Thursday, January 1, 2026

 

Jika Tidak Bergerak dalam Kebaikan, Kita Akan Digiring pada Keburukan

Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:

فَلَمَّا لَمْ يَتَحَرَّكُوا بِالْحَسَنَاتِ حُرِّكُوا بِالسَّيِّئَاتِ عَدْلًا مِنَ الله

“Ketika mereka tidak bergerak untuk kebaikan, maka mereka digerakkan kepada keburukan, sebagai keadilan dari Allah.”

Dan dikatakan pula:

نَفْسُكَ إِنْ لَمْ تَشْغَلْهَا بِالْحَقِّ شَغَلَتْكَ بِالْبَاطِلِ

“Jiwamu, jika tidak engkau sibukkan dengan kebenaran, maka ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan.”

1. Hakikat Jiwa: Tidak Pernah Diam

Dalam pandangan tasawuf, jiwa manusia tidak pernah netral. Ia selalu bergerak. Jika tidak diarahkan menuju Allah, ia akan bergerak menjauh dari-Nya. Jika tidak diisi dzikir, ia akan dipenuhi lalai.

Allah berfirman:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا • فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

“Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaan.”

(QS. Asy-Syams: 7–8)

Ayat ini menegaskan: potensi baik dan buruk selalu ada, dan manusia wajib memilih serta menggerakkan dirinya ke arah takwa.

2. Teknologi: Nikmat atau Cambuk Keadilan?

Di zaman kecanggihan teknologi, manusia memiliki alat luar biasa, namun sering kehilangan arah batin.

Jika gawai tidak dipakai untuk:

menambah ilmu,

menyambung silaturahmi,

menyebar kebaikan,

maka ia akan menjadi alat:

maksiat mata,

maksiat telinga,

maksiat hati.

Inilah makna “digerakkan kepada keburukan”.

Bukan karena Allah zalim, tetapi karena manusia menolak kebaikan, maka Allah membiarkan jiwanya ditarik oleh hawa nafsu.

Allah berfirman:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ

“Janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.”

(QS. Al-Hasyr: 19)

Lupa Allah → lupa tujuan hidup → teknologi jadi alat kehancuran batin.

3. Komunikasi Cepat, Tapi Hati Lambat Menuju Allah

Pesan sampai dalam hitungan detik, suara menembus benua, namun doa sering tertunda, dzikir sering dilupakan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”

(HR. Tirmidzi)

Tasawuf mengajarkan:

Bukan seberapa banyak kita bicara, tapi seberapa jujur hati kita saat berdoa.

Jika lisan tidak disibukkan dengan yang haq, ia akan digerakkan pada ghibah, fitnah, dan dusta—itulah keadilan Allah atas kelalaian kita.

4. Transportasi Cepat, Tapi Tujuan Hidup Kabur

Manusia bisa berpindah kota dalam jam, negara dalam hari, bahkan luar angkasa dalam hitungan teknologi.

Namun banyak yang tidak tahu akan ke mana setelah mati.

Allah mengingatkan:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ

“Maka larilah kalian menuju Allah.”

(QS. Adz-Dzariyat: 50)

Tasawuf mengajarkan:

Hijrah terbesar bukan berpindah tempat, tapi berpindah arah hati.

Jika hidup tidak digerakkan menuju Allah, maka ia akan digerakkan oleh dunia—kadang dengan kelelahan, kecemasan, dan kehampaan.

5. Kedokteran Maju, Tapi Penyakit Hati Merajalela

Ilmu medis mampu menyembuhkan tubuh, tetapi:

iri,

sombong,

cinta dunia,

keras hati,

tidak sembuh kecuali dengan taubat, dzikir, dan muhasabah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً… أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Itulah hati.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Jika hati tidak digerakkan untuk membersihkan diri, ia akan digerakkan oleh penyakit batin—itulah keadilan Allah.

6. Kehidupan Sosial: Sibuk Ramai, Sepi Makna

Banyak relasi, sedikit ketulusan.

Banyak pertemanan, minim keikhlasan.

Tasawuf mengingatkan:

Amal kecil dengan hati yang hidup lebih berat daripada amal besar dengan hati yang mati.

Allah berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ • إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”

(QS. Asy-Syu’ara: 88–89)

Penutup: Gerakkan Dirimu Sebelum Digerakkan

Pesan Ibnu Taimiyah رحمه الله adalah peringatan penuh kasih, bukan ancaman tanpa harapan.

👉 Gerakkan dirimu dengan kebaikan, sebelum Allah menggerakkanmu dengan keburukan.

👉 Sibukkan jiwamu dengan kebenaran, sebelum ia menyibukkanmu dengan kebatilan.

Karena dalam tasawuf,

diam dari kebaikan bukan netral—ia adalah awal dari keburukan.

Semoga Allah menggerakkan kita:

dari lalai menuju sadar,

dari dunia menuju akhirat,

dari sibuk menuju khusyuk,

dari teknologi menuju takwa.

اللهم حرّك قلوبنا إلى طاعتك، ولا تحرّكنا بالمعاصي بعدلك

Aamiin.

..........

Kalau Nggak Bergerak Buat Kebaikan, Kita Bakal Digiring ke Keburukan


Ibnu Taimiyah rahimahullah bilang gini:


“Ketika mereka tidak bergerak untuk kebaikan, maka mereka digerakkan kepada keburukan, sebagai keadilan dari Allah.”


Ada juga nasihat yang bilang:


“Jiwamu, jika tidak engkau sibukkan dengan kebenaran, maka ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan.”


1. Sifat Asli Jiwa: Nggak Pernah Beneran Idle


Dalam sudut pandang tasawuf, jiwa kita tuh nggak pernah netral. Dia selalu on the move. Kalau nggak di-direct ke Allah, ya dia bakal ngelaju menjauh. Kalau nggak diisi dengan dzikir, pasti bakal penuh sama kelalaian.


Allah berfirman:


وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا • فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا


“Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaan.”


(QS. Asy-Syams: 7–8)


Intinya: potensi buat jadi baik atau buruk itu selalu ada, dan kita wajib milih dan ngarahin diri ke takwa.


2. Teknologi: Anugerah Atau “Boomerang” Keadilan Allah?


Zaman sekarang, gadget tuh luar biasa canggih, tapi seringkali bikin kita lost arah batin.


Kalau hape cuma dipake buat:


· Scroll-scroll gak jelas,

· Stalking medsos,

· Nonton yang nggak penting, Maka dia bakal jadi alat buat:

· Maksiat mata,

· Maksiat kuping,

· Maksiat hati.


Nah, itu artinya “digerakkan kepada keburukan”.


Bukan Allah yang ngeselin, tapi karena kita sendiri yang nolak kebaikan, jadi Allah biarin jiwa kita ketarik sama hawa nafsu.


Allah berfirman:


وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ


“Janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.”


(QS. Al-Hasyr: 19)


Lupa Allah = lupa tujuan hidup = teknologi jadi alat perusak batin.


3. Komunikasi Kilat, Tapi Hati Lambat Banget Ke Allah


Chat sampe dalam hitungan detik, video call bisa tembus benua, tapi doa sering ditunda, dzikir sering kelewat.


Rasulullah ﷺ bersabda:


مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ


“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”


(HR. Tirmidzi)


Tasawuf ngajarin:


Bukan soal seberapa cerewet kita bicara, tapi seberapa jujur hati pas berdoa.


Kalau lisan nggak disibukin sama yang haq, dia bakal digerakin buat ghibah, ngrasani, dan dusta — itu bentuk keadilan Allah atas kelalaian kita.


4. Transportasi Cepat, Tapi Tujuan Hidup Nggak Jelas


Bisa pindah kota cuma dalam hitungan jam, ke negara lain cuma sehari, bahkan ke luar angkasa pun bisa.


Tapi, banyak yang bingung: “Mati nanti mau kemana?”


Allah ingetin:


فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ


“Maka larilah kalian menuju Allah.”


(QS. Adz-Dzariyat: 50)


Tasawuf ngajarin:


Hijrah terbesar itu bukan pindah tempat, tapi pindah arah hati.


Kalau hidup nggak digerakin ke arah Allah, ya dia bakal digerakin sama dunia — bawaannya capek, cemas, dan hampa.


5. Kedokteran Makin Canggih, Tapi Penyakit Hati Merajalela


Ilmu medis bisa nyembuhin tubuh, tapi:


· Iri hati,

· Sombong,

· Cinta dunia,

· Hati keras, Gak bisa sembuh kecuali dengan tobat,dzikir, dan introspeksi diri.


Rasulullah ﷺ bersabda:


أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً… أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ


“Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Itulah hati.”


(HR. Bukhari dan Muslim)


Kalau hati nggak digerakin buat bersihin diri, dia bakal digerakin sama penyakit batin — itulah keadilan Allah.


6. Kehidupan Sosial: Ramai Tapi Sepi Makna


Banyak followers, dikit ketulusannya. Banyak teman,minim keikhlasan.


Tasawuf ingetin:


Amal kecil dengan hati yang hidup lebih berbobot daripada amal besar dengan hati yang mati.


Allah berfirman:


يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ • إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ


“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”


(QS. Asy-Syu’ara: 88–89)


Penutup: Gerakin Dirimu Dulu Sebelum Digerakin


Pesan Ibnu Taimiyah rahimahullah ini peringatan penuh sayang, bukan ancaman tanpa harapan.


👉 Gerakin dirimu buat kebaikan, sebelum Allah yang menggerakinmu dengan keburukan. 👉Sibukin jiwamu sama kebenaran, sebelum dia nyibukin kamu sama kebatilan.


Karena dalam tasawuf, Diam dari kebaikan itu bukan netral— itu udah awal dari keburukan.


Semoga Allah gerakin kita: dari lalai ke sadar, dari dunia ke akhirat, dari sibuknggak jelas ke khusyuk, darigadget mania ke takwa.


اللهم حرّك قلوبنا إلى طاعتك، ولا تحرّكنا بالمعاصي بعدلك


Aamiin.

No comments: