Saturday, December 27, 2025

 nashaihul ibad 2/8.3

Tiga perkara yang mencelakakan, yaitu pertama, kikir yang sangat, yakni tidak menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak makhluk-Nya. Yang dimaksud kikir di sini, adalah kikir yang ditaati oleh manusia. Adapun kikir yang berada dalam diri manusia jika tidak ditaati, maka tidak akan mencelakakan, karena kikir itu adalah suatu sifat yang berada dalam diri manusia. Kedua, tidak menuruti keinginan nafsunya: dan ketiga, tidak memandang dirinya lebih sempurna ketimbang orang lain.

........

Berikut naskah motivasi Islami yang utuh, runtut, dan siap dibacakan, berdasarkan Nashā’ihul ‘Ibād (2/8.3), dilengkapi dalil Al-Qur’an dan Hadis, nasihat para ulama dan sufi besar, muhasabah beserta caranya, doa, dan penutup.

Tiga Perkara yang Mencelakakan Hamba

Dalam Nashā’ihul ‘Ibād, para ulama mengingatkan bahwa ada tiga perkara besar yang mencelakakan manusia, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Celaka yang dimaksud bukan sekadar sempit rezeki atau berat hidup, melainkan gelapnya hati, jauh dari Allah, dan terhalangnya keselamatan di akhirat.

1. Kikir yang Ditaati

Yang mencelakakan bukan sekadar adanya sifat kikir dalam diri, karena kikir adalah tabiat manusia. Namun yang membinasakan adalah kikir yang ditaati, yakni ketika seseorang menuruti dorongan kikir sehingga:

Tidak menunaikan hak Allah (zakat, infak, sedekah)

Mengabaikan hak makhluk (keluarga, fakir miskin, tetangga)

Allah berfirman:

“Dan barangsiapa dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

(QS. Al-Hasyr: 9)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jauhilah sifat kikir, karena kikir telah membinasakan umat-umat sebelum kalian.”

(HR. Muslim)

📌 Intinya:

Kikir yang dilawan adalah keselamatan, kikir yang dituruti adalah kehancuran.

Nasihat Imam Al-Ghazali:

“Kikir adalah tanda lemahnya keyakinan terhadap jaminan Allah.”

2. Menuruti Nafsu

Perkara kedua yang mencelakakan adalah menuruti keinginan nafsu, bukan sekadar memiliki nafsu. Nafsu adalah ujian, tetapi ketika ia menjadi pemimpin, maka akal dan iman menjadi tawanan.

Allah berfirman:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”

(QS. Al-Jatsiyah: 23)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafsumu yang berada di antara kedua lambungmu.”

(HR. Al-Baihaqi)

Nasihat Hasan Al-Bashri:

“Orang yang paling mulia adalah yang paling mampu menundukkan nafsunya.”

Nasihat Rabi‘ah al-Adawiyah:

“Aku tidak menyembah Allah karena surga atau takut neraka, tetapi karena Dia memang layak disembah.”

📌 Intinya:

Nafsu yang dikendalikan melahirkan kedewasaan iman, nafsu yang dituruti melahirkan kehinaan ruhani.

3. Merasa Diri Lebih Baik dari Orang Lain

Perkara ketiga yang mencelakakan adalah tidak memandang diri lebih rendah, atau merasa diri lebih sempurna dibanding orang lain. Inilah akar kesombongan yang sering tersembunyi di balik amal.

Allah berfirman:

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”

(QS. An-Najm: 32)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.”

(HR. Muslim)

Nasihat Junaid al-Baghdadi:

“Tawadhu adalah memandang dirimu lebih hina dari setiap makhluk.”

Nasihat Abu Yazid al-Bistami:

“Ketika aku melihat diriku lebih baik dari orang lain, saat itu aku tahu aku telah jatuh.”

📌 Intinya:

Merendahkan diri mengangkat derajat, meninggikan diri menjatuhkan kehormatan.

Hikmah Para Sufi dan Ulama

Al-Hallaj:

“Hijab terbesar antara hamba dan Allah adalah merasa sudah sampai.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani:

“Barangsiapa melihat kelebihan dirinya, maka ia telah terputus dari pertolongan Allah.”

Jalaluddin Rumi:

“Kerendahan hati adalah tangga menuju cahaya.”

Ibnu ‘Arabi:

“Orang arif memandang semua makhluk lebih dekat kepada Allah daripada dirinya.”

Ahmad al-Tijani:

“Keselamatan ada pada kejujuran menilai diri dan husnuzan kepada orang lain.”

Muhasabah (Introspeksi Diri)

Tanyakan pada hati:

Apakah hartaku lebih banyak kutahan daripada kuberikan?

Apakah keputusanku dipandu iman atau nafsu?

Apakah aku merasa lebih baik dari orang lain karena amal atau ilmu?

Cara Muhasabah Praktis:

Luangkan waktu sebelum tidur

Ingat dosa, bukan jasa

Bandingkan amal dengan nikmat Allah, bukan dengan amal orang lain

Akhiri dengan istighfar dan niat memperbaiki diri

Doa

Allahumma ya Muqallibal qulub, sharrif qulubana ‘an tha‘atil bakhl, wa hawaa an-nafs, wa ‘ujbil amal.

Ya Allah, wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, jauhkanlah hati kami dari kikir yang ditaati, nafsu yang dituruti, dan kesombongan atas amal.

Ya Allah, jadikan kami hamba yang dermawan, rendah hati, dan jujur dalam muhasabah diri.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih ya Allah atas peringatan yang Engkau sampaikan melalui Al-Qur’an, Rasul-Mu, dan lisan para wali serta ulama.

Terima kasih atas nikmat iman, kesempatan bertobat, dan pintu perbaikan yang masih Engkau buka hingga hari ini.

“Cukuplah bagi seorang hamba mengetahui aib dirinya, agar ia selamat.”

Semoga bermanfaat dan menjadi cahaya pengingat bagi hati yang ingin selamat. 🌿

......


No comments: