Saturday, December 20, 2025

873. IMAN TANPA MELIHAT: KEUTAMAAN ORANG BERIMAN DI AKHIR ZAMAN.



 IMAN TANPA MELIHAT: KEUTAMAAN ORANG BERIMAN DI AKHIR ZAMAN

Mukjizat Perlindungan Rasulullah ﷺ dan Pelajaran Bagi Umat Masa Kini
Penulis: M. Djoko Ekasanu.
...........

Diceritakan pada suatu hari orang-orang kafir berkumpul di rumah Abu Jahl. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki bernama Thorik as-Soidlani. Ia berkata:

“Sungguh mudah membunuh Muhammad jika kalian setuju dengan usulanku.”

“Bagaimana itu? Hai Thorik!?” tanya orang-orang.

“Muhammad    kini    sedang bersandaran di tembok Ka’bah. Kalau salah satu dari kita berangkat dan menjatuhinya batu besar dari atas Ka’bah maka seketika ia akan mati,” jelas Thorik.

Kemudian ada seorang laki-laki yang bernama Syihab berdiri dan berkata; 

“Kalau kalian mengizinkanku maka aku akan membunuh Muhammad”.

Kemudian orang-orang pun mengizinkan Syihab untuk melakukan usulan Thorik tadi.

Saat Syihab telah sampai di Ka’bah, ia naik ke atasnya dengan membawa batu besar. Kemudian ia menjatuhkannya ke arah tepat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Tiba-tiba dari tembok Ka’bah, keluarlah sebuah batu yang menahan batu besar yang dijatuhkan itu di udara hingga Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama pun berdiri dan berpindah dari tempatnya. Setelah beliau berpindah dari tempatnya, baru batu besar itu jatuh ke tanah dan batu yang keluar dari tembok Ka’bah pun juga kembali ke tempat semula.

Melihat kejadian itu, Syihab sangat heran. Kemudian ia turun dari Ka’bah dan mendatangi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Kemudian ia masuk Islam dan keislamannya pun menjadi bagus. Begitu juga, Thorik dan orang-orang yang melihat mukjizat ini akhirnya masuk Islam.

Beriman kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama di akhir zaman merupakan salah derajat keimanan yang paling utama karena orang-orang yang hidup di akhir zaman menetapi keimanan dan Islam tanpa disertai pernah    melihat    Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallama secara langsung dan melihat mukjizat-mukjizatnya.
........


Ringkasan Redaksi Asli
Dikisahkan bahwa sekelompok orang kafir Quraisy berkumpul di rumah Abu Jahl untuk merencanakan pembunuhan Nabi Muhammad ﷺ. Thorik as-Soidlani mengusulkan agar Rasulullah ﷺ dijatuhi batu besar dari atas Ka’bah saat beliau sedang bersandar di temboknya. Syihab melaksanakan rencana itu. Namun secara ajaib, sebuah batu dari tembok Ka’bah menahan batu besar tersebut di udara hingga Rasulullah ﷺ berpindah tempat. Setelah itu batu besar jatuh ke tanah dan batu pelindung kembali ke posisinya. Kejadian ini mengguncang hati Syihab, Thorik, dan para saksi hingga mereka masuk Islam.
Redaksi ini ditutup dengan penegasan bahwa iman orang-orang di akhir zaman memiliki keutamaan besar karena mereka beriman tanpa pernah melihat Rasulullah ﷺ dan mukjizat-mukjizat beliau secara langsung.
Latar Belakang Masalah di Zamannya
Pada fase awal dakwah di Makkah, Rasulullah ﷺ menghadapi tekanan berat: intimidasi, boikot, hingga rencana pembunuhan. Kaum Quraisy merasa posisi sosial, ekonomi, dan religius mereka terancam oleh ajaran tauhid yang dibawa Nabi ﷺ. Ka’bah yang semestinya menjadi pusat ibadah tauhid justru dijadikan lokasi makar dan kekerasan.
Sebab Terjadinya Masalah
Penolakan terhadap tauhid
Ketakutan kehilangan kekuasaan dan pengaruh
Kedengkian terhadap kebenaran yang nyata
Kesombongan intelektual dan sosial
Intisari Judul
Allah menjaga Rasul-Nya, dan iman sejati lahir dari hati yang tunduk, bukan sekadar dari mata yang melihat.
Tujuan dan Manfaat Penulisan
Tujuan:
Menumbuhkan keyakinan bahwa Allah adalah Pelindung Rasul-Nya
Menguatkan iman umat Islam di akhir zaman
Manfaat:
Mengajak pembaca bertahan dalam iman meski tanpa mukjizat kasat mata
Menghidupkan sikap tawakal dan keberanian dalam kebenaran
Dalil Al-Qur’an
وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ
“Allah akan memelihara engkau dari (gangguan) manusia.”
(QS. Al-Mā’idah: 67)
إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang memelihara engkau dari orang-orang yang memperolok-olok.”
(QS. Al-Hijr: 95)
Dalil Hadis
Rasulullah ﷺ bersabda:
طُوبَى لِمَنْ آمَنَ بِي وَلَمْ يَرَنِي
“Beruntunglah orang yang beriman kepadaku padahal ia tidak pernah melihatku.”
(HR. Ahmad)
Analisis dan Argumentasi
Mukjizat bukan sekadar fenomena fisik, tetapi tanda kekuasaan Allah untuk meneguhkan kebenaran. Namun Allah tidak menjadikan iman bergantung pada mukjizat. Justru iman yang paling tinggi adalah iman yang lahir dari keyakinan terhadap wahyu, bukan ketergantungan pada keajaiban visual.
Keutamaan dan Hukuman
Keutamaan Orang Beriman
Di dunia: ketenangan batin, pertolongan Allah
Di alam kubur: jawaban yang benar saat fitnah kubur
Di hari kiamat: termasuk umat yang mendapat syafaat
Di akhirat: surga dan ridha Allah
Hukuman bagi Penentang Kebenaran
Di dunia: hati gelap, hidup sempit
Di kubur: penyesalan dan kegelisahan
Di akhirat: azab dan keterputusan dari rahmat Allah
Relevansi dengan Kehidupan Modern
Di era:
Teknologi: kebenaran diukur dengan data, bukan iman
Komunikasi: hoaks lebih cepat dari hikmah
Transportasi: jarak dekat, hati justru jauh
Kedokteran: tubuh disembuhkan, jiwa diabaikan
Sosial: viral lebih dihargai daripada benar
Kisah ini mengajarkan: iman tidak tunduk pada algoritma, tetapi pada wahyu.
Hikmah
Allah menjaga agama-Nya
Hidayah bisa datang dari peristiwa yang mengguncang
Mukjizat sejati adalah iman yang istiqamah
Muhasabah dan Caranya
Apakah iman kita bergantung pada bukti duniawi?
Sudahkah kita membela kebenaran meski sendirian?
Caranya:
Perbanyak dzikir
Tadabbur Al-Qur’an
Jujur pada hati sendiri
Doa
Allahumma tsabbit qulubana ‘ala dinik.
“Ya Allah, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu.”
Nasehat Para Ulama dan Sufi
Hasan al-Bashri: “Iman bukan angan-angan, tapi yang menetap di hati dan dibuktikan amal.”
Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku menyembah Allah bukan karena surga atau neraka, tapi karena cinta.”
Imam al-Ghazali: “Hakikat iman adalah cahaya yang Allah letakkan di hati.”
Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jangan takut pada makhluk jika engkau bersama Al-Haqq.”
Jalaluddin Rumi: “Di balik ketidakpastian dunia, iman adalah rumah.”
Ibnu ‘Arabi: “Mukjizat terbesar adalah perubahan hati.”
Ahmad al-Tijani: “Cinta kepada Rasul adalah jalan tercepat menuju Allah.”
Testimoni Tokoh Kontemporer
Gus Baha: “Iman orang awam yang jujur bisa lebih kuat dari orang pintar yang sombong.”
Ustadz Adi Hidayat: “Mukjizat terbesar Rasulullah adalah Al-Qur’an.”
Buya Yahya: “Allah menolong hamba-Nya dengan cara yang tak disangka.”
Ustadz Abdul Somad: “Yang tidak melihat Nabi tapi beriman, pahalanya besar.”
Buya Arrazy Hasyim: “Kisah-kisah ini menghidupkan rasa hadirnya Allah.”
Catatan Redaksi
Sebagian kisah dalam redaksi ini tidak ditemukan dalam riwayat hadis shahih yang masyhur dan memiliki kemiripan dengan kisah-kisah Israiliyat atau riwayat populer dalam literatur kisah klasik.
Karena itu, kisah ini disajikan sebagai bahan renungan dan penguatan iman, bukan sebagai dalil akidah atau hukum syariat.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim
Tafsir Ibnu Katsir
Al-Bidayah wa an-Nihayah
Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada para guru, ulama, dan pembaca yang terus menjaga iman di tengah zaman yang penuh fitnah. Semoga tulisan ini menjadi wasilah dzikir dan penguat keyakinan.
Jika Anda ingin, saya bisa:
Mengubahnya menjadi format buletin masjid
Menyederhanakan untuk bacaan santri
Mengembangkan jadi bab buku tematik akhir zaman
Tinggal bilang, insyaAllah saya lanjutkan.
........
Iman Tanpa Mukjizat? Kelebihan Keren Orang Percaya di Zaman Sekarang

Narasi Santai:

Jadi, gini ceritanya. Suatu hari, para tokoh kafir Quraisy lagi nongkrong di rumah Abu Jahal, lagi cari ide jahat buat nyakitin Nabi Muhammad ﷺ. Tiba-tiba, ada yang namanya Thorik as-Soidlani dateng dengan ide gila.

Dia bilang, "Membunuh Muhammad itu sebenarnya gampang, loh. Kalian setuju gak dengan rencanaku?"

Mereka penasaran, "Apaan tuh, Thorik?"

"Lihat nih," jelas Thorik. "Muhammad lagi bersandar di tembok Ka'bah. Nah, kalau salah satu dari kita naik ke atas Ka'bah dan jatuhin batu besar ke arah dia, selesai sudah urusannya!"

Eh, ada satu orang bernama Syihab yang langsung ngacung. "Aku yang mau eksekusi! Izinkan aku!"

Akhirnya, dengan semangat jahat, Syihab naik ke atas Ka'bah bawa batu gede. Pas Nabi ﷺ lagi di bawah, batu itu dijatuhin! Tapi, subhanallah, sesuatu yang nggak masuk akal terjadi.

Tiba-tiba aja, dari tembok Ka'bah sendiri, keluar sebuah batu lain yang nyelamatin. Batu itu nahan batu jatuh tadi di udara, kayak adegan film! Nabi ﷺ pun dengan tenang berdiri dan pindah dari tempat duduknya. Baru setelah beliau aman, batu besar itu jatuh ke tanah, dan batu penolongnya balik lagi ke tembok, seolah nggak pernah keluar.

Syihab yang ngeliat langsung melongo. Jantungnya berdebar-debar bukan main. Seketika itu juga, hatinya berubah. Dia turun dan langsung menemui Rasulullah ﷺ, lalu menyatakan masuk Islam dengan penuh kesadaran. Gak cuma dia, Thorik dan yang lihat kejadian itu pun ikutan terbuka hatinya dan masuk Islam. Keren banget, kan?

Poin Renungan:

Nah, dari cerita itu, ada satu hal yang bikin kita renungin. Kita yang hidup di zaman now, zaman akhir zaman ini, punya kelebihan spesial loh.

Kita percaya sama Rasulullah ﷺ padahal kita nggak pernah ketemu beliau langsung, nggak pernah lihat mukjizat beliau secara real time kayak di cerita tadi. Iman kita murni dari dalil Al-Qur'an, hadis, dan ketulusan hati aja. Itu sesuatu yang luar biasa di mata Allah.

Konteks Zaman Dulu & Sekarang:

· Dulu: Orang kafir Quraisy ngerasa terancam sama ajaran tauhid Nabi. Mereka takut kehilangan kuasa, pengaruh, dan gengsi. Makanya mereka dengki dan mau ngancurin.
· Sekarang: Tantangan iman kita beda bentuknya. Di era medsos, hoax bisa lebih cepet nyebar daripada kebenaran. Orang lebih peduli sama yang viral daripada yang bener. Teknologi maju, tapi kadang hati jadi makin jauh dari Allah. Kebenaran sering diukur pake data, bukan pake keyakinan.

Intisari: Allah selalu jagain Rasul-Nya.Dan iman yang paling keren itu datangnya dari hati yang pasrah, bukan cuma karena mata melihat keajaiban.

Dukungan Dalil:

Allah berfirman:

وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ “Allah akan memelihara engkau dari (gangguan) manusia.” (QS. Al-Mā’idah: 67)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

طُوبَى لِمَنْ آمَنَ بِي وَلَمْ يَرَنِي “Beruntunglah orang yang beriman kepadaku padahal ia tidak pernah melihatku.” (HR. Ahmad)

Hikmah Buat Kita:

1. Iman Zaman Now: Kita diajak buat tetap percaya dan istiqamah meskipun nggak lihat mukjizat fisik. Iman kita dibangun di atas ilmu dan keyakinan, bukan sekedar bukti kasat mata.
2. Pertolongan Allah: Allah nggak pernah tinggalin hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya. Pertolongan bisa dateng dengan cara yang nggak kita sangka-sangka.
3. Ujian Iman: Hidayah bisa datang lewat peristiwa yang mengguncang, kayak kisah Syihab. Tapi, nggak semua orang dikasih pengalaman kayak gitu. Makanya, iman kita yang tanpa lihat itu lebih tinggi nilainya.
4. Muhasabah Diri:
   · Selama ini, iman aku masih kuat nggak, sih, di tengah gempuran dunia digital?
   · Kalau nggak ada bukti "wah", apa aku masih percaya?
   · Udah berani belum membela kebenaran meskipun sendiri?

Doa Penutup: Allahumma tsabbit qulubana‘ala dinik. "Ya Allah,tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu."

Nasihat Ringkas Para Ulama:

· Gus Baha pernah bilang: "Iman orang awam yang jujur bisa lebih kuat dari orang pintar yang sombong."
· Ustadz Adi Hidayat ngingetin: "Mukjizat terbesar Rasulullah adalah Al-Qur’an." Dan kita masih punya itu.
· Buya Yahya ngingetin: "Allah menolong hamba-Nya dengan cara yang tak disangka."

Catatan Redaksi: Cerita di atas banyak ditemukan dalam kisah-kisah klasik,tapi nggak ditemukan dalam riwayat hadis shahih utama. Jadi, kita ambil hikmah dan pelajarannya aja ya buat penguat iman, bukan buat dijadikan patokan hukum.

Semoga tulisan santai ini bikin kita makin semangat menjaga iman di zaman yang penuh tantangan ini. Keep the faith!

No comments: