Saturday, May 31, 2025

824u. ANJURAN MEMBERSIHKAN DIRI DARI DENDAM.

 HADITS KE-12 : ANJURAN MEMBERSIHKAN DIRI DARI DENDAM

Diriwayatkan dari Ikrimah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Ibnu Abbas ditanya tentang Firman Allah: Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di hati mereka. Ia menjawab bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda:

Ketika Hari Kiamat telah terjadi, akan didatangkan ranjang dari intan merah yang berukuran 20 mil x 20 mil, yang tidak terbelah dan putus sama sekali, yang digantung dengan Kekuasaan Allah Yang Maha Perkasa. Kemudian Abu Bakar duduk di atasnya. Kemudian didatangkan ranjang dari intan kuning yang memiliki ciri-ciri sama seperti ranjang merah. Kemudian Umar bin Khattab duduk di atasnya. Kemudian didatangkan ranjang dari intan hijau yang memiliki ciri- ciri sama juga seperti ranjang merah. Kemudian Usman bin Affan duduk di atasnya. Kemudian didatangkan ranjang dari intan putih yang memiliki ciri-ciri sama juga seperti ranjang merah. Kemudian Ali bin Abu Thalib duduk di atasnya
Kemudian Allah memerintahkan ranjang-ranjang intan itu terbang membawa mereka di udara. Ranjang-ranjang itu terbang sampai di bawah naungan ‘Arsy Allah. Mereka didatangi tenda kemah dari intan yang indah. Andai seluruh penduduk di semua tingkatan langit dan bumi dan semua makhluk yang ada di sana dikumpulkan niscaya mereka semua hanya memenuhi satu sudut dari sudut-sudut tenda kemah itu. Kemudian diberikan kepada mereka 4 (empat) gelas. Satu gelas untuk Abu Bakar. Satu gelas untuk Umar. Satu gelas untuk Usman dan satu gelas untuk Ali, Semoga Allah meridhoi mereka semua. Kemudian mereka berempat memberi minuman kepada para manusia. Ini adalah maksud Firman Allah: Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada di dalam hati mereka, sedangkan mereka merasa bersaudara duduk berhadap- hadapan di atas dipan-dipan.
Kemudian Allah memerintahkan Jahannam untuk menyambar dengan kobaran-kobaran apinya dan mengeluarkan orang-orang yang keluar dari syariat Islam dan orang-orang kafir. Setelah dikeluarkan, Allah membuka mata mereka. Tiba-tiba mereka melihat tempat-tempat    para    sahabat Muhammad shollallahu ‘alahi wa sallama dan umatnya di surga. Mereka berkata:

“Mereka adalah orang-orang yang menyelamatkan para manusia sedangkan kita telah celaka.”

Kemudian mereka dikembalikan lagi ke dasar neraka Jahannam.
Kemudian Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata, “Tidak ada di neraka orang yang di dalam hatinya masih ada sedikit keimanan kecuali ia akan keluar dari sana dengan perantara syafaatku.”

Syeh al-Imam ‘Alau ad-Din az- Zandusiti dalam kitab Roudhoh al- Ulama berkata, “Saya mendengar Sa’ad bin Muhammad al- Astarusyani al-Faqir az-Zahid meriwayatkan dari al-Kalabi, dari Abu Sholih, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, berkata dalam menjelaskan Firman Allah: Orang- orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.
Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bahwa beliau bersabda, “Ketika para penduduk neraka telah berkumpul di neraka bersama orang-orang muslim yang dikehendaki Allah (masuk neraka), orang-orang kafir berkata kepada orang-orang muslim:

“Bukankah kalian ini orang-orang muslim?”

“Iya! Kami orang-orang muslim.” jawab mereka.

“Apakah Islam kalian belum mencukupi kok kalian bersama kami di neraka?” tanya orang- orang kafir.

“Kami memiliki dosa-dosa yang menyebabkan kami disiksa,” jawab orang-orang muslim.
Karena Maha Mengetahui, Allah pun marah kepada orang-orang kafir dan mengampuni orang- orang muslim yang ada di neraka dengan anugerah dan rahmat-Nya. Allah memerintahkan masing- masing orang muslim yang di neraka untuk keluar. Pada saat inilah Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang- orang muslim.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Golongan dari umat    Muhammad    akan dikumpulkan di shirot. Umat yang pertama kali masuk ke dalam surga, selain para nabi, adalah umat Muhammad. Sedangkan orang-orang yang terakhir masuk surga dari umatnya shollallahu ‘alaihi wa sallama adalah mereka yang ditetapkan masuk ke neraka (terlebih dahulu). Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama akan menyaksikan Hari Kiamat. Beliau mengenali umatnya yang ditetapkan masuk ke neraka karena mereka mencorong wajah dan kaki sebab bekas wudhu. Kemudian beliau pun mengenali mereka. Beliau berkata:

“Hai Jibril! Mengapa umatku dicegah di atas sirot?”

Allah berkata, “Sembunyikan mereka di dalam jurang-jurang Kiamat    agar    Muhammad shollallahuu ‘alaihi wa sallama masuk ke dalam surge dulu dan tidak mengetahui mereka.”
Kemudian ketika Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama melihat Kiamat maka beliau menyangka kalau umatnya telah di giring semua ke surga. Ketika beliau telah masuk surga maka Allah berkata kepada para Malaikat Zabaniah:

“Bawa mereka (umat Muhammad) ke neraka dan serahkan mereka kepada Malik.”

Ketika Malaikat Malik melihat mereka maka ia berkata:
Wahai golongan yang celaka! Siapa kalian dan dari umat siapa kalian ini? Padahal aku menyangka kalau sudah tidak akan ada lagi orang yang masuk neraka. Padahal semua umat telah datang kemari dengan terikat, terbelenggu rantai-rantai, bersama dengan para setan, dengan diseret telungkup, dengan wajah-wajah hitam dan mata- mata yang melotot. Tetapi aku tidak melihat belenggu di kaki kalian dan belenggu di tangan kalian. Aku juga tidak melihat wajah kalian hitam dan mata kalian melotot. Dan kalian juga kemari dengan berjalan kaki (tidak diseret). Dari umat siapa kalian ini sebenarnya?”

Umat Muhammad berkata, “Jangan bertanya siapa kami! Wahai Malik! karena kami malu memberitahumu tetapi kami ini termasuk umat yang menanggung al-Quran, yang berpuasa di
bulan Romadhan, yang berhaji dan berperang, yang menunaikan zakat, yang memuliakan anak- anak yatim, yang mandi wajib dari jinabat, yang mendirikan sholat 5 (lima) waktu.”
Malik berkata “Apakah al-Quran belum    mencegah    kalian bermaksiat kepada Allah agar kalian tidak jatuh ke neraka?”

Umat Muhammad menjawab, “Jangan mengejek kami! Wahai Malik! Kita ini sekarang sudah selamat dari ejekan Allah dan para malaikat-Nya.”

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar seruan dari arah ‘Arsy, “Hai Malik! Masukkan mereka ke pintu neraka yang teratas!”
Kemudian Malik berkata, “Hai golongan yang celaka! Apakah kalian mendengar seruan itu dan memahaminya?”

Umat Muhammad menjawab, “Iya! Kami mendengar dan paham. Tetapi Malik! Tunggu sebentar! Kami ingin mengeluhi diri kami sendiri.”

Malik berkata, “Tidak ada kesempatan bagi kalian untuk mengeluh.”

Kemudian terdengar seruan dari arah ‘Arsy:

“Hai Malik! Biarkan mereka menangisi diri mereka sendiri dulu!”
Kemudian umat Muhammad terpisah-pisah. Para ahli al-Quran berada dalam golongan sendiri.
Para    ahli    haji    berada    dalam golongan sendiri. Para ahli perang berada dalam golongan sendiri. Para    wanita    berada    dalam golongan sendiri. Kemudian mereka semua mengeluhi diri mereka sendiri sambil berkata:

“Bagaimana bisa kami kuat di neraka padahal sebelumnya kita tidak kuat dengan panas matahari. Bagaimana bisa kita kuat memakai rantai-rantai timah padahal kita dulunya biasa memakai pakaian-pakaian bagus. Bagaimana bisa kita kuat makan pohon duri dan meminum air panas padahal kita dulunya biasa makan makanan enak dan air segar.
Pada saat itu, mereka mengeluhi diri mereka sendiri. Tiba-tiba terdengar seruan dari arah ‘Arsy:

“Hai Malik! Masukkan mereka ke pintu neraka teratas!”

Malik berkata kepada mereka, “Hai golongan yang celaka! Apakah kalian mendengar seruan itu dan memahaminya?”

Umat Muhammad berkata “Iya! Kami mendengar dan paham.”

Malik bertanya, “Dari umat mana kalian ini sebenarnya?”
Mereka menjawab, “Kami malu mengatakannya.”
 Kemudian Malik pun menggiring mereka. Mereka yang tua berada didepan. Mereka yang masih muda berada di belakang mereka yang tua. Mereka yang perempuan berada di belakang mereka yang muda hingga mereka semua sampai di tepi Jahannam. Kemudian keluarlah para malaikat yang keras dan kuat yang diciptakan tanpa memiliki hati. Mereka tidak memiliki rasa belas kasih. Setiap orang dari umat Muhammad dikepung oleh seribu malaikat Zabaniah. Kemudian mereka semua dibawa ke neraka.

Sebagian dari mereka ada yang dibakar sampai mata kaki. Sebagian dari mereka ada yang dibakar sampai kedua lutut. Sebagian dari mereka ada yang dibakar sampai setengah badan. Sebagian dari mereka ada yang dibakar sampai dada. Ketika api hendak membakar wajah dan hati mereka,    maka    kemudian terdengar seruan dari arah ‘Arsy:

“Hai Malik! Jauhkan api dari wajah dan hati mereka karena mereka sudah lama sekali mengakui-Ku dengan lisan mereka dan mengetahui-Ku dengan hati mereka. Dan juga sudah lama sekali mereka sujud dengan wajah mereka kepada-Ku ketika hidup di dunia.
 
 Ketika umat Muhammad yang di neraka mendengar seruan itu, maka mereka semua berteriak keras, “Duh Muhammad! Duh Abu al-Qosim! Wahai Muhammad! Wahai orang yang berbuat baik kepada para janda dan anak-anak yatim! Wahai penggembira di Hari Kiamat! Wahai pembuka para umat! Wahai pembuka pintu- pintu surga! Wahai penutup pintu-pintu neraka dari umatmu! Wahai pemberi syafaat para umat! Kami adalah orang-orang lemah dari kalangan umatmu, yang tidak kuat dengan panas api. Tolonglah kami dengan syafaatmu untuk masuk ke dalam surga-surga!”

Salah satu dari mereka meletakkan kedua tangannya di kedua telinga seperti orang yang adzan dan menyeru dengan suaranya yang paling keras, “Kami adalah umat Muhammad.”

Mendengar pengakuan mereka, Malik pun menghadap ke arah surga. Ia berkata kepada Muhammad yang tengah enak- enakkan di surga:
Hai Muhammad! Kamu telah enak-enakkan di surga sedangkan umatmu yang lemah meminta tolong kepadamu. Tolonglah mereka karena mereka adalah orang-orang yang lemah yang tidak kuat dengan api.”

Ketika perkataan Malik sampai kepada Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallama, maka kemudian ia beranjak dari ranjangnya dan segera naik burok dan berkata:

“Hai burok! Cepat! Cepat! Umatku adalah orang-orang yang lemah yang tidak kuat dengan panas api.”
Kemudian Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallama naik burok dan mendarat di dekat tepi Jahannam. Ketika mendengar suara mereka, maka Muhammad shollallahu ‘alahi wa sallama menangis dan mereka pun juga menangis. Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata:

“Hai Malik! Keluarkan umatku dari neraka!”

“Duh Muhammad! Aku tidak bisa mengeluarkan mereka selama aku tidak diberi perintah.”

Kemudian Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallama menghadap ke arah tiang ‘Arsy. Ia turun dari burok dan bersujud. Dalam sujudnya, ia berkata:
Ya Allah! Bukankah Engkau telah berjanji kepadaku untuk tidak membakar umatku di neraka?”
Allah menjawab, “Hai Muhammad! Mereka telah melupakanmu dan meninggalkan syariatmu di dunia. Oleh karena itu Aku membuat mereka lupa dengan syafaatmu untuk mereka. Sekarang berilah mereka syafaat!”
Kemudian Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallama segera memberi mereka semua syafaat dan mengeluarkan mereka dari neraka. Sementara itu, orang- orang kafir masih tetap berada di sana. Pada saat itulah, orang- orang kafir berkata, “Andai dulu kita adalah orang-orang muslim, niscaya kita dikeluarkan dari neraka seperti mereka.”

Ibnu Abbas berkata Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.

Judul: Anjuran Membersihkan Diri dari Dendam: Jalan Menuju Kedamaian dan Surga


Bab 1: Pendahuluan

Dendam adalah penyakit hati yang bisa menghalangi seseorang dari kedamaian hidup di dunia dan keselamatan di akhirat. Islam sangat menekankan pentingnya memaafkan, membersihkan hati, dan menumbuhkan ukhuwah Islamiyah.


Bab 2: Dalil Al-Qur'an dan Hadis

Ayat Al-Qur'an:

"Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam hati mereka. Mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan." (QS. Al-Hijr: 47)

Hadis: Riwayat dari Ikrimah radhiyallahu 'anhu dari Ibnu Abbas mengenai tafsir ayat di atas, menyebutkan sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Pada hari Kiamat, akan didatangkan ranjang-ranjang dari intan berwarna merah, kuning, hijau, dan putih... (dan seterusnya seperti dalam narasi di atas)..."

Hadis ini menggambarkan kehormatan bagi mereka yang hatinya bersih dari dendam dan dipersatukan dalam persaudaraan di surga.


Bab 3: Hikmah dari Pembersihan Hati

  • Dendam membakar amal kebaikan.
  • Memaafkan adalah karakter orang bertakwa.
  • Surga adalah tempat bagi hati yang lapang dan bersih.

Bab 4: Nasihat Para Tokoh Sufi dan Ulama Besar

1. Hasan al-Bashri:

"Jangan kau simpan dendam, karena ia adalah bara neraka yang memakan amalmu sebelum ia membakar musuhmu."

2. Rabi‘ah al-Adawiyah:

"Cinta sejati kepada Allah menyingkirkan rasa dendam kepada makhluk-Nya."

3. Abu Yazid al-Bistami:

"Barang siapa mengenal dirinya fana, maka ia tidak akan mendendam kepada siapapun."

4. Junaid al-Baghdadi:

"Kesucian hati dari dendam adalah pintu utama menuju ma'rifat."

5. Al-Hallaj:

"Barangsiapa tenggelam dalam kasih Allah, maka tidak akan ada ruang bagi dendam kepada selain-Nya."

6. Abu Hamid al-Ghazali:

"Memaafkan lebih berat daripada membalas. Dan karena itulah, ia lebih tinggi di sisi Allah."

7. Syekh Abdul Qadir al-Jailani:

"Jika engkau ingin dicintai Allah, bersihkanlah hatimu dari kebencian dan dendam."

8. Jalaluddin Rumi:

"Kenapa kau harus mendendam? Semua orang sedang berjuang melawan luka yang tak kau lihat."

9. Ibnu 'Arabi:

"Dalam hakikat wahdatul wujud, tidak ada tempat bagi dendam. Karena semua adalah perwujudan kehendak-Nya."

10. Ahmad al-Tijani:

"Dzikir yang khusyu’ lebih kuat membersihkan hati dari dendam daripada seribu ucapan maaf."


Bab 5: Relevansi di Indonesia Saat Ini

  • Pentingnya pendidikan karakter sejak dini untuk menumbuhkan nilai memaafkan.
  • Membina komunitas sosial yang berbasis kasih sayang dan solidaritas.
  • Mencegah konflik sosial melalui pendekatan spiritual dan budaya.

Bab 6: Penutup dan Doa

Semoga Allah menjadikan hati kita lapang, membersihkan kita dari segala bentuk dendam, dan menghimpun kita kelak di surga bersama orang-orang saleh yang hatinya dipenuhi cinta.

Doa:

"Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari segala kebencian, dendam, iri, dan dengki. Jadikan aku hamba-Mu yang mencintai kedamaian dan persaudaraan."

Berikut draf buku berjudul "Anjuran Membersihkan Diri dari Dendam: Jalan Menuju Kedamaian dan Surga" yang memuat ayat Al-Qur'an, hadis, hikmah, serta nasihat dari para tokoh sufi besar. 

-----

Berikut versi santai dari isi buku "Anjuran Membersihkan Diri dari Dendam: Jalan Menuju Kedamaian dan Surga". Gaya ini cocok banget buat dibaca anak muda atau dibawakan dalam pengajian santai bareng teman-teman:


📘 Judul: Bersih Hati, Ringan Hidup: Ngapain Dendam-Dendaman?

✨ Bab 1: Awal Mula Obrolan

Bro, Sis...
Pernah ngerasa kesel banget sama orang? Sampai-sampai kebawa tidur, makan nggak enak, lihat mukanya bawaannya pengen ngelus dada terus? Itu namanya... dendam.
Tapi tahu nggak? Islam ngajarin kita buat buang jauh-jauh dendam. Soalnya, hidup kita bakal lebih enteng kalau hati ini bersih. Dan yang paling penting: Allah suka banget sama orang yang lapang dada.


📖 Bab 2: Dalilnya Bukan Karangan

Dari Al-Qur’an:

“Dan Kami cabut segala dendam dari hati mereka. Mereka duduk sebagai saudara di atas dipan-dipan saling berhadapan.”
(QS. Al-Hijr: 47)

Gambaran surga tuh indah banget. Nggak ada yang baperan, nyinyir, atau main sindir. Semua bersaudara dan happy bareng.

Dari Hadis: Ibnu Abbas pernah cerita, Nabi Muhammad ﷺ ngejelasin bahwa nanti di Hari Kiamat, sahabat-sahabat dekat Nabi kayak Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bakal duduk di ranjang-ranjang intan warna-warni. Ranjangnya terbang ke bawah Arsy Allah, dan mereka semua bersaudara, ngasih minum ke orang-orang beriman. Kenapa? Karena hatinya bersih dari dendam!


💡 Bab 3: Kenapa Harus Bersihin Hati?

  • Dendam itu kaya api. Lu kira bakar orang, ternyata malah bakar amal baik lu sendiri.
  • Memaafkan itu bukan lemah, tapi level dewa dalam kesabaran.
  • Surga bukan tempat buat orang yang hatinya kotor.

🧠 Bab 4: Kata Para Ahli Hati (Ulama & Sufi)

Hasan al-Bashri:
"Lu simpan dendam? Sama aja nyalain api di hati. Lu duluan yang kebakar."

Rabi‘ah al-Adawiyah:
"Cinta sama Allah tuh bikin kita adem. Gak sempat buat dendam ke orang."

Abu Yazid al-Bistami:
"Kalo kita udah sadar hidup ini fana, apa gunanya marah-marah?"

Junaid al-Baghdadi:
"Hati bersih = pintu utama buat kenal Allah lebih deket."

Al-Hallaj:
"Yang cinta Allah beneran tuh gak punya ruang buat dendam. Full booked buat kasih sayang."

Imam al-Ghazali:
"Memaafkan itu berat. Makanya Allah angkat derajat orang yang bisa lakuin."

Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
"Pengen dicintai Allah? Buang tuh dendam dari hati lu."

Jalaluddin Rumi:
"Semua orang tuh lagi berjuang. Jangan tambah beban mereka dengan benci."

Ibnu ‘Arabi:
"Kalo semua berasal dari kehendak Allah, apa gunanya dendam ke makhluk?"

Ahmad al-Tijani:
"Mau bersih hati? Dzikir dengan hati, bukan cuma bibir."


🇮🇩 Bab 5: Cocok Buat Indonesia Banget

  • Dari kecil anak-anak kita kudu belajar maafin, bukan ngajarin ‘balas dendam’.
  • Bikin komunitas yang guyub, bukan saling julid.
  • Jangan dikit-dikit ribut. Coba ngobrol, ngopi, dan saling dengerin.
  • Tarik nafas, istighfar, dan bilang: “Udahlah, biarin aja, yang penting hati gua tenang.”

🙌 Bab 6: Akhir Kata + Doa Biar Hati Adem

Teman-teman semua,
Kita hidup cuma sebentar. Jangan isi hati sama hal-hal yang bikin sempit. Lapangin dada, insya Allah kita bakal dilapangin jalan ke surga.

Doa simpel tapi ngena:

"Ya Allah, bersihin hatiku dari rasa dendam, iri, dengki. Biar aku bisa hidup tenang dan mati husnul khatimah."



No comments: