🕋 KEMATIAN IBLIS DAN KEHIDUPAN PARA SYUHADA’
Refleksi atas Tiupan Sangkakala dan Hakikat Kehidupan Setelah Kematian
Oleh: M. Djoko Ekasanu
Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan kepada Israfil agar meniup sekali lagi untuk mematikan. Maka Israfil meniup (sangkala itu) dan ia berkata: “Hai ruh-ruh yang telanjang, keluarlah dengan perintah Allah Ta’ala.” Lalu binasalah ruh itu, akhirnya matilah seluruh penduduk langit dan bumi kecuali makhluk yang dikehendaki oleh Allah. Ada yang mengatakan, mereka itu adalah para syuhada’, maka sesungguhnya mereka (para syuhada’) itu hidup di dekat Tuhan mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati: bahkan (sebenarnya) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al Baqarah: 154)
Didalam hadits diriwayatkan, dari Nabi saw.: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu memuliakan pada para syuhada” lima kemuliaan, dan Allah tidak pernah memuliakan dengan lima kemuliaan itu pada seseorang, dan aku tidak (termasuk) salah satu yang menerima kemuliaan itu.”
Pertama: Sesungguhnya ruhnya para Nabi itu dicabut oleh malaikat maut, dan aku (Muhammad) demikian juga. Sedangkan ruhnya para syuhada’ itu dicabut oleh Allah Ta’ala.
Kedua: Sesungguhnya para Nabi itu dimandikan setelah kematiannya, dan aku, demikian juga. Sedangkan para syuhada’ itu tidak dimandikan (ketika matinya).
Ketiga: Sesungguhnya para Nabi itu (matinya) dikafani, dan aku, demikian juga. Sedangkan para syuhada’ itu matinya tidak dikafani.
Keempat: Sesungguhnya para Nabi itu (matinya) dinamakan dengan nama “mati”, dan aku, demikian juga. Dikatakan: Telah mati (meninggal) Nabi Muhammad saw., sedangkan para syuhada’ itu hidup, tidak dinamakan (kematiannya) itu dengan nama “mati”, tetapi dikatakan hidup.
Kelima: Sesungguhnya para Nabi itu sama memberi syafa’at di hari kiamat, dan aku, demikian juga. Sedangkan para syuhada’ itu memberi syafa’at setiap hari sampai pada hari kiamat.
Dan dikatakan didalam maknanya lafazh: “Illaa man SyaAllaah” yakni: yang tersisa ada jiwa 12 jiwa yaitu : Jibril, Israfil, Mikail Izrail as dan delapan malaikat yang membawa ‘Arasy.
Maka tetaplah dunia, dengan tanpa manusia, tanpa ada jin, tanpa ada setan dan tanpa ada bintang liar. Kemudian Allah Ta’ala berfirman: Hai malaikat maut, sesungguhnya Aku menjadikan kamu menurut hitungannya para makhluk yang pertama sampai para makhluk yang terakhir, sebagai pembantu, dan Aku menjadikanmu memiliki kekuatannya penduduk langit dan bumi, sesungguhnya Aku memakaikan kamu pada hari ini dengan pakaian kemurkaan, maka turunlah dengan (membawa) kemurkaan-Ku dan cemeti-Ku kepada Iblis laknatullahi alaihi, berilah rasa kematian pada Iblis, bawalah pahitnya rasa mati (dari) makhluk yang dulu sampai makhluk yang terakhir kepada Iblis, dari jin dan manusia dengan dilipatgandakan, dan hendaklah yang menyertaimu itu dari malaikat Zabaniyah sebanyak 70.000, setiap seorang malaikat (membawa) rantai dari beberapa rantainya heraka Lazha kemudian Izrail memanggil-manggi malaikat agar membukakan seluruh pintu neraka, maka turunlah malaikat maut dengan membukakan pintu neraka. Turunnya malaikat maut itu dengan bentuk yang sebenarnya. Jikalau penduduk langit dan bumi yang ketujuh Ini melihat kepadanya, pasti mereka semua akan mati (karena bentuknya yang menakutkan). Lalu datanglah Izrail kepada Iblis kemudian memegangi iblis dengan pegangan yang kuat maka tiba-tiba iblis itu binasa, dan iblis itu mempunyai suara (rintihan) yang mengerikan, kalau sekiranya penduduk langit dan bumi mendengar suara (rintihannya) Iblis pasti sama binasa (mati), yang (disebabkan) dari suara itu. Lalu malaikat maut (Izrail) berkata: “Hai (makhluk) yang kotor, pasti akan aku rasakan kepadamu (sakitnya) kematian pada hari ini. Berapa dari umur yang kamu dapat? Dan berapa golongan yang kamu sesatkan?”
Kemudian iblis ini berlari ke arah timur, maka tiba-tiba malaikat sudah ada didekatnya. Terus menerus malaikat datang, dimana Iblis berlari itu, kemudian iblis berdiri di tengah-tengah dunia didekat kuburnya Nabi Adam as. seraya berkata: “Hai anak Adam, dari (sebab) arahmu aku menjadi makhluk yang diranjam dan dilaknati serta ditolak.” Maka ia berkata (lagi): “Hai malaikat maut, dengan gelas mana kamu memberi minuman aku? Dan dengan siksa apa kamu mencabut ruhku?” Maka malaikat Izrail berkata: “Dengan gelas minumannya neraka Lazha dan neraka sa’ir” Dan Iblis itu jatuh bangun di atas tanah, sehingga ketika (sampai) di suatu tempat dimana Iblis waktu itu diturunkan, dilaknati ditempat itu juga kemudian Zabaniyah benar-benar menikam kepada Iblis dengan beberapa tumbak, Zabaniyah mengambil Iblis lalu menikamnya lagi (dengan tumbak), maka pada akhirnya iblis itu tetap dalam keadaan naza’ dan sakaratul maut. Sesuatu yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala.
Ringkasan Redaksi Asli
Kisah ini menguraikan peristiwa akhir zaman ketika malaikat Israfil meniup sangkakala kedua kali untuk mematikan seluruh makhluk hidup. Tiupan itu menyebabkan seluruh penduduk langit dan bumi mati, kecuali makhluk yang Allah kehendaki: Jibril, Mikail, Israfil, Izrail, dan delapan malaikat pemikul ‘Arasy.
Namun, para syuhada’ tetap hidup di sisi Tuhan mereka, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 154.
Diceritakan pula keistimewaan lima kemuliaan syuhada’ dibanding para nabi, serta akhir kehidupan Iblis yang dicabut nyawanya oleh malaikat Izrail dengan azab yang sangat dahsyat.
Latar Belakang Masalah di Zamannya
Pada masa Rasulullah ﷺ, sebagian orang meragukan kehidupan setelah mati. Banyak pula yang beranggapan bahwa kematian adalah akhir dari segalanya. Maka turunlah ayat-ayat dan hadis yang menjelaskan hakikat kematian, kebangkitan, serta kemuliaan para syuhada’.
Kisah ini juga muncul di kalangan ulama salaf untuk menggugah kesadaran manusia agar tidak tertipu oleh kehidupan dunia yang fana dan untuk memperingatkan akan datangnya hari yang pasti — hari tiupan sangkakala.
Sebab Terjadinya Masalah
Manusia sering melupakan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Mereka menyangka kematian adalah ketiadaan mutlak, padahal kematian hanyalah perpindahan ke alam yang lebih hakiki. Kisah ini hadir sebagai peringatan agar manusia kembali pada kesadaran tauhid dan tidak mengikuti langkah Iblis yang angkuh menolak perintah Allah.
Intisari Masalah
- Kehidupan setelah kematian adalah nyata.
- Syuhada’ tidak mati, tetapi hidup di sisi Allah.
- Iblis akhirnya mengalami kematian yang paling pedih.
- Tiupan sangkakala menjadi awal kehancuran seluruh alam.
Maksud dan Hakikat
Hakikat dari kisah ini bukan sekadar gambaran akhir zaman, melainkan peringatan ruhani bahwa kekuasaan Allah meliputi hidup dan mati.
Para syuhada’ menjadi lambang kehidupan abadi karena keikhlasan mereka. Sebaliknya, Iblis menjadi simbol kehancuran kesombongan dan penentangan terhadap perintah Ilahi.
Tafsir dan Makna dari Judul
“Kematian Iblis dan Kehidupan Para Syuhada” bermakna bahwa kematian bukanlah kehancuran, tetapi pembuka tabir bagi hakikat abadi.
Kehidupan para syuhada’ adalah kehidupan nurani di sisi Allah. Sedangkan kematian Iblis adalah kematian kehinaan, simbol hancurnya kebatilan di hadapan kebenaran.
Tujuan dan Manfaat
- Menguatkan keyakinan terhadap hari akhir.
- Mendidik jiwa agar menjauhi kesombongan Iblis.
- Mengajak pembaca meneladani keikhlasan para syuhada’.
- Menyadarkan bahwa hidup bukan untuk menumpuk dunia, tetapi menyiapkan diri menghadapi kematian yang pasti.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
-
QS. Al-Baqarah: 154
“Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah bahwa mereka mati; bahkan mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”
-
QS. Az-Zumar: 68
“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan siapa yang di bumi kecuali siapa yang Allah kehendaki.”
-
Hadis Riwayat Muslim:
“Sesungguhnya Allah menghidupkan kembali makhluk-Nya setelah tiupan kedua, lalu mereka berdiri menanti keputusan Tuhannya.”
Analisis dan Argumentasi
Kisah ini mengandung kedalaman teologis:
- Tiupan Israfil adalah simbol kehendak mutlak Allah dalam mengatur hidup dan mati.
- Syuhada’ hidup secara ruhani, menunjukkan bahwa kehidupan sejati adalah kehidupan spiritual.
- Kematian Iblis melambangkan kehancuran ego, kesombongan, dan maksiat yang menolak kebenaran.
Secara sufistik, kematian bukanlah akhir, melainkan perjumpaan dengan Kekasih Sejati (Allah Ta’ala). Maka bagi orang yang beriman, kematian adalah awal dari keindahan, bukan ketakutan.
Relevansi Saat Ini
Di masa kini, manusia lebih takut kehilangan dunia daripada takut kehilangan iman.
Kisah ini menjadi cermin bagi masyarakat modern yang terbuai oleh materi dan melupakan ruh.
Kematian Iblis mengajarkan bahwa keangkuhan dan keserakahan akan berakhir dengan kehinaan, sedangkan keikhlasan dan pengorbanan akan membawa kehidupan abadi.
Hikmah
- Mati adalah kepastian; hanya amal yang akan tinggal.
- Ruh yang suci akan tetap hidup di sisi Allah.
- Kesombongan adalah akar kehancuran.
- Syahid bukan sekadar mati di medan perang, tapi setiap pengorbanan yang tulus demi kebenaran.
Muhasabah dan Caranya
- Setiap malam, tanyakan pada diri sendiri: “Jika malam ini adalah malam terakhirku, apa yang aku bawa kepada Allah?”
- Setiap amal, niatkan karena Allah semata, bukan untuk pujian.
- Setiap doa, sertakan rasa takut dan harap, karena kehidupan adalah titipan.
- Setiap dosa, segera bertobat, karena tiupan sangkakala tidak menunggu.
Doa
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ إِذَا مَاتُوا فَهُمْ أَحْيَاءٌ عِنْدَكَ رُزِقُوا مِنْ فَضْلِكَ
“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang apabila mati, mereka tetap hidup di sisi-Mu, diberi rezeki dari karunia-Mu.”
Nasehat Para Sufi
-
Hasan Al-Bashri:
“Kematian adalah tamu yang pasti datang, maka siapkanlah hidangan amal yang terbaik baginya.” -
Rabi‘ah al-Adawiyah:
“Aku tidak takut mati, karena di sana aku akan berjumpa dengan Kekasihku.” -
Abu Yazid al-Bistami:
“Barang siapa mengenal dirinya fana, maka dia hidup dengan kehidupan yang kekal.” -
Junaid al-Baghdadi:
“Kematian adalah pakaian yang dijahit sesuai amalmu.” -
Al-Hallaj:
“Kematian bukan lenyap, tapi lahirnya kehidupan yang sejati.” -
Imam al-Ghazali:
“Orang berakal adalah yang menyiapkan bekal sebelum dipanggil.” -
Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
“Matikan dirimu dari hawa nafsu, sebelum engkau dimatikan oleh Izrail.” -
Jalaluddin Rumi:
“Kematian adalah pintu menuju pesta pertemuan dengan Sang Kekasih.” -
Ibnu ‘Arabi:
“Tiada kematian, hanya perubahan bentuk keberadaan.” -
Ahmad al-Tijani:
“Barang siapa mengenal kematian sebagai anugerah, dia akan hidup dalam ketenangan sebelum mati.”
Daftar Pustaka
- Al-Qur’an al-Karim
- Shahih Muslim
- Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
- Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
- Maqamat al-Sufiyyah – Junaid al-Baghdadi
- Mathnawi Ma’nawi – Jalaluddin Rumi
- Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi
- Riwayat Hikmah Hasan al-Bashri dan Rabi‘ah al-Adawiyah
Ucapan Terima Kasih
Segala puji bagi Allah yang menurunkan Al-Qur’an sebagai cahaya penunjuk bagi hati.
Terima kasih kepada para guru ruhani, para ulama, dan pembaca yang senantiasa mencari hikmah di balik setiap ayat dan kisah.
Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah bagi penulis dan pembacanya.
Oke, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai tapi tetap sopan dan menghormati konten religiusnya. ✨
---
🕋 KEMATIAN IBLIS & HIDUPNYA PARA SYUHADA’
Refleksi: Tiupan Sangkakala dan Rahasia Hidup Setelah Mati
Oleh: M. Djoko Ekasanu
Versi: Santai & Easy to Digest
Jadi gini, ceritanya Allah SWT kasih perintah ke Malaikat Israfil buat tiup sangkakala yang kedua kalinya—yang bikin semuanya bye-bye. Israfil pun niup sambil bilang: “Eh para ruh yang lagi no cover, keluar kalian atas perintah Allah!” Langsung deh, semua ruh pada cabut. Mati total semua yang di langit dan bumi, kecuali yang Allah kasih free pass. Katanya sih, yang dikecualiin itu para syuhada’. Mereka itu literally hidup di sisi Tuhan, sesuai firman-Nya:
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati: bahkan (sebenarnya) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al Baqarah: 154)
Nah, di hadits juga disebutin, Rasulullah ﷺ bilang: “Allah kasih lima privilege khusus buat para syuhada’, yang bahkan nggak dikasih ke siapa pun—termasuk gue.”
Apa aja lima privilege-nya? Cek ini:
1. Urusan Cabut Nyawa: Para Nabi dicabut nyawanya sama Malaikat Maut, termasuk Nabi Muhammad. Tapi para syuhada’? Langsung sama Allah sendiri. Levelnya beda!
2. Urusan Mandi: Para Nabi dimandikan pas udah wafat, Nabi Muhammad juga. Tapi syuhada’? Enggak usah dimandikan. They’re good to go.
3. Urusan Kafan: Para Nabi dikafanin, Nabi Muhammad juga. Tapi syuhada’? Langsung packing tanpa kafan.
4. Status “Hidup” atau “Mati”: Para Nabi disebut “wafat” atau “meninggal”. Tapi syuhada’? Mereka tetap alive di sisi Allah, jadi jangan bilang mereka mati.
5. Bisa Kasih Syafaat: Para Nabi bisa kasih syafaat di hari kiamat, termasuk Nabi Muhammad. Tapi syuhada’? Bisa kasih syafaat every single day sampe kiamat. Beneran full-time syafaat!
Oya, tentang yang dikecualiin tadi (“Illaa man Syaa Allah”), konon yang masih hidup waktu itu cuma 12 jiwa: Jibril, Israfil, Mikail, Izrail, plus 8 malaikat lagi yang lagi duty angkut ‘Arasy.
Jadilah dunia sepiiii banget. Nggak ada manusia, jin, setan, atau bintang liar. Lalu Allah bilang ke Malaikat Maut (Izrail): “Hai Izrail, dulu Aku bikin lo jadi assistant buat urus nyawa semua makhluk dari yang pertama sampe yang terakhir. Aku kasih lo kekuatan buat urus penduduk langit dan bumi. Nah, hari ini Aku kasih lo outfit kemurkaan. Turun lo bawa kemurkaan-Ku plus cemeti-Ku, temuin Iblis yang terkutuk itu. Kasih dia rasa mati—rasa pahit matinya semua makhluk dari dulu sampe sekarang, lo kumpulin semua, lo tunjukin ke dia, lo lipat gandakan. Bawa 70.000 malaikat Zabaniyah, bawa rantai dari neraka Heraka Lazha, buka semua pintu neraka!”
Izrail pun turun dengan wujud aslinya yang super intense. Kalau aja penduduk langit dan bumi liat, bisa collapse semua. Dia dateng ke Iblis, pegang kuat-kuat, dan Iblis langsung ngos-ngosan. Rintihannya ngeri banget—kalau ada yang dengar, bisa mati semua. Izrail bilang: “Eh makhluk kotor! Hari ini gue kasih lo rasa mati. Berapa umur yang lo pake? Berapa banyak orang yang lo sesatin?”
Iblis kabur ke timur, eh malaikat udah nunggu. Ke barat, udah ada. Akhirnya dia berhenti di tengah dunia, dekat kuburan Nabi Adam. Dia ngomel: “Hai anak Adam, gara-gara lo gue jadi dikutuk dan dirajam!” Lalu dia nanya ke Izrail: “Lo mau kasih minum gue pake gelas apa? Mau cabut nyawa gue pake siksaan apa?” Izrail jawab: “Pake gelas neraka Lazha dan Sa’ir!”
