kupas tipis tipis Kitab Durratun nashihin karya : Umar bin Haaan bin Ahmad al-Syakir al-Khaubari.
Bab 14. Keutamaan cinta kepada Allah dan Rasulnya.
Dari Aisyah ra., katanya : “Barangsiapa mencintai Allah Taala, maka dia akan memperbanyak dzikrullah (mengingat Allah), dan buahnya adalah bahwa, Allah akan mengingatnya dengan rahmat dan ampunan-Nya, serta memasukkannya ke dalam surga bersama-sama para nabi dan wali-Nya, dan memuliakannya dengan melihat Jamal-Nya. Dan barangsiapa mencintai Nabi saw. maka dia akan memperbanyak membaca salawat untuknya, dan buahnya adalah dia akan memperoleh syafaat Beliau dan akan menemani Beliau di dalam surga”. (Demikian disebutkan di dalam kitab Jami’ush Shaghir).
Dari sahabat Anas ra., dari Nabi saw. sabdanya :
Artinya : “Barangsiapa mencintai sunnahku maka dia telah mencintaiku, dan siapa yang mencintaiku, dia akan berada bersamaku di dalam surga”.
Siapa yang ingin memperoleh kesempatan melihat Nabi saw. maka hendaklah dia mencintai Beliau dengan sepenuh hatinya. Dan tanda-tanda cinta kepada Beliau itu adalah dengan mematuhi segala sunnahnya yang mulia dan memperbanyak membaca salawat untuk Beliau saw. Sesuai dengan sabda Nabi saw. :
Artinya : “Barangsiapa mencintai sesuatu niscaya dia akan banyak menyebutnya”. (Diriwayatkan di dalam kitab Al Firdaus).
.......
📖 Kitab
Karya:
Kitab ini termasuk kitab nasihat (mau‘izhah) yang menyentuh hati. Isinya banyak memuat riwayat tentang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, dorongan memperbanyak dzikir dan shalawat, serta janji-janji kemuliaan di akhirat.
Di antara yang disebutkan:
- Siapa mencintai Allah → banyak berdzikir.
- Buah dzikir → diingat Allah dengan rahmat dan ampunan.
- Siapa mencintai Nabi ﷺ → banyak bershalawat.
- Buah shalawat → syafaat dan kebersamaan dengan beliau di surga.
- “Barangsiapa mencintai sunnahku, ia mencintaiku.”
Ini bukan sekadar teori cinta, tapi indikator ruhani (tanda batin).
🌿 TAUZIAH TASYAWUF: CINTA YANG HIDUP DI ERA DIGITAL
1️⃣ Cinta Itu Melahirkan Ingatan
Allah berfirman:
“Fadzkuruni adzkurkum” — “Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian.”
(QS. Al-Baqarah: 152)
Dalam hadits qudsi:
“Aku sesuai persangkaan hamba-Ku… jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku…”
(HR. Bukhari-Muslim)
Tasawuf mengajarkan: dzikir adalah bukti cinta, bukan sekadar lafaz.
Hari ini:
- Kita bangun tidur → cek notifikasi.
- Kita berjalan → scroll media sosial.
- Kita menunggu → buka layar.
Pertanyaan muhasabah:
Berapa kali hati ini menyebut Allah dibanding menyebut manusia?
Jika cinta kita pada Allah benar, maka di sela teknologi, hati tetap berdzikir.
2️⃣ Shalawat di Zaman Komunikasi Super Cepat
Nabi ﷺ bersabda:
“Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”
(HR. Muslim)
Di zaman pesan instan, video call, AI, transportasi cepat — komunikasi makin mudah.
Namun apakah kita menggunakan kecanggihan itu untuk memperbanyak shalawat?
Bayangkan:
- Status WhatsApp berisi shalawat.
- Konten media sosial berisi sunnah.
- Grup keluarga dihiasi dzikir.
Inilah tazkiyatul nufus versi modern: membersihkan hati lewat teknologi, bukan dikotori olehnya.
3️⃣ Cinta Itu Taat, Bukan Sekadar Klaim
Nabi ﷺ bersabda:
“Barangsiapa mencintai sunnahku, ia mencintaiku. Dan siapa mencintaiku, ia bersamaku di surga.”
Allah berfirman:
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”
(QS. Ali Imran: 31)
Tasawuf menekankan:
- Cinta bukan rasa.
- Cinta adalah ittiba’ (mengikuti).
Di era modern:
- Kedokteran maju, tapi adab makan sunnah dilupakan.
- Transportasi cepat, tapi shalat ditunda.
- Informasi luas, tapi akhlak sempit.
Muhasabah:
Apakah kemajuan membuat kita makin dekat atau makin lalai?
4️⃣ Buah Cinta: Surga & Melihat Jamal Allah
Dalam riwayat disebutkan:
Orang yang mencintai Allah akan dimasukkan bersama para nabi dan wali serta dimuliakan dengan melihat Jamal-Nya.
Allah berfirman:
“Wujuhun yaumaidzin nadhirah, ila Rabbiha nadhirah.”
(QS. Al-Qiyamah: 22–23)
Inilah puncak kenikmatan: ru’yatullah (melihat Allah).
Bukan teknologi. Bukan kekayaan. Bukan followers.
Tapi perjumpaan dengan-Nya.
🌎 Relevansi Sosial Hari Ini
Di tengah:
- AI yang makin cerdas
- Transportasi super cepat
- Kedokteran yang memperpanjang usia
- Komunikasi tanpa batas
Tasawuf mengingatkan:
Yang diperpanjang bukan sekadar umur, tapi kualitas hati.
Jika teknologi tidak dibarengi dzikir → hati menjadi keras.
Jika ilmu tidak dibarengi shalawat → ilmu jadi sombong.
Jika kemajuan tidak dibarengi sunnah → hidup jadi hampa.
🌿 Keutamaan Dzikir & Shalawat
🌸 Keutamaan Dzikir
- Mendatangkan ketenangan (QS. Ar-Ra’d: 28)
- Menghapus dosa (HR. Tirmidzi)
- Dikelilingi malaikat (HR. Muslim)
- Mendapat ampunan dan pahala besar (QS. Al-Ahzab: 35)
🌸 Keutamaan Shalawat
- Didoakan Allah 10 kali
- Diangkat 10 derajat
- Dihapus 10 kesalahan
- Mendapat syafaat Nabi ﷺ
🪞 Muhasabah Jiwa
Tanyakan pada diri:
- Apakah lisanku lebih sering menyebut brand atau menyebut Allah?
- Apakah aku lebih bangga dengan gadget daripada dengan sunnah?
- Jika Nabi ﷺ melihat timeline hidupku, apakah beliau tersenyum atau menangis?
Tasawuf bukan lari dari dunia.
Tasawuf adalah menjadikan dunia sebagai jalan menuju Allah.
🤲 Doa
Ya Allah…
Tanamkan dalam hati kami cinta kepada-Mu yang melebihi cinta kepada dunia dan isinya.
Jadikan lisan kami basah dengan dzikir.
Hiasi waktu kami dengan shalawat kepada Nabi-Mu.
Jangan Engkau jadikan teknologi sebagai hijab antara kami dan Engkau.
Bersihkan hati kami dari riya, ujub, dan cinta dunia.
Satukan kami kelak bersama Rasul-Mu di surga-Mu, dan anugerahkan kami kenikmatan memandang Jamal-Mu.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Terima kasih telah meminta tausiyah ini.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang benar-benar mencintai-Nya, bukan hanya mengaku mencintai-Nya. 🌿
Siap, njenengan. Ini versi bahasanya yang lebih santai, tetap sopan, dan nggak mengurangi isi penting dari kitab Durratun Nashihin. Kita kupas tuh, tips tipis-tipsis:
(Pembukaan ala Kita)
Guys, lagi ngobrolin kitab nasihat klasik yang dalem banget, judulnya Durratun Nashihin karya Umar bin Ahmad al-Khaubari. Isinya itu, nahas-nahas (pas) banget buat hati yang lagi butuh reminder.
Gini ceritanya, ada riwayat dari Aisyah ra. yang intinya ngebahas soal cinta. Simak ya:
"Barangsiapa mencintai Allah Taala, maka dia akan memperbanyak dzikrullah (mengingat Allah), dan buahnya adalah bahwa, Allah akan mengingatnya dengan rahmat dan ampunan-Nya, serta memasukkannya ke dalam surga bersama-sama para nabi dan wali-Nya, dan memuliakannya dengan melihat Jamal-Nya. Dan barangsiapa mencintai Nabi saw. maka dia akan memperbanyak membaca salawat untuknya, dan buahnya adalah dia akan memperoleh syafaat Beliau dan akan menemani Beliau di dalam surga”. (Demikian disebutkan di dalam kitab Jami’ush Shaghir).
Nah, dari Anas ra., Nabi saw. juga ngasih wejangan singkat tapi dalem:
"Barangsiapa mencintai sunnahku maka dia telah mencintaiku, dan siapa yang mencintaiku, dia akan berada bersamaku di dalam surga".
Jadi inti nya, pengen deket sama Allah? Perbanyak dzikir. Pengen ketemu Nabi di surga? Cintain Beliau. Tanda cinta itu apa? Ya ngikutin sunnahnya dan perbanyak shalawat. Soalnya Nabi bilang:
"Barangsiapa mencintai sesuatu niscaya dia akan banyak menyebutnya". (Diriwayatkan di dalam kitab Al Firdaus).
---
🌿 TAUZIAH ANAK MUDA: Cinta Itu Harus Dibuktiin, Bukan Cuma Status!
1️⃣ Cinta Itu Harus Ada Buktinya, Yaitu Ingatan
Coba kita flashback, Allah bilang di QS. Al-Baqarah: 152, "Fadzkuruni adzkurkum" — "Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian." Terus ada hadits qudsi juga, "Aku sesuai persangkaan hamba-Ku…"
Dalam ilmu tasawuf, dzikir itu adalah bukti cinta, bukan cuma bacaan doang. Jadi pertanyaannya buat diri kita sendiri nih:
· Pagi-pagi bangun tidur, pertama kali kita liat apaan? Notifikasi medsos? Atau kita inget sama Yang Ngasih hidup?
· Lagi nunggu antrean, sambil scroll Tiktok atau sambil bisikin "Allah... Allah..."?
Muhasabah yuk: Di sela-sela hiruk pikuk dunia digital yang super rame ini, apakah hati dan lisan kita masih sempet nyebut nama Allah? Atau malah kita lebih sering nyebut nama orang, nama brand, atau drama orang lain?
2️⃣ Shalawat di Timeline, Bukan Cuma di Majelis
Nabi ﷺ bilang: "Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali." (HR. Muslim)
Keren banget kan? Di zaman now, teknologi makin canggih, komunikasi makin gampang. Kita bisa chat, video call, upload story kapan aja. Nah, kenapa kita nggak manfaatin ini buat hal yang mantul (mantap betul)?
Bayangin aja:
· Status WA diisi shalawat, bukan cuma link berita hoax.
· Konten IG atau TikTok berisi konten dakwah atau minimal ngingetin sunnah.
· Grup keluarga isinya saling bershalawat, bukan cuma nyebarin stiker lucu doang.
Itu baru namanya tazkiyatul nufus versi 4.0: ngebersihin hati lewat teknologi, bukannya malah kotor gara-gara teknologi.
3️⃣ Cinta Itu Taat, Bukan Cuma "Fans"
Nabi bilang, "Barangsiapa mencintai sunnahku, ia mencintaiku. Dan siapa mencintaiku, ia bersamaku di surga."
Allah juga udah ngasih rumus di QS. Ali Imran: 31, "Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian."
Jadi, cinta itu bukan cuma rasa di hati. Cinta itu ittiba', ngikutin jejaknya. Di era yang serba canggih ini, kita harus makin cerdas:
· Kedokteran makin maju, tapi jangan lupa adab makan sunnah, kayak makan pakai tangan kanan, duduk, trus baca doa.
· Transportasi makin cepet, tapi jangan sampai bikin kita lalai shalat. Mampir dulu di pom bensin buat shalat, bukan cuma isi bensin buat mobil.
· Informasi melimpah dari medsos, tapi akhlak kita jangan sampai ketinggalan jaman. Tetaplah santun dan rendah hati.
4️⃣ Goal Akhir Cinta: Surga & Melihat Langsung "Jamal"-Nya
Di akhirat nanti, ada kabar gembira buat yang beneran cinta: Allah izinin kita liat Wajah-Nya yang Maha Indah. QS. Al-Qiyamah: 22–23 udah ngegambarin, "Wujuhun yaumaidzin nadhirah, ila Rabbiha nadhirah." (Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, memandang Tuhannya).
Ini dia puncaknya, bukan soal teknologi, kekayaan, atau jumlah followers. Tapi soal ru'yatullah, perjumpaan abadi dengan Yang Dicinta. Gas poll!
---
🪞 Renungan Singkat di Akhir Zaman
Di tengah gemerlapnya dunia yang serba canggih: AI pinter, kereta cepet, umur makin panjang, komunikasi makin gampang, tapi satu hal yang harus kita inget:
Yang diperpanjang bukan cuma umur, tapi kualitas hati. Kalau teknologi nggak dibarengi dzikir, hati bakal keras kayak batu. Kalau ilmu nggak dibarengi shalawat, ilmu bisa bikin sombong. Kalau kemajuan nggak dibarengi sunnah, hidup rasanya hampa.
🪞 Tanya Diri Sendiri (No Debat!)
· Apakah aku lebih sering buka Instagram daripada buka Al-Qur'an?
· Apakah aku lebih hafal merek gadget daripada hafal sunnah-sunnah Nabi?
· Seandainya Nabi ﷺ liat timeline hidup aku hari ini, kira-kira Beliau tersenyum atau sedih, ya?
🤲 Doa Singkat
Ya Allah, tanemin di hati kita cinta sejati sama Engkau, yang lebih dalem dari cinta kita ke dunia dan semua isinya. Bikin lisan kita basah sama dzikir, dan waktu-waktu kita dipenuhi shalawat buat Nabi Muhammad ﷺ. Jangan sampe teknologi malah jadi penghalang kita sama Engkau. Bersihin hati kita dari pamer, sombong, dan cinta dunia. Kumpulin kita kelak sama Nabi kita di surga, dan kasih kita nikmat paling top: bisa liat Wajah-Mu yang Maha Indah. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
Makasih ya udah ngajak ngobrolin kitab keren ini. Semoga kita semua bukan cuma ngaku cinta, tapi beneran dibuktiin lewat dzikir dan shalawat. Santuy aja, tapi tetep istiqomah. ✨
......

No comments:
Post a Comment