Mengadu Kepada Manusia atau Kepada Allah?
Tinjauan Hadis Nabi tentang Keluhan Hidup, Qadha–Qadar, dan Kemuliaan Hati Mukmin
Nabi saw. bersabda:
“Barangsiapa di pagi hari mengadukan kesulitan hidup, sama halnya ia mengeluh kepada Tuhannya. Barangsiapa di pagi hari merasa susah karena urusan duniawi, berarti di pagi itu juga benci kepada Allah. Dan barangsiapa merendah diri kepada orang kaya karena hartanya, niscaya benar-benar telah sirna dua pertiga agamanya.”
Memang pengaduan hanya layak disampzikan kepada Allah, sebab mengeluh kepada-Allah itu merupakan doa. Sedang pengaduan kepada sesama manusia, adalah menjadi alamat bahwa tidak rela dalam menerima bagian dari Allah. Dalam sebuah hadis Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda:
"Bukankah aku belum mengajarkan kepada kalian kalimat yang diucapkan oleh Nabi Musa a.s. ketika menyeberangi laut bersama Bani Israil?”
Kami menjawab: “Benar, ya, Rasulullah!”
Beliau bersabda: “Ucapkanlah: Ya, Allah, hanya untuk-Mu segala buji, hanya kepada-Mu-lah tempat mengadu, Engkau-lah tempat minta pertolongan dan tiada daya upaya dan kekuatan, melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung.”
Al-A’masy berkata: “Setelah aku mendengar kalimat-kalimat itu dari Syaqiq Al-Asadi bangsa Kufah, dan dia menerimanya dari Abdullah r.a., maka aku tidak meninggalkannya.”
Kemudian dia berkata: “Telah datang kepadaku seseorang yang datang ketika aku sedang bermimpi, dia berkata: Hai, Sulaiman, tambahlah kalimat-kalimat itu dengan:
“.. dan kami mohon pertolongan kepada-Mu atas kerusakan yang menimpa kami dan mohon kepada-Mu kemaslahatan dalam seluruh urusanku.”
Barangsiapa yang sedih karena perkara-perkara dunia, maka dia sungguh-sungguh marah kepada Allah, karena tidak rela Qadha dari Allah dan tidak sabar atas bencana dari-Nya serta tidak iman pada Qadar dari-Nya. Hal ini karena segala yang terjadi di dunia itu adalah berdasar (adha dan Qadar-Nya.
Dan barangsiapa yang merendahkan dirinya kepada orang kaya karena kekayaannya, maka sesungguhnya dia telah kehilangan dua pertiga agamanya.
Syariat hanya membolehkan memuliakan manusia karena kebaikan dan ilmunya, bukan karena kekayaannya. Oleh sebab itu, barangsiapa yang memuliakan harta kekayaan berarti telah menghina ilmu dan kebaikan. Sayid Syekh Abdul @adir Al-Jailani -Qaddasa sirrahumengatakan: “Segala tingkah laku setiap orang mukmin harus berdasarkan pada tiga perkara: Melaksanakan segala perintah, menjauhi larangan dan meridai gadar. Paling tidak keadaan orang mukmin itu tidak lepas dari salah satunya. Oleh sebab itu, setiap orang mukmin harus tetap memperhatikan hatinya dan seluruh anggota badannya untuk melaksanakan ketiga hal itu.”.
Ringkasan Redaksi Asli
Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa pun yang mengeluhkan kesulitan hidup pada pagi hari seolah-olah mengeluh kepada Tuhannya, dan siapa yang merasa susah karena urusan dunia berarti pada pagi itu benci kepada Allah. Nabi juga melarang seorang mukmin merendahkan diri di hadapan orang kaya hanya karena hartanya. Pengaduan hanya pantas ditujukan kepada Allah, bukan kepada manusia.
Dalam riwayat Abdullah bin Mas’ud, Nabi mengajarkan doa yang dahulu dibaca Nabi Musa saat menyeberangi laut bersama Bani Israil, yang memuat pengakuan kelemahan manusia dan permohonan pertolongan mutlak kepada Allah. Para salaf menegaskan bahwa kerelaan terhadap qadha dan qadar adalah pilar keimanan. Syekh Abdul Qadir al-Jailani menegaskan bahwa inti kemuliaan mukmin ada pada tiga hal: menjalankan perintah, menjauhi larangan, dan ridha terhadap takdir Allah.
Latar Belakang Masalah pada Masa Nabi
Pada masa Rasulullah, keluhan terhadap kesulitan hidup kerap terjadi, terutama pada periode Makkah dan awal Madinah ketika umat Islam menghadapi:
- Tekanan ekonomi dari kaum Quraisy
- Pemboikotan sosial
- Kekhawatiran akan keamanan
- Kesulitan pangan saat perang dan musim kering
Orang-orang yang mudah mengeluh diarahkan untuk kembali kepada Allah, bukan kepada manusia yang tidak dapat mengubah takdir. Nabi ingin mendidik para sahabat agar hati mereka kokoh, tidak terombang-ambing oleh dunia, dan tidak silau pada kekayaan orang lain.
Sebab Terjadinya Masalah
- Kelemahan jiwa dalam menerima takdir Allah.
- Kecenderungan manusia mencari simpati manusia, bukan pertolongan Allah.
- Budaya memuliakan orang kaya yang sudah ada sejak zaman Jahiliyah.
- Ketidaktahuan sebagian umat bahwa keluhan kepada manusia melemahkan tauhid rububiyyah.
- Kurangnya kesabaran dan ridha terhadap qadha dan qadar.
Intisari Judul
“Keluhan adalah Cermin Tauhid: Mengadulah Kepada Allah, Bukan kepada Makhluk.”
Tujuan dan Manfaat
- Menguatkan iman terhadap takdir Allah.
- Meluruskan adab dalam menghadapi masalah hidup.
- Menghindarkan hati dari penyakit cinta dunia.
- Mengajak umat agar memuliakan ilmu dan akhlak, bukan kekayaan.
- Menumbuhkan kesadaran bahwa teknologi dan modernitas tidak boleh membuat manusia lupa kepada Allah.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
1. Al-Qur’an
- “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS Al-Fatihah: 5)
- “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah.” (QS At-Taghabun: 11)
- “Ingatlah, hanya dengan berdzikir kepada Allah hati menjadi tenang.” (QS Ar-Ra’d: 28)
2. Hadis Nabi
- Hadis riwayat Ad-Dailami tentang orang yang mengadu kesulitan kepada manusia.
- Hadis Abdullah bin Mas’ud tentang doa Nabi Musa.
- “Barangsiapa bergantung pada manusia, ia akan diserahkan kepada manusia.” (HR Tirmidzi)
Analisis dan Argumentasi
-
Keluhan kepada manusia menunjukkan lemahnya iman terhadap ketetapan Allah.
Orang yang mengeluh lupa bahwa semua masalah datang dari Allah sebagai ujian, bukan dari makhluk. -
Keluhan kepada manusia tidak mengubah takdir.
Yang dapat mengubah—melalui doa—hanya Allah. -
Merendahkan diri kepada orang kaya menunjukkan rusaknya pandangan nilai.
Islam memuliakan ketaatan, bukan kekayaan. -
Ridha terhadap takdir adalah puncak keyakinan seorang mukmin.
Para wali dan ulama sufi menjadikan ridha sebagai mahkota ibadah. -
Dunia modern membuat keluhan semakin mudah tersebar.
Media sosial, chat, dan video membuat orang mudah curhat yang tidak perlu, sehingga merusak sikap sabar & ridha.
Keutamaan dan Hukuman
Keutamaan bagi yang Ridha dengan Takdir
- Diberi ketenangan hati
- Doanya mudah dikabulkan
- Dijaga Allah dari penyakit hati
- Dicintai oleh para malaikat
- Diberi keberkahan dalam rezeki
- Diterangi kuburnya
- Dipermudah hisabnya
- Dibangkitkan bersama orang-orang sabar
Hukuman bagi yang Suka Mengeluh kepada Manusia
- Hatinya semakin gelisah
- Dijauhkan dari pertolongan Allah
- Dicatat sebagai tidak ridha terhadap takdir
- Kesulitan hidup makin berat
- Kuburnya sempit dan gelap
- Bangkit dalam keadaan hina
- Jauh dari derajat para wali dan muttaqin
Relevansi di Era Teknologi dan Kehidupan Modern
-
Teknologi komunikasi
Curhat di media sosial bisa menjadi tanda tidak ridha terhadap takdir. Islam mengajarkan diam & berdoa, bukan memviralkan keluhan. -
Kedokteran modern
Sakit harus diobati, tetapi hati tetap ridha kepada Allah sebagai penyembuh sejati. -
Transportasi dan mobilitas
Kesulitan perjalanan jangan menjadi ajang menyalahkan keadaan; jadikan sebagai ladang sabar. -
Ekonomi dan sosial
Di era banyaknya pamer kekayaan, umat diperingatkan agar tidak merendahkan diri hanya karena harta orang lain.
Hikmah
- Hati yang ridha akan kuat menghadapi kehidupan.
- Keluhan yang tepat hanya kepada Allah, karena keluhan itu hakikatnya doa.
- Kemuliaan manusia terletak pada akhlak dan ilmunya, bukan harta.
- Orang yang menerima takdir hidupnya paling tenang, karena tidak berperang dengan ketentuan Tuhan.
Muhasabah
Caranya:
- Tuliskan semua keluhan, lalu tanyakan:
“Sudahkah aku mengadu kepada Allah sebelum kepada manusia?” - Latih diri membaca doa Nabi Musa setiap pagi.
- Hilangkan kebiasaan membandingkan hidup dengan orang kaya.
- Periksa hati: apakah aku ridha atau hanya menahan diri?
- Biasakan sujud syukur walau masalah belum selesai.
Doa
“Ya Allah, hanya untuk-Mu segala puji. Hanya kepada-Mu kami mengadu. Kepada-Mu kami memohon pertolongan. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu, Yang Maha Mulia lagi Maha Agung. Ya Allah, berikanlah kemaslahatan dalam seluruh urusan kami dan jauhkan kami dari kerusakan dunia dan akhirat. Jadikan hati kami ridha terhadap takdir-Mu.”
Nasihat Para Tokoh Tasawuf
Hasan Al-Bashri
“Bencana yang membuatmu kembali kepada Allah lebih baik daripada nikmat yang melalaikanmu.”
Rabi‘ah al-Adawiyah
“Ya Allah, jika aku mengeluh kepada makhluk-Mu, maka cabutlah manisnya iman dari hatiku.”
Abu Yazid al-Bistami
“Keluhan adalah tanda bahwa engkau belum mengenal Dzat yang menciptakanmu.”
Junaid al-Baghdadi
“Sabar adalah minum racun tanpa mengerutkan kening.”
Al-Hallaj
“Barang siapa mengenal Tuhannya, ia tidak mengadukan keadaan dirinya.”
Imam al-Ghazali
“Ridha adalah puncak tawakal dan jalan para arifin.”
Syekh Abdul Qadir al-Jailani
“Mukmin itu hidup antara perintah, larangan, dan ridha pada qadar.”
Jalaluddin Rumi
“Di mana engkau terluka, di sana cahaya Allah masuk.”
Ibnu ‘Arabi
“Orang yang ridha akan melihat bahwa semua kejadian adalah wajah Allah yang berbicara.”
Ahmad al-Tijani
“Jangan gantungkan harapan pada selain Allah. Sebab setiap makhluk hakikatnya miskin.”
Testimoni Ulama Indonesia
Gus Baha
“Orang yang dekat dengan Allah tidak sibuk memamerkan keluhannya. Ia sibuk memperbaiki hubungannya dengan Tuhan.”
Ustadz Adi Hidayat
“Keluhan kepada manusia tidak memberi pahala, tapi keluhan kepada Allah adalah doa yang sangat cepat diangkat.”
Buya Yahya
“Orang yang ridha itu hatinya lapang. Dunia boleh sempit, tapi hatinya luas.”
Ustadz Abdul Somad
“Jangan rendahkan dirimu hanya karena harta orang. Yang mulia itu iman, bukan uang.”
Buya Arrazy Hasyim
“Takdir itu bukan untuk diprotes, tetapi untuk dididik menjadi hamba yang sejati.”
Daftar Pustaka
- Shahih Al-Bukhari
- Shahih Muslim
- Musnad Ahmad
- Tafsir Ibn Katsir
- Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
- Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
- Risalah al-Qusyairiyah
- Hilyatul Awliya’ – Abu Nu’aim
- Riyadhus Shalihin – Imam an-Nawawi
- Majmu’ Fatawa Ibn Taymiyyah (bahasan sabar dan ridha)
- Kutub Tasawuf Klasik (Rumi, Ibnu ‘Arabi, Hallaj, Junaid)
Ucapan Terima Kasih
Redaksi mengucapkan terima kasih kepada para pembaca, ulama, dan seluruh pihak yang mencintai ilmu serta terus berusaha memperbaiki diri dalam perjalanan menuju ridha Allah.
Catatan Redaksi
Beberapa kisah para nabi atau orang terdahulu yang termuat dalam tulisan ini termasuk kategori Israiliyat. Kisah tersebut tidak dijadikan dasar akidah, tetapi hanya sebagai bahan renungan moral, sebagaimana dipraktikkan para ulama tafsir klasik.
Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.
(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).
(Untuk kata Gue diganti diri aku)

No comments:
Post a Comment