Iblis jatuh bangun, sampe akhirnya dia balik ke tempat dia dulu diturunin dan dikutuk. Zabaniyah langsung serang pake tombak. Ditusuk sekali, dua kali… Iblis tetap naza’ dan sakaratul maut, sampe Allah kasih final call.
---
📌 Ringkasan Versi Santai:
· Tiupan sangkakala kedua bikin semuanya mati, kecuali yang Allah kasih special pass: Jibril, Mikail, Israfil, Izrail, + 8 malaikat pembawa ‘Arasy.
· Tapi para syuhada’ tetep hidup di sisi Allah—mereka nggak mati, cuma kita yang nggak nyadar.
· Iblis akhirnya mati juga, dengan cara yang super painful dan direstui sama Allah.
---
🎙️ Latar Belakang & Konteks Zaman Dulu
Dulu pas zaman Rasulullah ﷺ, banyak yang masih ragu sama kehidupan setelah mati. Ada yang mikir mati ya udah, finish. Makanya turun ayat dan hadits yang jelasin: hidup setelah mati itu beneran ada, dan syuhada’ itu hidup abadi di sisi Allah.
Kisah ini juga sering diceritain ulama jaman dulu buat ngingetin kita: jangan sampe keasyikan dunia sampe lupa akhirat.
---
🧠 Intisari & Makna
· Hidup setelah mati itu real.
· Syuhada’ itu hidup, bukan mati.
· Iblis akhirnya mati juga dengan cara yang nggak enak.
· Tiupan sangkakala = tanda dunia reset.
· Hakikatnya: Allah yang pegang kendali hidup-mati. Jangan sombong, jangan ikutin Iblis.
---
💡 Relevansi Buat Kita Sekarang
Sekarang banyak yang takut miskin, takut nggak populer, takut nggak punya followers… tapi lupa takut sama akhirat. Kisah ini ngingetin: yang abadi itu amal, bukan harta atau jabatan.
Iblis = simbol kesombongan. Syuhada’ = simbol pengorbanan tulus. Pilih yang mana?
---
🕊️ Hikmah Buat Hidup Sehari-hari
· Mati itu pasti, yang beda cuma amalnya.
· Ruh yang bersih tetap hidup dekat sama Allah.
· Jauhin sombong, deketin ikhlas.
· Syahid nggak cuma di medan perang, tapi juga setiap kali kita berkorban demi kebenaran.
---
📖 Dalil Pendukung
· QS. Al-Baqarah: 154 — jangan bilang syuhada’ mati.
· QS. Az-Zumar: 68 — tiupan sangkakala, mati semua kecuali yang Allah kehendaki.
· Hadits Muslim — Allah hidupkan lagi makhluk-Nya setelah tiupan kedua.
---
🫂 Muhasabah Diri (Cara Ngecek Hati)
· Sebelum tidur, tanya diri: “Kalau malam ini terakhir, apa yang udah gue siapin buat ketemu Allah?”
· Niatin semua amal karena Allah, bukan biar dipuji.
· Setiap baca doa, tambahin rasa takut dan harap.
· Kalau salah, buruan tobat. Jangan nunggu tua.
---
🙏 Doa Penutup
Allahumma-j’alna minal ladzina idza matu fa hum ahyā’un ‘indaka, urzuqu min fadhlika.
“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang yang kalo udah mati, tetap hidup di sisi-Mu, dikasih rezeki dari karunia-Mu.”
---
💬 Nasehat Sufi Singkat Buat Anak Zaman Now
· Hasan Al-Bashri: “Mati itu tamu pasti dateng. Siapin hidangan terbaik: amal.”
· Rabi’ah al-Adawiyah: “Gue nggak takut mati, soalnya di sana ketemu Kekasih.”
· Jalaluddin Rumi: “Mati itu pintu masuk pesta ketemu Sang Kekasih.”
· Imam Al-Ghazali: “Orang pinter itu yang siapin bebas sebelum dipanggil.”
---
Semoga versi ini bikin kita makin sadar: hidup cuma sebentar, yang abadi cuma sama Dia.
Stay humble, stay faithful! ✌️😊
Terima kasih buat semua guru dan kalian yang mau baca & renungi.
Semoga jadi amal jariyah buat kita semua. Aamiin.
------

No comments:
Post a Comment