Saturday, February 21, 2026

967. Jejak Amal di Dunia, Getarannya di Alam Kubur.

 


kupas tipis tipis kitab Usfuriyah karya Muhammad bin Abu Bakar bin Usfuri,

Hadis Kelima Belas (15): Mengasihi Mayit.

Hadiah Pahala Amal Untuk Mayit.

Diriwayatkan dari Sufyan, dari orang yang mendengar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, ‘Sesungguhnya amal- amal orang yang hidup akan diperlihatkan kepada teman- teman bergaul dan bapak-bapak mereka yang sudah mati. Apabila amal yang diperlihatkan adalah baik maka mereka akan memuji Allah dan mereka akan senang. Apabila amal yang diperlihatkan adalah buruk maka mereka yang telah mati berkata; Ya Allah! Jangan Engkau cabut nyawa mereka (yang beramal) hingga Engkau memberi mereka hidayah terlebih dahulu!

Kemudian Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata, ‘Mayit akan menerima rasa sakit di kuburannya sebagaimana ia menerima rasa sakit ketika masih hidup.’

Kemudian Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama ditanya, ‘Apa yang bisa menyakiti mayit itu?’

Kemudian Rasulullah shollallahu alaihi wa sallama menjawab, 'Sesungguhnya mayit tidaklah melakukan suatu dosa, tidak saling berselisih, tidak melawani siapapun, dan juga tidak menyakiti tetangga. Hanya saja sesungguhnya kamu ketika berselisih dengan orang lain maka barang tentu ia akan berbicara kotor tentangmu dan kedua orang tuamu. Kemudian kedua orang tuamu itu disakiti ketika dicelakai. Begitu juga mereka berdua akan senang ketika diperlakukan baik sesuai dengan hak mereka.’

......

📖 Jejak Amal di Dunia, Getarannya di Alam Kubur

Karya:


🌿 Kupasan Tipis-Tipis: Mengasihi Mayit & Hadiah Pahala

Hadis ini mengajarkan bahwa amal orang hidup diperlihatkan kepada orang-orang yang telah wafat, khususnya orang tua dan sahabat dekat. Bila amal itu baik, mereka bahagia dan memuji Allah. Bila buruk, mereka berdoa agar kita diberi hidayah.

Ini bukan sekadar informasi ghaib, tetapi sentuhan lembut bagi hati yang lalai.

💔 Pesan Halusnya:

  • Hubungan kita dengan orang tua tidak terputus oleh kematian.
  • Perilaku sosial kita bisa membahagiakan atau menyakiti mereka di alam kubur.
  • Lisan kita hari ini bisa menjadi sebab sakitnya orang tua yang telah wafat.

🌙 Tauziah Tazkiyatul Nufus

“Jejak Digital, Jejak Akhirat”

Saudaraku...

Di zaman teknologi ini, satu jari bisa menulis ribuan kata.
Satu klik bisa menyebarkan fitnah ke seluruh dunia.
Satu status bisa membuka aib orang tua kita sendiri.

Allah berfirman:

“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.”
(QS. At-Taubah: 105)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa amal manusia tidak tersembunyi dari Allah. Bahkan dalam hadis Usfuriyah ini disebutkan bahwa amal itu diperlihatkan kepada orang yang telah wafat.

Di era media sosial:

  • Perselisihan kecil jadi besar.
  • Perbedaan pendapat jadi hujatan.
  • Komentar menjadi senjata.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Dan dalam Hadis Qudsi Allah berfirman:

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya itu hanyalah amal-amal kalian yang Aku hitung untuk kalian, kemudian Aku balas dengan sempurna…”
(HR. Muslim)


🧠 Muhasabah di Era Modern

Hari ini:

  • Teknologi makin canggih.
  • Transportasi makin cepat.
  • Kedokteran makin maju.
  • Komunikasi tanpa batas.

Tetapi…
Apakah hati kita juga makin lembut?

Kita bisa video call ke luar negeri,
tapi jarang mendoakan orang tua yang sudah mati.

Kita bisa kirim transfer dalam hitungan detik,
tapi pelit kirim Al-Fatihah untuk kubur ayah dan ibu.


🌸 Perspektif Tasyawuf

Dalam ilmu tazkiyatul nufus, inti agama adalah membersihkan hati.

Penyakit hati hari ini:

  • Ujub karena followers.
  • Riya karena konten dakwah.
  • Hasad karena kesuksesan orang lain.
  • Ghibah dalam bentuk komentar.

Mayit tidak bisa lagi beramal.
Tetapi mereka masih bisa merasakan dampak amal kita.

Jika kita menghina orang lain,
nama orang tua kita ikut disebut.
Jika kita mencaci, mereka ikut terseret.

Maka menjaga lisan adalah bentuk kasih sayang kepada mayit.


🤲 Motivasi & Harapan

Bayangkan…

Di alam kubur, orang tua kita tersenyum karena:

  • Kita menjaga akhlak.
  • Kita menjaga nama baik keluarga.
  • Kita rajin bersedekah atas nama mereka.
  • Kita tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Jadilah anak shalih itu.
Jadilah amal yang membuat kubur mereka bercahaya.


🕊 Nasehat Penutup

Di zaman digital ini:

  • Hati harus lebih dijaga daripada password.
  • Lisan harus lebih diamankan daripada akun.
  • Amal harus lebih diperhatikan daripada citra.

Karena semua akan diperlihatkan.

Dan suatu hari…
Kita juga akan menjadi mayit.


🤲 Doa

Ya Allah…
Ampuni dosa kedua orang tua kami.
Lapangkan kubur mereka.
Jadikan amal baik kami sebagai cahaya bagi mereka.
Jangan Engkau tampakkan kepada mereka keburukan amal kami.
Berilah kami lisan yang lembut, hati yang bersih, dan akhlak yang Engkau ridai.
Hidayahi kami sebelum Engkau cabut nyawa kami.
Husnul khatimah ya Rabbal ‘Alamin.

Aamiin Allahumma Aamiin.


🌿 Terima Kasih

Terima kasih atas kesempatan mengkaji hikmah dari Al-Usfuriyah.
Semoga menjadi pengingat bagi saya pribadi dan kita semua.

Semoga Allah membersihkan hati kita, menjaga lisan kita, dan membahagiakan orang tua kita di alam kubur. 🤲

.....

Jejak Amal di Dunia, Getarannya di Alam Kubur


Versi Gaul Kekinian (Sopan Santun)


---


🌿 Ngobrol Santai: Sayang-sayang ke yang Udah Meninggal & Kirim Pahala


Jadi gini, ada hadis yang bilang kalau amal kita yang masih hidup itu diperlihatkan sama orang yang udah wafat, terutama orang tua dan sahabat dekat. Kalau amalnya baik, mereka seneng banget dan memuji Allah. Kalau amalnya buruk, mereka malah doain kita biar dapet hidayah.


Ini bukan sekadar info ghaib lho, tapi bener-bener sentuhan lembut buat hati yang suka lalai.


💔 Inti Pesannya:


Hubungan kita sama orang tua itu nggak putus meskipun mereka udah meninggal.


Tingkah laku kita di dunia bisa bikin mereka bahagia atau malah sakit hati di alam kubur.


Omongan kita hari ini bisa jadi penyebab orang tua kita yang udah wafat ikut merasakan sakit.


🌙 Tauziah Penyucian Jiwa


“Jejak Digital, Jejak Akhirat”


Sobat...


Di zaman teknologi sekarang, satu jari bisa ngetik ribuan kata.

Satu klik bisa nyebarin fitnah ke seluruh dunia.

Satu status bisa ngebuka aib orang tua kita sendiri.


Allah berfirman:


“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.”

(QS. At-Taubah: 105)


Para ulama tafsir ngejelasin bahwa amal manusia itu nggak ada yang tersembunyi dari Allah. Bahkan dalam hadis Usfuriyah disebutkan amal kita diperlihatkan juga sama yang udah wafat.


Nah, di era media sosial:


Perselisihan kecil jadi gede.


Perbedaan pendapat jadi saling hujat.


Komentar jadi senjata.


Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:


“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

(HR. Bukhari & Muslim)


Dan dalam Hadis Qudsi Allah berfirman:


“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya itu hanyalah amal-amal kalian yang Aku hitung untuk kalian, kemudian Aku balas dengan sempurna…”

(HR. Muslim)


🧠 Renungan di Zaman Now


Hari ini:


Teknologi makin canggih.


Transportasi makin cepat.


Kedokteran makin maju.


Komunikasi tanpa batas.


Tapi…

Apa hati kita juga makin lembut?


Kita bisa video call ke luar negeri,

tapi jarang mendoain orang tua yang udah mati.


Kita bisa transfer uang dalam hitungan detik,

tapi pelit kirimin Al-Fatihah buat kubur ayah dan ibu.


🌸 Sudut Pandang Tasawuf


Dalam ilmu penyucian jiwa, inti agama itu ya bersihin hati.


Penyakit hati yang sering muncul sekarang:


Ujub karena banyak followers.


Riya karena konten dakwah.


Hasad lihat kesuksesan orang lain.


Ghibah dalam bentuk komentar.


Orang yang udah meninggal nggak bisa lagi beramal.

Tapi mereka masih bisa ngerasain dampak dari amal kita.


Kalau kita ngehina orang lain,

nama orang tua kita ikut disebut.

Kalau kita nyaci, mereka ikut terseret.


Makanya jaga omongan itu bentuk sayang kita ke mereka yang udah wafat.


🤲 Motivasi & Harapan


Coba bayangin…


Di alam kubur, orang tua kita tersenyum karena:


Kita jaga akhlak.


Kita jaga nama baik keluarga.


Kita rajin bersedekah atas nama mereka.


Kita nggak balas keburukan dengan keburukan.


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)


Jadilah anak shalih itu.

Jadilah amal yang bikin kubur mereka bercahaya.


🕊 Pesan Penutup


Di zaman digital ini:


Hati harus lebih dijaga daripada password.


Lisan harus lebih diamankan daripada akun.


Amal harus lebih diperhatikan daripada citra.


Karena semua bakal diperlihatkan.


Dan suatu hari…

Kita juga bakal jadi mayit.


🤲 Doa


Ya Allah…

Ampuni dosa kedua orang tua kami.

Lapangkan kubur mereka.

Jadikan amal baik kami sebagai cahaya bagi mereka.

Jangan Engkau tampakkan kepada mereka keburukan amal kami.

Berilah kami lisan yang lembut, hati yang bersih, dan akhlak yang Engkau ridai.

Hidayahi kami sebelum Engkau cabut nyawa kami.

Husnul khatimah ya Rabbal ‘Alamin.


Aamiin Allahumma Aamiin.


🌿 Terima Kasih


Makasih banyak udah bareng-bareng ngaji hikmah dari Al-Usfuriyah.

Semoga jadi pengingat buat aku pribadi dan kita semua.


Semoga Allah bersihin hati kita, jaga lisan kita, dan bahagiain orang tua kita di alam kubur. 🤲

No comments: