Sunday, January 11, 2026

911. Apakah iman makhluk atau bukan

 


Jika ditanyakan kepadamu: “Apakah iman makhluk atau bukan?”.

Maka hendaklah kamu berkata: Iman adalah hidayat dari Allah, membenarkan dengan hati terhadap apa yang telah dibawa olah Nabi saw. dari Allah, dan iqrar dengan kalimat syahadat dengan lisan. Hidayat adalah penciptaan Allah, dan ia qadim. Adapun tashdiq (membenarkan) dan iqrar keduanya adalah perbuatan hamba dan ia muhdats (yang diciptakan/baru, dengan dibaca fathah huruf Dal-nya), yaitu yang ada setelah tiada, dan tiap-tiap apa-apa yang datangnya dari yang qadim adalah qadim, sedang tiap-tiap apa yang datangnya dari yang muhdats adalah muhdats.

Syekh Abu Mu’in mengatakan, tidak boleh dikatakan bahwa iman adalah makhluk atau bukan makhluk, akan tetapi boleh dikatakan bahwa iman dari hamba adalah iqrar dengan lisan serta membenarkan dengan hati, dan iman dari Allah adalah hidayat dan taufiq. Sebagian ulama’ mengatakan, tidak boleh mengatakan bahwa iman adalah sebuah nama hidayat dan taufiq, walaupun iman tidak akan ada kecuali dengan keduanya, karena seorang hamba adalah yang dipeintah terhadap iman, dan perintah hanya ada pada apa yang masuk dibawah kekuatan hamba, dan sesuatu yang seperti itu adalah makhluk. Bajuri mengatakan, yang tepat, iman adalah makhluk, karena iman adakalanya membenarkannya hati, atau membenarkannya hati serta iqrar dengan lisan, dan kedua-duanya adalah makhluk, dan apa yang telah dikatakan bahwa iman adalah qadim dengan mempertimbangkan terhadap hidayat, itu keluar dari hakikat iman, atas sesungguhnya hidayat adalah hadits (baru), Namun jika kita melihat terhadap bahwa iman adalah dengan qadla’ yang azali maka sah saja jika dikatakan bahwa iman adalah qadim.

Muhammad Khalil berkata, dengan menukil dari Syamsi Ar-Ramli, iman menurut Jumhurul Muhaqqiqin adalah membenarkannya hati terhadap apa yang telah diketahui secara pasti yang dibawa Rasulullah saw. dari Allah. Adapun iqrar dengan lisan, maka itu hanya merupakan syarat untuk memenuhi hukum-hukum dalam agama. Dikatakan, iman adalah iqrar dan membenarkan secara bersamaan, dikatakan juga, iman adalah iqrar dan amal-amal. Dan atas tiap-tiap qaul ini, semuanya adalah makhluk, karena hal tersebut adalah perbuatan hamba yang diciptakan.

Firman Allah:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”

Adapun perkataan Abul Laits As-Samarqandi pada jawaban; “Apakah iman adalah makhluk atau bukan?” dengan jawaban; “Iman adalah iqrar dan hidayat. Iqrar adalah pekerjaan hamba dan ia makhluk, dan hidayat adalah penciptaan Allah dan ia bukan makhluk”, maka hal ini mendapat toleransi, karena hidayat Allah pada hamba adalah sebab keimanan, bukan juz (bagian) dari iman, dan yang ditanyakan adalah nafsul iman (dzat/esensi iman), bukan iman beserta sebabnya secara bersamaan.

“WAllahu A’lamu, wa shallahu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa alihi wa Shahbihi wa sallama, wal hamdulillahi Rabbil ‘alamina”

......

Berikut bacaan rohani (bacaan “koran”) dalam perspektif Tazkiyatun Nufūs (penyucian jiwa) tentang pembahasan “apakah iman makhluk atau bukan”, disusun berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis, dengan penjelasan ruhani, bukan debat kalam semata.

🌿 IMAN DAN TAZKIYATUN NUFŪS

Membersihkan Hati dalam Cahaya Iman yang Diciptakan Allah

🧩 INTISARI ISI

Iman menurut jumhur ulama muhaqqiqin adalah tashdīq bil-qalb (pembenaran hati) terhadap apa yang datang dari Allah melalui Rasulullah ﷺ. Ikrar lisan adalah syarat zahir, sedangkan hakikat iman berada di dalam hati.

Dalam perspektif tazkiyah:

Iman yang ada di dalam diri kita adalah perbuatan hamba → maka ia makhluk.

Tetapi iman tidak akan lahir kecuali dengan hidayah dan taufik Allah → yang bersumber dari kehendak-Nya.

Maka iman adalah amanah ruhani: diciptakan Allah, ditanamkan dalam hati, dan diperintahkan untuk disucikan, dijaga, dan ditumbuhkan.

Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

(QS. Asy-Syams: 9–10)

Dan firman-Nya:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Allah menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat.”

(QS. Ash-Shaffat: 96)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

➡️ Iman adalah kehidupan hati. Dan tazkiyah adalah perawatan kehidupan itu.

🔍 ANALISIS DAN ARGUMENTASI (Perspektif Tazkiyah)

Perdebatan “iman makhluk atau bukan” dalam ilmu kalam bertujuan menjaga aqidah.

Namun dalam tazkiyatun nufūs, pertanyaannya berubah menjadi:

❝ Apakah iman di hatiku hidup atau mati? Bersih atau kotor? Bertambah atau menghitam? ❞

Karena walaupun iman itu makhluk, ia adalah makhluk paling mulia dalam diri manusia, sebab dengannya seseorang dikenal di langit.

Allah berfirman:

وَلَـٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ

“Allah menjadikan kalian cinta kepada iman dan menghiasinya di dalam hati kalian.”

(QS. Al-Hujurat: 7)

➡️ Iman bukan sekadar keyakinan akal, tapi cahaya.

Dan cahaya hanya tinggal di wadah yang bersih.

Karena itu para ahli tazkiyah tidak sibuk mempertentangkan hakikat iman, tetapi sibuk menjaga iman agar tidak rusak oleh dosa, riya’, ujub, hasad, dan cinta dunia.

🌱 HIKMAH – TUJUAN – MANFAAT

✨ Hikmah:

Menyadarkan bahwa iman bukan milik kita, tetapi titipan Allah.

Menumbuhkan tawadhu’, karena iman bisa diambil kapan saja.

Menghidupkan rasa takut kehilangan iman.

🎯 Tujuan tazkiyah iman:

Menjadikan iman hidup, lembut, dan bercahaya.

Memindahkan iman dari sekadar keyakinan menjadi rasa, takut, cinta, dan rindu kepada Allah.

🌸 Manfaat:

Hati tenang.

Ibadah manis.

Dosa terasa pahit.

Dunia kecil, akhirat besar.

Mudah taubat, mudah menangis, mudah tunduk.

🔥 MOTIVASI – MUHASABAH DAN CARANYA

💭 Pertanyaan muhasabah:

Apakah aku lebih sedih kehilangan dunia atau kehilangan iman?

Apakah Al-Qur’an masih membuat hatiku bergetar?

Kapan terakhir kali aku menangis karena takut kepada Allah?

Apakah dosaku masih terasa sebagai luka, atau sudah menjadi kebiasaan?

🛠️ Cara men-tazkiyah iman:

Mujahadah hati

Jaga shalat tepat waktu.

Perbanyak shalat malam walau 2 rakaat.

Membersihkan kotoran iman

Taubat harian.

Istighfar minimal 100x pagi–petang.

Makanan iman

Tilawah Qur’an dengan tadabbur.

Membaca kisah Nabi dan orang shalih.

Air iman

Dzikir lisan dan hati.

Shalawat.

Penjaga iman

Menjauhi dosa tersembunyi.

Menjaga pandangan, lisan, dan hati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Perbaharuilah iman kalian.”

Para sahabat bertanya: “Bagaimana memperbaharui iman kami?”

Beliau menjawab: “Perbanyaklah membaca Lā ilāha illallāh.”

(HR. Ahmad)

🤲 DOA

اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك

اللهم زكِّ نفوسنا، أنت خير من زكاها، أنت وليها ومولاها

اللهم اجعل الإيمان أحبَّ إلينا من الدنيا وما فيها

اللهم لا تسلب منا نور الإيمان عند الموت

واجعل آخر كلامنا لا إله إلا الله محمد رسول الله

“Ya Allah, wahai Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu.

Sucikanlah jiwa kami, Engkau sebaik-baik yang menyucikannya.

Jadikan iman lebih kami cintai daripada dunia dan isinya.

Jangan Engkau cabut cahaya iman saat maut datang.

Dan jadikan akhir ucapan kami: Lā ilāha illallāh, Muhammad Rasulullāh.”

🌺 UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih telah menghadirkan pembahasan yang dalam dan bernilai. Semoga tulisan ini bukan sekadar bacaan, tetapi menjadi cermin untuk hati, penggerak taubat, dan penyubur iman.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang menjaga iman hingga bertemu-Nya dalam keadaan hati yang selamat (قلب سليم).

وَاللَّهُ أَعْلَمُ. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

.........

Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.

(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).

No comments: