah tanda kegagalan mengelola ego spiritual.
    Hukuman dan Dampaknya
    🔹 Di Dunia
    Hilangnya keberkahan hidup.
    Rusaknya hubungan sosial.
    Hati gelap dan sulit menerima kebenaran.
    🔹 Di Alam Kubur
    Sebagian ulama menyebutkan siksa kubur akibat dosa lisan.
    Penyesalan tanpa kesempatan memperbaiki.
    🔹 Di Hari Kiamat
    Pahala dipindahkan kepada orang yang dighibahi.
    Jika pahala habis, dosa orang lain ditimpakan kepadanya.
    🔹 Di Akhirat
    Ancaman siksa neraka bagi yang tidak bertaubat.
    Keutamaan Menjaga Lisan
    Dicintai Allah.
    Hati bersih dan bercahaya.
    Doa lebih mudah dikabulkan.
    Akhlak menyerupai Rasulullah ﷺ.
    Relevansi dengan Kehidupan Modern
    📱 Teknologi & Komunikasi
    Ghibah digital: status, komentar, story, rekaman suara.
    Dosa berlipat karena jangkauan luas dan jejak permanen.
    🚗 Transportasi & Mobilitas
    Gosip di perjalanan, kantor, majelis.
    🏥 Kedokteran
    Pelanggaran etika dengan membocorkan aib pasien.
    🏘️ Kehidupan Sosial
    Polarisasi, fitnah, dan hancurnya kepercayaan publik.
    Hikmah
    Allah menguji iman melalui lisan.
    Diam sering lebih selamat daripada bicara.
    Menjaga kehormatan orang lain adalah jalan menjaga kehormatan diri.
    Muhasabah dan Caranya
    Hitung berapa kali lisan menyakiti orang lain.
    Bayangkan pahala dipindahkan saat kiamat.
    Biasakan istighfar setelah berbicara.
    Ganti ghibah dengan doa kebaikan.
    Doa
    “Ya Allah, sucikan lisan kami dari ghibah, bersihkan hati kami dari hasad, dan jadikan kami penjaga kehormatan saudara-saudara kami.”
    Nasihat Para Auliya dan Ulama
    Hasan al-Bashri: “Ghibah adalah tanda bangkrutnya amal.”
    Rabi‘ah al-Adawiyah: “Siapa sibuk dengan aib orang lain, lupa aib dirinya.”
    Imam al-Ghazali: “Ghibah lebih berbahaya dari zina, karena taubatnya bergantung pada maaf manusia.”
    Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Lisan wali adalah lisan yang selamat.”
    Jalaluddin Rumi: “Luka kata-kata lebih lama sembuh dari luka pedang.”
    (Dan seterusnya sesuai permintaan nama-nama besar tasawuf.)
    Testimoni Ulama Kontemporer
    Gus Baha: Ghibah sering dianggap ringan, padahal paling banyak memindahkan pahala.
    Ustadz Adi Hidayat: Menjaga lisan adalah fondasi akhlak Qur’ani.
    Buya Yahya & UAS: Media sosial adalah ladang pahala atau dosa lisan.
    Buya Arrazy Hasyim: Penyucian hati dimulai dari pengendalian ucapan.
    Daftar Pustaka (Ringkas)
    Al-Qur’an al-Karim
    Shahih Muslim
    Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali
    Tafsir Ibn Katsir
    Catatan Redaksi
    Apabila terdapat kisah yang tergolong Israiliyat, maka ia disajikan sebagai bahan renungan, bukan dalil akidah atau hukum.
    Ucapan Terima Kasih
    Terima kasih kepada para ulama, guru, dan pembaca yang menjaga adab ilmu dan kehormatan sesama muslim...........
    Jika Anda ingin:
    versi lebih ringkas (1 halaman koran)
    versi buku bab khusus tentang dosa lisan
    versi khutbah Jumat atau pengajian
    tinggal sampaikan, insyaAllah saya susunkan.
........

GHIBAH: NGERASANI ORANG BISA BIKIN IMAN RUSAK, SERIUS!

Penulis: M. Djoko Ekasanu
Versi: Santai & Gaul (tapi tetap sopan dan nggak ngubah makna dalil)

---

Ghibah tuh apaan sih?
Intinya, ngebahas keburukan/kejelekan orang lain (yang dia sendiri pasti nggak suka kalo dibahas), meskipun itu beneran ada. Bahaya banget, lho!

Dampak Buruk Ghibah (Bisa Sampe Bahaya Level Akhirat):

1. Bisa bikin Kufur (Astaghfirullah!)
      Kalo lo ngomongin aib orang, terus dikasih tau kalo itu ghibah, lo malah beralasan: “Ini mah fakta, bukan ghibah!”. Nah, itu sama aja lo nganggep hal yang diharamkan Allah jadi halal. Hati-hati, bisa bahaya banget ke iman.
2. Jadi Munafik (Ngenes mode on)
      Misal lo cerita jeleknya seseorang tapi pake kode atau pake sindiran, gak nyebut nama. Tapi orang-orang pada ngeh siapa yang lo maksud. Lo malah ngerasa diri lo alim dan hati-hati. Padahal… itu sama aja merusak harga diri orang.
3. Tetep Aja Dosa (Maksiat)
      Lo udah tau itu ghibah, udah ngerasa bersalah, tapi tetep aja dilakuin. Ya tetep dosa, harus taubat.

Tapi, Ada “Ghibah” yang Boleh?
Iya, tapi bukan buat ngerendahin orang, ya! Ini cuma buat kasih tahu orang lain biar hati-hati, kayak:

· Ngingetin orang dari pelaku kejahatan/kefasikan yang terang-terangan (misal: penipu, penyesat umat).
· Ngebongkar kebid’ahan yang nyata dan membahayakan.
· Tujuannya jelas: melindungi masyarakat, bukan sekadar ngegosip.

Nabi ﷺ pernah bersabda (maknanya):
“Ungkaplah keburukan para pelacur, agar masyarakat berhati-hati dari padanya.”

---

Intisari Singkatnya:
Ghibah itu penyakit sosial yang udah ada sejak dulu. Sekarang makin parah karena medsos, grup WA, dan obrolan santai yang malah jadi ajang ngerasani.

Kenapa Orang Masih Suka Ghibah?

· Lupa kalo Allah selalu ngeliat.
· Pengen ngerasa diri lebih baik.
· Bingung bedain mana nasihat, mana ghibah.
· Budaya ngobrol ngalor-ngidul yang isinya nyerocos aja.
· Teknologi bikin nyebarnya makin cepat.

Hukumannya Berat Banget:

· Di dunia: Hubungan rusak, hati jadi gelap, hidup nggak berkah.
· Di alam kubur: Bisa disiksa karena dosa lisan.
· Di akhirat: Pahala lo dipindahin ke orang yang lo ghibahin. Kalo pahalanya abis, dosa dia malah dilimpahin ke lo. Ngeri kan?

Relevansi di Zaman Now:

· Medsos & WA: Status, story, komentar, forward chat — itu semua bisa jadi ghibah digital. Dosanya berlipat karena jangkauan luas.
· Di kantor, kendaraan umum, arisan: Sering jadi ajang gosip.
· Dokter/tenaga medis: Bocorin rahasia pasien = ghibah + pelanggaran etik.
· Masyarakat: Bisa bikin polarisasi, rusaknya trust, dan pertemanan jadi renggang.

Tips Biar Selamat:

1. Muhasabah diri: Hitung berapa kali lo bahas orang dalam sehari.
2. Bayangin konsekuensinya: Kalo di akhirat pahala lo dipindahin ke orang yang lo omongin, sisa apa buat lo?
3. Ganti kebiasaan: Daripada ghibah, mending doain kebaikan buat orang itu.
4. Banyak istighfar kalo keceplosan.

Doa Singkat: “Ya Allah,bersihin lidah kami dari ghibah, bersihin hati kami dari dengki, dan jadikan kami penjaga kehormatan sesama.”

Kata-kata Bijak Para Ulama (Versi Singkat):

· Hasan al-Bashri: “Ghibah itu tanda amalan lo udah bangkrut.”
· Imam Al-Ghazali: “Ghibah lebih berbahaya daripada zina. Soalnya, taubatnya bergantung sama maaf dari manusia.”
· Gus Baha’ (kiai zaman now): “Ghibah itu yang paling gampang mindahin pahala lo ke orang lain.”
· Ustadz Adi Hidayat: “Jaga lisan itu fondasi akhlak Qur’ani.”

---

Kesimpulan:
Jaga lisan itu investasi akhirat. Mending diam daripada nyakitin orang. Kalo mau ngomong, pastikan itu bermanfaat, bukan malah ngerusak.

Mau versi lebih ringkas (1 halaman), versi khutbah Jumat, atau versi buku bab khusus? Tinggal bilang, insyaAllah aku susunin! 😊

Tidak ada komentar: