Friday, May 22, 2026

Orang Kafir Juga Beriman Kepada Allah.

 

Buletin Tauziah Tasawuf – Tazkiyatun Nufūs

“Orang Kafir Juga Beriman Kepada Allah?”

Memahami Perbedaan Antara Pengakuan, Keimanan, dan Ketundukan


Pendahuluan

Di zaman sekarang sering muncul ucapan:

“Bukankah orang kafir juga percaya kepada Allah?”

Ucapan ini sepintas terlihat benar, karena sebagian kaum musyrik dahulu memang mengakui adanya Allah. Namun dalam perspektif tasawuf dan Tazkiyatun Nufūs (pensucian jiwa), pengakuan semata belum disebut iman yang menyelamatkan. Sebab iman bukan hanya mengetahui Allah, tetapi tunduk, cinta, takut, berharap, dan taat kepada-Nya.

Iblis pun mengenal Allah. Fir’aun pun tahu kebenaran Musa. Kaum Quraisy pun mengakui Allah sebagai pencipta langit dan bumi. Akan tetapi pengakuan tanpa ketundukan menjadikan hati tetap tertutup dari cahaya iman.


(Tafsir) Isi Redaksi

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan sungguh jika engkau bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka akan menjawab: ‘Allah.’”
(QS. Az-Zumar: 38)

Ayat ini menunjukkan bahwa kaum musyrikin Makkah mengakui keberadaan Allah sebagai pencipta. Akan tetapi mereka tetap disebut kafir karena:

  • menyekutukan Allah,
  • menolak Rasul,
  • menyembah selain Allah,
  • dan tidak tunduk kepada syariat-Nya.

Dalam ilmu tasawuf, pengakuan seperti ini disebut:

  • ma’rifat yang tidak sempurna,
  • pengetahuan tanpa cahaya,
  • atau pengenalan tanpa ubudiyyah (penghambaan).

Iman sejati bukan sekadar:

  • tahu Allah ada,
  • tetapi menyerahkan hati kepada Allah.

Sebagaimana firman Allah:

“Orang-orang Arab Badui berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah: ‘Kalian belum beriman, tetapi katakanlah kami telah tunduk, karena iman belum masuk ke dalam hati kalian.’”
(QS. Al-Hujurat: 14)

Ayat ini menjelaskan bahwa iman memiliki:

  1. pengakuan lisan,
  2. pembenaran hati,
  3. dan amal anggota badan.

Hukum (Ahkam)

1. Mengakui Allah saja belum cukup untuk disebut mukmin

Seseorang tidak disebut mukmin hanya karena:

  • percaya Tuhan ada,
  • percaya pencipta alam,
  • atau mengakui kekuasaan Allah.

Karena iman harus disertai:

  • tauhid,
  • menerima Rasulullah ﷺ,
  • dan tunduk kepada syariat.

2. Kufur bisa terjadi walaupun mengenal Allah

Fir’aun berkata:

“Aku mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan mukjizat itu kecuali Tuhan langit dan bumi.”
(QS. Al-Isra’: 102)

Namun kesombongan membuatnya kafir.

Dalam tasawuf:

  • penyakit hati lebih berbahaya daripada kebodohan,
  • karena banyak orang tahu kebenaran tetapi menolaknya demi hawa nafsu.

3. Iman tanpa amal adalah lemah

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu yang tidak melahirkan amal akan menjadi hujjah yang memberatkan manusia di hadapan Allah.


Hikmah dan Pelajaran (Ibrah)

1. Iman bukan sekadar pengetahuan

Banyak orang:

  • hafal dalil,
  • tahu agama,
  • bahkan pandai berbicara tentang Allah,

tetapi hatinya masih:

  • cinta dunia,
  • sombong,
  • riya’,
  • dan jauh dari taubat.

2. Bahaya kesombongan intelektual

Iblis lebih dahulu mengenal Allah dibanding manusia, tetapi kesombongan menghancurkannya.

“Aku lebih baik darinya.”
(QS. Shad: 76)

Tasawuf mengajarkan:

  • musuh terbesar iman adalah ego dan kesombongan hati.

3. Hidayah adalah karunia

Tidak semua orang yang mengetahui kebenaran mendapatkan hidayah untuk mengikutinya.

Karena itu para ulama selalu berdoa:

“Ya Allah, tunjukilah kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan mengikutinya.”


Dalil Al-Qur’an, Hadis, dan Hadis Qudsi

Dalil Al-Qur’an

1. Kaum musyrik mengakui Allah

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapa yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: Allah.”
(QS. Az-Zukhruf: 87)

2. Iblis mengenal Allah

“Iblis berkata: ‘Wahai Tuhanku, berilah aku penangguhan waktu.’”
(QS. Al-Hijr: 36)

3. Fir’aun mengetahui kebenaran

“Dan mereka mengingkarinya karena zalim dan sombong padahal hati mereka meyakininya.”
(QS. An-Naml: 14)


Hadis Nabi ﷺ

menjelaskan bahwa hakikat iman adalah cahaya yang Allah letakkan dalam hati seorang hamba hingga ia tunduk dan takut kepada-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah berzina seorang pezina ketika ia berzina dalam keadaan beriman.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan:

  • iman memiliki pengaruh terhadap perilaku,
  • bukan sekadar keyakinan teoritis.

Hadis Qudsi

Allah Ta’ala berfirman:

“Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.”
(HR. Bukhari)

Ini menunjukkan hubungan iman dengan kedekatan hati kepada Allah.


Analisis dan Argumentasi

Mengapa orang kafir bisa mengakui Allah tetapi tetap kafir?

Karena ada perbedaan antara:

  1. mengenal,
  2. mengakui,
  3. dan tunduk.

Contohnya:

  • seseorang tahu dokter itu benar,
  • tetapi menolak meminum obat.

Maka pengetahuan tidak memberi manfaat.

Begitu pula:

  • banyak manusia mengakui Allah,
  • tetapi tidak mau tunduk kepada hukum-Nya.

Dalam perspektif tasawuf

Tasawuf melihat bahwa:

  • akar kekafiran sering berada di hati,
  • bukan semata di akal.

Penyakit hati itu seperti:

  • sombong,
  • cinta dunia,
  • iri,
  • takut kehilangan jabatan,
  • takut miskin,
  • mengikuti hawa nafsu.

Karena itu Tazkiyatun Nufūs sangat penting.


Amalan (Implementasi)

1. Memperbanyak dzikir tauhid

Bacalah:

“Lā ilāha illallāh”

dengan:

  • hati hadir,
  • memahami makna,
  • dan menghilangkan ketergantungan selain Allah.

2. Belajar ilmu yang melahirkan takut kepada Allah

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.”
(QS. Fatir: 28)


3. Membersihkan hati

Latihan tasawuf:

  • taubat,
  • muhasabah,
  • mengurangi cinta dunia,
  • menjaga lisan,
  • memperbanyak istighfar.

4. Berdoa meminta hidayah

Doa:

“Yā Muqallibal qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.”

(Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.)


Relevansi di Zaman Sekarang

1. Teknologi semakin maju, hati semakin kosong

Hari ini manusia:

  • mampu membuat AI,
  • menjelajah luar angkasa,
  • melakukan operasi canggih,
  • berkomunikasi lintas dunia dalam hitungan detik,

tetapi banyak yang:

  • stres,
  • gelisah,
  • kehilangan makna hidup.

Karena mengenal teknologi tidak sama dengan mengenal Allah.


2. Banyak orang mengaku percaya Tuhan tetapi hidup tanpa aturan-Nya

Fenomena modern:

  • percaya Allah tetapi meninggalkan shalat,
  • percaya akhirat tetapi korupsi,
  • percaya dosa tetapi tetap menzalimi manusia.

Ini mirip kaum terdahulu:

  • mengenal Allah,
  • namun tidak tunduk.

3. Media sosial melahirkan riya’ modern

Banyak amal:

  • dipamerkan,
  • dijadikan konten,
  • dijadikan pencitraan.

Tasawuf mengingatkan:

  • hati harus lebih sibuk mencari ridha Allah daripada pujian manusia.

Motivasi

Jangan puas hanya karena:

  • lahir sebagai Muslim,
  • tahu agama,
  • atau pandai berbicara tentang Islam.

Karena keselamatan bukan pada banyaknya informasi, tetapi pada:

  • hati yang tunduk,
  • amal yang ikhlas,
  • dan istiqamah sampai wafat.

Orang yang dekat kepada Allah:

  • semakin tawadhu,
  • semakin takut dosa,
  • dan semakin lembut kepada manusia.

Muhasabah & Caranya

Pertanyaan Muhasabah

Tanyakan kepada diri:

  • Apakah aku hanya mengenal Allah atau benar-benar taat kepada-Nya?
  • Apakah shalatku hidup?
  • Apakah lisanku masih menyakiti?
  • Apakah aku lebih takut miskin daripada takut dosa?
  • Apakah aku mencari ridha Allah atau pujian manusia?

Cara Muhasabah

1. Luangkan waktu sebelum tidur

Hitung:

  • dosa hari ini,
  • amal hari ini,
  • niat hari ini.

2. Kurangi keramaian dunia

Perbanyak:

  • tafakur,
  • dzikir,
  • membaca Al-Qur’an,
  • dan duduk bersama orang shalih.

3. Menangis dalam doa

Mintalah:

  • hati yang hidup,
  • iman yang benar,
  • dan husnul khatimah.

Penutup

Iman bukan sekadar:

  • mengetahui Allah,
  • tetapi tunduk kepada Allah.

Kaum kafir dahulu banyak yang mengenal Allah, namun kesombongan dan hawa nafsu menghalangi mereka dari cahaya iman.

Dalam perjalanan tasawuf:

  • tujuan terbesar bukan hanya banyak ilmu,
  • tetapi hati yang bersih,
  • jiwa yang tunduk,
  • dan cinta yang tulus kepada Allah Ta’ala.

Semoga Allah menjadikan kita:

  • hamba yang mengenal-Nya,
  • mencintai-Nya,
  • takut kepada-Nya,
  • dan wafat dalam keadaan husnul khatimah.

Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.

No comments: