Sunday, September 7, 2025

Nabi Idris AS: Sang Ilmuwan dan Sufi Pertama dalam Lintasan Sejarah Kenabian

 Tentu, berikut ini adalah bacaan koran tentang Nabi Idris yang disusun sesuai dengan permintaan Anda.


---


HARIAN CAHAYA HIKMAH Edisi Khusus:Meneladani Ketajaman Akal dan Roh Nabi Idris AS


Rabu, 7 September 2025 | 15 Safar 1447 H


---


Nabi Idris AS: Sang Ilmuwan dan Sufi Pertama dalam Lintasan Sejarah Kenabian


Oleh: M. Djoko Ekasanu


JAKARTA – Dalam hiruk-pikuk modernitas, figur Nabi Idris AS sering kali terlupakan. Namun, warisannya sebagai simbol integrasi ilmu pengetahuan dan spiritualitas justru sangat relevan untuk direnungkan umat saat ini.


Ringkasan Redaksi Aslinya: Naskah asli artikel ini menggali sosok Nabi Idris AS dari sudut pandang yang unik:bukan hanya sebagai nabi yang diangkat derajatnya, tetapi sebagai pionir ilmu pengetahuan (sains), ketrampilan (teknologi), dan sekaligus peletak dasar filsafat dan tasawuf. Artikel ini berargumen bahwa ketajaman intelektual dan kedalaman spiritualnya adalah dua sisi dari mata uang yang sama, sebuah paradigma yang hilang dalam peradaban modern.


Maksud dan Hakikat: Maksud penulisan adalah untuk mengangkat dan mengintegrasikan pemahaman tentang Nabi Idris yang seringkali parsial.Hakikatnya adalah menampilkan beliau sebagai Al-Hakim (yang bijaksana) dan Al-‘Alim (yang berilmu), yang kehidupannya menjadi bukti bahwa menuntut ilmu duniawi dan ilmu ukhrawi bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi untuk mencapai ma’rifatullah.


Tafsir dan Makna Judul: Judul“Sang Ilmuwan dan Sufi Pertama” dimaknai sebagai gelar yang merepresentasikan dua keutamaan utama Nabi Idris. “Ilmuwan” merujuk pada tradisi yang menyebutkan beliau sebagai manusia pertama yang menulis dengan pena, mempelajari astronomi, matematika, dan menjahit pakaian. “Sufi” merujuk pada kedudukannya yang tinggi di sisi Allah dan kemampuannya untuk melintasi batas-batas alam material menuju alam spiritual, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.


Tujuan dan Manfaat: Tujuan artikel ini adalah:


1. Memberikan pemahaman yang komprehensif tentang Nabi Idris AS.

2. Menjembatani dikotomi antara sains dan agama.

3. Memberikan inspirasi bagi para ilmuwan dan spiritualis untuk mencari keharmonisan. Manfaatnya adalah lahirnya kesadaran bahwa bekerja,meneliti, dan berinovasi dengan niat ibadah adalah bagian dari jalan spiritual menuju Allah.


Latar Belakang dan Intisari Masalah: Latar belakang masalahnya adalah kecenderungan umat modern memisahkan urusan duniawi(sekuler) dan ukhrawi (religius). Intisari masalahnya adalah hilangnya figur teladan yang mampu menyatukan kedua domain tersebut, sehingga menyebabkan krisis makna dan spiritualitas di tengah kemajuan material.


Sebab Terjadinya Masalah: Sebab utamanya adalah pemahaman keagamaan yang sempit yang menganggap ilmu duniawi sebagai ilmu yang tidak religius,serta di sisi lain, perkembangan sains yang seringkali meninggalkan etika dan spiritualitas.


Dalil Al-Qur’an dan Hadis:


· Qur’an Surat Maryam ayat 56-57: "Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab. Sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi, dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi."

· Qur’an Surat Al-Anbiya’ ayat 85: "Dan (ingatlah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar."

· Hadis Riwayat Imam Ahmad dan An-Nasa’i: Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra’ Mi’raj bersabda, “Kemudian (Jibril) membawaku naik hingga sampai di langit keempat. Lalu aku bertanya, ‘Siapakah ini wahai Jibril?’ Dia menjawab, ‘Idris.’” Rasulullah lalu bersabda, “Lalu Idris menyambutku dan mengatakan, ‘Selamat datang Nabi yang shaleh dan saudara yang shaleh.’”


Analisis dan Argumentasi: Ayat-ayat tersebut menunjukkan dua keutamaan Nabi Idris:kebenaran intelektual (shiddiq) dan kedudukan spiritual yang tinggi (martabat yang tinggi). Ketinggian martabatnya adalah buah dari kesabarannya dalam mencari dan menegakkan kebenaran melalui ilmu dan amal. Konsep “diangkat oleh Allah” bisa dimaknai secara fisik (mi’raj) dan secara metaforis sebagai pengangkatan derajat ilmu dan hikmahnya.


Relevansi Saat Ini: Di era kecerdasan buatan(AI), eksplorasi ruang angkasa, dan kedokteran modern, semangat Nabi Idris sangat relevan. Seorang ilmuwan Muslim harus seperti Idris: memiliki ketajaman analitis sekaligus kerendahan hati spiritual, sehingga penemuannya membawa rahmat, bukan malapetaka. Etika dalam sains harus berlandaskan pada tauhid.


Kesimpulan: Nabi Idris AS adalah prototype manusia sempurna:cerdas secara intelektual dan agung secara spiritual. Kehidupannya adalah bukti bahwa jalan menuju Allah tidak hanya melalui masjid dan ritual semata, tetapi juga melalui laboratorium, perpustakaan, dan ruang publik dimana ilmu pengetahuan dikembangkan untuk kemaslahatan umat manusia.


Muhasabah dan Caranya:


· Muhasabah: Sudahkah ilmu yang kita kuasai mendekatkan kita kepada Allah atau justru menjauhkan?

· Cara: 1) Niatkan semua aktivitas keilmuan untuk ibadah. 2) Gunakan ilmu untuk membantu sesama. 3) Selalu sandarkan pencapaian pada Allah, bukan pada ego diri.


Doa: “Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami hikmah-Mu sebagaimana Engkau anugerahkan kepada Nabi-Mu Idris AS. Jadikanlah ilmu yang kami pelajari sebagai tangga untuk mendekat kepada-Mu, bukan sebagai dinding yang memisahkan. Lapangkanlah dada kami untuk menerima kebenaran dari arah mana pun datangnya.”


Nasehat Para Sufi:


· Imam Al-Ghazali: “Tuntutlah ilmu! Ilmu akan menjagamu dan kau akan dijaga olehnya. Ilmu adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat.”

· Jalaluddin Rumi: “Bawa dirimu ke hadapan sang Pencipta ilmu. Bawalah cahaya ke dalam matamu, bukan hanya ke dalam pemikiranmu. Pikirkanlah dari mana datangnya cahaya itu.”

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”

· Abu Yazid al-Bistami: “Ilmu adalah yang menjalankanmu kepada Allah, bukan yang kau jalankan.”

· Hasan Al-Bashri: “Ilmu itu ada dua: ilmu di hati itulah ilmu yang bermanfaat, dan ilmu di lisan itulah hujjah Allah atas makhluk-Nya.”


Daftar Pustaka:


1. Al-Qur’an al-Karim dan Terjemahannya.

2. Ash-Shallabi, Dr. Ali Muhammad. Kisah-Kisah Nabi.

3. Ibn Katsir, Imaduddin Abul Fida’. Qashash al-Anbiya’.

4. Al-Baghawi, Abu Muhammad. Ma’alim at-Tanzil.

5. Nasr, Seyyed Hossein. Science and Civilization in Islam.

6. Chittick, William C. The Sufi Path of Knowledge.


Ucapan Terima Kasih: Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh guru,ulama, dan akademisi yang telah menyalakan obor ilmu. Semoga artikel sederhana ini dapat menjadi pembuka cakrawala dan pemantik diskusi yang bermanfaat bagi umat.


---


M. Djoko Ekasanu adalah seorang penulis dan pemerhati studi Al-Qur’an dan Filsafat Islam.

No comments: