Menurut pendapat yang shahih, madlulul al-fadh (yang ditunjukkan oleh lafadh-lafadh) yang kita baca semuanya berhubungan dengan kalam Allah yang qadim, seperti yang telah dikatakan oleh Ibnu Qasim dan mufakat sekelompok Ulama’ Mutaakhkhirin.
Apabila kamu ditanya tentang Al-Quran, apakah ia qadim atau hadits ? Maka sebaiknya kamu meminta penjelasan terlebih dahulu kepada orang yang bertanya, apabila ia berkata padamu, bahwa yang saya maksud adalah yang ada pada dzat Allah yang mana apa yang ada pada kita semua telah menunjukkannya, maka katakanlah, ia qadim disebabkan sifat qidamnya Dzat, karena qidam adalah termasuk dari sebagian sifat-sifat yang wajib bagi Allah. Dan apabila ia berkata, bahwa yang saya maksud adalah sesuatu yang berada di antara dua buah pinggir, yaitu yang berupa tulisan-tulisan, maka katakanlah padanya, bahwa ia hadits disebabkan sifat hudutsnya tulisan-tulisan.
Demikian juga tentang lafadh-lafadh, maka apabila orang yang bertanya berkata padamu, bahwa yang saya maksud adalah ditinjau dari segi madlul (yang ditunjukkan), maka katakanlah, bahwasanya sesuatu (lafadh) yang menunjukkan terhadap dzat Allah, suatu sifat dari beberapa sifat-Nya atau suatu hikayat milik-Nya adalah qadim. Dan sesuatu yang menunjukkan terhadap benda-benda yang baru (hawadits) atau sifat-sifatnya, misalnya dzat-dzat makhluk atau sifat-sifatnya, seperti kebodohan dan pengetahuan kita, semua itu adalah hadits (baru), begitu juga dengan hikayat-hikayat hawadits.
Lafadh-lafadh tersebut dinamakan Kalamullah, karena ia-lah yang menunjukkan terhadap Kalamullah, dan sesungguhnya makna Kalamullah hanya akan dapat dipahami dengan melalui lafadh-lafadh tersebut.
Kalamullah, apabila diungkapkan dengan menggunakan bahasa arab maka dinamakan Al-Quran, apabila dengan bahasa Ibriyyah, yaitu bahasa orang yahudi, dinamakan Taurat, dan apabila dengan bahasa Suryaniyyah maka dinamakan Injil dan Zabur. Adapun perbedaan ibarat (ungkapan) tidaklah menjadi penentu terhadap adanya perbedaan kalam, sebagaimana Allah disebut dengan beberapa ibarot yang berbeda-beda, padahal sesungguhnya dzat Allah adalah esa.
........
Buletin Tauziah
“Kalamullah yang Qadim dan Kesucian Hati dalam Memuliakan Wahyu”
(Dalam Perspektif Tasawuf – Tazkiyatun Nufūs)
Mukadimah
Segala puji bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang telah menurunkan kalam-Nya sebagai cahaya bagi hati orang-orang beriman. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alaihi wa sallam, pembawa Al-Qur’an yang menjadi petunjuk menuju keselamatan dunia dan akhirat.
Pembahasan tentang Al-Qur’an sebagai Kalamullah merupakan pembahasan agung dalam aqidah Islam. Para ulama menjelaskan bahwa Kalamullah yang ada pada Dzat Allah bersifat qadim, tidak bermula dan tidak diciptakan. Adapun tulisan, suara, tinta, mushaf, dan bacaan manusia adalah makhluk yang baru (ḥādits). Pemahaman ini menjaga seorang mukmin dari kesalahan dalam memahami kemuliaan wahyu.
Dalam dunia tasawuf dan tazkiyatun nufūs, pembahasan ini bukan hanya persoalan logika aqidah, tetapi juga tentang bagaimana hati memuliakan firman Allah, menjaga adab terhadap Al-Qur’an, serta menjadikan wahyu sebagai cahaya penyuci jiwa.
1. Makna (Tafsir) Isi Redaksi
Penjelasan di atas menerangkan:
- Kalam Allah yang hakiki adalah sifat Allah yang qadim.
- Lafadh, tulisan, suara, tinta, dan mushaf adalah media yang menunjukkan kepada Kalamullah.
- Al-Qur’an disebut Kalamullah karena ia menunjukkan kepada firman Allah yang azali.
- Perbedaan bahasa tidak mengubah hakikat Kalam Allah.
Sebagaimana air tetap air walaupun ditempatkan di gelas yang berbeda, demikian pula Kalam Allah tetap satu walaupun diungkapkan dalam berbagai bahasa kepada para nabi.
Dalam perspektif tasawuf:
- Al-Qur’an bukan sekadar bacaan lisan.
- Ia adalah cahaya ruhani.
- Orang yang hatinya bersih akan merasakan kehidupan dari ayat-ayat Allah.
Allah Ta‘ālā berfirman:
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami.”
(QS. Asy-Syūrā: 52)
Al-Qur’an disebut “ruh” karena ia menghidupkan hati yang mati.
2. Hukum (Ahkam)
A. Wajib Beriman bahwa:
- Allah memiliki sifat Kalam.
- Kalam Allah bersifat qadim.
- Al-Qur’an adalah Kalamullah.
B. Haram:
- Menghina Al-Qur’an.
- Meremehkan mushaf.
- Menjadikan ayat Al-Qur’an bahan ejekan.
- Menafsirkan Al-Qur’an tanpa ilmu.
Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa berkata tentang Al-Qur’an dengan pendapatnya tanpa ilmu, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”
3. Hikmah dan Pelajaran (Ibrah)
A. Kemuliaan Wahyu
Jika manusia memuliakan surat dari seorang raja, maka bagaimana dengan firman Raja seluruh alam?
B. Hati yang Bersih Akan Mudah Tersentuh Al-Qur’an
Dosa membuat hati keras sehingga ayat Allah terasa biasa.
C. Al-Qur’an Adalah Obat
Bukan hanya untuk hukum dan ilmu, tetapi juga untuk:
- kegelisahan,
- iri hati,
- riya,
- cinta dunia,
- dan penyakit jiwa lainnya.
Allah berfirman:
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman.”
(QS. Al-Isrā’: 82)
4. Dalil Al-Qur’an, Hadis, dan Hadis Qudsi
Dalil Al-Qur’an
“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia agar dia sempat mendengar firman Allah.”
(QS. At-Taubah: 6)
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”
(QS. Al-Isrā’: 9)
Hadis Nabi
bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.”
Hadis Qudsi
Allah Ta‘ālā berfirman:
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku menurunkan kepadamu kitab yang air tidak dapat mencucinya.”
Maknanya: Al-Qur’an terjaga di dada orang beriman.
5. Analisis dan Argumentasi
Para ulama membedakan antara:
- Kalam nafsi (firman Allah yang azali)
- dengan huruf dan suara yang dibaca manusia.
Hal ini penting agar:
- tidak menyamakan Allah dengan makhluk,
- dan tidak menganggap mushaf fisik sebagai dzat yang qadim.
Tasawuf mengajarkan:
- memahami aqidah dengan adab,
- bukan dengan kesombongan debat.
Orang yang sibuk memperdebatkan Al-Qur’an tetapi tidak mengamalkannya adalah orang yang tertipu ilmu.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa:
- tujuan ilmu adalah mendekat kepada Allah,
- bukan memenangkan pertengkaran.
6. Amalan (Implementasi)
A. Memuliakan Al-Qur’an
- Berwudhu sebelum menyentuh mushaf.
- Menaruh mushaf di tempat tinggi.
- Membaca dengan tartil.
B. Membaca dengan Hati
Jangan hanya lidah yang membaca.
C. Menghidupkan Rumah dengan Al-Qur’an
Rumah yang tidak dibacakan Al-Qur’an mudah dipenuhi:
- pertengkaran,
- kegelisahan,
- dan kegelapan hati.
D. Menghafal dan Mengajarkan
Walau satu ayat sehari.
E. Menjaga Adab Digital
Di zaman HP dan media sosial:
- jangan mencampur ayat Al-Qur’an dengan candaan,
- jangan menjadikan ayat sebagai konten hinaan,
- jangan memotong ayat demi sensasi.
7. Relevansi di Zaman Sekarang
A. Teknologi
Kini Al-Qur’an tersedia:
- di HP,
- tablet,
- internet,
- kecerdasan buatan,
- dan media sosial.
Namun:
- kemudahan tidak selalu menghadirkan keberkahan.
Banyak orang:
- sering membuka media sosial,
- tetapi jarang membuka Al-Qur’an.
B. Komunikasi
Manusia bisa berbicara lintas negara dalam hitungan detik, tetapi hati semakin jauh dari Allah.
C. Kedokteran
Teknologi medis berkembang pesat, tetapi:
- stres,
- depresi,
- kecemasan,
- dan kehampaan jiwa semakin meningkat.
Karena ruh manusia membutuhkan cahaya wahyu.
D. Kehidupan Sosial
Banyak debat agama di internet:
- saling mencela,
- merasa paling benar,
- tetapi miskin adab dan akhlak.
Tasawuf mengajarkan:
- ilmu tanpa adab melahirkan kesombongan,
- sedangkan ilmu dengan tazkiyatun nufūs melahirkan rahmat.
8. Motivasi
Wahai saudaraku, jangan biarkan Al-Qur’an hanya menjadi pajangan.
Jika dunia membuat hati lelah:
- kembalilah kepada Al-Qur’an.
Jika hidup terasa sempit:
- dekatilah Kalamullah.
Jika hati keras:
- basahilah dengan tilawah.
Karena:
- manusia hidup dengan makanan jasad,
- tetapi hati hidup dengan firman Allah.
9. Muhasabah & Caranya
Pertanyaan Muhasabah
- Berapa ayat yang saya baca setiap hari?
- Apakah saya lebih sering membuka HP daripada mushaf?
- Apakah hati saya tersentuh ketika mendengar Al-Qur’an?
- Apakah saya mengamalkan ayat yang saya baca?
Cara Muhasabah
- Sediakan waktu khusus tilawah.
- Kurangi maksiat mata dan telinga.
- Perbanyak istighfar.
- Catat ayat yang paling menyentuh hati.
- Amalkan satu ayat setiap hari.
10. Kemuliaan dan Kehinaan
A. Di Dunia
Kemuliaan:
- hati tenang,
- wajah bercahaya,
- ilmu berkah,
- hidup dipenuhi petunjuk.
Kehinaan:
- hati keras,
- mudah marah,
- gelisah,
- jauh dari keberkahan.
B. Di Alam Kubur
Ahli Al-Qur’an:
- kuburnya diluaskan,
- diberi cahaya,
- ditemani amal saleh.
Orang yang meninggalkan Al-Qur’an:
- kubur menjadi sempit,
- penuh penyesalan.
C. Di Hari Kiamat
Al-Qur’an akan:
- memberi syafaat,
- meninggikan derajat pembacanya.
Namun Al-Qur’an juga bisa menjadi penuntut bagi orang yang melalaikannya.
D. Di Akhirat
Kemuliaan:
- dekat dengan Allah,
- bersama para nabi dan orang saleh,
- mendapat mahkota kemuliaan.
Kehinaan:
- jauh dari rahmat Allah,
- menyesal selamanya.
11. Doa
Ya Allah… jadikan Al-Qur’an:
- cahaya hati kami,
- penyejuk dada kami,
- penghapus kesedihan kami,
- dan penuntun hidup kami.
Ya Allah… hiasilah kami dengan akhlak Al-Qur’an.
Jangan jadikan kami:
- orang yang hanya pandai membaca,
- tetapi lalai mengamalkan.
Ya Allah… hidupkan hati kami dengan Kalam-Mu yang mulia, matikan kami dalam iman, dan kumpulkan kami bersama ahli Al-Qur’an di surga-Mu.
Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.
12. Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada seluruh kaum muslimin yang:
- mencintai Al-Qur’an,
- mempelajarinya,
- mengajarkannya,
- serta berusaha menghidupkan Kalamullah di tengah fitnah zaman.
Semoga Allah menjadikan setiap huruf yang dibaca sebagai cahaya di dunia, teman di alam kubur, pemberat timbangan amal, dan jalan menuju surga-Nya.
Āmīn.
.........
No comments:
Post a Comment