Tuesday, December 16, 2025

 

QS. Yasin : 30

يٰحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِۚ مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ ۝٣٠

yâ ḫasratan ‘alal-‘ibâd, mâ ya'tîhim mir rasûlin illâ kânû bihî yastahzi'ûn

Alangkah besar penyesalan diri para hamba itu. Setiap datang seorang rasul kepada mereka, mereka selalu memperolok-olokkannya.

Kisah Rasulullah Muhammad ﷺ


Seruan yang Ditertawakan

Makkah siang itu berdebu. Matahari menggantung kejam di atas Ka’bah, menyinari batu-batu hitam yang telah lama menjadi saksi kesombongan manusia. Di antara hiruk-pikuk para pedagang Quraisy, berdirilah seorang lelaki yang wajahnya tenang, tutur katanya lembut, namun ucapannya mengguncang dunia.

Dialah Muhammad bin Abdullah ﷺ.

Ketika beliau mengucapkan, “Wahai manusia, ucapkanlah laa ilaaha illallah, niscaya kalian beruntung,” tawa pun pecah.

Sebagian menutup telinga. Sebagian menunjuk-nunjuk sambil mengejek. Sebagian lain meludah ke tanah, seakan ingin mengotori kebenaran yang tak mampu mereka bantah.

Dan dari langit, seakan terdengar gema makna ayat yang kelak diabadikan:

“Aduhai betapa besar penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidak datang kepada mereka seorang rasul pun melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.”
(QS Yasin: 30)


Tukang Sihir dari Bani Hasyim

Abu Jahl berdiri di hadapan orang-orang Quraisy, suaranya lantang.

“Waspadalah pada Muhammad! Ia tukang sihir! Kata-katanya memisahkan anak dari ayah, istri dari suami!”

Orang-orang mengangguk. Bukan karena yakin, tetapi karena takut. Takut kehilangan kekuasaan. Takut kehilangan berhala. Takut kehilangan dunia.

Padahal mereka tahu, Muhammad ﷺ tak pernah belajar sihir. Tak pernah berdusta. Tak pernah khianat.

Namun kebenaran yang mengancam kenyamanan selalu lebih mudah disebut sihir.


Tuduhan Orang Gila

Suatu hari Rasulullah ﷺ shalat di dekat Ka’bah. Ketika beliau sujud, datanglah Uqbah bin Abi Mu’ith membawa kotoran unta, lalu melemparkannya ke punggung beliau.

Orang-orang tertawa. Anak-anak ikut menertawakan.

“Lihat! Orang gila itu masih sujud!”

Namun Rasulullah ﷺ tak membalas dengan amarah. Beliau hanya mengangkat kepala, membersihkan kotoran itu, lalu berdoa:

“Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.”

Langit Makkah terdiam. Bumi pun seakan malu.


Penyair yang Tak Pernah Bersyair

Para penyair Quraisy berkumpul.

“Kalau bukan sihir, pasti syair,” kata mereka.

Padahal Al-Qur’an bukan syair. Ia melampaui bahasa manusia. Ia merobek kesombongan sastra Arab yang paling tinggi sekalipun.

Setiap ayat membuat mereka gemetar—bukan karena indahnya semata, tapi karena kebenarannya menusuk hati.

Maka mereka memilih satu jalan: menertawakan.

Karena orang yang menertawakan kebenaran merasa tak perlu mengikutinya.


Air Liur dan Batu

Di jalan-jalan Makkah, Rasulullah ﷺ sering dilempari batu. Tumit beliau berdarah. Debu menempel pada wajah mulia itu.

Ada yang meludah saat beliau lewat.

Namun beliau tetap menyapa:

“Assalamu’alaikum.”

Orang-orang tercengang. Bagaimana mungkin orang yang dihina tetap mendoakan keselamatan bagi penghinanya?

Di situlah sebagian hati mulai retak.


Ayat yang Menangis

QS Yasin ayat 30 bukan hanya kecaman. Ia adalah tangisan langit.

Ah… betapa menyesalnya hamba-hamba itu…

Bukan karena Allah butuh disembah, tetapi karena manusia menolak cahaya yang menyelamatkan mereka sendiri.

Setiap ejekan kepada Rasulullah ﷺ dicatat.

Bukan untuk dibalas segera—tetapi untuk menjadi saksi di hari ketika tawa berubah menjadi penyesalan.


Yang Menangis di Akhir Cerita

Waktu berlalu.

Bilal yang dulu disiksa, kini berdiri di atas Ka’bah mengumandangkan adzan.

Umar yang dulu memusuhi, kini menangis saat membaca Al-Qur’an.

Sebagian yang dulu mengejek Rasulullah ﷺ masuk Islam dengan air mata taubat.

Namun sebagian lain binasa dalam kehinaan:

  • Abu Jahl mati di Badar.
  • Uqbah tewas dalam kekafiran.
  • Para penertawa kebenaran tinggal nama—tanpa cahaya.

Islam Menyebar

Muhammad ﷺ wafat, namun risalahnya hidup.

Dari Makkah ke Madinah. Dari Arab ke Afrika. Dari Asia hingga Eropa.

Sementara mereka yang dulu tertawa—lenyap ditelan sejarah.

Dan QS Yasin: 30 tetap dibaca hingga hari ini, seakan berkata kepada setiap zaman:

“Jangan ulangi kesalahan mereka.”

Karena menertawakan kebenaran bukan tanda cerdas— melainkan tanda penyesalan yang ditunda.


Tamat

(Semoga kisah ini melembutkan hati, menguatkan iman, dan menjadikan kita pembela Rasulullah ﷺ bukan penertawanya.)

Alhamdulillah, novel religiusnya sudah saya tuliskan dan ditampilkan di canvas dengan judul:

“Ah, Betapa Menyesalnya Hamba-Hamba Itu”
(Terinspirasi QS Yasin: 30 dan perjuangan Rasulullah ﷺ di Makkah).

.....


No comments: