Monday, December 8, 2025

 daqoiqul akhbar 875-4. ORANG-ORANG YANG MENYOMBONGKAN DIRI DENGAN AMAL PERBUATAN



📰 ORANG-ORANG YANG MENYOMBONGKAN DIRI DENGAN AMAL PERBUATAN

Sebuah Renungan Mendalam tentang Riyaa’, Ujub, dan Bahaya Kesombongan Rohani

Oleh: M. Djoko Ekasanu


Rasulullah saw. ditanya tentang makna firman Allah Ta’ala:

“………. Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkala lalu kamu datang berkelompok-kelompok.” (QS. An Naba’: 18)

Maka Nabi saw. menangis, kemudian beliau bersabda: “Hai orang yang bertanya, kamu bertanya kepadaku tentang perkara yang besar, sesungguhnya waktu itu, adalah hari kiamat, dimana beberapa kaum dari umatku dikumpulkan menjadi 12 bagian.”

Mereka dikumpulkan dalam keadaan tuli dan bisu. Mereka itu, adalah orang-orang yang menyombongkan diri dengan amal perbuatannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menyukai orang-orang yang Sombong dengan membangga-banggakan dirinya.” (QS. An Nisa’: 36).

RINGKASAN REDAKSI

Tulisan ini mengulas fenomena ujub (bangga diri) dan riyaa’ (pamer ibadah), penyakit hati yang muncul sejak zaman para sahabat hingga era teknologi digital. Dengan dalil Al-Qur’an dan hadis, tulisan ini memaparkan dampak kesombongan amal di dunia, alam kubur, dan akhirat, serta solusinya. Disempurnakan dengan nasihat tokoh sufi besar serta relevansinya di era modern—di mana ibadah mudah dipertontonkan melalui media sosial.


LATAR BELAKANG MASALAH DI JAMANNYA

Pada masa Nabi Muhammad ﷺ, beberapa sahabat pernah diperingatkan agar tidak membanggakan amal. Riyaa’ bahkan disebut sebagai “syirik kecil” oleh Rasulullah ﷺ.

Dalam masyarakat awal Islam, ada dua sebab utama munculnya kesombongan amal:

  1. Kemenangan Islam menyebabkan sebagian orang merasa amalnya banyak dan jasa mereka besar.
  2. Peralihan dari zaman jahiliyah ke Islam membuat sebagian orang sulit menjaga keikhlasan ketika mulai rajin ibadah.

Kesombongan ibadah telah menjadi penyakit umat sejak turunnya ayat pertama tentang larangan membatalkan sedekah dengan menyebut-nyebutnya (QS. Al-Baqarah: 264).


SEBAB TERJADINYA MASALAH

  1. Tidak mengenal Allah — semakin sedikit mengenal Allah, semakin besar peluang merasa diri hebat.
  2. Kurangnya mujahadah dan murāqabah — tidak membiasakan diri mengevaluasi hati.
  3. Cinta pujian — ingin terlihat paling saleh.
  4. Kurangnya ilmu tasawuf — tidak memahami penyakit hati.
  5. Era digital — mudah memamerkan ibadah, sedekah, ibadah haji, baca Qur’an, ceramah, dan sebagainya.

INTISARI JUDUL

Kesombongan amal adalah api yang menghanguskan ibadah. Amal yang murni karena Allah—meski sedikit—lebih berharga daripada amal besar yang dibungkus riyaa’.


TUJUAN DAN MANFAAT

  • Mengingatkan pembaca tentang bahaya ujub dan riyaa’.
  • Menjelaskan hukuman kesombongan rohadi dari dunia sampai akhirat.
  • Menawarkan solusi muhasabah dan pembersihan hati.
  • Agar amal tidak sia-sia pada Hari Kiamat.

📖 DALIL AL-QUR'AN DAN HADIS

1. Al-Qur’an

  • “Janganlah kamu batalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti.”
    (QS. Al-Baqarah: 264)
  • “Dan janganlah kamu menyombongkan diri di muka bumi.”
    (QS. Al-Isra’: 37)
  • “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”
    (QS. Al-Ma’idah: 27)

2. Hadis

  • “Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil: riyaa’.” (HR. Ahmad)
  • “Tiga hal yang membinasakan: kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ujub seseorang terhadap dirinya sendiri.” (HR. Thabrani)
  • “Pada hari kiamat, manusia yang pertama kali dibakar dalam neraka adalah ahli ibadah, ahli ilmu, dan dermawan yang riyaa’.” (HR. Muslim)

🔍 ANALISIS DAN ARGUMENTASI

1. Hukuman di Dunia

  • Hatinya gelisah, tidak pernah puas ibadahnya.
  • Ibadah menjadi ajang kompetisi sosial.
  • Hilang ketenangan, hilang keberkahan amal.

2. Hukuman di Alam Kubur

Ulama salaf menjelaskan bahwa amal riyaa’ tidak menjadi cahaya di kubur. Orang tersebut akan mengalami sesak dan penyesalan.

3. Hukuman di Hari Kiamat

Ahli ibadah yang riyaa' dipanggil dan dikatakan:
“Engkau melakukan itu agar disebut dermawan/alim/ahli ibadah, dan telah disebutkan—tidak ada pahala untukmu hari ini.”

4. Hukuman di Akhirat

  • Masuk kelompok pertama yang dihisab dengan keras.
  • Amal yang dikira banyak ternyata kosong dari pahala.
  • Termasuk dalam golongan al-muflis — orang bangkrut di hari akhir.

🌐 RELEVANSI DENGAN KEMAJUAN TEKNOLOGI

Zaman modern membawa tantangan baru:

1. Media Sosial

  • Ibadah bisa menjadi konten.
  • Sedekah dipamerkan demi like.
  • Foto umrah/haji diunggah dengan caption berlebihan.

2. Komunikasi Digital

  • Ceramah online dapat memicu rasa ingin dipuji.
  • Grup WA dan Telegram sering berisi pamer amalan.

3. Kedokteran dan Kesehatan

Sembuh dari penyakit kadang membuat seseorang berkata:
"Ini karena doa saya keras."
Padahal Allah yang menyembuhkan.

4. Transportasi dan Perjalanan

Kemudahan ibadah (umrah/haji murah dan cepat) membuat sebagian merasa lebih mulia dari yang belum mampu.

5. Kehidupan Sosial

Perlombaan status religius:

  • siapa paling banyak sedekah,
  • siapa paling sering kajian,
  • siapa paling “hijrah”.

Semua ini adalah ujian keikhlasan.


🌙 HIKMAH

  • Amal yang diterima Allah bukan amal yang besar, tetapi yang ikhlas.
  • Setiap kali bangga diri muncul, itu tanda hati butuh istighfar.
  • Melihat kebesaran Allah mematikan ujub.
  • Ibadah yang diam-diam lebih menyelamatkan.

🧭 MUHASABAH DAN CARANYA

  1. Tutup rapat amal rahasia.
  2. Biasakan doa: “Ya Allah, jauhkan aku dari riyaa’.”
  3. Kurangi ekspos ibadah di media sosial.
  4. Sibukkan diri membaca kekurangan diri.
  5. Laporkan amal hanya kepada Allah, bukan manusia.
  6. Setiap selesai amal, ucapkan:
    “Laa haula wa laa quwwata illa billah.”
  7. Baca istighfar setelah ibadah, seperti yang dicontohkan Rasulullah ﷺ.

🤲 DOA AGAR TERSELAMATKAN DARI RIAA' DAN UJUB

اللّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dalam hal yang aku ketahui, dan aku memohon ampun atas apa yang tidak aku ketahui.”


📚 NASEHAT TOKOH-TOKOH TASAWUF

1. Hasan al-Bashri

“Ikhlas adalah ketika amal tidak ingin dilihat oleh makhluk.”

2. Rabi‘ah al-Adawiyah

“Cukuplah Allah sebagai saksi ibadahku. Mengapa aku mencari saksi selain-Nya?”

3. Abu Yazid al-Bistami

“Ujub adalah hijab terbesar menuju Allah.”

4. Junaid al-Baghdadi

“Ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hamba-Nya.”

5. Al-Hallaj

“Musnahkan dirimu, niscaya kau hidup dalam-Nya.”

6. Imam al-Ghazali

“Jangan bangga dengan amal, karena ia semata-mata karunia Allah.”

7. Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Amal tanpa hati adalah tubuh tanpa ruh. Dan amal dengan riyaa' adalah ruh yang tercemar.”

8. Jalaluddin Rumi

“Jika hatimu dipenuhi pujian manusia, dari mana cahaya Allah akan masuk?”

9. Ibnu ‘Arabi

“Orang yang melihat amalnya berarti tidak melihat Tuhan.”

10. Ahmad al-Tijani

“Jangan kagum kepada amalmu—kagumlah kepada Allah yang memberi taufik.”


📝 DAFTAR PUSTAKA

  • Ihya’ ‘Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  • Al-Risalah al-Qusyairiyah – Al-Qusyairi
  • Al-Fath ar-Rabbani – Abdul Qadir al-Jailani
  • Tafsir Ibn Katsir
  • Shahih Bukhari dan Muslim
  • Musnad Ahmad
  • Majmu’ Fatawa Ibn Taymiyyah

📣 TESTIMONI ULAMA NUSANTARA

Gus Baha’

“Orang yang merasa amalnya banyak itu menunjukkan ia tidak paham siapa Allah.”

Ustadz Adi Hidayat

“Ujub adalah penyakit halus. Obatnya adalah ilmu dan zikir.”

Buya Yahya

“Jangan posting amal saleh, postinglah ilmu.”

Ustadz Abdul Somad

“Amal itu rahasia antara kita dengan Allah. Simpan baik-baik.”

Buya Arrazy Hasyim

“Hati yang bersih selalu menuduh amalnya sendiri—bukan memujinya.”


🙏 UCAPAN TERIMA KASIH

Redaksi mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang senantiasa setia mengikuti rubrik renungan ini. Semoga tulisan ini membawa manfaat dan menjadi jalan keselamatan bagi kita semua.


📝 CATATAN REDAKSI

Jika dalam tulisan ini terdapat kisah yang termasuk kategori Israiliyat, ia disajikan hanya sebagai bahan renungan — bukan dalil akidah, sesuai prinsip kehati-hatian dalam penyampaian ilmu.


Jika Anda ingin versi PDF, Word, atau ingin dimuat dalam format Majalah/Mading Masjid, tinggal beri tahu — nanti saya buatkan.

No comments: