Wednesday, February 25, 2026

977. Meninggalkan Apa yang Tidak Berguna.

 


kitab Hadits Arbain Nawawi (Karya Yahya bin Syaraf An-Nawawi atau Imam Nawawi ).

Hadits ke-12 Tinggalkan Apa yang Tidak Berguna


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ» حديثٌ حسنٌ، رواه الترمذي وغيره هكذا.


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata :Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.” Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan selainnya seperti itu.

[Shahih: Sunan at-Tirmidzi (no. 2317), Sunan Ibnu Majah (no. 3976)]

........

📖 Meninggalkan Apa yang Tidak Berguna


Rasulullah ﷺ bersabda:
“Di antara bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.”
(HR. no. 2317, Ibnu Majah no. 3976)


🌿 Membersihkan Hati di Tengah Dunia yang Bising

Saudaraku yang dirahmati Allah…

Kita hidup di zaman yang luar biasa.
Teknologi semakin canggih. Komunikasi semakin cepat. Transportasi semakin mudah. Kedokteran semakin maju.

Namun…
Mengapa hati semakin gelisah?
Mengapa pikiran semakin penuh?
Mengapa waktu terasa habis tanpa makna?

Di sinilah hadits ini menjadi cahaya.

✨ 1. Makna Tasawufnya: Fokus pada yang Mengantarkan kepada Allah

Dalam perspektif tazkiyatul nufus, “meninggalkan yang tidak berguna” bukan sekadar soal perkara haram atau makruh.

Tetapi juga:

  • Percakapan yang sia-sia
  • Perdebatan tanpa hikmah
  • Scroll media sosial tanpa tujuan
  • Rasa ingin tahu berlebihan pada urusan orang lain
  • Pikiran yang terus membandingkan hidup dengan orang lain

Allah berfirman:

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman… dan mereka menjauhkan diri dari (perkataan dan perbuatan) yang tidak berguna.”
(QS. , Al-Mu’minun: 1–3)

Orang beriman bukan hanya meninggalkan dosa.
Tetapi meninggalkan kesia-siaan.


📱 2. Di Era Digital: Ujian Terbesar Bukan Kurang Ilmu, Tapi Kurang Fokus

Hari ini:

  • Kita bisa tahu berita dunia dalam hitungan detik.
  • Bisa video call lintas negara.
  • Bisa pesan makanan tanpa keluar rumah.
  • Bisa konsultasi medis online.

Semua ini nikmat.

Namun, apakah hati kita ikut naik bersama kemajuan itu?
Ataukah justru tertinggal?

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah membenci bagimu: banyak berkata sia-sia, banyak bertanya yang tidak perlu, dan menyia-nyiakan harta.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Betapa banyak waktu habis untuk komentar yang tak perlu.
Betapa banyak energi terkuras untuk urusan yang bukan tanggung jawab kita.

Padahal umur terus berkurang…


🧠 3. Penyakit Hati Modern

Dalam tasawuf, hati yang kotor bukan hanya karena maksiat.
Tetapi juga karena terlalu banyak hal yang tidak penting masuk ke dalamnya.

  • Iri melihat pencapaian orang
  • Cemas karena standar sosial media
  • Sibuk mengurusi hidup orang lain
  • Terlalu reaktif pada opini

Allah mengingatkan:

“Pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS. Al-Isra’: 36)

Setiap klik…
Setiap tontonan…
Setiap komentar…
Akan ditanya.


🌌 4. Hadis Qudsi: Hati yang Terhubung pada Allah

Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya engkau tidak akan sampai kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan atasmu. Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya…”
(HR. Bukhari)

Artinya:
Yang berguna itu adalah yang mendekatkan kepada Allah.

Bukan sekadar ramai.
Bukan sekadar viral.
Bukan sekadar trending.

Yang berguna adalah yang membuat hati makin lembut.
Yang membuat shalat makin khusyuk.
Yang membuat akhlak makin halus.


🕊 5. Muhasabah: Apakah Islam Kita Sudah “Indah”?

Rasulullah ﷺ tidak mengatakan:
“Di antara sahnya Islam…”

Beliau mengatakan:
“Di antara bagusnya Islam…”

Berarti ada level keindahan.

Tanya pada diri kita:

  • Apakah kita masih kepo urusan orang?
  • Apakah kita masih gemar debat kusir?
  • Apakah waktu kita habis untuk hal yang tak menambah iman?

Kalau iya…
Maka inilah ladang perbaikan.


🌱 6. Harapan: Mulai dari yang Kecil

Tazkiyah tidak harus langsung besar.

Mulai dari:

  • Mengurangi komentar tak perlu
  • Mengatur waktu penggunaan gadget
  • Menghindari grup gosip
  • Membaca 1 halaman Qur’an tiap hari
  • Memperbanyak dzikir daripada scroll

Sedikit demi sedikit…
Hati akan ringan.

Dan ketika hati ringan, ibadah terasa manis.


🤲 DOA

Ya Allah…
Bersihkan hati kami dari kesia-siaan.
Jauhkan lisan kami dari perkataan yang tak bermanfaat.
Jauhkan mata kami dari pandangan yang melalaikan.

Ya Allah…
Jadikan teknologi sebagai sarana dakwah, bukan sarana kelalaian.
Jadikan umur kami penuh makna.
Jadikan setiap detik mendekatkan kami kepada-Mu.

Ya Allah…
Perindah Islam kami.
Perhalus akhlak kami.
Tenangkan hati kami.
Husnul khatimah bagi kami dan keluarga kami.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.


Terima kasih atas pertanyaannya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang Islamnya indah, bukan hanya sah. 🌿

........

Hadits Arbain Nawawi ke-12: "Meninggalkan yang Gak Berguna" (Versi Kekinian, Tetap Sopan)


Hai, sobat! Pasti udah pada tahu kan hadits populer ini?


Rasulullah ﷺ bersabda:

“Min husnil Islamil mar'i tarkuhu ma la ya'nih.”

Artinya: “Di antara bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)


---


🌿 Renungan Santuy: Bersihin Hati di Tengah Hiruk-pikuk Dunia


Gengs, kita hidup di era yang serba canggih. Internet makin cepat, medsos makin rame, info bisa diakses dalam hitungan detik. Tapi… kenapa hati malah gampang gelisah? Pikiran mumet? Waktu serasa habis gitu aja?


Nah, di sinilah hadits ini jadi penyelamat. Yuk, kita bedah santai!


---


✨ 1. Makna Mendalam: Fokus ke Hal yang Bawa Kita ke Allah


Dalam dunia tazkiyatul nufus (penyucian hati), “meninggalkan yang gak berguna” itu bukan cuma soal ninggalin dosa besar. Tapi juga:


· Ngobrol yang gak penting (gibah, gosip, debat kusir).

· Scroll medsos tanpa tujuan, sampe lupa waktu.

· Kepo urusan orang lain yang gak ada hubungannya sama kita.

· Pikiran yang gak tenang karena terus membandingkan hidup dengan orang lain.


Allah udah ngasih tahu di Al-Qur’an:


“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman… dan mereka menjauhkan diri dari (perkataan dan perbuatan) yang tidak berguna.”

(QS. Al-Mu’minun: 1–3)


Jadi, ciri orang beriman itu bukan cuma ninggalin dosa, tapi juga ninggalin hal-hal sia-sia.


---


📱 2. Zaman Now: Ujian Terbesar Bukan Kurang Ilmu, Tapi Kurang Fokus


Coba deh kita introspeksi:


· Kita bisa video call sama orang di belahan dunia lain.

· Bisa order makanan tanpa keluar rumah.

· Baca berita internasional dalam hitungan detik.


Semua nikmat banget, kan? Tapi… apa hati kita ikut tenang? Atau malah makin kacau?


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Sesungguhnya Allah membenci bagimu: banyak berkata sia-sia, banyak bertanya yang tidak perlu, dan menyia-nyiakan harta.”

(HR. Bukhari & Muslim)


Berapa banyak waktu habis buat debat di kolom komentar? Berapa banyak energi terkuras buat ngurusin hidup orang? Padahal umur kita makin berkurang…


---


🧠 3. Penyakit Hati Model Kekinian


Dalam ilmu tasawuf, hati yang kotor itu bukan cuma karena maksiat. Bisa juga karena overload informasi yang gak penting. Contohnya:


· Iri karena lihat pencapaian orang di medsos.

· Cemas karena standar hidup yang dibentuk algoritma.

· Sibuk ngomentarin hidup orang lain, lupa sama diri sendiri.

· Gampang reakti sama opini yang beda.


Allah ngelingatin:


“Pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”

(QS. Al-Isra’: 36)


Setiap klik, setiap tontonan, setiap komentar… bakal ditanya!


---


🌌 4. Hadis Qudsi: Hati yang Connect Sama Allah


Allah berfirman:


“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya engkau tidak akan sampai kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan atasmu. Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya…”

(HR. Bukhari)


Artinya sederhana: Yang bermanfaat itu ya yang bikin kita makin dekat sama Allah. Bukan yang viral, bukan yang trending. Tapi yang bikin hati adem, sholat makin khusyuk, akhlak makin lembut.


---


🕊 5. Muhasabah Yuk: Udah "Indah" Belum Islam Kita?


Rasulullah ﷺ bilang “bagusnya Islam” – bukan sekadar “sahnya Islam”. Jadi ada level keindahan.


Coba tanya diri sendiri:


· Masih suka kepo urusan orang?

· Masih suka debat gak jelas?

· Waktu lebih banyak habis buat scroll daripada baca Qur’an?


Kalau iya… saatnya benahi diri. Pelan-pelan aja, yang penting konsisten.


---


🌱 6. Langkah Kecil, Tapi Bermakna


Gak perlu langsung sempurna. Mulai dari hal simpel:


· Kurangi komentar yang gak perlu.

· Atur waktu main HP.

· Keluar dari grup yang isinya gosip.

· Luangin waktu baca Qur’an meski cuma satu halaman.

· Dzikir lebih sering daripada scroll medsos.


Sedikit demi sedikit, hati bakal terasa lebih ringan. Dan saat hati ringan, ibadah jadi terasa manis.


---


🤲 Doa Penutup


Ya Allah…

Bersihkan hati kami dari hal-hal sia-sia.

Jauhkan lisan kami dari omongan yang gak bermanfaat.

Jauhkan mata kami dari tontonan yang melalaikan.


Ya Allah…

Jadikan teknologi ini jadi sarana kebaikan, bukan kelalaian.

Berkahi umur kami, penuhi dengan makna.

Dekatkan kami kepada-Mu di setiap detik kehidupan.


Ya Allah…

Perindah Islam kami.

Perhalus akhlak kami.

Tenangkan hati kami.

Dan wafatkan kami dalam husnul khatimah.


Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.


---


Sobat, semoga kita semua termasuk orang yang Islamnya indah, bukan cuma sekadar sah. Yuk, mulai sekarang lebih selektif sama apa yang kita konsumsi, tonton, dan omongin. Karena waktu kita terbatas, dan semuanya bakal dimintai pertanggungjawaban. 🌿

......

No comments: