Bismillahirahmanirrahim.
Senin, Apr. 2025
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Buat njenengan penikmat ilmu, terkirim dari Pesantren Darul Falah oleh oleh maghriban nyantri bareng Ust. Maskuri kupas tipis tipis kitab Mashaihul Ibad (Karya Nawawi bin Umar al-Bantani Al-Jawi Al-Indunisi) Edisi 02:
..............
Dari Yahya bin Mu'adz ra:
“Orang mulia tidak berani berbuat maksiat kepada Allah dan orang yang bijaksana tidak akan mementingkan dunia atas akhirat.”
..........
BAB I: NASIHAT YANG BERISI DUA PERKARA
......
Kemuliaan Sejati dan Kebijaksanaan Hati
Menjaga Diri dari Maksiat dan Mengutamakan Akhirat
(Perspektif Tasawuf – Tazkiyatun Nufūs)
Yahya bin Mu'adz rahimahullah berkata:
"Orang mulia tidak berani berbuat maksiat kepada Allah dan orang yang bijaksana tidak akan mementingkan dunia atas akhirat."
Perkataan penuh hikmah ini mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang bukan diukur dari harta, kedudukan, keturunan, atau pujian manusia. Kemuliaan sejati adalah ketika hati dipenuhi rasa malu kepada Allah sehingga tidak berani melakukan maksiat, baik ketika berada di hadapan manusia maupun saat sendirian.
Dalam pandangan tasawuf, rasa malu (hayā') kepada Allah merupakan buah dari ma'rifat (mengenal Allah). Semakin seseorang mengenal kebesaran Allah, semakin ia menjaga hati, lisan, pandangan, dan seluruh anggota tubuhnya dari dosa.
Demikian pula, orang yang bijaksana tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Dunia hanyalah ladang untuk menanam amal, sedangkan akhirat adalah tempat memetik hasilnya. Orang yang arif menggunakan dunia sebagai sarana menuju ridha Allah, bukan menjadikan dunia sebagai sesuatu yang menguasai hatinya.
Allah Ta'ala berfirman:
"Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."
(QS. Al-A'la: 17)
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir."
(HR. Bukhari)
Seorang salik (penempuh jalan menuju Allah) senantiasa bertanya kepada dirinya, "Apakah langkah ini mendekatkanku kepada Allah atau justru menjauhkan?" Pertanyaan inilah yang menjaga hati tetap hidup.
Motivasi
Jangan berkecil hati apabila masih sering tergelincir. Yang terpenting adalah segera bertaubat, memperbaiki diri, dan terus melatih hati agar lebih mencintai Allah daripada mencintai hawa nafsu.
Kemuliaan bukanlah karena tidak pernah berdosa, tetapi karena setiap kali jatuh segera bangkit dengan taubat. Kebijaksanaan bukanlah meninggalkan dunia sepenuhnya, melainkan menjadikan dunia berada di tangan, bukan di dalam hati.
Semoga setiap hari kita menjadi pribadi yang lebih berhati-hati terhadap dosa dan semakin rindu kepada kehidupan akhirat.
Muhasabah Diri
Renungkanlah beberapa pertanyaan berikut:
- Apakah aku masih berani melakukan dosa ketika tidak ada manusia yang melihatku?
- Apakah aku lebih sibuk mengejar dunia daripada memperbaiki amal akhirat?
- Apakah shalatku sudah menjadi kebutuhan atau sekadar kewajiban?
- Berapa banyak waktu yang kuhabiskan untuk mengingat Allah dibandingkan mengingat urusan dunia?
- Jika malam ini adalah malam terakhir hidupku, sudahkah aku siap bertemu Allah?
Cara Bermuhasabah
- Luangkan waktu 10–15 menit setiap malam sebelum tidur.
- Ingat kembali semua perbuatan sepanjang hari.
- Bersyukur atas setiap amal kebaikan yang Allah mudahkan.
- Istighfar dengan sungguh-sungguh atas setiap dosa dan kelalaian.
- Bertekad memperbaiki satu kebiasaan buruk setiap hari.
- Perbanyak dzikir, membaca Al-Qur'an, dan memohon keistiqamahan kepada Allah.
Muhasabah yang dilakukan terus-menerus akan membersihkan hati (tazkiyatun nafs) dan menumbuhkan rasa muraqabah, yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah.
Doa
Allahumma innā nas'aluka qalban khāsyi'an, wa nafsan mutma'innah, wa 'amalan mutaqabbalan. Allāhumma jannibnā al-ma'āshī mā aḥyaytanā, waj'alid-dunyā fī aydīnā wa lā taj'alhā fī qulūbinā. Warzuqnā ḥusnal-khātimah wa liqā'aka wa anta rāḍin 'annā. Āmīn.
Artinya:
"Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami hati yang khusyuk, jiwa yang tenang, dan amal yang Engkau terima. Ya Allah, jauhkanlah kami dari segala kemaksiatan selama Engkau memberi kami kehidupan. Jadikanlah dunia berada di tangan kami, bukan di dalam hati kami. Karuniakanlah kepada kami husnul khatimah dan perjumpaan dengan-Mu dalam keadaan Engkau ridha kepada kami. Aamiin."
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan tausiyah ini. Semoga Allah membersihkan hati kita, menghiasi diri kita dengan kemuliaan akhlak, menjadikan kita hamba-hamba yang bijaksana dalam memandang dunia, serta mengaruniakan keistiqamahan hingga akhir hayat.
Barakallahu fikum. Jazakumullahu khairan katsiran. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat, taufik, hidayah, dan keberkahan kepada kita semua. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
.........
.........
Orang yang mulia adalah orang yang baik perbuatannya, yang memuliakan dirinya dengan cara mempertebal ketakwaan dan kewaspadaan – dalam menghadapi maksiat.
Pernyataan ini mencerminkan nilai-nilai utama dalam Islam: kemuliaan sejati tidak diukur dari harta, nasab, atau jabatan, melainkan dari akhlak, ketakwaan, dan kepekaan terhadap dosa (wara’). Mari kita uraikan beserta ayat dan hadisnya.
---
Penjelasan:
1. Orang yang baik perbuatannya:
Islam sangat menekankan amal salih dan akhlak yang baik. Kemuliaan seseorang terlihat dari perbuatannya kepada Allah dan sesama manusia.
2. Memuliakan dirinya dengan ketakwaan:
Ketakwaan adalah menjaga diri dari maksiat dengan mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Inilah ukuran kemuliaan dalam pandangan Allah.
3. Kewaspadaan terhadap maksiat (wara’):
Wara’ berarti hati-hati terhadap perkara yang syubhat (samar) atau yang bisa menjerumuskan ke dosa. Inilah bentuk penghormatan terhadap diri sendiri di hadapan Allah.
---
Dalil Al-Qur'an:
1. Kemuliaan dengan takwa:
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."
(QS. Al-Hujurat 49:13)
Ayat ini menegaskan bahwa takwa adalah standar kemuliaan dalam Islam.
2. Perbuatan baik membawa kemuliaan:
"Barang siapa yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik."
(QS. An-Nahl 16:97)
Perbuatan baik yang didasarkan pada iman akan menghasilkan kehidupan yang mulia di dunia dan akhirat.
---
Hadis Nabi Muhammad SAW:
1. Tentang menjaga diri dari maksiat (wara’):
"Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara yang samar (syubhat)... Barang siapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kewaspadaan terhadap maksiat adalah bentuk memuliakan diri.
2. Tentang kemuliaan dengan akhlak:
"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat denganku di hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya."
(HR. Tirmidzi, Hasan Sahih)
---
Kesimpulan:
Orang yang benar-benar mulia di sisi Allah:
Baik amalnya (akhlak dan ibadahnya),
Menjaga kehormatan dirinya dengan takwa,
Berhati-hati dalam urusan dosa (wara’).
Kemuliaan lahir dari hubungan yang lurus dengan Allah dan manusia, bukan dari duniawi.
----------------------
Sedangkan orang bijaksana adalah orang yang tidak mendahulukan mengutamakan dunia dan yang menahan nafsunya dari perbuatan yang menyeleweng dari petunjuk akalnya yang sehat.
Pernyataan ini mengandung nilai luhur dalam Islam: kebijaksanaan sejati adalah kemampuan mengendalikan nafsu dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, melainkan sebagai sarana menuju akhirat. Mari kita jabarkan dengan penjelasan, ayat Al-Qur’an, dan hadis.
---
Penjelasan:
1. Orang bijaksana tidak mengutamakan dunia:
Orang yang bijak menyadari bahwa dunia hanyalah tempat singgah, bukan tujuan akhir.
Ia menempatkan dunia sebagai alat untuk meraih keridhaan Allah dan kebahagiaan akhirat.
2. Menahan nafsu dari menyimpang dari akal sehat:
Nafsu yang tidak dikendalikan akan mendorong manusia ke jalan yang menyalahi akal dan hati nurani.
Akal yang sehat senantiasa mengarahkan manusia kepada kebaikan dan ketakwaan.
---
Dalil Al-Qur’an:
1. Tentang kehidupan dunia sebagai ujian:
"Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?"
(QS. Al-An’am 6:32)
Ayat ini mengingatkan bahwa dunia tidak layak dijadikan tujuan utama, hanya tempat ujian.
2. Tentang orang yang menahan hawa nafsunya:
"Dan adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya."
(QS. An-Nazi’at 79:40–41)
Orang yang bijaksana akan menahan nafsunya, karena menyadari akibatnya di akhirat.
---
Hadis Nabi Muhammad SAW:
1. Orang cerdas adalah yang menyiapkan akhirat:
"Orang yang cerdas (bijaksana) adalah orang yang menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Dan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan kepada Allah (tanpa amal)."
(HR. Tirmidzi, Hasan)
Hadis ini secara langsung menegaskan bahwa orang bijak adalah yang menahan hawa nafsu dan tidak terperdaya oleh dunia.
---
Kesimpulan:
Orang yang bijaksana dalam pandangan Islam:
Tidak menjadikan dunia sebagai prioritas,
Menahan hawa nafsunya agar tidak melenceng dari petunjuk akal sehat,
Mengarahkan hidupnya untuk meraih akhirat.
Inilah bentuk hikmah (kebijaksanaan) yang lahir dari iman dan takwa.
No comments:
Post a Comment